
Happy Reading π«
.
.
.
.
Queen menghembuskan napas legah ketika dia berhasil melepaskan kain yang menyumpal mulutnya. Untung saja kain sumpalan itu tidak di ikat, sehingga memudahkan Queen untuk melepaskannya.
Masih enggan untuk mengeluarkan suara, Queen memilih diam. Seluruh tubuhnya benar-benar lemas. Terdengar krasak-krusuk dari sebelah kirinya sedari tadi. Itu adalah ulah Raiden yang dari tadi berusaha untuk melepaskan ikatannya. Bangku yang diduduki nya sampai berdecit.
"Bisa diam, nggak?" Orland yang merasa jengkel akhirnya bersuara.
"Mau sampai kapan pun, lo nggak akan bisa terlepas," lanjut Orland. "Lo di ikat pakai rantai, bukan tali."
"Gob*ok!" sarkas Queen pelan.
"Lo ngatain gue gob*ok?" tanya Raden jengkel.
Queen memutar bola matanya malas. Tidak ada niatan untuk merespon perkataan Raiden.
"Tahu nggak siapa yang kalian sekap didalam?" terdengar suara wanita itu lagi dari luar. Queen menajamkan pendengarannya.
"Dia adalah orang yang tidak bisa kita sentuh," lanjut wanita itu. "Dia adalah orang yang penting untuk saya!"
Terdengar suara pukulan dari arah luar. Sepertinya, salah satu dari orang-orang itu di pukul oleh wanita itu.
Queen mengalihkan atensinya pada dua pria di sebelahnya.
"Kalian, kenal?" tanya Queen yang mendapat gelengan dari kedua pria itu.
Queen berdecak. Dia sama sekali tidak mengenal suara wanita di luar itu.
Tidak mungkin dirinya yang dimaksud. Secara, dirinya lah yang menjadi terget mereka. Namun kesialan menimpa dua pria di sampingnya ini dan ikut terseret kesini.
Pasti salah satu dari mereka. Itulah yang ada di benak Queen.
Tiba-tiba, pintu bercat coklat itu terbuka dan menampilkan seorang wanita anggun dengan gaun berwarna hitam berjalan masuk kedalam ruangan. Diikuti lima orang pria berjubah hitam itu. Hanya saja, Wanita itu mengenakan topeng.
"Sudah sadar rupanya," ujar wanita itu dengan suara lembut.
"Apa kabar, Ratu starwhite?" Queen terkejut ketika mendengar wanita itu menyebutnya seperti itu. Bagaimana bisa dia mengetahui identitas asli seorang Queen?
"Terkejut?" wanita itu menyeringai di balik topeng yang dia gunakan.
Queen melirik Orland dan juga Raiden yang sedang menatapnya. Terlihat jelas tampang terkejut dari mereka.
Mengalihkan atensinya pada wanita itu, Queen berkata, "bagaimana anda tahu tentang hal itu?" tersenyum miring, Queen melanjutkan, "saya memang berniat menjadi Ratu starwhite selanjutnya. Apa anda bersedia membantu?"
"Jangan berpura-pura lagi. Saya sudah tahu siapa kamu," ujar Wanita bertopeng itu lagi. Sikapnya sangat tenang seperti air mengalir. Namun Queen menyadari, di balik sikap tenangnya, akan ada kejadian mematikan.
Raiden yang jiwa ingin tahu nya mulai meronta-ronta, berniat melayangkan sebuah pertanyaan. Namun tidak jadi bertanya ketika Orland menatapnya dengan tajam.
Queen terkekeh pelan, "bukannya Ratu Starwhite sudah meninggal?"
"Ah, ya kamu benar," ujar wanita itu. "Sang ratu meninggal tepat di depan putri kesayangannya. Apa yang terjadi saat itu? katanya, penyiksaannya sungguh mengenaskan, ya?" lanjut wanita itu lagi dengan nada mengejek.
Queen yang mendengar itu, sontak mengeraskan rahangnya. Kejadian yang selalu menjadi mimpi buruknya setiap malam, perlahan terputar dalam benaknya seperti kaset rusak.
Wanita bergaun hitam itu tersenyum puas dibalik topengnya. Dirinya memang perlu memuji orang kepercayaannya ini. Setiap informasi yang dia dapatkan, tidak pernah salah. Melihat bagaimana ekspresi Queen saat ini, sudah membuktikan jika informasi itu sangat tepat.
tiba-tiba, Queen tertawa. Namun suara tawa nya begitu menyeramkan di indra pendengar setiap orang yang berada di ruangan itu. Termasuk Orland dan Raiden yang lagi-lagi terkejut dengan sikap Queen saat ini. Mereka seakan tidak mengenal perempuan yang beberapa saat lalu mengatakan tidak bisa berkelahi.
"Well, saya harus memuji orang yang menulis alur ceritanya itu. Ceritanya sangatlah bagus," ujar Queen setelah meredahkan tawanya.
"Pantas saja kalian membuat badan saya lemas." Queen menatap sebuah suntikan bekas yang tergeletak di lantai berdebu tidak jauh dari tempatnya duduk. "takut kepada saya?"
Wanita itu mengeraskan rahangnya. Dirinya paling tidak suka di cap sebagai penakut.
"Untuk apa takut sama kamu?" Wanita itu berjalan mendekati Queen. Di pegangnya dagu Queen dan sengaja menekan kuku-kuku panjangnya hingga menusuk kulit Queen sampai berdarah. "Kamu, bukanlah level saya."
Wanita itu sambil bersedekap dada, berjalan kembali ke tempat dimana dirinya berdiri.
Queen tersenyum mengejek, "kalau tidak takut, kenapa membiarkan keadaan saya seperti ini?"
Wanita itu terkekeh pelan, "tanyakan itu pada mereka. Karena sekarang, lawanmu adalah mereka bukan saya," ujar Wanita itu. "Lakukan!" perintah si wanita bergaun hitam itu kepada anak buahnya. Setelah itu, wanita yang Queen tidak mengetahui wajahnya itu berjalan pergi meninggalkan ruangan dimana Queen, Raiden dan Orland di sekap.
Salah satu pria berpakaian hitam itu berjalan mendekati Queen sambil menyeringai.
Plak!
"Ariel," serempak Orland dan Raiden.
"Brengsek!" umpat Raiden emosi.
Queen menatap tajam pria itu, "lo berani nampar gue?"
Pria itu terkekeh, "jangankan gampar, kamu akan saya bunuh."
Plak!
Plak!
Dua tamparan di terima Queen lagi lebih keras dari yang sebelumnya di pipih kiri dan kanan hingga membuat Queen terjatuh ke lantai.
"Shit! Lo akan menyesal lakuin ini sama gue," ujar Queen tajam. Pipihnya benar-benar sakit. Bahkan, telinganya sampai berdengung.
Semua orang yang berada di ruangan itu tertawa keras. Kecuali Raiden, Orland dan Queen. Bahkan, Raiden sudah bergerak gelisah ingin melepaskan rantai yang melilit tubuhnya, begitu juga dengan Orland.
"Langsung di habisi saja, ketua," ujar salah satu pria berambut ikal.
"Jangan. Di siksa dulu seperti yang dia lakukan terhadap X," kata salah satu pria yang lain.
Queen berdecak. Ternyata ada kaitannya dengan orang yang dia bunuh waktu itu. Pantas saja Queen seperti mengenal pria yang berani menamparnya ini.
"Eight," panggil Queen santai.
Namun pria yang di panggil "Eight" itu sontak terkejut. Tapi sedetik kemudian, Pria itu tertawa pelan.
"Sudah ingat saya rupanya," ujar Eight, pria yang menampar Queen.
Queen tersenyum miring, "tentu saja ingat. Seseorang yang katanya mafia hebat, namun lari seperti pengecut ketika melihat temannya di sayat-sayat tubuhnya," kata Queen santai.
Mendengar penuturan Queen tentang dirinya, membuat Eight murka dan menendang tubuh Queen. Tendangan yang tidak mengenal ampun terus di layangkan kepada Queen, namun Queen sama sekali tidak menghindar. Dia membiarkan dirinya terus di tendang seperti itu.
Sedangkan Raiden dan Orland, tidak berhentinya untuk terus berontak.
"Brengsek! berhenti mukul dia!" umpat Raiden.
"Yang gantle jadi laki!" ujar Orland tajam.
Mendengar perkataan dua orang ini, membuat Eight murka dan menyuruh sekutunya untuk memukuli Orland dan Raiden. Awalnya mereka menolak karena takut di marahi wanita bertopeng tadi yang notabenenya adalah bos mereka. Hanya saja, mereka juga tidak bisa mengabaikan perintah Eight, ketua di kelompok black Shion.
Akhirnya, mereka hanya bisa menuruti Eight dan memukuli Raiden serta Orland.
Di lain sisi, napas Queen tersengal karena Eight yang menendang di bagian perutnya terus menerus. Bahkan, Queen sudah beberapa kali batuk darah. Tapi gadis berdarah Amerika itu tidak mengeluarkan suara. Baginya, lebih baik menahan rasa sakit dari pada menunjukan kelemahan di depan musuh.
Merasa sudah cukup apa yang dirinya alami, Queen berusaha menekan sebuah tombol kecil dari balik gelang emas putih yang di pakainya. Tidak ada yang mengetahui apa yang bisa dilakukan gelang serba guna yang dibuat Kenrick kecuali dirinya dan sang kakak.
Sebuah laser dengan kekuatan yang tidak terlalu besar, terpancar dari gelang itu. Walau tidak terlu besar, namun panasnya laser ini mampu memotong rantai besi yang diikat ke tangannya. Sambil lasernya bekerja, Queen berusaha mengalihkan perhatian eight dan anak buahnya agar mereka tidak melihat kebelakang tubuh Queen.
"Kalian tahu kutipan, gigi ganti gigi?" tanya Queen dengan suara pelan namum tajam. "Apa yang saya dapatkan, akan kalian dapatkan pula. Bahkan, lebih kejam dari apa yang saya alami."
Eight tertawa remeh, begitu pula dengan anak buahnya yang lain.
"Apa kamu pikir, kamu bisa lolos kali ini?" ujar Eight, "sudah seperti ini, tapi masih bisa mengancam." Eigth lagi-lagi menendang perut Queen. Bahkan, kaki Queen pun dia injak dengan kuat.
Queen meringis pelan. Baru kali ini dia di perlakukan seperti ini. Queen menggertakan giginya untuk tidak mengeluarkan erangan kesakitan.
"Jangan salahkan saya kalau nanti anda hidup hanya dengan satu kaki," ujar Queen tajam.
Eight tidak menanggapi ancaman Queen. Dirinya benar-benar telah membenci Queen karena sudah membunuh Sodaranya yang biasanya di panggil "X".
pukulan dan tendangan terus di layangkan pada tubuh Queen. Keadaan yang sama pun di alami Raiden dan Orland.
.
.
.
.
TBC
*Terimakasih untuk kalian yang masih setia membaca karya saya. ππ»
Maaf karena selalu slow update.
see u next part, guys π«*