LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 21



Happy Reading πŸ’«


.


.


.


.


Queen telah berhasil menyingkirkan lima musuh nya. Semua tergeletak tidak berdaya di lantai yang dingin dan berdebu. Melihat Eight yang semakin murka dan menyuruh anak buahnya yang lain untuk masuk kedalam ruangan, membuat Queen tidak tinggal diam.


Dirinya berlari ke arah Orland dan juga Raiden. Dengan gerakan cepat, Queen melepaskan Orland dan juga Raiden.


"Masih bisa berantem kan?" tanya Queen.


"Bisa," jawab Orland dan Raiden serempak.


Ketika Queen akan melangkah kembali menuju musuhnya, Orland menarik pergelangan tangan Queen pelan. Queen menatap Orland dengan tampang bingung.


Ternyata, Orland melepaskan jaket yang dikenakan nya dan di ikatkan pada pinggang Queen. Gadis bernetra coklat itu tertegun. Dirinya baru tersadar kalau dia mengenakan rok seragam.


"Boleh berantem, asalkan lihat dulu keadaan sendiri," ujar Orland sambil menepuk pelan pundak Queen.


Wajah Queen memerah. Astaga, dirinya benar-benar malu. untung rok seragamnya tidak terlalu pendek dan dia mengenakan celana pendek di dalam.


...πŸ’«πŸ’«πŸ’«...


Dilain tempat, Kenric, Mark dan Gerald sedang sibuk mencari Queen. Pasalnya sampai malam menjelang, Queen belum juga pulang ke rumah. Kalau saja siang tadi Gerald tidak melintasi jalan sekolah Queen dan menemukan tas sekolah gadis itu yang tergeletak di jalan, mereka tidak akan mengetahui apa yang menimpa Queen.


Segala jalan telah mereka telusuri. Bahkan, Gerald mengarahkan semua anak buahnya untuk turut mencari Queen. Tapi nihil. Queen seakan hilang di telan bumi.


"Ada info?" tanya Kenric begitu melihat Mark di ambang pintu rumahnya.


Mark menghela napas berat sambil menggelengkan kepala. Dia dan anak buah Gerald sama sekali tidak menemukan apa pun.


"Tenang aja Ken, adik lo pasti bisa jaga diri," ucap Gerald menenangkan Kenric yang sedari tadi sibuk mondar-mondir seperti setrika. Terlihat dengan jelas wajah khawatir anak pertama Mr.Jordan itu.


"Masalahnya, Ariel nggak pernah hilang kabar kayak gini. Paling tidak, selama dia bertugas," kata Kenric ketika mengingat Queen pernah hilang kabar ketika dirinya sedang berlibur ke Afrika. Tapi Kenric dan Daddy mereka tidak merasa khawatir. Karena saat itu, Queen sedang berlibur. Siapa yang akan mencelakakan dirinya ketika Queen menjelma sebagai masyarakat biasa pecinta traveling?


"Kamu tidak menaruh alat pelacak atau apa gitu?" tanya Mark.


Kenric menggeleng pelan, "Ariel melepaskan kalung yang sudah saya taruh alat pelacaknya."


Gerald yang melihat dua pria di hadapannya yang berbicara menggunakan bahasa formal, hanya memutar matanya malas. Dirinya yang anak kekinian, malah bergaul dengan dua pria kaku ini.


Ketika hampir putus asa, Kenric tiba-tiba menjitak kepalanya sendiri karena baru menyadari kenapa dia tidak menggunakan keahliannya saja.


"Shit! Gara-gara khawatir, saya sampai seperti orang ****!" umpat Kenric kesal.


Dirinya berlai ke kamarnya dan mengambil kunci mobil.


"Kalian berdua, ikut saya," kata Kenric pada Gerald dan Mark yang sontak berdiri dan mengikuti Kenric yang sudah berlari keluar rumah menuju mobil nya.


Mobil yang di kendarai Kenric berhenti tepat di jalan Gerald menemukan tas milik Queen. Kenric turun dari mobil di ikuti Mark dan juga Gerald yang masih bingung apa yang akan dilakukan Kenric.


"Apa yang lo cari?" tanya Gerald.


"CCTV," jawab Kenric singkat dan membuat Gerald serta Mark mulai mengerti apa yang ingin dilakukan Kenric.


Jalanan ini sepi. Tapi untung saja, ada sebuah ruko yang hanya berjarak beberapa meter. Dengan langkah lebar, Kenric berjalan menuju ruko itu. Mendongak ke atas, Kenric menghela napas legah. Untung saja, di depa ruko ini dipasang cctv.


"Permisi mbak," sapa Kenric pada seorang wanita yang berdiri di meja kasir.


"Iya, ada yang bisa saya bantu, mas?" tanya mbak kasir itu. Perempuan rambut sepundak itu sempat tertegun begitu melihat wajah tampan Kenric.


Kenric berdehem pelan, "begini mbak, saya lagi mencari seseorang. Dari info yang saya dapatkan, terakhir kali terlihat dia di sekitar sini. Jadi, apa boleh saya melihat cctv untuk tanggal hari ini?"


Si mbak kasir itu berpikir sebentar. Namun kemudian dia mengangguk tanda mengiyakan. Dirinya membawah Kenric serta Gerald dan Mark untuk memasuki ruangan kendali cctv di minimarket itu.


"Kejadiannya sekitar jam berapa ya, mas?" tanya perempuan itu sambil tangannya sibuk mengotak-atik layar komputer di depannya.


Perempuan itu langsung mencari apa yang di inginkan ketiga pria tampan ini.


"Apa ini yang mas-masnya cari?" tanya si perempuan itu lagi.


Gerald mengangguk cepat sambil matanya tertuju pada monitor. Kejadian yang ditayangkan cctv itu benar-benar mengejutkan mereka semua. Walaupun terlihat tidak terlalu jelas, tapi mereka tahu itu adalah Queen. Bahkan, perempuan rambut sepundak itu juga turut terkejut.


"Ah, saya ingat. Kejadiannya tadi sempat di ceritakan teman kerja saya yang shift siang. Persis seperti apa yang ada di cctv ini," tutur mbak kasir.


Kenric mengepalkan tangannya kuat. Dirinya benar-benar emosi ketika melihat mereka menyeret adik kesayangannya seperti itu.


"Bisa kami minta salinan rekaman cctv nya?" pinta Mark dan di iyakan oleh perempuan itu.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka kembali ke rumah. Kenric perlu mencari tahu, siapa para gerombolan berpakaian hitam yang dengan kurang ajarnya menculik adiknya.


"Shion," ucap Kenric ketika mendapatkan hasil dari empat puluh lima menit dia mengotak atik keyboard komputernya untuk mencari tahu si pelaku berpakaian hitam itu. Keahlian dia dibidang IT memang tidak perlu di ragukan lagi.


Kenric menatap tajam Gerald yang berdiri di sampingnya dengan tampang terkejut.


"Bukan gue, bukan gue yang menyuruh mereka," kata Gerald menggelengkan kepalanya kuat.


Kenric mengeraskan rahangnya, "Terus, siapa? hanya kamu yang bisa memerintahkan mereka."


"Iya sih ...," kata Gerald dengan nada lesu. "Tapi sumpah, bukan gue yang menyuruh mereka. Gue juga udah nggak saling komunikasih dengan mereka hampir dua minggu," lanjut Gerald.


"Dua pria yang bersama Ariel bukannya ..." ujar Mark yang membuat Kenric serta Gerald mengalihkan atensi kembali pada rekaman cctv itu.


"Orland dan Raiden," ujar Gerald yang tiba-tiba mengeraskan rahangnya karena kesal. "Bagaimana bisa Ariel berurusan dengan mereka?" tanya Gerald.


"Apa itu hal yang penting sekarang?" tanya Kenric tajam.


"Ah, ya. Maaf. Gue telepon mereka sekarang," ucap Gerald yang langsung mengambil iphone nya dan menghubungi salah satu anak buahnya di Shion.


Bagaimana Gerald bisa berurusan dengan Shion?


Siapa sebenarnya Gerald ini? Musuh atau teman?


Jawabannya adalah Gerald pernah menjadi salah satu pemimpin di organisasi bernama Shion itu. Namun, Gerald memutuskan hengkang dari organisasi itu ketika Shion sudah berjalan keluar dari jalurnya.


Namun, Gerald masih mempunyai beberapa anak buah yang setia padanya di Shion. Karena itu, Gerald menempatkan mereka menjadi mata-mata kalau saja ada hal yang dilakukan Shion merugikan dirinya. Contohnya seperti sekarang ini.


Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Kenric serta Gerald dan Mark pergi menuju lokasi yang baru saja di share oleh mata-mata Gerald di shion.


.


.


.


.


TBC


...πŸ’«πŸ’«πŸ’«...


Hai, guys..


Maaf untuk keterlambatan update nya, ya.


Sejujurnya, Nggak tahu mau bawah alur ceritanya kemana lagi. Sempat mikir buat Hiatus aja. Tapi sayang juga sih udah sejauh ini.


Jadi, aku sebisa mungkin akan tetap Update walau mengaret. huhu.. maafkan daku :(


Oh ya, aku mau ngucapin makasih buat kalian yang selalu jadi pembaca setia karyaku. Makasih untuk vote dan comment nya.


Aku bisa bertahan buat lanjutin ceritanya karena kalian.


Sekali lagi makasih, ya...😘


Nanti kan part selanjut nya.πŸ€—