
Happy Reading đź’«
.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul delapan malam saat Queen tiba di rumah. Tepat di sofa ruang keluarga, Mark, Kenric dan Gerald sedang duduk bersama sambil menonton berita. Tanpa salam, atau sekedar basa basi, Queen melenggang pergi menuju kamarnya.
Saat ini, mood nya sedang tidak baik. Dia juga tidak ingin berpura-pura manis di depan pengkhianat. Itulah julukan yang sekarang di berikan Queen terhadap sang kakak.
Ketiga lelaki itu memang melihat bagaimana sikap berbeda dari Queen. Hanya saja, tidak ada yang berani untuk bertanya. Sedangkan Kenric sendiri, hanya bisa menatap sendu wajah sang adik ketika terlihat dengan jelas rasa kecewa sekaligus kebencian yang terpancar dari mata jernih milik Queen.
Queen menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Di pijit perlahan pangkal hidungnya. Rasanya, kepalanya ingin pecah saat ini juga karena terlalu banyak hal yang di pikirkan.
Mengenai semua perkataan Raiden, Queen sudah mencari tahu kebenarannya. Hanya saja, dia ingin benar-benar mendapat bukti konkrit. Karena itu, mau tidak mau Queen harus mengunjungi seseorang yang merupakan kunci jawaban atas semua ini. Dan kalau benar Kenric pengkhianat, Queen sendirilah yang akan merenggut nyawa kakaknya itu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian serba hitam, Queen tinggal memakai masker hitamnya. Kali ini, tidak ada kacamata yang di berikan Kenric. Queen sengaja tidak ingin mengenakannya. Bahkan, kalung berliontin bintang yang terpasang GPS, di lepaskan Queen. Dia tidak ingin Kenric mengetahui kemana dia pergi.
Queen menyelinap keluar melalui balkon kamarnya setelah memastikan jalanan telah sepi dan para penghuni rumahnya juga sudah tidur. Melompat dari lantai dua ke bawah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Untuk sesaat, Queen bersyukur memiliki kemampuan parkour seperti ini.
Berjalan keluar dengan perlahan dari kompleks perumahannya menuju sebuah gedung kecil yang di jadikan garasi dadakan untuk meletakan kendaraan dia yang tidak di ketahui Kenric. Sebuah motor dan mobil sport. Kali ini, dia ingin mengendarai motor sport black color.
Setelah menaiki motor dan menyalakan mesin, Queen melajukan motornya menuju sebuah rumah sakit elite di Jakarta. Memarkirkan motor di balik tembok Rumah sakit yang menjulang tinggi dan bebas dari kawasan cctv, Queen menyelinap masuk ke dalam rumah sakit. Untung saja, dia sudah mengetahui kamar rawat inap Ayunda. Ya, Queen akan bertemu Ayunda.
Ini bukan jam besuk, jelas saja. Karena waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Belum lagi, Queen sempat melihat jika di depan kamar rawat Ayunda, di jaga ketat oleh pria-pria berbusana hitam layaknya bodyguard. Karena itu, Queen tidak melalui pintu, melainkan melalui jendela.
Kamar rawat Ayunda berada di lantai delapan ruangan VIP. Setelah memastikan semuanya aman, Queen memanjat dari jendela yang sejalur ke atas dengan jendela kamar rawat Ayunda. Tidak sulit melakukan ini, mengingat Queen memang ahli memanjat.
Gotcha!
Queen berhasil masuk ke dalam kamar rawat Ayunda. Tepat di atas brankar yang berada di tengah ruangan yang lumayan besar, seorang wanita terlelap dengan infus di tangannya. Keadaan gadis itu sudah lebih baik dari terakhir kali Queen melihatnya.
Berjalan pelan mendekati Ayunda. Mengeluarkan pisau lipat di balik saku hoddie yang di kenakannya. Queen mengarahkan pisau lipat itu tepat di leher Ayunda.
Ayunda yang merasakan pergerakan dan kulit lehernya terasa terkena sesuatu yang dingin, refleks membuka matanya dan terkejut.
“Teriak, nyawa lo melayang.” Ancam Queen.
Ayunda ketakutan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya sudah berkaca-kaca. Queen menghela napasnya pelan. Terlihat dengan jelas kalau wanita ini lemah. Dia bukan wanita pemberani yang bisa membuat Queen susah payah mengeluarkan ilmu bela dirinya.
Queen menurunkan maksernya hingga dagu.
“Masih ingat gue?” tanya Queen pelan.
Ayunda mengerjapkan matanya. Jelas saja dia ingat. Bagaimana dia bisa melupakan wajah orang yang sudah membantunya kala itu? Ya, saat itu Queen sempat memperlihatkan wajahnya ketika memeriksa urat nadi Ayunda.
Gadis dengan perban di kepalanya itu tersenyum. Melihat ekspresi itu, Queen akhirnya melipat kembali pisaunya dan di masukan ke balik saku hoddie nya.
“Bisa bantu gue duduk?” tanya Ayunda dengan suara serak.
Tanpa mengiyakan, Queen membantu Ayunda bangun dan duduk bersandar dengan bantal sebagai alas punggungnya.
Queen menarik sebuah bangku yang berada tidak jauh dari brankar Ayunda. Di letakan tepat di samping brankar.
“Terimakasih atas pertolongannya waktu itu,” ucap Ayunda tulus. “Gue nggak tahu lagi gimana nasib gue kalau lo nggak ada.”
“It’s okay,” ujar Queen datar, sama seperti ekspresi wajahnya.
“Lo kesini, pasti ada hal yang ingin lo ketahui.”
Queen mengangguk, “gue mau tahu kronologi kejadian lo sama Gerald waktu itu.”
Ekspresi ramah Ayunda berubah ketika mendengar penuturan Queen barusan. Ayunda memejamkan matanya, menghirup dan menghembuskan napasnya berat, tangannya di kepal, tidak peduli dengan salah satu tangannya yang di infus.
Queen hanya diam. Dia tahu permintaannya pasti berat bagi Ayunda. Mengingat bagaimana wanita cantik ini di lecehkan waktu itu. Sebuah kejadian yang pastinya menjadi kenangan trauma tersendiri baginya.
Untuk sesaat, Queen merasa iba. Tapi tidak ada pilihan lain. Queen harus mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Queen mengernyit. Cowok brengsek? Si Gerald? Queen tersenyum tipis. Ternyata, Gerald adalah tipe pacar yang brengsek.
Queen mengedikkan bahu, “kenal setelah kejadian itu.”
“Jauhin dia,” ujar Ayunda dengan ekspresi yang masih sama. Bahkan, matanya sudah berkaca-kaca.
“Alasannya?”
“Gara-gara dia, gue berakhir kayak gini. Gara-gara dia, gue ... Arrgghhh...!” Ayunda tiba-tiba teriak sambil memegang kepalanya. Histeris, menangis meraung-raung sambil meneriaki kata “cowok berengsek”.
Queen mengerjap kaget. Ternyata wanita ini tidak baik-baik saja. Mendengar langkahan kaki yang semakin dekat, membuat Queen refleks bersembunyi di balik pintu kamar mandi. Dia tidak bisa keluar begitu saja. Masih banyak hal yang belum dirinya ketahui.
Queen sengaja membuka sedikit pintu kamar mandi agar bisa melihat dan mendengar percakapan dokter, perawat dan tiga penjaga Ayunda yang saat ini memegang tangan dan kaki Ayunda. Queen meringis melihat bagaimana histerisnya Ayunda saat ini.
“Bagaimana keadaan nona Yunda, Dok?” tanya salah satu pria gondrong yang rambutnya di ikat rapi ketika melihat Ayunda di suntik obat penenang.
“Seperti yang saya bilang waktu itu. Keadaan fisik pasien dalam proses pemulihan,” Dokter yang akrab di sapa Robbi ini menghela napas berat. “Tapi tidak dengan mentalnya. Apa ada yang mengunjungi pasien barusan?”
“Tidak ada, Dok. Nona Yunda sudah tidur sedari tadi,” jawab pria yang tadi.
“Kejadian saat itu mempengaruhi mental pasien. Ada trauma dalam hati dan pikirannya, membuat pasien akan seperti ini ketika mengingat kejadian saat itu. Saya sarankan, jangan pernah menyebut kejadian itu atau mempertemukan pasien dengan orang yang terlibat. Hal itu dapat memicu pasien mengingat kejadiannya dan berakhir seperti sekarang,” jelas Dokter Robbi.
Ketiga pria itu hanya mengangguk.
“Apa yang di alami pasien, sungguh
mengenaskan. Karena kejadian pelecehan termasuk benda seperti botol, membuat rahim pasien mengalami pendarahan hebat. Mau tidak mau, kami mengambil tindakan operasi pengangkatan rahim,” ujar Dokter Robi lagi. “Hal ini tentu saja belum diketahui pasien. Saya harap, pasien segera di periksa oleh psikiater.”
Queen tercengang. Tidak menyangka kalau keadaan Ayunda semengenaskan itu. Dokter dan perawat pamit keluar dari ruangan. Kini hanya tersisa tiga pria itu.
“Apa sudah ada kemajuan tentang pencarian Gerald?” tanya pria berambut gondrong.
Pria berkacamata minus menganggukan kepala, “Gerald kali ini tidak bersembunyi dalam naungan Shion. Justru, dia membuat kejadian seakan-akan Shion adalah musuhnya.”
“Bersembunyi dimana sekarang dia?”
“Masih belum jelas. Tapi, terakhir mata-mata kita memberitahukan kalau Gerald terus bersama dua pria berwajah asing. Tapi identitas mereka belum diketahui.”
“Kita harus segera menuntaskan masalah ini sebelum tuan besar turun tangan.”
Pria berkacamata dan pria satunya mengangguk. Tiga pria itupun berjalan keluar.
Queen menghela dan menghembuskan napasnya pelan. Dengan langkah pelan, Queen berjalan keluar dari ruangan itu melalui jalur dimana dirinya masuk.
\* \* \* \*
Menempuh tiga puluh lima menit, Queen tiba di gedung dimana dia menyembunyikan kendaraannya. Turun dari motornya, Queen berjalan menuju sofa di sudut ruangan yang sengaja dirinya letakan di situ. Bersedekap dada, menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa, Queen menatap lurus kedepan.
Queen berpikir. Menghubungkan setiap kejadian dan informasi yang di dapatkannya beberapa hari ini. Berbagai spekulasi membuat dirinya memutar otak sedemikian rupa agar menemukan titik terangnya.
Apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia dapatkan, belum tentu membuat dirinya percaya begitu saja.
“Bagaimana?” tanya Queen pelan begitu melihat seseorang yang di tunggunya sedari tadi sudah duduk di sofa tepat di depan Queen.
“Seperti dugaanmu kemarin,” jawab orang itu.
Queen mengangkat sebelah alisnya, “are you sure?”
Tanpa menjawab, seseorang itu menyerahkan sebuah flashdisk berwarna hitam yang langsung Queen colokan ke handphone nya. Kebetulan, flashdisknya adalah flashdisk yang bisa digunakan di hp.
Queen tersenyum tipis begitu melihat isi flashdisk nya.
“Permainan yang bagus,” gumam Queen pelan.
Target selanjutnya adalah seseorang di SMA Satelit. Queen akan memberikan kejutan pada seseorang yang akan dia kunjungi besok di SMA Satelit.
TBC