LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 20



Happy Reading 💫


.


.


.


.


"Apa ini akhir dari hidup gue?" tanya Raiden sendu. Cowok tampan itu baru kali ini menampakan ekspresi seperti ini. Biasanya yang dilihat Queen adalah ekspresi sok cool dan songong ala Raiden.


Beberapa saat yang lalu, Eight serta anak buahnya keluar dari ruangan setelah merasa puas memukul ke tiga sandera mereka. Keadaan Queen, Raiden dan Orland sangat mengenaskan. Wajah cantik Queen, tertutup oleh darah segar. Baju seragamnya sudah kotor dengan darah dan debu. Bahkan, bangku kayu yang di kenakannya tadi pun sudah patah akibat tendangan Eight yang begitu kencang.


Queen bersumpah akan membalas perbuatan mereka terhadap dirinya. Memang, rantai yang melingkar pada tubuhnya sudah terputus di bagian tangan Queen akibat laser yang keluar dari gelang emas putih miliknya. Namun, dirinya masih menyembunyikan hal itu. Lagian, badannya juga masih begitu lemas karena pengaruh obat yang disuntikan Eight pada dirinya.


"Apa benar lo itu ratu starwhite?" tanya Orland menatap lurus manik Queen.


"Menurut lo?" tanya balik Queen.


"Dari yang gue dengar, gelar ratu itu diberikan pada anak perempuan si pemimpin," kata Raiden setelah berhasil bangun dan duduk dengan nyaman. Walau sesekali meringis akibat luka-luka yang di dapatnya.


"Lo enggak mungkin anak perempuan itu," sambung Orland.


Queen menaikan sebelah alisnya sambil menatap Orland, "kenapa nggak mungkin?"


"Jadi, lo beneran anak dari pemimpin Starwhite?" tanya Raiden dengan mata yang melotot sempurna akibat terkejut.


Orland menggelengkan pelan kepalanya, "dia bukan anak si pemimpin. Tapi, kalau memang ada hubungan antara dia dan Bintang putih itu, Ariel hanyalah salah satu anggotanya." Orland yang menjawab dengan mantap.


Queen terkekeh pelan, "atas dasar apa berkata seperti itu?"


"Atas dasar apa yang gue lihat sekarang. Lo, nggak sehebat yang diberitakan mengenai anak-anak pemimpin Starwhite." jawan Orland santai.


Queen mendengus kesal. Si ketua Osisi ini belum tahu saja bagaimana Queen akan membalas. Selama di pukul oleh Eight, Queen diam-diam merencanakan pembalasannya dalam otak liciknya. Sesuai ancamannya tadi, dia akan membuat Eight menyesal sudah melakukan ini.


Setelah merasa badannya mulai ada sedikit tenaga, Queen bangkit berdiri dan melepaskan rantai yang melilit tubuhnya.


"Lo?" Raiden terkejut, "bagaimana bisa lo melepaskan rantai itu?"


"Karena gue pintar," jawab Queen santai.


Raiden mendengus, tapi dirinya kembali bersemangat dan berkata, "lepasin kita juga."


"Lepasin aja sendiri," kata Queen cuek. Dirinya berjalan mengitari seluruh ruangan, berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Tidak di hiraukannya Raiden yang sedang mendumel mengatai dirinya.


Namun, Queen berhenti melangkah ketika menyadari sesuatu. Dirinya berjalan kembali dan berdiri tepat di hadapan Orland yang saat ini menatap Queen dengan ekspresi datar.


"Kenapa?" tanya Queen.


"Apanya?" tanya balik Orland.


"Ck! Kenapa tidak minta gue melepaskan lo juga?"


Orland tidak menjawab. Dirinya hanya mengedikan bahunya acuh.


Queen berdecih. Di alihkan atensinya pada Raiden yang masih saja marah-marah.


"Lo kenapa sih?" tanya Queen heran pada Raiden. "Seperti bukan Raiden yang gue kenal. Tingkah lo kali ini buat gue pengen nonjok lo tahu nggak!" lanjut Queen geram.


"Makanya lepasin. Kita ini satu tim, tapi kenapa lo nggak lepasin kita?"


Queen memutar bola matanya malas.


"Gue akan lepasin kalau lo berdua ceritain yang sebenarnya sama gue."


"Cerita soal apa?"


"Sebelum itu, jawab pertanyaan gue dulu." Queen mengalihkan atensinya pada Orland dan Riaden secara bergantian. "Sebelum kita ketangkep, lo berdua mau bawah gue kemana dan mau ngapain?"


"Ke markas kita," jawab Orland.


"Terus?"


"Gue sama Raiden udah yakin kalau kita emang satu tujuan. Karena itu, kita pengen kerja sama. Lo, gue, dan Raiden. Kita perlu mencari tahu pembunuh Ryu yang sebenarnya," tutur Orland.


Queen menaikan sebelah alisnya, "bukannya kita sudah berada dalam tim yang sama?"


"Sejauh ini, cuma gue yang ngasih tahu setiap info buat lo. Tapi lo, nggak ada sama sekali buat ngasih tahu gue apa pun yang lo tahu," kata Raiden.


"Gue lebih suka kerja sendiri. Karena gue nggak suka adanya pengkhianatan," tutur Queen dengan ekspresi datar.


"Lo tenang aja. Tujuan kita sama, musuh kita pun sama. Nggak akan ada pengkhianatan disini," kata Orland mantap.


Queen terdiam sesaat karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan mereka. Raiden mulai panik karena Queen belum juga melepaskan rantai pada tubuh mereka. Sedangkan Orland, si ketua Osis itu masih tetap bersikap tenang dengan ekspresi datar. Padahal jauh dilubuk hatinya, ada rasa takut yang begitu besar. Dirinya tidak ingin mati konyol disini.


Queen berjalan ke samping untuk mengambil sebuah bangku yang tadinya sempat dia lihat. Di letakan bangku itu tepat dimana bangkunya yang sebelumnya telah patah, dan duduk dengan santai sambil menyilangkan kakinya.


"kalian tahu, gue mulai muak dengan misi ini. Dari awal sampai sekarang, alurnya masih belum jelas," ujar Queen pelan sambil memainkan rantai yang tadinya diikat pada tubuhnya.


"Yang awalnya gue cuma harus fokus pada seseorang di SMA Satelit, malah sekarang gue berakhir disini karena seorang wanita yang sama sekali nggak gue kenal," lanjut Queen. Dirinya menoleh ke samping dan menatap Orland yang saat ini juga sedang menatap Queen.


"Aulia. Keluar dari sini, gue pengen lo ngasih tahu apa pun soal Aulia," pinta Queen yang di angguki Orland.


Braaakkk!


Pintu di tendang dari luar hingga menimbulkan suara yang lumayan keras.


"Kalau kita berhasil keluar dari sini," ujar Raiden sambil berusaha menelan salivanya dengan susah payah.


Di depan mata mereka, ada sekitar tujuh pria berjalan ke arah mereka. Salah satunya adalah Eight.


Queen menatap tanpa ekspresi pada ketujuh pria itu, terutama Eight. Tidak ada rasa takut dalam diri Queen sedikit pun. Hanya saja, setelah apa yang dia lakukan sebentar lagi, identitasnya yang sebenarnya pasti akan terbongkar


Menolehkan kepala dan mentapa Raiden serta Orland, Queen tersenyum tipis.


"Kamu?" Eight begitu terkejut ketika melihat Queen yang sedang duduk menyilangkan kaki sambil bersedekap dada melihat mereka.


"Terkejut?" tanya Queen santai.


"Bagaimana bisa?" Belum juga Eight tersadar dari keterkejutannya, Queen sudah lebih dulu berdiri dan menendang perut Eigth. Gerakannya begitu cepat sehingga Eight tidak bisa melindungi diri dan tersungkur begitu saja ke lantai yang berdebu.


Melihat ketua mereka terjatuh, salah satu anak buahnya Eight maju dan melayangkan sebuah pukulan untuk Queen. Namun, Queen menghindar ke samping sehingga tidak terkena pukulan dan kemudian Queen menendang kaki si lawan.


Tanpa ampun, Queen menggunakan rantai yang sedari tadi di pegangnya dan di lilitkan pada leher pria itu dengan sangat kuat. Queen memutar tubuhnya ketika seorang lagi berlari ke arahnya dan ingin memukulnya. Alhasil, pukulan pria itu meleset.


"Dia bilang nggak bisa berantem. Tapi ini ..." ujar Raiden kagum melihat cara Queen berkelahi.


Melihat pria yang sedari tadi Queen melilitkan rantai pada lehernya sudah tidak bernapas lagi, Queen melempar tubuh itu pada Eight. Tentu saja hal itu membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut termasuk Orland dan Raiden.


Queen terkekeh pelan, "satu," ujar Queen santai. Dirinya akan menghitung setiap musuh yang dia tumbangkan.


Tiga pria berlari ke arah Queen dan berusaha untuk memukuli Queen. Namun dengan tangkas, Queen menghindar dari pukulan mereka dan melyangkan tendangan serta pukulan pada tubuh tiga pria itu.


"Lo berdua, mau ikut bergabung atau biar gue sendiri?" tanya Queen setengah berteriak pada Orland dan Raiden di sela-sela pertarungan yang sedang dia lakukan.


"Dua," ujar Queen lagi setelah berhasil menyingkirkan seorang lagi.


Untuk beberapa saat, Queen belum mendengar jawaban atas pertanyaannya. Namun Queen tidak peduli. Jika mereka tidak ingin bergabung, Queen masih sanggup melawan mereka walau kenyataannya, badan Queen masih sedikit lemas.


"Tiga." Seoarang lagi telah tumbang karena Queen. Kali ini, Queen tidak akan membiarkan ada yang lolos.


"Gue akan bergabung," ujar Orland pada akhirnya.


Queen menyeringai. Menoleh sebentar ke arah Orland dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum tipis, Queen kembali melayangkan sebuah pukulan tepat pada hidung lawannya dan membuat pria itu meringis karena tulang hidungnya yang patah serta darah segar yang mengalir begitu derasnya.


Eight yang melihat itu semakin geram. Setelah mengkonfirmasikan dari balik earpice yang di gunakannya pada anak buahnya yang lain di luar ruangan, Eight menyuruh anak buahnya yang masih tersisa di dalam ruangan ini untuk menyerang Queen sekaligus.


Queen berusaha untuk terus mencari celah agar bisa melepaskan Orland dan juga Raiden. Namun, musuh yang dia hadapi mengelilingi dia saat ini. Mau tidak mau, Queen harus menyingkirkan mereka terlebih dahulu.


.


.


.


.


TBC


See u next part, guys 💫