LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 11



Happy Reading 💫


.


.


.


.


Semuanya berjalan seperti biasa. Keadaan Gerald juga sudah lebih baik. Selama dua minggu ini, dia dan Mark tinggal bersama Kenric dan Queen di kediaman dua kakak beradik itu. Tidak ada yang membahas tentang kejadian dua minggu lalu yang di alami Gerald maupun cara pembunuhan yang di lakukan Queen. Setidaknya, tidak di depan Queen.


Ya, yang membahas cuma Mark dan Kenric, namun secara diam-diam. Mereka tidak ingin melibatkan Queen lagi. Queen hanya akan di tugaskan untuk mencari Harumi Reiko. Sedangkan Gerald, hanya fokus pada penyembuhannya. Rencananya juga cowok itu akan di ajarkan beberapa ilmu bela diri. Mengingat, Gerald sekarang di incar oleh Shion. Walaupun Gerlad mempunyai penjaga, namun akan lebih baik jika cowok blasteran Inggris itu bisa berkelahi juga.


Pagi ini di meja makan, ke empat anak manusia itu sedang sarapan bersama. Selama tinggal bersama, baru kali ini mereka makan bersama. Biasanya, hanya Mark, Gerald dan juga Kenric. Karena Queen lebih memilih sarapan di kantin sekolah. Alasannya karena dia tidak nyaman dengan kehadiran orang lain selain kakaknya.


"Lo makan lahap banget. Kagak muntah lo?" tanya Gerald pada Queen.


Queen menatap Gerald dengan menaikan sebelah alisnya. Kenapa juga dia harus muntah? Dia sedang tidak sakit.


"Gue kalau jadi lo, enggak akan makan daging. Mengingat gimana leher manusia lo gorok. Mual yang ada." Lanjut Gerald sengaja memasang tampang sok jijik di depan Queen. Di liriknya Kenric yang sudah melayangkan tatapan membunuh pada Gerald karena ucapan lelaki itu.


Gerald tahu, kalimat itu tidak seharusnya dia ucapkan. Apalagi, di depan gadis berkuncir kuda ini. Hanya saja, menjaili Queen terasa sedikit menyenangkan. Padahal jauh di dalam hatinya, dia merasa deg-degan. Karena sejujurnya, dia sedikit takut dengan gadis yang duduk di hadapannya ini.


Sedangkan Mark, sedari tadi pria itu sudah menendang-nendang kaki Gerald yang berada di bawah meja. Mark memang duduk di samping Gerald.


Queen mengedikkan bahunya acuh. Sambil mengunyah kembali makanannya dengan santai dan tampang lempeng, Queen berujar, "gue bukan lo."


Tiga kata yang sukses membuat Gerald tertawa. Pasalnya, Queen merubah panggilan menjadi lo-gue dan pengucapannya begitu kaku. Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada bahasa formal yang bikin Gerald tidak nyaman.


Kenric menghembuskan napasnya perlahan. Dirinya berusaha untuk menekan emosinya agar tidak menyerang Gerald saat ini juga.


"Hari ini teman-temanku kesini. Mau ngerjain tugas bareng." Queen menatap sang kakak. Dirinya tidak perduli sama sekali dengan omongan Gerald barusan. Karena dia tahu, laki-laki pengecut itu sedang mengejeknya.


"Teman?"


Queen mengangguk. "Jannet, Aulia, dan Daisy."


"Jangan ngaco. Cari tempat lain aja." Kenric menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran sang adik.


Bisa-bisanya membawa dua orang yang sedang mereka curigai ke rumah mereka. Kalau benar mereka itu tersangka yang sedang mereka incar bagaimana? Bisa ketahuan kalau dua orang itu menemukan keanehan di rumah ini.


"Biar mereka nggak curiga." Bukan Queen yang menjawab, tapi Mark. Sedangkan Queen tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan apa yang di ucapkan Mark.


Terkadang, Queen menyukai teman kakaknya itu. Bukan suka dalam artian cowok dan cewek. Tapi suka aja karena sikap Mark yang bisa mengerti apa yang dimaksud Queen tanpa perlu Queen menjelaskan.


Kenric diam dan menatap Mark dengan kening berkerut. Terkadang, Kenric juga sedikit lola alias loading lama. Lolanya hanya tentang apa yang di katakan Queen. Hal itulah yang bikin Queen greget setangah hidup dengan kakaknya itu. Lolanya Kenric menunjukan kalau manusia memang punya kekurangan, setinggi apapun IQ-nya.


"Mereka sudah saling mengenal, bahkan menganggap Ariel adalah teman. Kalau rumah Ariel tidak mereka ketahui, pastinya akan curiga. Curiga karena sebagai teman, Ariel terlalu menutup diri yang bahkan alamat rumah aja di sembunyikan." Jelas Mark panjang lebar.


Kenric mengangguk tanda mengerti. Apa yang dikatakan Mark ada benarnya juga. Dirinya meringis karena tidak berpikir sampai sana. Sambil cengar-cengir, menatap sang adik yang di balas tatapan datar dari Queen.


.


.


.


.


Seperti yang sudah di katakan Queen tadi pagi, kalau Janne, Aulia dan Daisy akan berkunjung ke rumahnya.


"Ini minumnya, non." Bi Minah meletakan empat gelas jus jeruk dan beberapa cake di atas meja untuk Queen dan ketiga cewek yang lainnya.


Bi Minah adalah orang yang bekerja di rumah hanya setengah hari. Dari pagi jam sembilan hingga lima sore. Namun, karena saat ini teman-teman Queen berkunjung dan karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan, Queen sengaja meminta bi Minah untuk pulang malam hari setelah ketiga cewek itu pulang.


"Makasih, bi." Janne berucap dengan ramahnya. Teman pertama Queen itu memang sangat ramah kepada siapapun.


"Jadi, lo tinggal sama siapa disini?" Daisy bertanya setelah mencomot sepotong brownies yang sengaja dibeli Kenric tadi pagi.


"Tinggal berdua sama kakak," jawab Queen yang sedang fokus menulis di buku. Namun, ekor matanya dapat melihat dengan jelas jika Daisy sedang menelusuri atensinya di seluruh rumah.


"Orang tua lo, kemana?" Yang bertanya kali ini adalah Aulia.


"Kerja di luar negeri."


"Kenapa lo nggak ikut aja sama orang tua lo?" Janne mulai kepo.


Queen menghembuskan napas pelan. Agak kesal juga dengan ketiga cewek ini yang terus bertanya. Bukannya mengerjakan tugas, malah kepo dengan privasi orang.


"Kakak lo mana? Kerja? Kerja apa?" Janne terus memberondong Queen dengan pertanyaan. Queen sampai heran melihat Janne yang begitu kepo. Pasalnya selama ini, Janne seakan acuh tak acuh tentang kehidupan Queen.


"Kakak kerja di Archiles corporation."


"Archiles Corp? Perusahannya Gerald dong." Janne berujar dengan hebohnya.


"Kamu, kenal Gerald?" tanya Queen refleks. Jujur saja, dia sedikit terkejut dengan penuturan Janne barusan.


Janne mengangguk cepat. "Gerald itu, gebetan gue. Gue suka sama dia." Wajah yang berbinar itu tiba-tiba muram. "Tapi dia udah punya pacar."


"Masih pacar, jadi bisa di rebut." Celutk Daisy santai.


Queen diam. Sedikit terkejut juga dengan ucapan Daisy barusan. Cewek ini, minta di gampar mulutnya. Ngasal nyerocos tanpa mikir.


"Kamu, kenal Gerald?" Aulia yang sedari tadi anteng dengan laptop di pangkuannya kini bertanya.


"Cuma tahu nama aja sih, nggak kenal secara langsung."


"Iya juga sih. Berita tentang Gerald anak pertama Robert Archiles memang selalu keluar di artikel anak pengusaha."


Percakapan seputaran Gerald pun berakhir. Ke empatnya mulai fokus pada tugas masing-masing.


Waktu menunjukan pukul tujuh malam dan Daisy, Aulia serta Jannet baru saja pulang. Queen mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah. Di setelnya siaran balapan motor yang sedang di tampilkan di layar kaca.


"Udah pada pulang?" Gerald yang entah dari mana datangnya langsung duduk di sebelah Queen. Menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Cowok itu, kelihatan lelah dan pikiran.


"Baru aja." Jawab Queen cuek. Perlahan, dia mulai menerima keberadaan Gerald walau masih menutup diri. Paling tidak, dia tidak terlalu bersikap dingin seperti awal bertemu Gerald.


Gerald bergumam pelan dengan mata yang masih terpejam.


"Lo, kenal Jannet? Jannet Raimons." Gerald tersenyum mendengar pertanyaan Queen barusan. Bukan karena nama Jannet yang di sebutnya, tapi karena panggilan Queen yang menggunakan bahasa gaul itu. Artinya, Queen mengizinkan agar akrab dengan dirinya, bukan?


"Kenal. Anak teman bokap gue."


"Dia tadi kesini."


"Cerita nggak kalau dia suka sama gue?" Gerald membuka matanya. Atensinya di alihkan pada layar datar di depannya.


"Eh, lo tahu?" Queen menatap Gerald dengan tampang terkejut.


"Tahulah. Gadis gila yang bisanya recokin kehidupan gue. Whatsapp gue, tiada hari tanpa pesan pengakuan cinta dari dia."


Queen terkekeh pelan. Bisa di bayangkan bagaimana agresifnya Jannet. Teman Queen yang satu itu memang ada-ada saja kelakuannya.


Di lain sisi, Gerald sedang mengulum senyum karena melihat Queen yang baru saja tertawa. Entahlah, rasanya sedikit melegahkan melihat perubahan sikap pada gadis bersurai panjang itu.


"Apa tanggapan lo?"


"Gue abaikan lah. Gini-gini gue tipe cowok setia."


Queen memutar bola matanya malas. "Oh iya. Gimana keadaan pacar lo?"


"Masih gitu-gitu aja. Koma dan nggak ada tanda dia akan sadar." Gerlad menghela napas dalam. Pikirannya melayang pada sang kekasih yang terbaring lemah di rumah sakit.


"Yang sabar dan banyak berdoa. Kalau Tuhan berkehendak, pacar lo pasti sadar."


"Lo bilang apa barusan? Tuhan? Orang kayak lo tahu Tuhan juga?" Gerald tertawa. Tidak menyangka gadis yang biasanya suka membunuh ini berbicara soal Tuhan.


"Semua orang punya agama. Punya kepercayaan masing-masing." Queen mendelik kesal. Lagi dan lagi, cowok di sampingnya ini menjaili dirinya. "Sadar diri kok gue penuh dosa. Banyak bunuh orang dan pastinya menjadi penghuni neraka sebanyak apapun gue minta ampun. Dosa gue, nggak bisa di ampuni." Lanjut Queen.


"Lo mah jangan di jelasin lagi. Jalur VVIP dengan red carpet menyambut sang malaikat pencabut nyawa." Pecah sudah tawa Gerald. Lagi dan lagi dirinya di buat tertawa sampai perutnya sakit. Apalagi melihat wajah kesal yang ditunjukan Queen.


"Sialan lo!" Queen melempar bantal sofa ke wajah Gerald dan berjalan meninggalkan cowok blasteran Inggris-Indo yang masih tertawa. Dirinya benar-benar kesal.


.


.


.


.


TBC


Don't forget to give me your vote and coment about my story.


See next part, guys 💫