
Naga Larion yang jahat menguasai seluruh daratan naga, hingga membuat semua naga tunduk dan takut kepadanya setiap kali ia memberikan perintah pasti naga itu langsung menyerang manusia sesuai dengan perintah dari naga larion, belum ada yang bisa mengalahkan Naga itu yang kejam itu hingga membuat semua juga tunduk dengan perintah dari naga Larion.
"Sepertinya akan sangat sulit untuk dihadapi. Aku akan melawan naga untukmu, ksatria." Seorang pria paruh baya bersiap membantu Diaz.
Mendengar hal tersebut tentunya Diaz merasa tidak enak hati, dia dengan sebab menolak apa yang ditawarkan oleh pria paruh baya itu. dia tidak ingin mengorbankan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.
Padahal dia ingin pergi dari tempat para naga dan bisa kembali ke kerajaan untuk melaporkan apa yang sedang terjadi, selain situasinya yang sangat penting dia juga sudah mengetahui siapa musuh mereka yang sebenarnya.
“Tidak perlu aku akan mengalahkan naga itu sendiri,” kata Diaz yakin dengan kemampuannya.
Karena Diaz sudah berlatih cukup keras, ia merasa jika dirinya sudah mampu untuk mengalahkan Naga Larion dan berusaha sebisa mungkin untuk bisa menunjukkan kemampuannya tersebut. Melakukan yang terbaik agar dia bisa terlepas dari tempat tersebut dan kembali ke kerajaan.
Diaz tidak tahu sama sekali siapa musuh yang sebenarnya dan mengira para Naga itu tidak bersalah kali ini, dia tahu karena para naga itu terpaksa melakukan perintah dari nagalation yang begitu kejam, hambakan tidak ada yang bisa mengalahkannya dan semua naga tunduk di bawah kekuasaannya.
Kekuatan dari Naga Larion yang sangat luar biasa tentunya membuat dia juga merasa geram, ia berusaha ingin bisa melewati tempat tersebut dan pergi ke kerajaannya tak mungkin juga dia terus berada di tempat para naga karena ia akan cepat ketahuan dan hal itu akan membahayakan nyawanya.
Dia tersenyum pada Diaz, dan berkata, "Aku tidak percaya padamu. Kamu tidak akan pernah melewati naga ini tanpa bantuanku."
Dia mengulurkan. Diaz menjabat tangannya. "Baiklah aku akan menerima bantuanmu, mari kita kalahkan naga itu bersama."
Dia tersenyum, dan dia berkata, "Saya tahu Anda adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu."
Diaz naik ke punggung kudanya dan berkata, "Ayo pergi."
Diaz menunggang kuda melewati hutan, menghindari duri yang mencoba menjebak nya. Matahari sudah rendah di langit, dan hutan mulai gelap.
Diaz mengatur jalan untuk mengalahkannya dan berjalan ke hutan yang gelap. Saat nya memasuki hutan, ia melihat satu cahaya di kejauhan. Cahaya bersinar di depan nya dan memberi cahaya ke jalan.
"Pergi, binatang buas!" Diaz berteriak pada naga, bersiap untuk menyerang pedang nya.
Naga itu mengaum dan meluncur ke arahmu. Dengan kepakan sayap yang perkasa, Diaz melompat menyingkir tepat saat naga itu menghantam dengan gemuruh guntur dan membuat nya jatuh ke tanah.
"Ini teman lamaku," batin Diaz pada diri sendiri sambil menyiapkan pedang untuk mengayun lagi.
Pedang naga yang merupakan senjatanya kali ini, dibantu oleh Keira arwah pedang yang selalu bersama Diaz.
Mereka memang sudah berteman cukup lama, membuat Diaz bisa dengan mudah menggunakan pedang nya.
Naga mengeluarkan raungan yang mengerikan dan mengepakkan sayapnya yang menyemburkan semburan api besar ke arahmu.
Diaz menggerakkan tangan nya ke arah perisai dan merasakannya menjadi semakin kuat, perisai itu akan menghentikan bahkan nafas naga yang berapi-api.
Tapi, tiba-tiba, perisai itu terlepas dari genggamannya.
"Aku juga memikirkan hal yang sama," kata Diaz pada Keira yang saat itu tidak siap menghadapi nafas naga yang berapi-api.
Api memukul dada Diaz dan ia merasa seolah-olah sedang dibakar hidup-hidup.
Ia mencoba berlari tetapi rasa sakit yang tajam menjalar ke kaki nya. Ia menyadari bahwa dirinya memiliki masalah pernapasan dalam dirinya membuat nya terengah-engah dan pernafasannya melambat.
Diaz memutuskan untuk menghindari api untuk mendapatkan energi. Ia melompat ke samping saat naga menghembuskan aliran api di tempat nya yang baru saja berdiri.