
Sesampainya di Rumah, aku dan Parth melihat keadaan rumah yang begitu rapih. Ayah dan juga ibu bolak balik sibuk merapikan seisi Rumah.
"Ada apa ini? Ayah, Ibu?"
"Pamanmu dari luar Negeri mau mampir kesini! Hah ... Hah," Ayah ngos ngosan.
"Cepat mandi sebelum dia datang!," Perintah Ibu.
"Baik Bu ... "
"Kamu juga ikut mandi disini ya Nak!"
"Siap Bu ... "
Mentang mentang dia orang kaya, Ayah dan Ibu selalu saja bersikap formal di depan Paman. Setiap setahun sekali dia menginap di Rumah kami, namun kenyataannya dia tidak begitu senang dengan perilaku Ayah dan Ibu.
Bergiliran kami membersihkan diri, karena Parth belum memiliki kamar, jadinya Parth sementara berganti pakaian di kamar orang tuaku.
Sehabis membersihkan diri dan mengganti pakaian. Parth masuk ke dalam kamarku dan menanyakan beberapa hal lagi seperti biasanya, hal tidak penting dan bukan urusannya.
"Ilham, Paman kamu emang orangnya kek gimana?"
"Kesimpulan. Dia orang kaya ... "
"Sekaya apa?"
"KAYA BUANGET!! Paham?"
"Oh ... "
"Ngomong ngomong Parth!"
"Ya?"
"Ceritakan tentang Devisemu ini!"
"Tapi sebentar lagikan, eum ... Om atau Paman?"
"Tsk! Paman aja!"
"Sebentar lagikan Paman kamu datang!"
"Akh! Masa bodo itu mah! Aku lebih penasaran tetang kamu!"
Ini satu satunya jalan agar aku mengetahui siapa sebenarnya Siluman ini. Kepolosannya itu bisa aku manfaatkan untuk menggali lebih dalam lagi mengenai asal usul Device.
"Penasaran? Tentang ... Aku?"
"Euh ya, bukan itu maksudku. Tapi tentang Device ini"
"Oh ... Baiklah, lagi pula aku udah janji ... "
Dahulu kala, tepat dimana manusia zaman purbakala bertahan hidup. Seorang manusia dari masa depan datang ke masa lalu dengan bertujuan mengubah masa depan. Dia menciptakan berbagai macam alat modern luar biasa canggih, sampai sampai orang yang memakai dan bisa menguasai alat itu dianggap sebagai titisan Dewa Dewi.
Orang itu sebenarnya adalah seorang Profesor yang sangat pandai dan cerdas dimasanya. Kemampuan dirinya menghantarkan dia ke masa kejayaan. Tapi akibat kemampuannya itu juga, dirinya banyak jadi incaran para penjahat dan organisasi kejahatan lainnya untuk menciptakan berbagai macam alat berbahaya yang dapat merusak. Bukan hanya Bumi, tapi Galaksi pun bisa hancur dibuatnya.
Orang yang dijuluki sebagai Profesor itu juga sering diserang oleh para Makhluk yang tidak dikenal baik itu Monster, Roh, dan sebagian Manusia juga beranggapan bahwa keberadaan Profesor adalah sebuah ancaman.
Akhirnya dia mengasingkan diri ke masa lalu demi mencegah terjadinya kehancuran antar galaksi dan teknologi. Dia menciptakan banyak alat modern di jaman purba, meskipun saat itu dia kesulitan mencari alat alat yang ia butuhkan.
Bertahan hidup dengan berburu, mandi di air terjun, berlarian kesana kemari, lompat sana lompat sini. Tidak terlalu buruk hidup di alam bebas meski terkadang dia merasa kesepian.
Bukan itu saja, Professor itu juga sempat membuat mesin waktu dan menjelajahi waktu. Mulai dari awal peradaban manusia dimulai, penjajahan, kerajaan kerajaan, dan sampai di era modern saat ini.
Tidak tahu Professor itu mendapat ide dari mana, yang jelas dia menciptakan dua alat khusus yang sangat kuat. Dan salah satu Device itu disimpannya di tempat yang sangat rahasia.
Semakin tahun Professor itu semakin Tua. Beliau mulai bosan dengan kehidupannya yang selalu menyendiri, dan hanya ada tujuh ekor kelinci yang selalu bersamanya.
Professor itu membuat serum khusus yang dapat mengubah seekor kelinci menjadi manusia. Sebulan setelah ia mencari resepnya, akhirnya dia berhasil membuat serum impiannya yang seratus persen bekerja.
Tepat setelah serum itu dibuat, ketujuh ekor kelinci itu di beri suntikan serum. Dan betapa luar biasanya dia, dalam kurun waktu satu hari mereka semua berubah menjadi seorang manusia. Dua orang laki laki dan lima orang perempuan, mereka semua memanggil Profesor dengan sebutan "Kakak".
Merasa dirinya masih memiliki perbedaan besar dengan mereka, akhirnya Profesor itu membuat sebuah serum khusus untuk dirinya sendiri, dia juga menambahkan kekuatan cairan logam Device buatannya sendiri ke dalam serum.
"Bu-bukan! Bukan aku! I-itu saudaraku ... "
"Bohong ... "
"Atas dasar apa kamu bilang gitu?"
"Pertama, kamu tahu betul detail ceritanya dari awal sampai akhir"
"Kedua, pertama kali kamu bilang padaku kalau kamu punya delapan bersaudara, dan jumlah kelinci yang kamu ceritakan hanya ada tujuh kelinci. Bukankah itu artinya satu kelinci tidak ada?"
"Dan yang ketiga, sebenarnya setelah mendengar mereka memanggilmu "Kakak". Kamu hanya ingin menjadi bagian dari keluarga mereka bukan? Dan bukan karena perbedaan"
Mendengar tiga alasanku tadi, Parth terdiam. Dia tertunduk malu dengan identitasnya yang sudah terbongkar. Dalam hatiku aku berkata "Sungguh malang nasibnya".
"Jadi, sekarang kamu sudah tahu jawabannya. Aku bukan gadis muda, tapi bisa dibilang aku nenek moyang kamu mungkin ... "
"Nenek moyang? BAHAHAHAHA!!!"
Ucapan Parth sungguh menggelikan. Dia memang sungguh seperti gadis polos yang masih sekolah dasar kelas tiga. Mataku tidak berhenti mengeluarkan air mata karena tertawa.
"Kenapa kamu ketawa?! Apanya yang lucu?! Huft!"
"Aduh ... Maaf ... Perkataanmu itu salah Parth, malah justru sebaliknya. Akulah yang bisa jadi Kakekmu atau Kakek Buyut kamu"
"Alat secanggih ini, di jaman sekarang masih belum ada. Kamu juga bilang kalau kamu datang dari masa depan"
Mulut Parth bergetar dan wajahnya memerah karena kebodohannya sendiri. Aku kembali mengambil deodorant dan menyisir rambutku.
"Tapi dari jaman purba sampai jaman sekarang ini, jaraknya sudah puluhan ribu tahun loh. Bagaimana bisa wajah kamu tetap segar dan muda?"
"Aku rasa itu karena efek serum yang kubuat puluhan ribu tahun lalu"
"Hmm ... Yah! Bagaimanapun kita tetap teman! Dan kamu tetap Siluman Parth bodoh yang pernah ada!"
"Ilham ... Makasih ... "
"Buat?"
"Buat ... Udah ijinin aku tinggal disini! Hehehe!"
Parth tersenyum dihadapanku, dan dia juga menghalangi pintu keluar kamar. Aku membalas senyumannya dengan senyuman singkat lalu memberinya apel yang ada di atas laci di samping kasurku.
"Oh itu, haha iya sama sama ... "
Ayah dan Ibu memanggilku dari Ruang tamu, akupun bergegas menghampirinya. Begitu juga dengan Parth yang mengikutiku dari belakang.
"Kalian berdua! Cepat duduk dimeja!"
Sensasinya benar benar tidak nyaman. Kalau seperti ini suasananya, rasanya seperti kita akan pergi piknik ke luar negeri saja. Tidak lama kemudian ada seseorang dari depan pintu Rumah mengetuk pintu.
*Tok tok tok!*
"Tunggu sebentar ... "
*Klek!*
"Haha, Yo! Pagi Ilham"
Dimas datang dengan pakaian pemburunya, dia datang mengajakku untuk berburu Reptile di Hutan. Tapi setelah melihatku berpakaian rapi, ajakannya pun batal. Dia terus pergi dan meminta maaf karena sudah mengganggu.
"Ya ampun, padahal mumpung Paman belum datang aku bisa ikut bersamanya"
Sejujurnya aku tidak ingin menghadapi suasana yang tegang ini bersama keluargaku sendiri. Padahal setiap setahun sekali Paman selalu datang kemari, tapi suasanannya tetap saja tegang seperti baru saja bertemu dengan orang asing.
"Pokoknya aku harus kembali duduk!"
"Halo, Paman!," Sapa Parth.
"Hei Ilham! Cepat duduk! Tidak baik membelakangi Pamanmu sendiri!," Bisik Ibu dari kejauhan.
"Apa?," Kebingungan.