KJL

KJL
π Siluman Merepotkan π



Sinar Mentari mulai terbenam, para Monster dari luar juga menggeram keras memperingatkan kami.


"GRAAA!!"


"Ilham ... Kayaknya mereka mendengar suara kak Dimas ketawa"


"Ya, dia memang tak berguna"


"Ayolah Ilham ... Kejamnya kau ... "


Jumlah Monster yang sangat banyak sangat sulit aku hadapi seorang diri. Bahkan kalau Parth ikut membantu pun aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak.


"Akhirnya kalian datang juga!"


Dimas terlihat sangat bersemangat, tapi semangatnya itu masih belum cukup menandingi jumlah Monster. Saat ini keadaannya seperti seekor semut masuk sarang koloni musuhnya.


"Kalian berdua cepat pergi! Disini terlalu berbahaya!"


Melihatnya beraksi seorang diri sudah sangat jelas mustahil. Dia hanya manusia biasa, sedangkan aku diberi kelebihan alat dan Parth juga bukan manusia.


"Ayo ... kita mulai ... "


*BANG! BANG! BANG!*


Sungguh luar biasa, sekali tembakan dia dapat mengenai delapan kepala Monster. Dimas benar benar sangat menikmati pertarungannya seolah dia sedang bermain dengan mainannya sendiri.


"HAHAHA!! TEMBAK! TEMBAK LAGI!! HIAAA!! HAHAHA!!!," Kegirangan.


"Aku ... tarik ucapanku tadi ... "


*DUAR!!*


Dimas melubangi jalan keluar untuk kami lewati. Siapa sangka ternyata seorang manusia normal kalau terus dilatih kemampuannya, maka kekuatannya akan melebihi manusia normal pada umumnya. Contohnya temanku yang satu ini, dia sangat terobsesi dengan pertarungan.


Tanpa berfikir lagi aku mengenggam tangan Parth dan membawanya keluar Gua. Dari fikiranku memiliki kemampuan seperti itu rasanya Dimas akan baik baik saja.


"Ilham ... kamu gak bantuin temen kamu?"


"Ah~ dia pasti bisa mengatasinya! Tenang saja!"


Sementara itu dari dalam Gua Dimas mulai kehabisan amunisinya. Saat dia ingin meloloskan diri, tiba tiba gempa datang dan batu berjatuhan.


*GRUTAK! GRUTUK!*


Bebatuan itu berjatuhan menutupi kedua jalan keluar, baik itu dari lorong gua pertama dan jalan keluar yang sudah dia lubangi sendiri. Dimas terpojokkan dan para Monster itu tertawa dengan bahagianya.


"GAHHH!! ILHAM TOLONG!!"


Melihatnya terpojok aku melempar ucapanku kembali kalau "Manusia biasa tidak bisa melawan semua Monster itu sendirian". Terlebih lagi aku memiliki julukan baru bagi temanku yang satu ini "Si Fuchūi!".


"Ilham, kayaknya dia terjebak ... kruk ... kruk ...," Mengunyah wortel.


"Kamu tunggu disini"


Dengan santainya aku berjalan mendekati Gua dan bertransformasi. Dari dalam Gua itu terdengar suara Dimas sedang di hakimi para Monster.


"Berubah ... "


"Cast on!, Leader Legend... PATTIMURA!"


...Semangat tak gentar, berani nan tangguh! Bilah parang tajam membantai ke tidak benaran!...


"PATTIMURA!"


Serentak setelah aku berubah, aku membelah batu itu menjadi dua lalu terbukalah jalan masuk ke dalam Gua. Saat aku melihat ke dalam Gua, aku melihat para Monster sudah tidak ada. Sepertinya mereka semua sudah masuk ke dalam sarangnya.


Aku hanya melihat Dimas yang terluka dan luka lebam itu mengelilingi wajahnya sendiri hampir nyaris aku tidak bisa melihat matanya.


"Ka-kau menyelamatkan nyawaku! Kau ...," Pingsan.


Dimas tidak sadarkan diri, langsung saja aku menggendong dan membawanya ke Rumahku untuk sementara. Selama diperjalanan, Parth masih tetap santai menggigiti wortelnya. Reaksi Parth sama sekali berbeda dari sebelumnya yang menggetar ketakutan saat melihat Dimas.


"Eh Parth! Soal kekuatan jahat sebelumnya. Apa kamu masih merasakannya?"


"Oh, kekuatan jahat ya? Aku berfikir kembali soal itu ... aku rasa itu chip kekuatan"


"Apa? Apa maksudnya itu?"


"N-nggak apa apa!," Memalingkan wajah.


"Apa jangan jangan chip itu ada padanya?"


Parth terdiam lalu mulutnya semakin cepat mengunyah. Aku menatap sinis Parth tanpa menghentikan langkah kakiku. Kalau itu memang berasal darinya, kenapa Parth tidak mengatakannya sedari awal?


"Oy ... "


"Hm?"


"Lepas ini siap siap dirumah ... "


Mataku bersinar merah saat menatap Siluman. Parth langsung membuang muka dan mulutnya bergerak melambat mengunyah wortel. Karena kami berjalan bersampingan, aku bisa melihat tubuhnya bergetar resah.


Delapan belas menit di perjalanan, Akhirnya kami sampai dirumah. Kebetulah hari ini Ayah dan Ibu tidak ada di Rumah, jadi aku membawa Dimas ke kamarku dan membiarnnya beristirahat disana.


"Parth! Masuk!"


*Parth menggelengkan kepalanya*


"Parth .... MA...SUK..."


Mataku kembali bersinar merah menatap Parth. Barulah setelah aku mengatakannya sebanyak lima belas kali, Parth masuk ke dalam Rumah dan mendadak menjadi kelinci yang patuh.


"Duduk!"


*Duk...*


"JADI!"


"MAAF!"


"Kenapa kamu gak ngasih tau aku dari awal hmm? Hahaha," Ucapku disertai wajah yang bersinar.


Melihat aku tersenyum, Parth terbawa senyum lalu menjawabnya dengan gurauan yang menjengkelkan. Begitu mudahnya Parth terbawa arus, Parth mengira kalau aku sedang bercanda.


"Hehehe! Aku cuma takut aja tadi. Jadi aku pikir membiarkan beberapa kekuatan lolos itu bukan masalah"


Aku tidak tahu kenapa rasanya hatiku begitu kesal. Rasanya aku ingin menjitak kepalanya itu yang agak bengkok . Satu saja chip kekuatan tidak ada, aku tidak akan bisa mengunci para Monster.


"Hahaha! Maaf ya Ilham!"


*Pletuk!*


"Aw! Sakit ... "


"Jangan ketawa bahlul ... "


Setelah melewati beberapa sidang. Parth aku hukum dengan cara berdiri dengan satu kaki sambil berjinjit dan memegang telinga.


"Jangan bergerak selama satu hari! Sedikit saja bergerak, aku tambah hukumannya satu hari lagi!"


"EHHHH?!!!"


Merasa kurang puas, aku menyuruhnya lagi untuk mengucapkan beberapa kata secara berulang. Melakukan ini mengingatkan aku kembali ke masa kecilku.


"Aku salah, Ampun pak Guru ... Aku salah, Ampun pak Guru ... "


"Bagus ... "


Mata Parth berkaca kaca meratapi kesalahannya sendiri. Tidak berapa lama ternyata kesadaran Dimas sudah mulai kembali, meskipun luka itu tidak sembuh secepat kesadarannya.


"Dimas, bagaimana kondisimu?"


"Ah ... Aku baik baik saja. Hey Ilham ... "


"Apa?"


"Aku tidak sangka ternyata kamu orang yang terpilih! Sahabatku sendiri!"


"Apa? Apa maksudmu?"


"Sudah lama aku menantikan kehadiranmu Ksatria. Ramalan kakek buyutku itu sekarang menjadi kenyataan ... "


Dimas menceritakan seluk beluk mengenai para Monster itu, termasuk sang Ksatria yang berhasil menyelamatkan Bumi.


"Jadi ... Kamu sudah tahu semua ini termasuk chip kekuatan yang aku pakai?"


"Haha, tentu! Bukan cuma itu saja. Aku juga tahu kalau gadis itu juga seorang Siluman"


"Bagaimana kau-"


"Aku melihat reaksinya yang aneh. Hanya Siluman, yang bersikap aneh seperti itu, dan semua pemburu tahu itu"


"Ah ... "


Jadi maksud Dimas tadi adalah Siluman itu sendiri yang membongkar identitasnya. Kalau Parth tahu Dimas itu seorang Pemburu dan tetap bersikap biasa saja, maka Parth tidak akan ketahuan.


Parth dengan polosnya kebingungan dengan apa yang kami berdua katakan. Kakinya juga sedikit demi sedikit turun menapaki lantai.


"HEI! MAU AKU TAMBAH HUKUMANNYA?!"


"MAAF!!"


Setelah mengatakan itu Dimas berpamitan dan memberikan kami satu buah chip kekuatan yang di dapatkannya tadi saat bertarung di dalam Gua.


"Oh ya, ini. Aku tahu ini hanya cocok untukmu! Sudah ya, Dah!"


"Mmm, ya. Terimakasih ... "


"Apa itu Ilham?"


"TETAP DISANA!"


"YA! MAAF!"


Chip kedua yang aku dapatkan dari Dimas ini warnanya gelap. Kira kira Ksatria apa yang ada di dalam chip ini?