
Terik matahari menyinari mata kami. Para Monster tengah berdiri dengan gagah berani bersiap melawan kami. Namun sayangnya Siluman tidak akan ikut bertarung karena ketakutannya terhadap Hantu.
"Saya mulai Tuan"
"Ya!"
*TEK!*
"Berubah.."
"Cast on!, Leader Legend ... PATTIMURA!"
...Semangat tak gentar, berani nan tangguh! Bilah parang tajam membantai ketidak adilan!...
Tubuhku terasa kuat dan lebih bertenaga, aku merasa pakaian seperti robot ini sangatlah kuat dan dilengkapi senjata parang yang tajam. Semangatku juga semakin lama semakin bertambah.
"Rasanya ... Aku ingin ... MENGHAJAR MEREKA SEMUAAA!!! HIAAA!!"
Gesitnya aku berlari menandingi kecepatan angin. Emosiku melunjak naik seperti api yang tidak pernah padam. Semua yang menghalangi akan aku habisi.
*SREK! BUK! TING! SRET!*
Aku sangat menikmati rasanya pertarungan ini. Sampai sampai aku tidak sadar sudah setengah dari pasukan Monster aku bunuh. Tetapi sayangnya aku tidak berhasil membunuh Jenderal mereka. Dari pertarungan itu aku tidak mendapatkan data super baru, semua Monster yang aku bunuh adalah Monster biasa.
Mengetahui posisiku lebih diuntungkan. Jenderal mereka memerintahkan pasukannya untuk mundur. Aku membiarkan mereka pergi bersama Jenderalnya lalu menghampiri Siluman yang sedang bersembunyi dibalik pohon karena ketakutan.
"Cast off.. "
"Siluman! Mereka sudah pergi!"
Setelah aku mendekati Siluman, perlahan aku mendengar suara rintihan seseorang sedang menangis kesakitan.
"Siluman ... "
"Hiks-hiks!"
"Lah! Kenapa kamu nangis? Kamukan gak ngelawan Leaknya"
"Kaki aku kamu injek ... "
"Oh iya, maaf ... "
"Hiks, sakit ... "
Untuk menepati janji dan juga meminta maaf kepadanya. Aku mengambilkan Siluman itu apel yang diinginkannya. Aku melepas sepatu yang aku kenakan dan mulai memanjat pohonnya.
Beberapa menit kemudian aku menghampiri Siluman dan memberinya buah apel itu. Dia tersenyum manis padaku dan mengucapkan "Terimakasih".
Kami beristirahat sejenak dibawah pohon, angin berhembus kencang dan daun berjatuhan. Aku memperhatikan detail chip memori yang baru aku pakai.
Chip yang ukurannya hanya sebesar kuku kelingking ini sangat rentan mudah hilang, mungkin akan lebih baik jika chip sekecil itu diberikan tempat khusus.
"Pak!"
"Jangan panggil aku "Pak!" Aku belum setua itu!"
"Bisakah kamu berhenti memanggilku Siluman?"
"Kenapa?"
"Soalnya diluar sana ada banyak Siluman. Aku tidak tahu Siluman mana yang kamu panggil kalau seperti ini"
"Hmm begitu ya? Kalau begitu ayo kita pikirkan nama untukmu"
"Nama?"
"Bagaimana kalau Parth?"
"Parth?"
Parth dalam bahasa sansekerta artinya adalah "Cahaya Terang". Alasan kenapa aku memberinya nama seperti itu mungkin karena awal pertama kali aku berjumpa dengannya adalah saat dimana sesudah cahaya terang muncul menerangi Gua.
"Ya, Parth. Apa kamu suka?"
"Eum, ya ... Apa saja boleh ... "
"Bagus ... "
Sambil bersantai aku juga menanyakan beberapa hal mengenai Siluman yang sudah aku beri nama "Parth" ini. Melihatnya menggigit buah apel sambil tersenyum, membuatku merasa kalau dia dalam suasana hati yang baik.
"Silu- maksudku Parth. Sudah berapa lama kamu tinggal di dalam gua?"
"Eum ... sedari aku kecil. Mungkin sudah delapan belas tahun"
"Ngomong ngomong soal dari kecil. Apa Ayah dan Ibumu juga seorang Siluman?"
"Tidak juga. Ayahku Manusia dan Ibuku Hewan kelinci, lalu lahirlah aku"
"Taek lu! Gen macam apa itu?!," Ucap batinku.
Jawaban itu membuatku terkejut, bagaimana bisa Manusia dan Hewan melahirkan Siluman? Sungguh keajaiban yang tidak terduga. Apakah Ayah yang anaknya Siluman ini masih waras, atau kurang obat? Aku juga tidak habis fikir dengan kelakuan Ayahnya.
"Oh ya, kamu anak tunggal?"
"Aku punya delapan bersaudara"
"Lalu, dimana mereka semua?"
"Mereka semua habis dibunuh manusia dan dijadikan sarapan, hanya aku yang tersisa"
"Aku ... Minta maaf ... "
"Hm? Kenapa kamu minta maaf?"
"Ya, tidak.. aku minta maaf saja ... "
"Kenapa minta maaf?"
Aku membisu menutup mulutku yang ikut merasa bersalah mendengar perkataannya. Lain kali aku harus lebih berhati hati saat memilih mangsa.
"Orang tuamu sekarang dimana?"
"Mereka berdua juga mati karena melindungiku"
"Aku turut berduka ... "
"Ah bukan masalah..," Tetap asik menggigit apel.
"Dih! Sedih dikit ngapa! Hah sudahlah, sebaiknya sekarang kita pulang"
Menjelang sore hari kami kembali ke Gua. Dalam perjalanan, kami tidak menemukan adanya Monster. Tetapi justru kami bertemu mereka setelah sampai di Gua.
"Hihihi~"
Dari dalam gua mulai terdengar suara aneh dan tidak seperti biasanya. Suasana di dalam gua kali ini rasanya lebih mencekam dari pada sebelumnya.
Banyak suara cekikikan disusul dengan munculnya kelelawar merah dari dalam Gua. Warna kelelawar yang tidak biasanya, warna mata mereka juga terlihat merah pekat seperti darah.
Parth semakin ketakutan saat kami berdua mendekati Gua. Tangan Parth juga terasa bergetar setelah dia merangkulku. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang ada di dalam Gua itu?
Aku mencoba meninggalkan Parth sendirian di dalam Gua, namun ia tidak mau. Parth terus saja mencengkeram bajuku dengan sangat kuat. Matanya berkaca kaca seolah tidak ingin tinggal di dalam Gua.
Waktu itu aku berfikir, satu satunya solusi adalah membawanya ke Rumah. Mungkin membawanya ke Rumah untuk sehari ini tidak akan masalah.
"Apa boleh buat. Kita ke Rumahku saja"
"Anda yakin Tuan?"
"Ya, sepertinya dia juga sedang ketakutan. Akan lebih baik kalau dia aku bawa saja ke Rumah"
"Sesuai perintah"
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Rumah yang jaraknya agak jauh dari Gua. Selama perjalanan tangannya terus bergetar dan keringat mulai keluar dari tangannya.
"Sebenarnya di dalam Gua itu ada apa? Sampai membuatmu ketakutan seperti ini"
"Pemburu ..."
"Pemburu?!"
Perkataan itu lagi lagi mengingatkan aku ke dalam mimpi semalam, dimana para pemburu menembak kelinci putih mirip Parth lalu memakannya.
Terus terbayang sampai aku melamun mengingat mimpiku itu. Melihat aku melamun, Parth langsung menyadarkan aku.
"Hei Pak! Melamun terus kamu!"
"Sudah kubilang jangan panggil aku "Pak!""
"Kalau gitu kamu pengen aku panggil apa?"
"Nama saja cukup!"
"Oh ... Hei Nama!"
"Bukan gitu juga!"
"Lah ... Katanya pengen dipanggil Nama ..."
"Hah ... Maksudnya itu ..."
Aku menjelaskan maksudnya secara panjang lebar kepadanya agar dia paham sampai ke biji bijinya sekalian. Memiliki Siluman sepertinya cukup sulit untuk mengerti perkataanku.
"Oh gitu ... "
"Oh .. oh ... "
Sekian menit berlalu, kami sampai di depan Rumah. Di depan Rumah aku masih melihat sandal Ayah dan Ibu.
"Sepertinya Ayah sedang libur hari ini"
Sebelum masuk, aku memberitahukan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat di dalam Rumah kepada Parth. Sedikit demi sedikit dia seperti memahami setiap perkataan yang aku ucapkan kepadanya.
"Hm-mm aku paham ... "
"Bagus kalau kamu paham"
Setelah itu aku mengetuk pintu Rumah, tepat sekali tiga ketukan. Ayah dan Ibu membuka pintu Rumah. Mereka berdua sedikit terkejut melihat aku membawa seorang gadis ke depan Rumah.
"Dia siapa Nak?," Tanya Ibuku.
"Perkenalkan Ayah ... Ibu ... Dia ini Pa-"
"PACAR?!!" Serentak Ayah dan Ibuku.
"BUKAN!!!"