
Terik matahari yang cerah menyinari penjuru kota Bandung. Berbagai macam kendaraan berlalu lalang melintasi jalan raya, tapi disamping itu aku sama sekali tidak bisa melihat adanya Monster bermunculan di jalan raya.
Kami berdua pun berjalan menyusuri setiap gedung dan pasar. Sekalian aku juga di perintah sesuatu oleh sang Ibu Ratu di Rumah.
"Ilham! Kamu mau kemana?"
"Ke Kota Mah, cari angin"
"Angin kok dicari? Bukannya kamu sering ke Hutan tuh dapet banyak angin?"
*JLEB!*
"Mana sama cewek berdua lagi! Tinggalnya serumah, kadang juga sekamar"
*JLEB!*
"Ngakunya gak pacaran, padahal di belakang ... "
*JLEB!*
"Dari pada gitu, mending ini belanja ke pasar! Daftar belanja sama uangnya ada di dalam!"
Setiap perkataan Ibuku itu sangat menusuk hatiku. Padahal aku tidak merasa melakukannya, ya meskipun ada satu hal yang tidak bisa aku sangkal.
"Hah ... Lama lama tugas ini semakin berat saja ... "
Di sampingku Siluman atau Parth terlihat terpesona dengan pemandangan Kota. Mungkin ini kali pertamanya dia melihat keramaian Kota, tapi karena dia terlalu fokus menatapi jalan jalan Kota, sampai sampai dia tidak fokus berjalan dan akhirnya aku lagi yang harus menjaganya.
"Awas, nanti ketabrak ... "
"Awas! Nanti masuk ke sumur!"
"AWAS! NABRAK TIANG LISTRIK!"
Ujung ujungnya aku menggenggam tangan Parth demi menghindari kecelakaan terjadi pada dirinya. Aku teringat kembali dengan niat batinku saat itu, "Aku menguatkan tekad untuk tidak peduli terhadap Siluman, sampai kapanpun itu juga".
"Hah ... sepertinya itu juga cuma wacanaku saja"
"Eh! Eh! Ilham! Itu apa?"
"Boneka ~"
"Kalau itu apa?"
"Kucing, spesies Hewan sama seperti kamu"
"Aku bukan Hewan! Aku Siluman!"
"Sama saja, kamu juga keturunan Hewan! Hahaha!"
Parth terus menerus memberiku banyak pertanyaan yang tidak terhitung jumlahnya, karena memang aku malas menghitungnya.
"Nah, Ilham! Ayo kita cari Monsternya!"
*JLEB!*
"Etdah ... Sekarang kita memang lagi nyari!! Emang sebelumnya kita jalan begini kamu anggap apa HAH?!," Kesal batinku.
Kebetulan selama mengelilingi Kota ada banyak toko yang bisa aku lihat, sekaligus aku menyelesaikan daftar belanja ini.
"Baiklah, berikutnya shampoo dan detergen"
Tanah perlahan mulai bergetar dan seseorang dari kejauhan berteriak minta tolong. Perhatian Parth juga teralihkan pada teriakan itu.
"GRAAAA!!"
Dan tidak disangka ternyata lima ekor Goblin raksasa berlarian menghancurkan gedung gedung kota. Dari salah satu Goblin yang sangat besar itu, Mak Lampir tertawa sambil berdiri di punduk Goblin.
"Eeeehehehe, Hancurkan! Hancurkan anak anakku! Kita hancurkan peradaban manusia ini!"
Masyarakat kota berteriak sambil berlarian menyelamatkan diri. Aku dan Parth juga bertabrakan dengan orang orang sekitar, sampai aku menarik Parth ke dalam lorong sempit.
"Kamu siap Parth?"
"Ya! Ayo!"
"Mari kita lakukan Tuan!"
"Ya!"
Menyembunyikan indentitas kami berdua, aku bertransformasi bersama dengan jamku. Tapi aku juga tidak menyangka kalau Siluman juga bisa bertransformasi dan memiliki kostumnya sendiri. Akhirnya kami bertransformasi di waktu yang bersamaan.
"Berubah ..."
"Cast on ... "
...Semangat tak gentar, berani nan tangguh! Bilah parang tajam membantai ke tidak benaran!...
"PATTIMURA!"
"Berubah ... "
"Rabbit! "
...Melompat dan lompat, Senang dan gembira! Kaki kuat anugerah dari sang Dewi surga!...
"PUTRI MAYA!"
Kostum putih milik Parth, serta mahkota puteri dan jubah yang dipakainya itu, semakin menambah kesan kalau Parth bukan Ksatria biasa. Mungkin dia bisa dibilang memiliki level yang jauh lebih tinggi dari pada kostum milikku ini.
"Sejak kapan kamu punya Devise?"
"Mmm, sudah sejak lama"
"Kenapa gak bilang dari awal?"
"Aku lupa, Hehehe"
"Dasar ... "
"Hei Kalian! Sudah kunantikan kedatangan kalian! Eeeehehe!"
"Tuan, saya rasa ini waktunya menggunakan itu"
"Ah ... Kau benar ... Parth! Tolong ulur waktu!"
"Ayayai Kapten!"
Parth melesat menghajar habis habisan para Monster Goblin. Hanya dalam hitungan menit Monster Goblin itu sudah mulai berjatuhan.
"HIAT!!"
*PAK!*
"GRAAAKKHH!!!"
"Kalau gini caranya, tanpa bantuanku Parth bisa menghabisi mereka semua sendiri ...," Keluh batinku.
"Jangan mau kalah Tuan!"
"Hm, Ya! Kau benar!"
"Cast off"
Langsung saja aku melepas chip pertama dan aku memasang chip kedua. Kekuatan dari chip kedua mulai masuk ke dalam jam dengan cepat.
"Accept data, Access data, Process data, Success!"
...Seorang pendekar silat dari perguruan pencak silat Elang Putih yang hancur hidupnya setelah tunangannya, Marni Dewianti, Ayahnya, Paksi Sakti Indrawatara, dan saudara saudara seperguruannya tewas di tangan seorang Pendekar kejam misterius yang dijuluki "Si Mata Malaikat". Balas dendam pada "Si Mata Malaikat" harus dibayar dengan kehilangan indra penglihatannya, walaupun kemudian dia secara tak sengaja menemukan sebuah Gua angker tersembunyi dan berhasil mempelajari ilmu ajian langka dalam Gua tersebut. Berkelana membasmi kebatilan dan kejahatan serta membantu orang orang yang lemah dan tertindas di seluruh penjuru Nusantara, sekaligus mencari kedamaian di dalam hatinya....
"BARDA!"
"Baiklah ... Langsung saja ... Berubah!"
...Hidup dalam kegelapan, Silat luar biasa hebat! Berkelana mencari kedamaian hati!...
"BARDHA!"
Perlahan penglihatanku memburam dan lama kelamaan menghitam. Aku juga bisa merasakan entah dari mana asalnya seekor binatang berekor panjang seperti kera tiba tiba bertengker dipundakku.
"Kenapa ini?! Ada apa dengan mataku?! Argh!! Pendengaranku!! telingaku sakit sekali!!!"
"Sebagai catatan Tuan, kini indra pendengaran dan penciuman tuan meningkat. Namun anda tidak akan bisa melihat selama menggunakan chip ini"
"GIMANA CARANYA AKU MENGHAJAR MEREKA TANPA MELIHAT?!!"
"Gunakan indra pendengaran dan penciumanmu Tuan, ada beberapa kekuatan khusus juga di dalam chip ini"
"Rupanya begitu ... "
"Kalau anda tidak segera maju, anda tidak akan mendapat bagian Tuan ... "
Terlihat Part sudah menghabisi dua Goblin raksasa dan hanya tersisa tiga Goblin lagi. Aku tidak bisa membiarkan Siluman itu menghabisi semua Goblinnya karena ...
"AKU LAKI LAKI! TIDAK INGIN HILANG HARGA DIRI!"
"Hahaha, Tuan benar benar bermotifasi tinggi"
*WHUS!*
Dengan teknik khusus aku berlari secepat angin. Aku berjalan menaiki tubuh Goblin dan menusuk kedua mata Goblin itu dengan tongkatku.
"RRRAAARR!!!"
Setelah Goblin itu mati, seketika tongkatku itu aku cabut dan aku lempar sampai menembus jantung Goblin yang satunya.
*CRAT!*
"GRAAA!!!"
Sekarang hanya tersisa satu Goblin yang masih bertahan. Goblin itu sepertinya yang terkuat dibandingkan dengan Goblin yang lain. Tapi meski begitu Parth masih jauh yang paling kuat.
*PLETANG!*
"Sekali tendangan lagi!! Hia-"
*TUP!*
Aku menahan serangan Parth dengan memegang kakinya. Seperti dugaanku kaki Parth ramping, tapi sekali tendangannya bukan main.
"Ilham?!"
"Maaf, Goblin ini milikku sekarang ..," Tersenyum licik.
Sekencang mungkin aku melempar Parth ke langit. Langsung saja aku menghabisi Goblin terakhir dengan tinjuku, sayangnya setelah aku menghabisi Goblin terakhir, Mak Lampir sudah tidak ada disana.
Warga sekitar mulai ramai mendekat dan Parth juga menatapku dengan ekspresi wajah kesal. Aku menarik tangannya untuk pergi dan menjauh dari orang sekitar.
"Cast off ... "
"Hah, sepertinya Mak Lampir akan terus berbuat keonaran. Eh Parth! Jadi gimana ceritanya kamu bisa dapet Devise?"
"HMPH!"
"E-eh ... Baperan dia mah ... Padahal cuma satu Goblin," Ucap batinku.
"Tapi ngomong ngomong keren juga kostum kamu itu ... Kruk ... "
Sambil menikmati apel merah kesukaan Parth. Parth terus saja melirik menatapiku yang sedang mengunyah apel.
"Hmm? Kamu mau? Nih!"
"AH! Makasih ... Nyam nyam ... "
"Hahaha, lepas ini aku mau kamu cerita tentang Device itu"
"Okeh ... "
Sepertinya meskipun Parth Siluman yang perilakunya seperti itu. Kenyataannya dia adalah Makhluk yang Friendly dengan siapapun juga.