KJL

KJL
π Pamanku Sugar Dady π



Ibu memberiku isyarat seperti "Lihat di kebelakang!". Namun sebelum ibu berhasil menyadarkan aku, pamanku menyentuh pundakku lalu aku membalik badan.


"Bagaimana kabarmu Ilham?"


"Ba-ba-baik Paman!"


Perlahan aku berjalan ke arah meja bersampingan dengan Parth. Wajahku terasa begitu tegang, rasanya hampir setiap detik bibirku tidak bisa berhenti tersenyum dan berperilaku seperti biasanya. Tubuhku terasa sangat kaku seperti kayu.


"Ma-mari duduk Paman!"


"Ya, terimakasih"


Kehadirannya rupanya hanya untuk membicarakan beberapa hal penting dengan Ayah dan Ibu. Aku bisa melihat raut wajahnya yang suram, dan itu membuatku agak sedih. Ekspresinya sama seperti ekspresi tahun lalu, dia mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan berwajah seperti itu.


"Jadi begini, saya kesini hanya ingin memberikan kalian tawaran untuk memenuhi kebutuhan kalian semua satu keluarga. Baik masalah finansial maupun masalah material, sebisa mungkin saya berikan kalian kesempatan"


"Bukan itu saja, saya juga akan memberikan Kakak bantuan modal usaha sebesar sepuluh miliyar"


"SEPULUH MILIYAR?!!," Ayah, Ibu dan termasuk aku sendiri terkejut di waktu yang bersamaan.


"Bukan Maen!," Terdengar suara seseorang dari balik jendela.


Setelah dia mengatakan hal itu, wajahnya tetap datar dan biasa saja. Lebih tepatnya dia masih berwajah suram. Akan tetapi dia tersenyum setelah melihat kami bertiga terkejut secara mental. Saat itu aku berfikir, "Pamanmu sudah baik seperti ini". Kenapa kamu tidak mencoba bersikap normal saja seperti biasannya agar dia merasa lebih senang.


"Ayo! Ilham! Bersikap normal seperti biasanya saja! Dia hanya Pamanmu! Ayo ... Ayo .. AYO!," Ucap batinku.


"Eh eh Paman! Paman tinggal dimana? Paman orang kaya BUANGET kan?," Nada bicaranya yang tinggi, Parth berdiri dengan rasa penasaran.


*PLETUK!*


"Hei! Ayolah! Bersikap sopan!"


"Aduh ... Emangnya kenapa?! Dia Pamanmu kan? Dan lagi pula aku cuma seekor Silu-"


"AHH! Kami lupa ada urusan penting diluar, jadi kami tinggal dulu ya Mah, Pah, Paman!"


Hampir saja keceplosan, aku membungkam mulutnya rapat rapat dan membawanya ke luar menjauhi Ayah, Ibu dan Paman. Mereka bertiga kebingungan melihat kami berdua bertingkah aneh.


"Bisakah kamu tidak seenaknya?"


"Habisnya suasana di dalam canggung banget! Kamu juga laki laki jangan ragu dong! Dia kan Paman kamu sendiri! Gimana sih?!!"


"Ya, maaf ... "


Dan pada akhirnya, justru akulah yang kena ceramah oleh Siluman bodoh ini. Menyebalkan, sangat menyebalkan, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tidak akan pernah.


Kami berdua kembali masuk ke dalam Rumah dan bertingkah normal seperti biasanya meskipun agak sedikit menyulitkan untukku berhadapan dengan Paman.


Benar apa yang diucapkan Parth. Sepatutnya aku tidak boleh mengeraskan suasana, tetapi mencairkan suasana. Kalau begitu aku harus bisa melakukannya! Menghadapi Pamanku sendiri!


"Ayo ... Ayo ... AYO!!!"


"HEUMM?!!," Mata Paman mengeluarkan sinar merah.


"Hah! PERCUMAAAA!!!," Teriakku dalam batin.


"Eu ... Paman! Maaf ya, kami berdua ingin pergi keluar sebentar. Kami tidak ingin ikut campur masalah ini, hehehe," Ucapku sambil kembali mendorong Parth keluar Rumah.


"Eh? Lah kok?"


"Tunggu dulu Ilham!"


"Hii! I-Iya Paman?!"


"Paman ikut, biar Paman teraktir jajanan ... "


"A-ah ... Boleh Paman," Seringaiku


"MATE AKU!!," Teriak batinku lagi.


"Ilham ... "


"I-iya?"


"Lebay kamu mah ... " Parth membuang muka.


"Tsk!"


Ditengah keramaian kota. Paman, Aku dan Parth berjalan melihat lihat kota, disana aku juga bisa melihat gedung gedung yang tengah di perbaiki akibat pertarungan semalam.


"AH! Boneka!"


"Yah ... Lagi lagi boneka ... Sebenarnya dia ini kenapa?"


*Tring!*


"Eh? Paman kemana?"


Aku melihat Paman membeli sesuatu di dalam toko boneka. Tidak lama kemudian Paman kembali dan memberikan sebuah kantung tas yang di dalamnya terdapat boneka wortel berukuran sedang.


"Ini Nak, ambillah ... Sepertinya sedari tadi kamu terus menatapi boneka ini. Paman pikir kamu menginginkannya"


"Wah!! Makasih Paman!"


"Oh ... Jadi Parth mau bonekanya ya?," Ucap batinku.


"Ilham, kamu mau boneka? Paman bisa belikan sekarang"


"E-enggak Paman! Terimakasih!"


"Masa iya anak laki laki SMK di beliin boneka," Bisik batinku.


"Haha, Paman hanya bergurau. Palingan kamu maunya dibeliin kereta dorong"


"APALAGI ITU! Sangat aku tolak Paman!"


"Bleble ... Dede bayi masih terlalu lebay deh ... Blebleh ... Hihihi!," Ledek Parth.


Paman dan Parth tertawa bersamaan. Tapi tunggu dulu, ini pertama kalinya aku melihat Paman tertawa seperti ini. Aku rasa ini bisa jadi kesempatan yang baik untuk kami memperdalam ikatan keluarga.


Seharian penuh kami bertiga menghabiskan waktu. Kami pergi ke kebun binatang, kolam renang, nonton bioskop, pergi ke taman bunga, dan pastinya Rumah Hantu.


"MUAHAHAHA!"


"KYAAA!! POCONG!! ADA POCONG!!"


"Cuma lemper ... "


"KHIAAA!! KUNTILANAK!! ADA KUNTILANAK JUGA!!"


"Cuma Ibu Ibu mau tidur, dia pake piyama ... "


"POKOKNYA AKU GAK MAU DIPAKSA KESINI LAGI PAMANNN!!! Hiks hiks ... "


"Hahaha!!," Paman tertawa.


Yah ... Disamping itu aku merasa puas melihatnya ketakutan seperti ini. Rasakan! Sebelumnya dia bilang aku orang "Lebay". Dan sekarang dia bukan hanya Siluman bodoh, tapi juga Siluman cengeng seperti Bayi Bla ... Bli ... Blu ... Tapi, ternyata cengkeraman Siluman kencang juga ya, tangan kiriku sepertinya mati rasa.


Hanya berselang beberapa menit akhirnya kami keluar dari Rumah hantu itu. Parth juga melepas cengkeramannya dari tanganku dan luar biasa! Aku tidak bisa menggerakkan tangan kiriku, tangan kiriku terayun begitu saja seperti tangan yang benar benar putus.


"Eu... Ilham? Tangan kamu kenapa?"


"Tanganku patah!"


"Ma-maaf!"


"Muaaf ... Muaaf?"


"Jangan marah ya! Hehehe"


"KETAWA DIA?!," Kesalku dalam hati.


"KESINI KAU!!"


Aku berlari mengejar Parth, Parth juga berlari menghindariku. Dia tertawa riang sedangkan aku teramat kesal melihatnya, Paman terlihat senang melihat kami berdua bertengkar seperti ini.


Selama kami berjalan jalan di Kota, aku selalu pusing karena penasaran dengan Pamanku sendiri. Sebenarnya dia sekaya apa? Sebanyak apa uang yang dimilikinya? Sepertinya lima mobil mewah bisa dibelinya dalam sehari.


"Sebelum pulang, ayo kita beli oleh oleh untuk Ayah dan Ibu kalian di Rumah!"


"K-kalian?"


"Hah ... Terserah Paman aja. Tapi seharusnya Paman tabung uangnya, meski paman punya banyak uang dan tidak tahu harus dibuat apa dengan uangnya"


"Ayo anak anak! Pertama tama kita beli bakso!"


Paman terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya, Paman juga menarik lengan kami berdua. Sekilas aku melihat wajah Parth dan telinganya berwarna merah merona, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.


"Mungkin hanya perasaanku saja," Batinku meluruskan.


Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam, sudah beberapa gerobak lebih Paman membelikan oleh oleh untuk keluarga kami. Paman dan bahkan aku sendirian tidak mampu mengangkatnya. Tetapi terkecuali untuk Parth, dengan kekuatannya dia mampu mengangkat semua oleh oleh itu sendirian.


Pamanku saja sampai ternganga melihatnya. Awalnya kami membiarkan Parth membawanya sendirian, tapi setelah di pikir lagi akan terasa aneh jika seorang perempuan sepertinya membawa semua barang itu sendirian. Akhirnya Paman menyewa truk besar untuk membawa semuanya. Pastinya bukan itu saja, Paman juga sudah memberikan sembilan boneka baru untuk Parth.


"Kalau begini, kamar orang tuaku jadi penuh boneka"


"Tenang saja Ilham, Rumahmu juga akan Paman renovasi. Yang pasti, Paman jamin kalian akan betah di Rumah"


Kalau Paman sudah berkata demikian, maka sudah tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Urusan uang, Paman benar benar akan mengatasi semuanya.


"Boneka ... Boneka ... Hmm ... hmm ... aku suka boneka!"


"Ya ampun ... "