KJL

KJL
π Asmaralaya π



Perlahan mata kami terbuka. Aku dan Parth sedang dalam keadaan terikat bersama di suatu ruangan yang sepi, tapi di kelilingi oleh makhluk laut seperti hiu dan ubur ubur. Siapa sebenarnya orang yang sudah membawa kami berdua ke tempat seperti ini?


"Hei Parth! Bangun!"


Sebisa mungkin aku mencoba membangunkan dia, tapi dia masih belum sadar juga. Mau bagaimana lagi, akhirnya aku terdiam menunggu Parth tersadar, sembari terus menerus mencoba menyadarkannya.


"Parth! Sadarlah!"


"Zzz," Mendengkur.


"Cih, Kurang ajar! Ternyata dia tidur?! BANGUN WOEYY!!"


Semakin lama aku tinggal bersama Parth, kadar darahku semakin tinggi. Terus meninggi sampai tinggi yang tidak diketahui lagi ukurannya. Akhir akhir ini aku sering frustasi karena perilakunya itu yang merepotkan.


Tapi terkadang dia juga menjadi makhluk berguna, perkerjaan Rumah selalu Parth yang mengurusnya. Sebelumnya hanya aku saja yang melakukan perkejaan Rumah sendirian karena Ayah dan Ibu tengah sibuk berkerja. Mereka hanya seminggu sekali pulang ke Rumah.


"Kamu sudah bangun Ksatria?"


"Siapa?! Siapa disana?!"


Sesosok wanita berpakaian hijau mengkilap dan memakai mahkota cantik di kepalanya, datang mendekatiku. Dia juga bersama beberapa Prajurit elite yang ikut mengawalnya dari belakang.


"Kau!"


"Aku ... Ratu Laut Selatan. Tanpa aku beritahu, pastinya kamu sudah tahu namaku"


"Enggak, memang anda siapa ya? Kok ngartis banget jadi setan!"


"Dasar lelaki tak tahu diri! Rasakan ini!"


"Berubah!"


"Cast on ... "


Semangat tak gentar, berani nan tangguh! Bilah parang tajam membantai ke tidak benaran!


"PATTIMURA!"


*TREETTT!!*


"HAHAHA! Sudah aku duga kamu bukan manusia biasa!!"


"Kalau kamu berpikiran seperti itu. Maka artinya kau salah!"


Dalam sekejap mata aku berpindah ke belakang wanita itu dan melukai bagian punggungnya dengan golokku.


*SRET!*


"Arkh! Kurang ajar!"


"Rupanya cuma segini tenagamu ya setan?"


"Hah, pakaianmu itu tidak sekuat pakaianku, mana mungkin kamu bisa mengalahkan aku!"


Dari tongkat wanita itu, tiba tiba menciptakan anak panah yang terbuat dari air. Bukan hanya itu saja, wanita itu juga memerintahkan semua makhluk laut karnivora untuk menyerang dan mengoyak tubuhku di dasar laut.


Bahkan makhluk laut yang seharusnya ada di dasar laut yang paling dalam. Mereka semua naik ke atas permukaan dan menyerangku. Piranha, Ubur Ubur, Hiu, termasuk belut listrik.


*SRET! SRING!*


"Haha, ya ... Mereka masih bisa aku atasi. Asalkan tidak ada ... PAUS?!!"


"MOANGGG!!"


Paus biru yang terkenal karena ukurannya mencapai 35 meter dan berat hampir 200 ton, datang menghampiriku. Bercandakan? Ini bercandakan? Orang ini benar benar ingin membunuhku!


"Kabur jam! KABBORR!!"


"Hahaha! Habisi dia!!"


Tunggang langgang aku berenang di dasar laut. Kecepatan paus itu berenang sudah tidak diragukan lagi, apalagi dengan ukurannya yang besar. Untungnya dengan kekuatan jam, kecepatan berenangku bisa menyamai kecepatan paus itu.


"Eeeeehehehe!"


"Lampir?!"


"Biar aku bantu kau makhluk laut! Eeeehehehe!"


Mak Lampir menambahkan kecepatan ikan itu sebanyak dua kali lipat, dia juga mengurangi kecepatanku sebanyak lima kali lipat.


"Aku akan dimakan jam ... "


"Lebih tepatnya "kita" Tuan"


*GULPH!*


Suasana menjadi gelap gulita, tidak ada penerangan cahaya sedikitpun. Yang ada hanyalah air, air, dan air. Dan yah, plankton juga.


"Bagus sekali, sekarang aku dimakan. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Tunggu sebentar Tuan, saya sedang menyalakan sistem pencahayaan ... "


Pakaianku mulai mengeluarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Kalau aku tidak memakai perlengkapanku, lalu melihat cahaya itu secara langsung, mungkin kedua bola mataku akan meleleh keluar.


"Bagus! Ayo kita coba tanggalkan gigi makhluk ini!"


*TING! TING!*


Saat pedangku terus menerus mencoba membukakan jalan keluar, mulut paus itu masih saja tertutup rapat. Pedangku sama sekali tidak berpengaruh, apa mungkin aku harus mencari jalan keluar yang lain?


Apakah pernah ada manusia yang ditelan paus ini? Aku berusaha berenang lebih dalam lagi ke dalam perut paus untuk mencari jalan keluar.


"Tuan, wanita yang anda hadapi itulah yang bernama Kandita, dia seorang Ratu penguasa pantai selatan"


"Oh ... Benarkah? Aku baru tahu ... "


"Emangnya Tuan tidak pernah diberitahu di Sekolah?"


"Eum ... Mungkin pernah, hanya mungkin aku saja yang lupa"


"Ya ampun ... "


Sementara aku sendang mencari jalan keluar dari dalam perut paus. Kandita dan Mak Lampir sepertinya sedang membawa Parth ke suatu tempat yang mengerikan jauh dibawah dasar laut.


3 Jam setelah aku berkeliling di dalam tubuh paus, aku masih belum juga menemukan jalan keluar. Sudah berulang kali juga aku mencoba membelah perut paus ini, tapi saking keras dan lenturnya, pedangku saja sampai tidak bisa melukainya.


"Hah ... Hah ... Aku rasa dia bukan paus biasa, kalau paus biasa seharusnya dengan pedangku ini perutnya bisa terbelah"


"Apa yang akan kita lakukan sekarang Tuan?"


"Hah ... Entahlah ... "


Jauh di atas perut ikan paus, cahaya putih muncul seperti sebutir bintang yang terjebak. Aku pun mencoba mendekatinya, semakin aku dekati bentuknya semakin jelas terlihat. Sebuah benda seperti bola cahaya mengambang dengan perlahan. Perlahan kedua tanganku menggapai benda itu.


"Ah ... Kekuatan ini ... Tuan ... Saya mengiginkannya ... "


"Apa ini?"


"Itu bola surga Tuan ... Tuanku terdahulu menyebutnya Asmaralaya"


"Apa yang akan terjadi kalau aku memberimu ini?"


"Entahlah Tuan ... "


"Ya, tidak ada salahnya mencoba ... "


Dengan resiko yang tidak dipedulikan, dan aku juga merasa kalau bola ini tidak akan berpengaruh buruk pada jam. Akhirnya aku mendekatkan jam dan menempelkan keduanya.


*PLSAT!*


Kilatan datang tiba tiba dan bola cahaya yang aku pegang tadi juga lenyap. Beberapa detik kemudian, jam mulai terasa sangat dingin.


Suhu jam mulai berkurang drastis hingga minus seratus derajat. Otomatis tangan kananku juga membeku mati rasa, kekuatan itu mulai masuk melalui tangan kananku lalu merembet keseluruh tubuh, rasanya dingin tapi saat membeku, tubuhku seperti bukan membeku melainkan seperti tersengat listrik.


"Updating system ... "


"Clear ..."


Perlahan listrik dan suhu tubuhku mulai normal kembali. Lemasnya tubuhku membuatku terjatuh ke dasar perut si paus. Aku terkapar lemas tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku selama beberapa menit.


"Hei ... Jam ... Kamu masih disana?"


"Ya Tuan ... "


"Jadi, bagaimana?"


"Kemampuan Devise telah ditingkatkan, performa Devise telah ditingkatkan, Fitur baru telah dipasang"


"Hei ... Hei ... Kau ini smartphone apa jam? Canggih bener ... "


"Inilah teknologi masa depan Tuan ... "


"Haha ... Kau memang hebat"


"Terimakasih Tuan. Ngomong ngomong Tuan, sekarang anda bisa bertransformasi dengan dua chip sekaligus"


"Iyakah? Coba-"


Karena senang, aku mencoba untuk bangkit, tapi sepertinya 1 cm pun rasanya tubuhku tidak ingin bergerak. Kondisiku masih sangat lemas seperti baru saja berlatih selama seharian penuh secara nonstop.


"Jangan memaksakan diri, Tuan. Sebaiknya anda istirahat dulu untuk beberapa menit"


"Ya ... Baiklah ... Aku rasa ... Tubuhku memang butuh itu ... "


Di dalam perut paus, aku beristirahat sejenak. Beginilah sekarang nasibku, Semakin hari lawanku semakin sulit. Bukan itu saja, semakin hari, hari hariku semakin sial saja rasanya.


Dan tadi saat aku tengah kewalahan dikejar paus, lagi lagi Parth tertidur dengan santainya tanpa ancaman mara bahaya. Santai sekali hidupnya itu.


"AWAS KAU PARTHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!"