KJL

KJL
π Kula Sentana π



Karena merasa tidak ada yang perlu disembunyikan dari makhluk ini, aku menceritakan semua yang terjadi kepadanya.


"Aku ... Kena kutukan?"


"Ya, maaf ... "


"Kok minta maaf?"


"YA ITU! ITU KARENA AKU ... karena aku lalai ... "


Aku menunduk meminta maaf di depan Parth. Parth terdiam, dan tidak lama aku merasakan sensasi tangan yang menyentuh kepalaku.


"Hehehe ... Kamu tahu? Dulu aku selalu pengen punya keluarga kayak kamu ... Setidaknya orang yang bisa dekat dengan aku ... "


"Aku menciptakan tujuh saudaraku sendiri dengan Ilmuku, dan aku berhasil menciptakan mereka semua. Aku selalu bersama mereka, dan kami hidup bahagia"


"Sampai manusia datang dan membunuh semua saudaraku, hatiku amat sangat hancur, sampai aku hampir jadi gila"


"Tujuh saudaraku, Hana, Maya, Bunga, Cindy, Lea, Ale, dan Salman. Mereka semua di bawa oleh manusia manusia kejam itu! Mereka membunuh saudaraku!"


"Awalnya aku berniat membalas dendam kepada para pemburu dan semua manusia yang aku lihat. Sampai suatu saat aku ketemu sama kamu"


"Selama ini aku mengikuti kamu hanya untuk mencari waktu yang tepat setelah jam itu lepas dari tangan kamu, yaitu dengan membunuhmu"


"A-apa?"


"Yup, itu adalah tujuan awalku. Tapi nyatanya setelah aku tinggal bersamamu, di Rumahmu, Di sini, bersama keluargamu. Rasanya hatiku hangat seperti dulu"


"Bertemu dengan Ayahmu, Ibumu, Pamanmu dan juga teman kamu. Kayaknya aku punya harapan besar kedamaianku kembali seperti dulu"


Parth mencurahkan semua isi hatinya kepadaku, aku yang menatap matanya juga sampai sampai Parth juga merasa malu dan memalingkan wajahnya dari mataku.


"Wah ... Punya rasa malu juga makhluk ini," Bisikku dalam hati.


"Kamu punya keluarga yang baik Ilham, berbeda denganku. Waktu kecil aku ini anak panti asuhan, aku tidak diasuh Ayah Ibuku. Kehidupanku juga menyendiri saat itu"


"Waktu itu kamu bukan Silumankan?"


"Tentu saja bukan! Kalau soal yang itukan waktu aku udah pindah ke masa lalu!"


Benar juga, aku baru tahu juga kalau sedari kecil Parth tidak punya orang tua. Dia tumbuh tanpa kasih sayang dari mereka berdua, aku bersyukur mereka berdua masih disisiku.


"Karena aku tidak punya tujuan, aku terus memperdalam ilmuku dengan terus belajar dan belajar"


"Aku menghabiskan seumur hidupku untuk membaca. Sampai akhirnya aku jadi Ilmuan terkenal di masa itu"


"Jabatanku sangat membosankan dan aku juga mulai muak terus berdiam dimasa itu. Pikiranku selalu saja tertekan dengan materi dan materi, ini.... Itu... Alat canggih baru... Bla... Bla.... BLA!"


Parth terlihat sangat marah saat dia menceritakan semua tentang kehidupannya dulu di masa depan.


"Wa-wah~ ini siluman kalau marah, sama kayak Ibuku saja. Singa mengaum! GRAAA!!" Ucapku dalam hati.


Tapi semua yang dikatakan wanita ini memang benar. Tanpa Ayah dan Ibuku, aku tidak akan bernafas, aku tidak akan hidup, aku tidak akan bebas sealami ini seperti anak anak yang hidup diluar sana bersama dengan keluarga mereka.


Kasih sayang mu... Ayah... Ibu..., aku menunduk mengingat perjuangan Ibu, mengingat wajah Ayah yang tengah kelelahan mencari nafkah demi kami.


"Ilham... Aku iri sama kamu loh..."


Aku menatap Parth yang tengah tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dengan senyumanku lalu memeluknya yang tengah terbaring diranjang.


"E-Eh? Ilham?"


"Kalau kamu mau, jadilah saudariku. Aku akan selalu jadi kakak yang bisa melindungimu... Tak peduli seburuk apapun, aku bersumpah seumur hidupku akan selalu menjagamu! Meskipun kamu bukan saudariku lagi.."


Meski aku tidak bisa melihat wajahnya, aku bisa merasakan Parth memelukku balik. Aku merasakan bajuku mulai basah, dan melepas pelukanku darinya. Wajah Parth berlinang air mata.


"Kakak..."


"Cup cup..," Dengan lembut aku membelai kepalanya.


Mulai dari sekarang dan selamanya, hubungan kami berdua hanyalah sebagai Adik dan Kakak. Berharap punya Adik perempuan, dan sekarang aku punya Adik perempuan. Mungkin ini nasib yang harus aku terima.


"Parth ... Maaf, aku tidak tahu harus aku apakan kutukanmu ini ... "


"Kakak jangan khawatir ... Kita bisa pergi ke masa depan untuk mengambil obatnya ... "


"Ada caranya?!"


"Iya kak ... Hehehe ... "


"SYUKURLAH! ... "


"Uhuk! Uhuk! Sesak Kak ... "


"Baiklah! Tunggu apa lagi?! Ayo kita berangkat!"


Aku menarik tangan Parth, tapi sepertinya Parth terlihat sedih. Dia seperti tidak ingin pergi kembali ke masa depan, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Ada apa?"


"Di masa depan, akan ada orang yang menggangku kita Kak ... Aku tidak mau Kakak terjebak di masa depan ... "


"Bagaimana kamu tau?"


"Soalnya dia anak sepanti asuhan sama aku dulu ..."


"Ah... Jangan khawatir! Aku tidak akan kenapa napa! Yang penting sekarang kita pergi dan bawa obatnya!"


"Oke Kak!"


Sebelum kami pergi ke masa depan aku mengirimi beberapa pesan kepada kedua orang tuaku. Pesan rasa terimakasihku kepada mereka yang terus menyayangiku sampai sekarang.


"Mah ... Yah ... Aku sayang kalian .., " Pesan keluar


"Nak? Kenapa tiba tiba kirim pesan begitu?," Pesan masuk


"Enggak apa apa Mah, Aa cuma mau bilang makasih aja sama Mamah juga Ayah, tanpa kalian berdua Aa gak bisa bernafas sampai sekarang (tidak ada di dunia ini)," Pesan keluar


"Iya... Jaga diri kamu disana ya Nak... Awas jangan lakuin hal yang aneh aneh sama perempuan itu!," Pesan masuk


"YA ENGGAK LAH!," Pesan keluar.


Disaat suasana sedang sedih, tiba tiba Mamah mengirimi pesan seperti itu kepadaku. Otomatis emosiku turun drastis dan mengakhiri percakapan secepatnya.


"Jadi Parth, dimana mesin waktunya?"


"Ada di dalam Gua.."


Mendengar jawaban itu, mau bagaimana lagi? Akhirnya kami berdua pergi ke hutan mencari Gua yang jadi alat transportasi kami berdua. Mau tidak mau aku harus menuntun Parth berjalan, kondisi tubuhnya masih sangat lemas.


"Makasih Kak..."


"Yah ... Jangan terlalu banyak bergerak ..."


Aku berkata seperti itu karena ... Tubuh Parth yang berat! Dia memang kurus dan ramping, tapi ... Kekuatan yang dimilikinya itu dan ototnya juga yang membuatnya terasa sangat berat.


Beberapa menit kami berjalan dari Rumah, tubuh Parth semakin lama beratnya semakin bertambah. Aku semakin kesulitan menuntunnya berjalan.


"Kakak ... Aku ... gak kuat lagi jalan ... Hah..hah... "


"Ayolah ... Ber...tahan ... sedikit la...gi!!!"


*TUP!*


Sesuatu jatuh dari atas pohon, sekilas aku melihat ke arah suara dan ternyata aku melihat sebuah apel manis berwarna merah mengkilap tergeletak di atas rumput.


"Apa itu Kak? Hah ... hah ... "


"Cuma apel ... "


"HAH?! APEL!?"


"Eh?"


*WUSH!*


"HUAAAA!!!"


Tiba tiba saja Parth mendorongku sampai aku terhempas jauh menabrak pohon. Penderitaanku masih belum cukup sampai disitu, setelah menabrak pohon, puluhan ulat bulu berjatuhan lalu mereka merayap sampai ke dalam bajuku.


Aku berlarian kesana kemari sambil melepas bajuku yang di penuhi ulat bulu. Aku terus menggaruk tubuhku, sampai seluruh tubuh dan termasuk wajahku sendiri berbintik kemerahan.


Di samping itu Parth terlihat senang mengunyah apel merahnya. Hiks, sampai kapan nasibku akan sial seperti ini?


"Mmm... Uenakk!!"