
Bersantai dibawah perut paus ternyata tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku bisa melihat beberapa ikan juga yang ikut termakan oleh paus biru, mereka masih bisa berenang kesana kemari.
"MOANGGG!!!"
Suara paus menggema, aku sendiri bisa merasakan getaran dari suaranya itu. Rasanya seperti tidur di atas kasur pijat saja.
"Tuan!"
"Ya?"
"Saya sudah menstabilkan kondisi fisik anda Tuan, coba berdiri Tuan ... "
Aku mencoba menggerakkan beberapa anggota tubuhku, semua anggota tubuhku sudah bisa bergerak normal seperti biasanya. Kondisiku sudah pulih, bersiaplah kalian berdua. Sedalam mungkin aku menarik nafas lalu mencabut chip Pattimura yang aku pakai.
"Cast off ... "
Dalam keadaan kesulitan aku mencari chip Bardha yang aku simpan di dalam sakuku. Tekanan air di dalam perut paus sangat terguncang, aku kesulitan untuk memasang kedua chip itu. Terus berusaha aku menyesuaikan guncangan air di dalam dengan gerakan tubuhku.
"Cast on! Pattimura! Bardha!"
Kombinasi semangat dalam kegelapan. Keberanian dan ketangkasan, dialah sang Ksatria kegelapan!
"RAMBA!"
Pakaian hitam dengan Garis hijau tua melapisinya. Senjata tombak yang kedua ujungnya di lengkapi pedang besi tajam. Meski menggunakan chip Bardha, mataku tidak buta. Aku bisa melihat sekaligus pendengaranku menjadi sangat tajam.
"Ini adalah gabungan antara kedua kekuatan yang berbeda Tuan. Bardha memang buta, tapi Kapitan Pattimura tidak buta, kelemahan Bardha ditutupi oleh kekuatan dari Kapitan Pattimura, begitu pula sebaliknya Tuan"
"Wah ... Aku suka itu, baiklah waktunya beraksi!"
Tubuhku dengan mudahnya mengikuti arus air. Sedikitpun aku tidak terombang ambing, perlahan aku berjalan mencari titik yang tepat untuk membunuh paus yang sudah melahapku ini.
"Rasakan ini ... Topan air ... "
Secepat angin aku berlari mengelilingi perut paus hingga pusaran angin terbentuk. Setelah tornado mulai terbentuk, aku melempar tombakku ke tengah pusaran lalu mengendalikan pusaran itu.
Tornado itu dengan cepatnya mengoyak perut paus hingga tubuhnya juga ikut terkoyak. Sedikitpun tulang dari paus tidak terlihat oleh mata telanjang. Darah paus itu sepenuhnya mengotori laut selatan.
Lima ratus meter lagi menuju kerajaannya, selama perjalanan aku mencoba berbagai teknik baru yang bisa aku gunakan. Aku juga tidak perlu mengkhawatirkan Parth, karena dia memiliki kekuatan luar biasa.
Makanya dari itu, aku lebih memilih santai sembari mengumpulkan tenaga dan teknik. Kedaan laut yang merah, membuat Ratu Kandita sangat marah. Dia mencoba mencari tahu siapa yang sudah membuat laut birunya menjadi berwarna merah darah.
"Tidak mungkin! Pria itu masih belum mati juga Mak Lampir!"
"Eeeehehehe, tenang saja Nyai. Saat ini bagaimana kalau kita lukai hati anak muda itu ... "
"Caranya?"
"Hehe, ikuti saja perintahku ... "
Beberapa menit kemudian akhirnya aku sampai di depan pintu masuk Kerajaan. Semua Pasukan yang menghalangiku satu persatu aku belah tubuh mereka menjadi dua bagian.
*BRAK!*
"Dimana kau?!"
"Aku disini Ksatria ... "
"Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada temanku!"
"Tsk! Ksatria kurang ajar! Kamu mencari temanmu ya? Dia ... Ada di bawah ... "
Aku berjalan mendekati sumur raksasa yang terlihat sangat dalam. Dari dalam sumur itu terdengar suara jeritan banyak manusia yang sedang tersiksa.
"Tolong!! Ilham!!"
"PARTH?!"
"AHAHAHA ... Kau tidak perlu khawatir Ksatria, Mak Lampir hanya sedang memberinya mantra kutukan kematian"
"Cih!"
Tanpa berfikir lagi, seketika aku melompat ke dalam sumur. Aku berenang sekuat tenaga hingga dasarnya. Jeritan Parth semakin jelas terdengar. Semakin dalam aku menyelam, semua air itu berubah menjadi air darah.
"PARTH!"
"Jangan menghalangiku bocah!"
*ZAP!*
"ARGH!"
Aku terikat tali sihir, tubuhku juga sulit bergerak. Semua sistem yang sedang berjalan pada pakaianku itu, perlahan lahan mati.
"Eeeehehehe!"
"AAAAHHHH!!!"
"PARTH!"
Aku mencoba memaksakan diriku yang sedang terikat kuat oleh mantra sihirnya. Tapi sesaat sebelum aku bebas, Mak Lampir menghetikan mantranya.
"Ehehe ... Aku kasihan padamu anak muda. Aku memberimu dan siluman ini waktu bersama selama tiga hari lagi"
"Apa?"
"Dan setelah tiga hari, gadis ini akan mati menjadi abu ... Eeeeehehehe!!"
Tanpa sepatah kata lagi, Mak Lampir menteleportasikan kami berdua kedaratan. Parth terkapar di atas pasir pantai.
"Cast off"
"Parth! Parth! Hei Parth!"
Aku mencoba memegang dahinya, dan dahinya ternyata sangat panas, tubuhnya menggigil, seluruh tubuhnya juga memerah. Kutukan Mak Lampir sampai bisa membuat urat nadi yang ada di dalam tubuh parth menjadi hitam. Bahkan dengan jelas aku bisa melihat denyut nadinya yang keras dengan mata telanjang.
"Andai saja saat itu anda bergegas Tuan ... "
Melihat kondisinya semakin parah, aku menggendong lalu membawanya pulang ke Rumah. Di dalam Rumah hanya ada aku dan Parth saja, sedangkan Ibu dan Ayah akan pulang minggu depan, dan Paman sudah pulang ke Rumahnya.
Sesampainya di Rumah aku membaringkan dia di atas kursi. Bergegas aku mengeringkan tubuh dan bajunya yang basah dengan handuk.
"Maaf, aku hanya bisa mengeringkanmu begini ... Aku tidak bisa lebih dalam lagi," Darah perlahan keluar dari hidungku.
Setelah di rasa kering, aku membaringkan Parth di kasur bersama dengan boneka bonekanya. Aku menyiapkan kompres untuknya, dan duduk terdiam di sampingnya.
"Tuan, apa yang akan anda lakukan?"
"Entahlah. Kutukan? Apa kau tahu cara menghilangkannya?"
"Maaf, saya tidak pernah tahu soal ini Tuan"
"Jadi ... Tidak ada cara lain?"
"99% Sepertinya iya Tuan"
Tertunduklah aku karena kelalaianku sendiri. Aku hanya bisa membatu melihat Parth menderita. Kenapa? Ada apa dengan rasa menyesal ini? Sebelumnya aku ingin dia menjauh dari hidupku, tapi kenapa?
"Andai waktu bisa di putar ulang ... "
"Tuan, waktu tidak menunggu siapa yang datang dan waktu juga tidak menunggu siapa yang pulang. Waktu itu dingin, tidak peduli apapun, ia tetap maju tanpa pandang siapapun"
"Ha ... Kau benar ... "
Sesekali aku mencoba membayangkan beragam cara untuk melepaskan kutukan Parth. Bahkan aku juga mencoba cara yang sering di tampilkan di Televisi.
"Bagaimana kalau aku bunuh Lampir itu?"
"Akan sia sia Tuan, kemungkinan caranya hanyalah meminta Mak Lampir itu untuk mencabut kutukannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin Tuan"
"Aku bersumpah ... "
"Apa?"
Dari kejauhan Mak Lampir ternyata memata matai kami dengan kuali airnya. Ratu Kandita, bersama dengan semua rakyat dan Prajuritnya berpesta di dalam Kerajaan bawah laut.
"Tuan? Tuan!?"
"Eu, ya?"
"Sepertinya dia mulai sadar ... "
Tubuhnya yang terus menggigil dan kondisinya yang lemah. Parth mencoba bangkit dari tidurnya namun aku mencegahnya.
"I-Ilham ... Kenapa a-aku menggigil? Kok badanku panas?"
"Ah, mungkin karena kamu demam. Sebaiknya kamu tidur aja ya!"
"Tapi pekerjaan Rumah?"
"Aku yang urus!"
"Eh? Kok tumben Ilham? Biasanya kamu acuh sama kerjaan kamu ... "
"Tsk! Makhluk iniii!!!," Geramku dalam hati
Tidak sakit, tidak juga sehat. Makhluk ini tetap saja mengesalkan seperti biasanya, bahkan karena kepolosannya dia sampai tidak tahu kalau dirinya sedang kena kutukan.