KJL

KJL
π Sobat Lama π



Pernahkah kalian merasa canggung? Kalau ya itu artinya sama dengan yang aku alami kali ini. Kami berempat duduk dan berbincang di atas meja makan.


"Jadi, siapa sebenarnya gadis ini?"


"Dia temanku Ayah ... "


"JANGAN BOHONG!," Sentak Ayah.


"Be-beneran yah ... "


"Nyam ... nyam ... "


"Jangan sungkan sungkan ya Nak ... "


"Makasih Bu!"


Parth seperti biasa santai kayak dipantai, menikmati semua hidangan yang tersaji diatas meja makan. Sedangkan aku ditumpuk segudang pertanyaan oleh Ayah.


"Nyam ... Ilham. Kamu mau? Nih makan!"


"Woey! Serius dikit ngapa!," Kesalku dalam batin.


Banyak makanan yang Ibu sajikan di atas meja. Mulai dari sayuran, ayam panggang dan sop buah sebagai penutup. Yang aku anehkan disini adalah bagaimana bisa seekor kelinci menyukai daging.


"Hei, bukannya kau hanya suka sayur dan buah?," Bisikku.


"Akukan Siluman, darah manusia juga mengalir dalam tubuhku"


"Oh iya ... kenapa saya ... Gak kepikiran ya?"


Ayah terus menatap curiga kepadaku, karena aku tidak merasa memiliki hubungan spesial apapun dengan Siluman ini, aku tetap saja lurus normal seperti biasanya.


"Eu ... Mah ... Parth ini katanya ditinggal sementara kedua orang tuanya. Jadi dia di Rumah sendirian"


"Oh gitu ... "


"Bolehkan kalau dia tinggal disini sehari?"


*BRAK!*


"NAHKAN! Apa Ayah bilang! Anak muda jaman sekarang, memang harus di DIDIK!!"


Pertama kalinya Ayah dan Ibu menolak. Namun, setelah aku mengatakan "Kami tidak akan sekamar" Barulah keduanya setuju. Berpositif pemikiran, mungkin Ayah dan Ibu takut kita berdua akan melakukan hal yang tidak baik.


"Puih! Najis aku!," Ucap batinku.


Mulai dari sore hari sampai malam hari, aku sama sekali tidak bisa beristirahat karena mulai ada yang berani mengusik jam istirahatku. Hanya karena satu Makhluk, dia sangat merepotkanku di Rumah.


Siluman itu terus menanyakan banyak hal kepadaku. Mulai dari "Ini benda apa?", "Kenapa bisa kayak gini?", "Tempat poop dimana?", dan banyak lagi. Aku rasa hari keberuntunganku tidak akan datang, atau malah tidak akan pernah datang.


Malam hari tiba, seperti biasanya aku menjatuhkan tubuhku ke ranjang. Tubuhku lemas dan dalam hitungan detik aku tertidur pulas.


"Ilham!"


Terkejut, aku langsung terbangun dari tidurku. Aku melihat Siluman masih terjaga sambil mengenakan piyama milik Ibuku.


"Hmm?! Kenapa? Jangan ganggu aku lagi sibuk!!"


"Boleh aku tidur disini?"


"Oh ... Boleh ... aku tinggal pindah tidur ke ruang tamu ... "


"Ja-jangan! Aku cuma belum terbiasa tinggal disini ... Apalagi aku baru pertama kali melihat Ayah Ibumu"


"Kalau gitu tinggal biasakan ... Sudah ya, aku tinggal dulu ..."


"Tu- Ilham!"


*Klek!*


Aku meninggalkan Parth tidur sendirian di kamarku. Kondisiku masih setengah sadar, sambil sempoyongan aku berjalan ke ruang tamu sembari membawa bantal dan selimut.


Pagi harinya, Ibu membangunkanku. Dia menanyakan kenapa aku tidur di ruang tamu dan bukannya di kamar.


Tanpa aku jelaskan, Parth tiba tiba datang dan menjelaskan semuanya kepada Ibuku. Ibuku memakluminya lalu meninggalkan aku berdua dengan Parth.


Siang harinya aku bangun kembali bergegas mencari pasukan Monster. Aku menyuruh Parth untuk mengganti pakaiannya, namun ia tetap tidak menurutinya.


Sebenarnya aku mengakui kalau Parth adalah sosok gadis yang cantik. Tapi sikapnya itu yang membuatnya jadi tidak cantik, sangat disayangkan.


Seandainya saja sikapnya tidak seperti ini, bisa jadi dia lebih cantik lagi atau malah sebaliknya. Beberapa saat semua perlengkapan sudah siap, aku dengan Parth kembali mengelilingi Hutan.


Di tengah Hutan Parth memberi peringatan kepadaku untuk berhati hati. Banyak Pemburu mencoba memasang perangkap seperti ranjau, dan peledak.


"Tetap waspada Ilham ... "



"Baiklah ... "


Beruntungnya selama perjalanan aku dan Parth belum menemukan satu perangkap pun. Melainkan setelah berada jauh dari pemukiman, aku bertemu dengan sahabat lamaku.


Dimas namanya. Profesinya saat ini adalah seorang Pemburu, aku tidak tahu apakah Parth mengenalinya atau tidak, yang jelas ekspresinya terlihat biasa saja.


Aku dan Dimas hanya sekedar berbasa basi sementara lalu kami kembali melakukan aktivitas kami masing masing. Selama percakapanku dengan sobatku itu, Parth hanya diam memperhatikan mulut kami yang berkomat kamit.


"Dia siapa Ilham?"


"Hanya teman lamaku"


"Oh ... Sekarang kita mau kemana?"


"Karena aku sudah punya satu data super, bagaimana kalau besok kita coba mencari monster di tengah kota?"


"Kayaknya ide bagus!"


Untuk sekarang aku dan Parth masih terus mencari Monster di Hutan. Barangkali masih ada Monster yang menyimpan data super.


Kalau memang demikian, seharusnya sekarang paling tidak satu atau dua Monster muncul dihadapan kami. Beberapa menit kemudian, kami berdua kembali mengelilingi Hutan.


Kami penasaran kejadian kemarin malam yang terjadi di dalam Gua. Kami pun pergi ke Gua itu lagi dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah sampai di dalam Gua, aku bisa merasanakan suasana Gua yang tidak mencekam lagi seperti kemarin malam. Suara mengerikan saat kemarin itu juga menghilang.


Tapi dari depan Gua itu aku melihat terdapat banyak kerangka manusia yang keluar berserakan dari dalam Gua. Seharusnya dari dalam Gua ini tidak ada sedikitpun kerangka Manusia.


"Apa yang terjadi?"


"Hati hati Ilham! Aku merasa ada aura jahat disini ... "


Perlahan kami berdua masuk kedalam Gua. Semakin dalam aku masuk ke dalam Gua, sedikit demi sedikit bau busuk mulai tercium. Tapi anehnya Parth merasa kalau aura jahatnya itu semakin dalam mereka melangkah, maka auranya semakin menghilang.


"Apa mungkin orang itu tidak suka bau busuk?


"Mana aku tahu Ilham!"


*TRAK!*


"Ahk! Kerangka dimana mana!"


Parth sepertinya biasa saja melihat kerangka kerangka itu, dan bukan hanya itu saja dia juga malah mengeluh sakit pada perutnya.


"Ah ... Ilham ... "


"Kali ini apa lagi?!"


"Perutku sakit!"


"Sakit perut? Hah! Akukan sudah bilang ... Jangan terlalu banyak makan"


Aku berbalik menghadap Parth sambil memasang wajah prihatin kepadanya. Melihat aku seperti itu, Parth terlihat kesal lalu mendahuluiku.


"Hmph!," Membuang muka.


*Kruyuk ... *


Saat Parth mendahuluiku, aku bisa mendengar suara gemuruh dari perutnya. Ternyata dia lapar, padahal baru saja beberapa jam kami selesai sarapan.


"Selentur apa lambung makhluk ini?," Bisik batinku.


Aku sudah mengira kalau ini akan terjadi. Jadi untungya aku membawa beberapa wortel di jaketku. Semoga saja wortelnya cukup sampai nanti sore.


"Ini, jangan cepat kamu habiskan!"


"Ah! Makasih!"


Sementara Parth mengigit wortelnya aku melihat ada seseorang ikut masuk ke dalam Gua. Bayangan hitam itu terlihat seperti membawa senjata laras panjang.


*KLAK! KREK!"


"Siapa itu?!"


"Ilham ... Aura jahatnya makin kuat ... "


Lama kelamaan banyangan itu semakin mendekat. Bayangan itu ternyata tidak lain adalah sahabat yang aku temui sebelumnya di Hutan.


"Ilham? Sedang apa kau disini?"


"Dimas ... ternyata kau. Kami hanya tersesat"


"I-Ilham, dia pemburu?"


Mengetahui Dimas adalah seorang pemburu, Parth lagi lagi mencengkeram bajuku. Dimas mencurigai gerak gerik Siluman yang ketakutan saat melihat dirinya.


"Ngomong ngomong kau sendiri sedang apa disini?"


"Akhir akhir ini banyak monster membunuh manusia, jadi sementara aku bekerja sebagai pemburu Monster yang tangguh. HAHAHAH!!"


"Satu lagi orang yang merepotkan ...," Keluh batin Ilham.