KJL

KJL
π Mesin Waktu & Nafsu π



Setelah beberapa jam mencarinya, akhirnya kami menemukan mesin waktu itu. Mesin itu terlihat sangat kotor, sepertinya sudah sangat lama tidak dipakai Parth.


"Tunggu sebentar Ok, aku mau benerin ini dulu!"


Sambil menunggu Parth memperbaiki mesinnya, aku duduk diam di atas batu. Baiklah, mungkin aku bisa mempelajari beberapa teknik baru.


"Apa anda perlu transformasi Tuan?"


"Tidak perlu.."


"Sesuai perintah..."


Perlahan lahan aku mempelajari berbagai teknik bela diri. Jam memberiku instruksi cara melakukan semua gerakan itu satu persatu. Permukaan Gua yang berbatu dan di penuhi kerangka Manusia, menyulitkanku untuk bergerak. Aku berulang kali tersandung dan terjatuh, lengan dan kakiku juga dipenuhi luka lebam.


"Arkh!"


"Tuan! Jangan menyerah!"


"Haha, mana mungkin aku menyerah... AYO... LANJUT!!"


"Baik! Lingkar atas! Lingkar bawah! Tendangan berputar!"


"HIA!!!"


*BAK! BUK!*


Hanya berselang setengah hari, di malam harinya. Akhirnya Parth selesai memperbaiki mesin waktu miliknya, sedangkan aku sangat kelelahan karena fisikku hampir aku gunakan sepenuhnya.


*BRUK!*


"Ah!"


"Parth?!"


Terdengar suara Parth terjatuh dari dalam mesin waktu. Sontak aku memeriksa ke dalam mesin waktu dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Ehehehe ... Aku lemas lagi Kak ..."


"Astaga ... Baiklah, kita istirahat dulu"


Aku menyuruh Parth menunggu di dalam mesin waktu. Hehe ... Sebenarnya aku lupa membawa makanan dari dalam Rumah, dan itu salah satu dari kecerobohanku juga.


"Tunggu disini ..."


"Baik!"


Saat aku membuka pintu mesin waktu, gerombolan Monster dan Hantu berdatangan dengan jumlah yang sangat banyak. Sepertinya jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Perlahan lahan aku kembali menutup pintu mesin waktu.


"Kenapa Kak?"


"Ada ... Monster sama Hantu di luar ... "


"Ha...Ha-Ha-Ha-Han-"


Sebelum dia berteriak, spontan aku mendekatinya dan menutup mulutnya. Aku menggeserkan tubuhnya ke pojok mesin waktu.


"Jangan teriak! Mereka bisa menangkap kita nanti!"


"HMMMMPHH!! TIDAKKK!!"


"GRA?!"


Yah, akhirnya dia berteriak juga. Teriakan Parth yang kencang menarik perhatian mereka, sekarang semua Monster itu berlari ke arah kami.


"KYAAA!! JAUHKAN MEREKA!!"


"Ya Tuhan ... Dia benar benar parah ... "


"Apa yang akan anda lakukan Tuan? Jika anda bertarung di dalam, maka Gua ini sudah di pastikan akan runtuh"


"Ya, aku tau itu"


Beberapa detik setelah Parth berteriak. Parth berhenti menangis, begitu juga dengan para Monster itu. Langkah mereka berhenti, mereka mencoba mendengar suara teriakan itu lagi dari mulut Parth.


"Hmm ... Aku punya ide bagus ... "


"Ide apa Tuan?"


"Eh Parth!"


"Hiks..hiks ... Hm?"


"Kau tau? Begitu mereka datang dan melihat kita berdua, mereka akan melahap tubuh kita dan mengoyak tubuh kita kecil kecil. Terutama! Hantunya...."


"Ti...TIDAAKKKK!!!"


"Bagus, teriak lagi Parth! Pft, ngomong ngomong ngeprank Adik seru juga ya ... " Bisik batinku.


Semua Monster itu kembali mendekati kami. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, aku menyiapkan beberapa keperluan yang masih tertinggal di luar mesin waktu.


"HUEEE!!"


Tangisan Parth yang satu ini lebih parah dari sebelumnya. Dia menangis seperti seorang bayi, sampai sampai aku harus menyiapkan penyumbat telinga.


Tepat dua menit berikutnya, koplotan Monster dan Hantu itu berdiri di hadapanku. Mereka terdiam menatapku yang sedang merapikan baju.


"Gragagu ...?," Tanya Monster.


"Gragugaga," Jawabku.


"Garugarugaruru??," Tanya Monster lagi.


"Garara ... ururu ..," Jawabku.


"GRAGAGAH!!!," Teriak Monster.


"BLALALA SUEK KABLAH!!!," Balasku.


"Adios ... "


"Activation ... Ready ... Three ... Two ... One ... "


*PLESAT!*


Kami berdua pergi ke masa depan yang dimana itu terjadi pada sekian tahun kedepan. Setelah kami meninggalkan Gua pun, Parth masih berteriak histeris ketakutan. Aku heran, memangnya dia kenapa bisa sampai sebegitu takutnya dengan Hantu?


"Cup ... cup ... Kita sudah pergi dari Gua itu ... "


*PUK!*


Lagi lagi Parth memelukku, sepertinya dia adik yang manja. Aku tidak bisa membiarkan dia terus di manja seperti ini, aku harus bertindak.


"Cih kamu ini ... Mereka itu lemah ... Kalau kamu takut, itu artinya kamu lebih lemah dari mereka!"


"Hiks ... Memang iya ... "


"Tsk! Yah ... Kalau gitu kamu itu makhluk payah yang pengecut, kamu tidak bisa melawan rasa takut kamu sendiri. Benar benar payah!"


"Hiks ... Aku memang iya ... "


"Tsk! Wei .. Wei .. Ini bukan artinya aku kakak yang payah sebenarnya kan?" Jengkelku dalam hati.


Dengan kasar aku mengangkat tangan kiri Parth, dia terlihat biasa saja saat aku mengangkat tangan kirinya itu.


"Aku ... Gak mau ketemu Hantu lagi ... "


Aku mencubit pipinya sekeras mungkin, tapi reaksinya sama saja seperti sebelumnya. Dia tidak menunjukkan rasa kesakitan sama sekali pada wajahnya.


"Ada apa kak?"


"Hah ... Bukan apa apa ... "


Sembari aku duduk, aku melihat ada debu di kerah bajunya. Akupun meniupnya, tapi sesuatu yang aneh tiba tiba terjadi.


"Brrr hihi ... Geli ..."


"Ha? Oh ... Ha..ha..ha...," Tersenyum.


"A-apa yang mau kamu lakuin Kak?"


Perlahan aku mengangkat kedua tanganku, lalu menggerakkan kesepuluh jariku bersamaan. Aku memasang wajah seringai dengan pipi memerah.


"HIAAAAHAHAHAHA!! HENTIKAN KAK!!!"


"JANGAN BERHARAP SEBELUM RASA PHOBIA KAMU SAMA HANTU HILANG!!"


"PHO..PHOBIA? APA ITU KAK??HAHAHA!!"


"ITU ARTINYA RASA TAKUT KAMU SAMA HANTU!"


"HI..HIAAA BERHENTI KAK!! I-ITUH MUSTAHIL KAK!"


"KALAU GITU... JANGAN BERHARAP AKU BERHENTI!! RASAKAN INI!!"


"AH! AH! HIAAAA!!! JANGAN KAK!!"


Hampir satu jam aku menggelitiki Parth. Dia terlihat kelelahan, begitu pula aku yang menggelitikinya. Kami berdua duduk bersandar di dinding mesin waktu.


"Aku ... Gak bisa kak ..."


"Baiklah, aku rasa aku harus tambah hukumannya," Aku kembali memasang ekspresi seperti sebelumnya.


"JA-JANGAN KAK!!"


"Haha, tau takut ... "


Ya .. Tapi ... Dia punya tubuh yang mulus juga. Sensasinya hampir mirip seperti boneka yang baru saja dia beli. Benar benar...


*PLAKS!*


"Eh, Kak?!"


"Astaga Ilham! Kendalikan nafsumu! Kamu bukan laki laki pasaran! Kamu bukan laki laki bej*t! Pekerjaan... Pekerjaan!!," Bisikku dalam hati.


Aku melihat jam tanganku, kami berdua kelaparan. Aku tidak tahu nantinya kami akan makan apa di masa depan, semoga saja kita dapat makanan enak.


"Parth, berapa lama lagi kita sampai di masa depan?"


"Kalau dari jaman Kakak sih aku rasa lebih cepat Kak"


"Kapan?"


"Satu hari lagi ... "


"Sa...Satu ... HARI?!"


*BRUK!*


Mampus sudah aku satu hari tidak makan. Bagaimana kalau aku ingin ke kamar kecil? Terutama ... Dia ... Ini gawat! Benar benar gawat! Aku tidak terlalu banyak membawa peralatan.


"A-apa tidak bisa dipercepat?!"


"Aku belum bisa meningkatkan kemampuannya ... Oh ya, lagi pula aku udah lama gak belajar soal ini ... "


Kalau begini caranya, aku harus mempersiapkan banyak barang untuk satu hari. Aku cuma bawa, Tas, jaket, air minum dan ... Botol ... Akhirnya ...


Perasaan cemas akan tidak ada Toilet menjadi hilang. Tapi perasaan akan lapar masih belum hilang, apalagi kalau punya adik yang punya lambung karet kayak dia.


"Akh ... Lapar!!!"


"Nah kan! Baru aja sepuluh menit perjalanan, dia udah lapar!," Resahku dalam batin.