
Jam menunjukan pukul sepuluh malam dan Parth masih menjalani hukumannya, sedangkan Ayah dan Ibu juga masih belum kunjung pulang. Aku membiarkan Parth kelaparan sambil menggodanya dengan buah apel yang sedang aku makan.
"Mmmm, apelnya enakloh Siluman. Mau gak?"
"Mau," Bergetar lemas.
"Boleh, tapi besok ya ... Hahaha ... "
Aku berjalan ke kamar dan meninggalkan Parth sendirian di ruang tamu. Mungkin selama Ayah dan Ibu belum pulang, aku masih bisa leluasa menghukum Parth.
Dari dalam kamar, aku kembali memperhatikan chip yang Dimas berikan padaku sebelumnya. Aku merasakan ada yang tidak beres dengan chipnya. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan mencobanya.
"Tuan, saya bisa merasakan kekuatan astral dari chip ini"
"Kekuatan apa itu?"
"Saya juga tidak tahu, saya ragu anda bisa menguasainya"
"Bagaimana kalau kita buktikan?"
Chip unik yang satu ini mulai menarik perhatianku. Kekuatan apa yang akan aku kuasai? Tanpa berbicara lagi aku pun mencoba menggunakannya.
*BRAK!*
Tetapi tiba tiba aku mendengar suara dari depan pintu Rumah yang membuatku membatalkan niatku untuk mencoba chipnya. Aku bergegas ke depan pintu Rumah dan melihat apa yang sudah terjadi.
Terkejutnya aku setelah melihat ternyata Parth pingsan dan terjatuh di lantai. Berulang kali aku mencoba menyadarkannya, tapi dia tetap saja tidak sadarkan diri.
"Ayah ... Nanti kita sekeluarga sesekali makan di Resto ya ... "
"Iya ... "
Dari luar, aku juga mendengar suara Ayah dan Ibu yang sudah pulang. Kalau Ayah dan Ibu melihat ini, ini akan sangat gawat. Bisa bisa mereka mengomel lagi padaku.
"Ahk! Apa yang harus aku lakukan?"
"HAYO ILHAM! Kamu apain itu Parth?!"
"WISH! DIMAS! Kaget aku! Aku gak apa apain dia! Dia cuma pingsan! HEY! DARI MANA KAMU MASUK?! Pintu depan sudah aku kunci!!!"
"Pintu belakangnya belum"
"SEMBARANGAN MASUK KE RUMAH ORANG!!"
"Hahaha ... Sobat bro ... Sobat ... "
Kami berdua pun bertikai, dan sesaat setelahnya aku baru sadar kalau Ayah dan Ibu sudah masuk ke dalam Rumah. Mereka berdua melihatku dengan tatapan kosong dan kemudian ...
"Aku salah, Ampun Ayah ... Ampun Ibu... "
Ya, sekarang aku yang dihukum dan Parth dengan lahapnya menggigit buah apel kesukaannya. Hari ketidak beruntunganku sampai saat ini ternyata masih berlaku.
"Sampai matahari terbit, jangan sesekali kamu comot makanan ya Nak ... "
"I-iya ... "
Aku tidak bisa mengatakan alasan kenapa aku menghukum Parth, Ayah dan Ibu juga tidak tahu kalau Parth adalah Siluman. Hingga aku pun membisu tidak mampu berbuat apa apa lagi dan menerima hukuman dari Ayah dan Ibu.
Ayah, Ibu, Parth, dan Dimas. Mereka berempat sarapan malam tanpa mempedulikan aku, aku berharap kemalanganku cepat berakhir. Setelah sarapan malam, Dimas berpamitan kembali ke Rumahnya. Dia hanya mengantar kedua orang tuaku sampai di Rumah dengan selamat, kebetulan mereka berpapasan dijalan.
Tepat jam tiga pagi saat Ayah dan Ibu masih terlelap tidur. Aku mencoba menurunkan kakiku yang sudah sangat terasa pegal, dengan kata lain aku mengakhiri hukumanku sendiri.
"JANGAN BERGERAK! MAU IBU TAMBAH HUKUMANNYA?!," Teriak Ibu mengigau.
Terkejut, aku kembali ke posisi awal. Betapa hebatnya Ibuku sampai mengawasi aku dari dalam mimpinya sendiri. Kalau begini terus aku bisa mati kelaparan.
*Kruyuk ... *
"Ugh ... "
Kedua kelopak mataku mulai menghitam lalu perlahan aku mulai mengantuk, mataku juga perlahan mulai menutup.
"Ilham ... Kamu masih bangun?"
Seketika aku membuka mataku. Di hadapanku Siluman berdiri sambil memegang buah Apel dan pisau. Apa yang akan dia lakukan dengan pisau itu?
"Sedang apa kamu malam malam disini?"
Mendengar kata katanya itu mataku berkilau hampir meneteskan air mata. Mulutku tersenyum lebar karena sekarang aku tidak kelaparan lagi.
"Hah ... Perhatian banget kamu Parth ... "
"Hehe ... Parth gitu loh ... "
"Padahal kamu Siluman tapi-"
"Pst! Nanti Ibu dan Ayah bangun!"
Parth menutup mulutku tapi aku sangat ketakutan, karena nyaris saja pisau yang di pegang Parth itu menusuk mataku.
Kami berdua bergadang semalaman. Parth menemaniku sarapan dan aku makan sampai perutku benar benar kenyang. Selintas Parth menanyakan sesuata tentang benda yang Dimas berikan padaku, dan aku jawab.
Kami berbincang selama dua jam. Serius, canda dan tawa selalu saja terselip dalam perbincangan kami sampai akhirnya Parth tertidur.
Aku menanyakan banyak hal pada diriku sendiri mengenai Siluman yang satu ini. Mulai dari tempat tinggal dan keperluannya sehari hari. Aku tidak bisa membiarkannya tinggal di Rumahku untuk kurun waktu yang lebih lama lagi, dengan alasan yang hanya seperti "itu".
..."Parth ini katanya ditinggal sementara kedua orang tuanya. Jadi dia di Rumah sendirian"...
Sepertinya aku harus menyelesaikan masalah Monster ini secepatnya atau kalau tidak, Aku dan Parth bisa di curigai memiliki hubungan yang spesial.
"Pokoknya jangan sampai itu terjadi!"
"Zzz ... "
"Hah, kalau mau tidur jangan di meja ... "
Aku menggendong Parth dan membawanya ke kamar tidurku. Lalu setelah itu aku kembali kedepan pintu, dan mengambil posisiku seperti sebelumnya yang sedang dihukum.
Saat aku sedang fokus menjalani hukumanku. Lagi lagi Dimas datang ke Rumahku sambil membawa senapan. Dia memanggilku dari pintu belakang dan wajahnya nampak serius seolah olah ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Ilham! Kesini sebentar!," Bisiknya.
"Ada apa?"
"Kesini dulu!"
Akhirnya aku menghampirinya. Saat aku mendekatinya aku melihat tubuh Dimas bergetar dan wajahnya dipenuhi aura kecemasan.
"Kenapa? Ada apa Dimas?"
"Ini gawat Ilham!"
"Apanya yang gawat?!"
"Uang bulananku habis, boleh aku pinjam uang sejuta buat sawer dangdutan?"
*PLETANG!*
Wajan pun melayang ke kepala Dimas. Kebiasaan buruknya itu selalu membuatku sebagai sahabatnya merasa risih. Dia selalu saja membuang buang uangnya untuk hal yang tidak penting.
Mataku terlihat kosong, lalu aku membiarkannya pingsan dalam keadaan kepalanya menggelembung seperti sabun. Sekali lagi dia mengatakan hal yang tidak berarti seperti tadi, batako lah yang melayang.
Suara wajan yang keras membuat Ayah dan Ibu yang tengah enak tertidur menjadi terbangun, namun tidak terkecuali dengan Parth yang masih tidur dengan pulas.
Tanpa memasang wajah bersalah, aku tetap dalam posisi sedang dihukum. Aku menutup mataku, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Dimas.
"Ada apa ini Ilham?"
"Tidak tahu Ayah, aku dari tadi berdiri disini tidak kemana mana"
"HEI DIMAS! JANGAN GANGGU TETANGGA YANG LAGI TIDUR!!! MAU KAMU IBU LAPORIN SAMA PAPA MAMA MU DI RUMAH HAHHH?!!"
"Gila, omelan mamanya Ilham kek singa gak berhenti meraum a***b!," Ucap batin Dimas.
"Hah! Rasakan itu! Omelan the jutsu! HAH!," Ucap batinku disusul semringai mulutku.
Ayah dan Ibu menyuruh Dimas untuk segera kembali ke Rumahnya. Hari kemalanganku setidaknya sedikit berkurang karena akhirnya aku menyadari ada orang yang nasibnya lebih sial dari pada diriku.
Mulai detik dan saat ini juga aku tidak akan mengeluh lagi dengan nasibku ini, dan besok adalah hari dimana aku akan mengawali awal yang penuh rintangan.
"Dan itu pasti ... "