
Dari atas pohon aku melihat Siluman sedang meraih buah apel merah yang terlihat manis dan segar. Bagaimana caranya dia menaiki pohon buah apel itu?
"Hey Siluman! Lagi ngapain kamu?"
"Aku mau a-apel!"
Siluman itu bersikeras tetap ingin mengambil buah apelnya meskipun saat ini dia sedang kesulitan meraih buahnya.
Aku ingin membantunya tapi aku juga tidak ingin terjebak lagi oleh sandiwaranya, seperti saat sebelumnya. Sudah dua kali aku termakan sandiwaranya itu.
"Meski apapun yang terjadi, aku adalah manusia, dan dia adalah Siluman! Ya, seperti itulah!"
"Tuan! Dia tergelincir!"
"APA?!"
"AHHHH!!!"
Secepat mungkin aku berlari mendekatinya dan berusaha menangkapnya. Tapi, ternyata Siluman itu bisa mendarat mulus dengan kedua kakinya.
"Hup ah! Fyuh, padahal sedikit lagi aku dapet apelnya"
"Kenapa anda panik Tuan? Dia Siluman kelinci. Ketinggian bukan masalah baginya"
Entah kenapa rasanya seperti rasa kemanusiaanku ini dipermainkan. Saat itu juga aku menguatkan tekad untuk tidak peduli terhadap Siluman, sampai kapanpun itu juga.
Setelah kami sarapan, aku dan Siluman pergi keliling hutan untuk mencari beberapa Monster. Jujur selama aku belum memiliki data super, aku masih belum berani menghadapi para Monster dipemukiman warga apalagi diperkotaan padat. Aku tidak berani mengambil resiko yang cukup tinggi.
Banyak nyawa manusia yang akan dikorbankan dalam kejadian ini. Tapi untuk sekarang sepertinya masih manusialah yang diuntungkan, karena para Monster baru saja muncul, dan kekuatan mereka juga belum pulih sepenuhnya. Aku rasa para Monster saat ini masih belum terlalu kuat.
Beberapa jam di tengah Hutan yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman. Kami melihat ada sekitar puluhan pasukan Monster sedang berlatih keras.
"Mereka lagi ngapain?"
"Sepertinya mereka sedang berlatih, dan bukan cuma itu. Sepertinya mereka sedang memulihkan kekuatan mereka"
"Ya, Tuan benar. Meski berotak ayam ternyata ada isinya juga"
Untuk sekarang, aku simpan dulu amarahnya. Ini adalah kondisi dimana aku harus memikirkan strategi yang tepat untuk melawan para Monster itu.
Meskipun Monsternya sudah ada dihadapanku saat ini. Tetap saja aku belum bisa menghadapi mereka secara langsung tanpa membawa senjata.
"Seandainya aku membawa perlengkapanku dirumah. Siluman kau-"
Aku menengok ke arah Siluman namun Siluman itu sudah tidak ada. Kemana dia pergi? Padahal saat ini aku sedang membutuhkannya untuk mengambil perlengkapanku dirumah.
"Tuan, dia ada disana"
Dari atas pohon tepat ditengah kumpulan para Monster. Siluman itu sedang meraih buah apel merah kesukaanya.
"Ngapain lu disana G****k!," Batinku sambil mulut termangap.
"Iyup, sedikit ... Lagi ..."
Tidak peduli keadaan sekitar, Siluman itu tetap fokus mengambil buah apel kesukaannya. Untungnya para Monster itu tidak menyadari keberadaan Siluman yang tepat ada diatas mereka.
*Krek!*
Terdengar suara ranting yang mulai patah. Suara ranting itu terdengar keras sampai sampai semua pasukan Monster melihat ke atas pohon. Tamat sudah kami berdua dihabisi para Monter.
"Aaaahhh!!"
*BRUK!*
Aku memalingkan wajahku. Aku tidak ingin melihat Siluman itu dibunuh seperti di dalam mimpiku semalam.
*BAK! BUK! BRAK! KRAK!*
"GRAAaaaa!!!"
Suara Monster menjerit kesakitan. Serentak mendengar suara itu, mataku langsung berpaling mengarah Siluman dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Kecepatan Siluman menyerang para Monster benar benar tidak bisa aku percaya. Dia memakai kebaya tetapi bisa menghajar para Monster itu dengan leluasa.
Tubuhku mematung melihat kemampuannya itu. Siluman itu bisa melompat sejauh lima ratus meter dari bawah tanah. Dia juga bisa menendang satu per satu Monster ke atas langit .
"Tuan, anda kenapa?"
"Gulp, Tidak. Bukan apa apa"
Sebaiknya aku tidak membuatnya marah. Perempuan memang beda, apalagi kalau nama depannya ada kata "Siluman". Keberadaan mereka semakin seram saja.
"Wah, aku tidak sangka ternyata Siluman sepertimu bisa menghadapi mereka semua sendirian"
"Iya dong, hehe"
Lagi lagi Siluman gagal mendapatkan apel kesukaannya. Sebenarnya aku bisa mengambilkan apel itu untuknya, tapi dengan kemampuannya itu aku rasa aku tidak perlu membantunya.
"Tuan, salah satu Monster ini sepertinya menyimpan data super"
"Mana?! Monster yang mana?!"
Siluman terus memandangi apel itu, sedangkan aku sibuk mencari tubuh Monster yang menyimpan data kekuatan super.
"Apel ... Apel ... Apel ...," Ucapnya.
Terus mendengarnya mengatakan itu membuatku sulit untuk fokus mencari data pentingnya.
"Hah, iya! Nanti aku bantu ambilin apelnya! Tapi sekarang aku lagi sibuk nyari data dulu!"
"Beneran? Horray!!"
"Dan jangan berisik!"
"Ups," Siluman menutup mulutnya.
"Tuan! Ini dia tubuhnya!"
"Bagus! Sekarang kita ambil!"
"Sesuai perintah ... "
Jamku mulai bersinar, sinar kali ini sungguh luar biasa karena aku sama sekali tidak merasakan silau yang menusuk mataku seperti sebelumnya.
"Accept data, Access data, Process data, Success!"
Pattimura lahir pada tanggal 8 Juni 1783 dari ayah Frans Matulesi dengan Ibu Fransina Silahoi. Munurut M. Sapidja ( penulis buku sejarah pemerintahan pertama) mengatakan bahwa “pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan"
"PATTIMURA!"
Sebuah benda seperti chip memori keluar dari dalam tubuh Monster. Perlahan aku mengambil memori chip itu dan memperhatikan bentuknya.
"Jadi ini data super"
"Benar sekali Tuan. Anda hanya tinggal memasukkan chip itu ke dalam lubang yang sudah saya beri tahukan"
"A-Akhirnya aku mendapat kekuatan," Aku menutup mulut karena terharu.
"Selamat ya pak"
"Dan jangan panggil aku "Pak" Aku belum setua itu!"
Data super pertama sudah aku dapatkan, dan semangatku juga semakin bertambah. Setelah data super dalam tubuh Monster itu keluar, awan mulai berubah warna menjadi hitam.
Tanah bergetar disusul dengan geraman Monster dari arah utara. Sekitar seratus meter dari tempat kami berdiri. Aku melihat ada banyak Monster datang mengarah pada kami.
"Hati hati tuan, mereka sedang bersama Jenderalnya"
"Siapa?"
"L-Leak," Jawab Siluman.
"Leak? Itu ... Itu bukannya Hantu?!"
Jenderal itu memakai mantel baju hitam dan berambut putih panjang. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang rambutnya itu.
"Okeh ... Ayo kita habisi mereka Siluman!"
Jauh dari sebelumnya, kali ini Siluman benar benar ciut. Dia bersembunyi dibalik pohon dan juga tubuhnya bergetar ketakutan melihat Jenderal Monster itu.
"Apa? Kenapa Siluman?"
"A-Aku takut hantu!! Ja-jangan suruh aku mendekati mereka!!"
Padahal tadi dia menghajar Monster, tapi sekarang dia malah ketakutan melihat Hantu. Hati Siluman memang sulit aku pahami. Yah apa boleh buat, mungkin sekarang aku yang akan menghadapi mereka semua sendiri.
"Ayo kita lakukan Tuan!"
"Hmm ya ... AYO!"