
Legenda berawal sejak ratusan tahun yang lalu, dimana banyak kesatria yang bertarung demi keadilan dan kedamaian. Para Monster jahat seperti Mak Lampir, Kuyang dan Ratu Laut Selatan berusaha membalas dendam juga menyebarkan energi hitam. Mereka menyerang demi bangkitnya kejahatan, dunia Setan dan Iblis, juga kekuatan hitam yang menguasai alam manusia yang disebut dengan "Bumi".
Konon Ksatria legenda pernah muncul entah dari mana asalnya dan menolong umat manusia. Dia memiliki kekuatan luar biasa dari kesatria terdahulu seperti Wirosableng, Gatot kaca, Si Buta dari gua hantu, Pangeran Mlaar, dan pahlawan kesatria lainnya. Semua kekuatan itu tertanam dalam sebuah Devise yang berbentuk seperti jam tangan. Ksatria yang pernah menggunakannya menyimpan alat tersebut di dalam sebuah tempat rahasia yang terpencil di dalam hutan.
Dia berharap agar alat itu tidak pernah ditemukan siapapun. Sampai saat ini tidak ada yang tahu kisah itu dan juga hal mengenai alat itu, alat itu tetap tersimpan dengan aman. Barang siapa yang menemukannya maka semua monster yang telah tersegel di dalam Devise akan terlepas kembali. Monster itu akan memporak porandakan umat manusia dan kekejaman ratusan tahun lalu itu akan kembali terjadi.
*TUP!*
"Yah, begitulah ceritanya"
"Heh? Lanjutin Aa!," Menggerutu.
"Besok saja! Sekarang sudah malam!"
"Nggak! Lanjutin! HUEEEE!!!," Menangis keras.
"ILHAM!!! KAMU APAIN ITU ADIKMU?! JANGAN BUAT DIA NANGIS!!!," Teriak kencang seseorang dari dapur.
"Ugh~," Menghela nafas.
Yap, Ilham adalah nama yang Ayah dan Ibu berikan padaku sejak lahir, siapa peduli? Aku terus dibesarkan hingga empat tahun berlalu, seorang adik lahir dari rahim Ibuku. Pada awalnya aku berfikir kalau kasih sayang mereka padaku akan semakin berkurang, tapi ternyata sesuai dugaanku. Kasih sayang itu perlahan lahan berkurang.
Kenapa selalu adikku yang selalu diperhatikan? Kenapa selalu aku yang disalahkan? Kenapa mereka tidak adil padaku? Pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku sampai saat ini. Seorang anak kecil yang polos juga lemah. Lucunya meskipun aku terus menjauh darinya, adikku terus saja mendekatiku dan bahkan salah mengucapkan namaku yang seharusnya "Ilham" menjadi "Ayam". Kurang ajar memang, tapi itu sangat tidak terduga olehku. Apakah aku mirip dengan hewan "itu"? Itulah yang kupikirkan saat itu. Tapi bagaimana pun juga dia adalah Adik ku, seharusnya aku yang sadar diri karena dulu aku kecil pun pernah diperlakukan seperti itu. Jadi untuk sementara ini aku biarkan saja.
Dunia terus berputar sampai usiaku semakin bertambah dalam hitunganku dan semakin berkurang dalam hitungan "nya". Kini diriku sudah menjadi siswa SMK, masa SMK ini adalah masa dimana para Remaja menikmati rasanya "Percintaan" dalam artian masa "Saling suka" pada lawan jenis. Aku akui perasaan suka itu pasti ada pada setiap orang, namun aku tidak begitu tertarik tentang hal ini. Aku lebih cenderung lurus pada setiap orang baik itu pria ataupun wanita, alias laki laki yang tak "Peka".
Akhir akhir ini aku lebih sering pergi ke tempat sejuk dan tenang seperti Gunung dan Hutan. Apalagi pada saat malam hari, bersyukur Rumahku berdekatan dengan Hutan. Aku bersama Ayah tiap malam sering pergi ke Hutan mencari kekelawar besar yang katanya bisa dijual dengan harga yang lumayan.
Sementara itu kami sudah membawa banyak perlengkapan untuk berjaga jaga kalau sesuatu yang tak terduga terjadi pada kami, kami juga mendirikan Tenda khusus di dalam Hutan untuk beristirahat.
Setelah dirasa siap, Kami berkeliling Hutan mencari kelelawar itu, biasanya incaran kami adalah tempat tempat yang agak jauh dari pemukiman warga, tempat yang selalu jadi titik gaung ataupun gema seperti gua. Namun belakangan ini kami jarang menemukan tempat seperti itu.
"Awas! disini banyak Reptil berbahaya. Terutama pada ular, berhati hatilah!," Ucap ayah.
"Iya," Jawab Ilham.
Beberapa menit kemudian aku melihat seekor kelinci putih meloncat loncat di sekitar hutan, kelinci itu bisa kami jadikan untuk makan malam kami nanti. Tanpa fikir panjang lagi perlahan aku mendekati kelinci itu. Saat aku hampir menangkapnya, kelinci itu kabur. Tanpa aku sadari, kelinci itu sudah menggiringku ke dalam Gua yang sangat gelap.
"Tempat ini sangat gelap, untung bawa senter"
*Klek*
"Kelinci? Dimana kau?"
Sambil mencari kelinci itu aku melihat sekeliling gua dan terus melanjutkan perjalanan ke dalam Gua. Sesekali aku memanggil kelinci itu dan terus berharap bisa menemukannya untuk kami jadikan sarapan.
"Kelinci? Kelinci imut? Kelinci putih? Dimana kau?"
Tidak lama setelah itu aku sampai di ujung Gua, sangat disayangkan aku sama sekali tidak berhasil menemukannya. Tapi pada saat aku membalik badan kelinci itu sedang terdiam menatapku.
"Nah! Kesini kamu!," Berlari mendekati kelinci.
Kelinci itu melompat menjauhiku lalu masuk ke dalam celah sempit, karena tidak ingin kehilangan jejaknya lagi aku pun mengejarnya ke dalam celah sempit itu. Sayang seribu sayang saat aku mengejarnya lagi, aku terjepit diantara celah itu. Berteriak minta tolong jelas sudah sangat tidak mungkin karena aku sudah sangat jauh dari Ayah, yang bisa aku lakukan saat ini adalah berusaha keluar dari celah itu.
Seekor kelinci yang tadi aku kejar sekarang sudah menghilang lagi, sungguh hari yang sangat tidak menguntungkan. Karena kelinci itu lolos akhirnya aku berusaha mencari cara untuk bebas dari celah itu. Sekitar sepuluh menit setelah aku mencoba keluar dari sana aku melihat sebuah benda berwarna putih yang bersinar terang menusuk mataku.
"ARGGHHH!!!"
Karena penasaran, aku terus memaksakan diriku untuk bebas dari celah sempit itu meskipun terasa sakit. Sesaat kemudian aku berhasil bebas dari celah itu meskipun tertinggal beberapa luka memar dan sedikit berdarah dilengan kiriku. Sambil sedikit menghalangi kilau cahaya dengan tanganku, aku mendekati benda itu.
"Apa ini? Ah, silau sekali!"
Perlahan aku menjulurkan tangan kananku untuk menyentuhnya, belum aku menyentuh benda itu, tiba tiba benda itu terpasang di lengan kananku dan cahayanya semakin bersinar terang menerangi seisi Gua. Cahaya itu tidak berlangsung lama, beberapa saat setelah itu perlahan aku membuka mataku lalu aku melihat ke arah tangan kanan ku.
"I-ini?! Cuma jam tangan," Keheranan.
Padahal cuma jam tangan, kenapa harus seterang ini? Ucap batinku saat itu.
"Huh, kek jam super saja. Super ... Jam ... Super? JAM SUPER!!!"
Nah, waktu itulah aku menyadarinya. Berbagai cara aku mencoba mencaritahu bagaimana cara penggunaannya namun selalu saja gagal. Bahkan cara yang mirip seperti film pahlawan super di TV pun sudah aku coba.
"BERUBAH!!"
"HENSHIN!!"
"TRANSFORM!!"
"WATTAHH!!"
"Nang ning, ning nang eu (GJ). Haha ... INI GIMANA KERJANYA WOEY?!!"
Niat awalnya aku ingin melepas jam itu dari tanganku, tapi sungguh tidak bisa kupercaya kalau jam itu tidak bisa kulepaskan. Berulang kali kucoba tapi tetap tidak bisa, aku terus menatap jam itu sambil menarik nafas cepat karena kelelahan.
"Cih, ini gimana lepasnya?," Geram.
"Aku tahu caranya"
"Bernarkah? Gimana cara-" Menatap kesamping.
Layaknya batu aku terdiam sesaat karena melihat seseorang tiba tiba berdiri disampingku. Siapa dia? Sejak kapan dia ada sini? Bagaimana caranya dia masuk ke dalam celah sempit itu? Apa dia pemilik jam ini? Sial! kalau itu benar maka aku akan dianggap sebagai pencuri!.
"Ma-maaf, ini punyamu?"
"Bukan"
"Hah, baguslah. Dih! Tunggu dulu! Sejak kapan kamu-"
"Aku tinggal disini"
"O-oh ... "
Percakapan itu tidak berlangsung lama. Orang itu juga bukannya membantuku melepaskan jam tangannya, tetapi dia malah menjelaskannya secara terperinci atau malah panjang lebar yang artinya sama sekali tidak aku mengerti.
"Kamu harus melepas lalu melakukan ini, mengumpulkan ini, menyatukan ini, dan barulah jamnya lepas"
Ya, sama sekali tidak aku mengerti. Bicara tentang seseorang yang ada disampingku ini, dia lebih mirip dengan seseorang yang tinggal di suatu Kerajaan dahulu. Dia memakai pakaian seperti kebaya putih lengkap dengan selendang putihnya. Entah itu selendang atau bukan, orang itu memakai selendangnya dengan cara dililitkan ke lehernya seperti syal.
Kami berbincang cukup lama di dalam Gua, sampai aku tidak sadar kalau seseorang sedang mengkhawatirkan aku.
"Ilham! Kamu dimana Nak?!, buset dah itu anak hilang kemana?," Gelisah.
Aku mencoba memahami setiap perkataan perempuan ini sampai pada ujungnya aku dapat mengambil kesimpulan apa yang dia sampaikan.
Kesimpulannya aku harus menekan tombol yang ada disamping jam itu lalu beberapa monster akan keluar, setelah itu aku harus menyegel kembali semua Monster yang tersegel sampai mereka benar benar tersegel untuk selamanya dan barulah jam itu lepas dari tanganku.
"Hey! Itu artinya aku serba salah dong!"
"Tinggal pijit doang apa susahnya sih?!"
"Jangan woy! Nanti keluar!"
"Katanya tadi mau lepasin jamnya, nggak konstan banget kamu!"
"Aku memang Siluman"
"Apa?"
Kalau dipikir lagi, perasaan selama perjalanan masuk ke dalam Gua ini. Tidak ada satupun orang yang mengikutiku, atau itu mungkin salah? Atau memang aku tidak menyadarinya?
"Aku itu kelinci yang kamu kejar"
"A,APAAAAAA???"
"Kamu yang manggil aku Kelinci imut kan?"
"Cih, kurang asem," Berbisik.
"Mau tambahin asemnya atau tambahin gula?"
"Bukan itu!"
Dari situ perasaan menyesalpun lahir. Seharusnya waktu itu aku tidak mengatakannya. Apalagi kalau tahu dia Siluman, pasti sudah sedari tadi aku menjauh darinya.
Disamping itu aku terus membayangkan bagaimana kalau jadinya jam itu terus menempel di tanganku untuk selamanya. Masa remaja, masa kerja, menikah, punya anak, bahkan sampai tua dan meninggal.
"Ngeri ... Haciu!" Bulu kuduk berdiri semua.
*TIT!*
Tanpa sepengetahuanku Siluman itu menekan tombol jamnya. Gua itu bergetar kencang dan kekuatan hitam keluar dari jam itu.
"SILUMAN SENGKLEK! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!!"
"Sudah lama aku kepingin menekan tombol itu, tehe!" Mengetuk kepalanya sendiri.
Menghirup udara yang sama dengan Siluman ini, rasanya seperti ingin mati saja. Sekarang semua Monster itu keluar dari dalam jam, Monter jahat seperti Mak Lampir juga keluar.
"Eeeehehehe, Hei anak muda. Terimakasih sudah melepaskanku dari segel terkutuk itu"
"S-sama sama Nek"
"Diam kau! Aku tidak sedang berbicara denganmu. Aku sedang berbicara dengan siluman gadis muda ini"
Keberadaanku saat itu sangat tidak dianggap layaknya seekor nyamuk yang hanya melintas. Sangat merepotkan kalau mereka semua sampai memporak porandakan Bumi dan seisinya.
"Sebagai balasan atas kebaikanmu. Aku akan menjadikanmu anak buahku, Eeeeehehehe"
"Tidak bisa! Seenaknya saja kau Lampir!"
"He? Eeeehehehe. Wah-wah berani kau menyebutkan nama depanku dengan nada bicara seperti itu!"
"Dia adalah teman dekatku!"
Meskipun jujur aku sangat tidak ingin mengakuinya. Tapi ini demi menyelamatkan nyawa si Siluman, setiap perkataan Lampir tidak bisa dipercaya. Dia hanya ingin memperalat banyak orang dan membuat mereka memenuhi keegoan dirinya sendiri.
"Eeeehehehe, hey anak kurang ajar mau kubunuh rupanya kau ya? Yang berhak memutuskan bukanlah kau! Eeeehehehe"
"Aku-"
"Hah! Dasar Lampir sombong. Kalau memang kau berani, hadapi aku dulu!"
Tanpa memikirkan resikonya aku terus saja menggertak padanya. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan dia padaku nanti.
"Sok pahlawan kamu ya anak muda?"
"AKU TIDAK MAU!!!," Teriak Siluman.
"Apa?," Aku dan Mak Lampir mengucap dan menatap Siluman bersamaan.
"Karena aku sudah punya Majikan"
"Siapa?" Lagi-lagi Aku dan Mak Lampir mengucap kata yang sama.
"Dia!," Jawabnya sambil merangkulku.
"APA?!"
Majikan dimatanya, kejutan dimataku. Tidak tahu apa yang difikirkan Siluman itu yang jelas aku berubah fikiran saat itu juga.
"Tidak, kau boleh ambil dia Lampir. Terserah mau kau apakan"
"Dasar bocah tidak tahu diri! HIAAA!"
*ZREEET!!*
Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku ini? Hari ini adalah hari dimana aku sangat tidak beruntung. Aku sudah tersesat, terjepit, melepas Monster, disambar petir Lampir pula.
Asap mengepul keluar dari dalam tubuhku, aku hampir nyaris tidak bisa merasakan seluruh tubuhku sama sekali.
"Bersyukurlah kau memiliki Siluman baik sepertinya. Sejuta satu manusia yang bisa memiliki Siluman patuh dan baik sepertinya"
"Ya, maafkan aku"
"Saat hari itu tiba. Akan aku buat Bumi ini menjadi dataran tandus, Setan dan Iblis akan berkuasa di dalamnya. Eeeehehehe!"
Mak Lampir pergi bersama anak buahnya entah kemana. Sedangkan aku harus memikirkan apa yang akan aku lakukan pada Siluman ini.
Membawanya ke Rumah adalah hal yang mustahil. Apalagi dia orang asing, tinggal pada waktu yang lama akan menjadi beban bagi keluargaku.
"Jadi bagaimana kalau kamu tinggal di Gua ini saja? Sesekali aku akan mengunjungimu"
"Mmm, Baiklah,"
Aku berfikir Gua itu kosong dan Siluman yang dapat berubah menjadi kelinci menurutku dia akan aman aman saja tinggal disini.
Beberapa saat setelahnya aku pulang tanpa membawa apapun ke rumah. Bagaimana jadinya kalau misalkan aku membunuh kelinci itu lalu aku memasak dan memakannya tanpa aku tahu kalau dia itu Siluman.
"Mungkin aku jadi Siluman nantinya," Menghela nafas.
Sesampainya di Rumah, seperti biasa aku membersihkan diriku agar tidak membawa kuman ke dalam rumah. Setelah semua sudah bersih aku menjatuhkan tubuhku keranjang dan beristirahat untuk esok pagi.
"Tunggu dulu, sepertinya aku melupakan sesuatu. Apa ya? Hah sudahlah, pasti tidak penting"
Aku tidur dengan nyaman diatas kasurku sendiri tanpa memikirkan ataupun mengkhawatirkan apapun itu. Termasuk masalah Monster yang baru saja bebas kembali.
"Nak! Kamu dimana?! Astaga kemana itu anak?," Kebingungan.
Di dalam mimpi aku mengejar kelinci putih yang mirip dengan siluman. Dalam mimpi itu aku bermain bersamanya. Namun tiba-tiba kelompok pemburu datang dan menembak siluman dibagian perutnya.
*BANG!*
"Hahaha, hei Nak. Mau ikut bersama kami makan daging kelinci?"
Mereka memotong dan memisahkan kepala juga tubuh si Siluman. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, mereka memasak lalu melahapnya. Beberapa menit setelah mereka melahapnya, seketika para pemburu itu berubah menjadi kelinci. Dengan kata lain mereka semua berubah menjadi Siluman.
"TIDAKKKK!!!"