
Pagi hari yang cerah, aku terbangun dengan penuh rasa kekhawatiran karena mimpi buruk semalam. Apakah itu karma yang aku terima setelah berniat menjadikan Siluman itu sarapan malam?
"Ya Tuhan, ampuni aku"
Aku kembali berbaring diranjang, melanjutkan tidurku. Hanya selang beberapa detik, pintu kamarku mengeluarkan suara yang mengerikan dan sangat mengganggu tidurku.
*DOR! DOR!*
"ILHAM!! BANGUN!!! CEPAT KE SEKOLAH!!!!," Menggema keras.
"Mah ... Sekarang hari minggu ..,"
"LIHAT TANGGAL!!! MAMAH GUYUR NANTI! MAU?!"
Dalam kondisi yang masih setengah sadar aku mengambil kalender yang ada tepat di samping bantalku diatas laci. Perlahan aku membuka mata dan ternyata.
"Ini hari minggu Mah ... "
*BRAK!*
"NGELAWAN KAMU YA?!"
Tanpa bicara aku memberikan kalender itu pada Ibuku. Saat diperhatikan lebih detail lagi ternyata Ibuku salah membaca kalender. Beliau malah membaca kalender lama yang berlaku tahun lalu.
"Oh iya, maaf ya Nak ... Tidur lagi gih ... "
"Oh .. Oh .. Dah ah! Aa mau tidur lagi!"
"KAMU BERANI SAMA MAMAH?!"
"E-Enggak mah. Mmuah-Mmuah," Cium pipi.
"Nah jadi anak baik ya Nak .., "
"Iya ... "
Ibuku keluar kamar, apa kalian tahu sifat ibu kalian sendiri? Aku sebagai anaknya harus menyesuaikan sifatku dengan orang tua.
Kalau orang tuanya pemarah, anaknya harus lembut. Kalau orang tuanya tegas, anaknya harus serius. Kalau orang tuanya suka bergurau, anaknya harus ceria dan begitulah seterusnya. Itu adalah salah satu cara seorang anak agar hubungan dan juga ikatan mereka semakin kuat.
Tidak disangka ternyata aku tidur cukup lama. Aku bangun pada jam dua belas siang, dan sejam setelahnya aku sarapan. Kami membicarakan semua hal yang kami lakukan kemarin malam dan sampai aku teringat akan sesuatu.
"Ilham, kemarin malam kamu kemana saja? Ayah tidak menemukanmu"
"Oh, kemarin malam Aa lihat kelinci ... "
Mulutku berhenti bergerak lalu memikirkan sesuatu yang aku lupakan. Aku termenung sesaat setelah mengingatnya dan bergegas pergi ke Hutan sambil membawa sisa makananku.
"Hei Nak!"
"Maaf, aku melupakan sesuatu!"
Aku terus berusaha mengingat lokasi Gua yang kemarin malam. Terus terang saja aku adalah seseorang yang memiliki IQ rendah dan hanya memiliki ingatan berjangka pendek. Aku ceroboh dan juga sering lupa.
"Dimana ... Dimana Gua yang kemarin? Hah~hah~" Kelelahan.
Sekitar satu jam aku berkeliling Hutan mencari Gua itu namun tidak ada hasilnya. Kalau saja aku tidak lupa dimana Guanya mungkin sekarang aku sudah disana memberi sisa makanan ini.
"Maaf aku hanya bisa memberimu sisa makanan, dan maaf juga aku sudah lupa memberimu makan"
Sambil memegang kotak sisa makanan itu, aku juga memikirkan semua kesalahanku padanya. Karena kekuranganku, mungkin kelinci itu sekarang sudah mati kelaparan.
"Hiks, sungguh kelinci yang malang"
*Srek srek!*
Dari balik semak belukar ada sesuatu yang sedang mengintip. Apakah Monster? Kebetulan sebelum pergi ke Hutan aku sekilas melihat Tv, dan mengetahui kalau para Monster sekarang sudah mulai bertebaran ke banyak titik di dunia.
Umat manusia mulai terancam dan saat ini hanya akulah orang yang terpilih untuk menyelamatkan Bumi. Tapi, sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana caranya berubah.
Dengan tetap santai aku mendekati semak itu dan mulai membukanya perlahan. Setelah dibuka aku melihat sosok putih yang mengerikan sedang memakan sesuatu di bawah pohon. Tiba tiba sosok itu memutar kepala dan ternyata, mulut sosok itu dipenuhi dengan wortel.
"Uh! Sulumut pugu puk,"
Aku memandang Siluman itu dengan tatapan kecewa. Kenapa tadi aku harus khawatir kepadanya? Kenapa tadi aku merasa bersalah kepadanya?.
"Kembalikan rasa kemanusiaanku tadi SILUMAN BODOH!!!"
"UUHHHH!!!"
Karena kesal aku cubit kedua pipinya sampai memerah. Siluman itu merasa kesakitan dan nyaris tersedak wortel.
Aku tidak menjawab perkataannya itu. Langsung saja setelah tenang aku kembali mengambil kotak sisa makananku dan menghabiskannya saat itu juga.
Baru beberapa saat aku menikmati makananku. Tiba tiba suara misterius muncul entah dari mana asalnya, yang pasti suara itu terdengar seperti sedang menertawakanku.
"Siapa itu?!"
"Hahaha! Baru kali ini saya punya Tuan berotak ayam"
"Siapa itu?! Jawab aku!"
"Hahaha!"
Mendengar asal suaranya, aku merasa suara itu berada sangat dekat denganku. Atau malah bisa dibilang orang itu seperti sudah berhadapan denganku. Aku mulai curiga kalau suara itu berasal dari jam tangan yang sedang aku pakai.
"Yo! Selamat pagi Tuan!"
Ternyata memang benar suara itu berasal dari jam tangan yang aku pakai. Namun aku sudah tidak terkejut lagi karena aku tahu kalau jam itu adalah jam super.
"Oh, rupanya kau Toh? Hei Siluman!"
"Ya pak?"
"Semua gigimu itu kuatkan?"
"Yup, kuat dong. Beton saja bisa hancur karena gigiku"
"Yosh. Gigit ini!"
Tanpa ragu aku menyuruh Siluman untuk menggigit jam yang aku pakai. Jam itu memohon ampun padaku atas semua ucapannya.
"Hah, anda rupanya Tuan yang kejam"
"Apa?," Menatap tajam.
"Eu, maksud saya tegas. Ya! Tuan yang tegas!"
Namun disamping itu saat ini, aku juga tengah berfikir bagaimana cara menggunakan jamku itu. Di kalau terjadi sesuatu di Bumi, aku harus bisa melindunginya.
Tidak ada satupun yang boleh menghancurkan Bumi. Disini aku lahir, disini aku tumbuh, dan disini juga aku belajar. Ayah, ibu, dan semua keluargaku juga tinggal disini.
Secepat mungkin aku harus bisa menguasai kekuatan dari jam ini dan terus melindungi bumi sampai titik darah terakhir. Yah, meskipun tidak semuanya adalah salahku.
Aku menatap Siluman yang tengah santainya melahap wortel. Padahal saat ini Bumi sedang dalam keadaan yang meresahkan dan terancam hancur di kuasai para Monster.
"Hehe, Pak mau wortel? Nih!"
"Serius dikit ngapa!!"
Sementara itu sambil memperhatikan Siluman, aku mencoba menanyakan banyak hal pada jam itu. Mulai dari cara menggunakannya sampai ke orang yang menciptakannya.
"Anda tidak akan pernah bisa mengoperasikan saya tanpa adanya data kekuatan super"
"Data super?"
"Ya, apa Tuan melihat ada dua lubang seperti penghubung pengisi daya Hp tepat di samping kiri saya?"
"Ini?"
"Ya, tempat itulah yang nantinya anda gunakan untuk mentransfer data super"
Jam itu terus menjelaskan secara detail tentang kemampuan dirinya termasuk kemampuan khusus yang bisa dilakukannya. Mengenai data super, semua itu bisa didapatkan dengan membunuh para Monster.
"Ada banyak data super yang tertanam di dalam tubuh beberapa Monster secara acak"
"Kalau seperti itu, bagaimana caranya aku bisa mencari data super dalam jutaan Monster ini?!"
"Caranya, ya tinggal bunuh saja Monsternya"
Mendengar jawaban itu membuatku merasa jengkel. Tapi informasi yang diberikan jam itu padaku sudah cukup membantuku untuk saat ini.
Mungkin untuk berikutnya hanya tinggal aku saja yang harus berani menghadapi para Monster. Yakin dan percaya diri kalau Monster yang aku bunuh pasti memiliki data super.
"Tuan!"
"Ahk! Apa?! Aku sedang berfikir!"
"Lihat itu!"