
Malam hari tepat jam sepuluh malam, sekarang ini aku sedang membantu paman mengecap beberapa dokumen dan formulir penting yang jumlahnya ...
*Bruk!*
"Paman ... Ada berapa lagi dokumen yang harus di cap?"
"Tinggal sedikit lagi ... Mungkin sepuluh mobil lagi ... "
"Sepuluh?!"
Banyak mobil hitam terus berdatangan mengantar seluruh formulir yang harus di cap dari kantor menuju ke Rumahku. Andai saja saat ini aku bisa bertukar posisi dengan Parth yang sedang tidur bersama semua mainannya.
"Awas kamu Parth!," Ancamku dalam batin
Sekitar dua jam kemudian akhirnya aku berhasil menyelesaikan semua tugas yang Paman berikan padaku. Aku berdiam diri di depan Rumah, menyegarkan fikiranku sejenak. Bintang malam saat itu sangatlah indah, aku saja sampai merasa nyaman berlama lama di depan rumah.
Perlahan aku menutup mataku, aku membayangkan banyak hal seperti pekerjaan, tugas pahlawan, masalah keluargaku sendiri dan Parth.
"Eh Jam!"
"Ya, Tuan?"
"Bisakah kamu membuat Device milik Parth berbicara seperti kamu?"
"Maaf Tuan, sepertinya tidak bisa. Hanya pencipta kami yang bisa melakukannya"
"Parth kah?"
"Ya ... "
"Itu artinya aku memang harus meminta sendiri kepadanya," Ucap batinku.
Hah ... Sementara aku kesampingkan dulu masalah Parth. Akhir akhir ini banyak Monster bermunculan, tapi aku jarang menemukan chip kekuatan. Sebenarnya ada berapa banyak chip kekuatan di luar sana?
"Eeeehehehe!"
Meski suaranya kecil, aku bisa mendengar Mak Lampir tertawa dari kejauhan. Mungkin ini karena efek dari chip Bardha, Mak Lampir memang selalu tertawa seperti itu.
Aku mencoba mengikuti suaranya lalu membuntuti Mak Lampir sendirian. Cukup beberapa menit setelahnya, aku menemukan Mak Lampir di tengah Hutan sendirian. Dia terdiam seperti sedang mengucapkan beberapa kalimat seperti mantra khusus.
"Blajungkeng Ketipang Ketipung Mblae Mblae, Muka Sia!"
Tiba tiba dari hadapannya muncul lubang hitam berukuran sedang. Mak Lampir masuk ke dalamnya dan tentunya aku pasti mengikuti dia dari belakang. Perlahan aku berjalan mendekati lubang hitam dan secara spontan saat itu juga aku berpindah ke dalam sebuah Istana Kerajaan yang megah namun tidak terlalu mengerikan.
"Tuan! Tetap tenang! Ini Alam Ghaib, para Makhluk seperti Monster dan jiwa jiwa, bersemayam disini!"
"Jangan sekali kali anda bertarung melawan mereka semua sendirian, anda tidak punya kesempatan Tuan!"
Mendengar perkataan Jamku, aku mencoba untuk tetap tenang. Jujur saat aku sampai disini aku sangat panik melihat banyaknya Monster, Siluman dan Makhluk lainnya berlalu lalang di sekitar Istana.
Di alam ini Mak Lampir sangat disambut baik oleh para Makhluk. Mereka bersorak soray menyambut kedatangan Mak Lampir dan merayakannya bersama sama.
"Sepertinya ... Dia sedang ingin menemui seseorang Tuan ... "
"Siapa?"
"Kandita"
"Hah? Siapa?"
Para Prajurit Kerajaan berbaris dengan rapihnya dan dua Prajurit Kerajaan datang menghampiri Mak Lampir lalu mengawalnya ke suatu tempat. Aku tidak mungkin bisa masuk ke dalam Istana itu dengan penampilan seperti ini.
"Kau punya ide Jam?"
"Belum Tuan ... "
"Ah ... Bagaimana kalau kita menyamar?"
"Menyamar? Seperti Pasukan Tuan?
"Bukan"
"Pengemis Tuan?"
"Bukan ... "
"Oh! Jadi kusir Tuan? Pura pura kita mengantar barang ke dalam, betul Tuan?"
"Bukan juga ...
"Lantas jadi apa Tuan?"
"Kita akan menyamar jadi ... Banci ..."
"Bab-Banci Tuan? Maksud anda, perempuan?"
"Ya ... "
"Haha! Lucu Tuan bercandanya!"
"Haha iya, benarkan ... Tidak! Kita benar benar akan melakukannya!"
"TIDAKKK!!!"
Itu adalah saat pertama kalinya aku mendengar jamku sendiri menjerit karena tidak ingin. Aku melakukan beberapa persiapan sebelum masuk, seperti make up, memakai pakaian wanita dan mengecat jamku sendiri menjadi berwarna pink.
"Ayolah! Ini hanya misi!"
"Sebenarnya ini hanya misi yang dibuat anda sendiri Tuan ... "
"Tepat sekali! Ayo!"
Dengan pakaian kebaya putih polos dan sepasang sepatu wanita. Semua itu sangat membatasi gerakanku, terutama pada bagian rok panjang dan sepatunya.
Meskipun begitu aku tetap berusaha berjalan mendekati para Prajurit. Sepertinya mereka semua Prajurit yang sulit aku taklukan, aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya. Tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Tuan?"
"Ya?"
"Apa ini benar anda Tuan?! Penampilan anda berbeda sekali! Benar benar seperti wanita!"
"Hahaha! Jangan meremehkan aku soal menyamar! Dan untuk sekarang, panggil aku Fifi! Hehehe ... "
"Wah ... Ternyata bukan hanya tampilannya saja, sikapnya juga berubah total 360°," Ucap batin Jam.
"Sebenarnya aku hanya meniru sifat Parth. Yah, tapi biarlah," Ucap batinku
"Hei! Tunggu nona! Ada perlu apa datang kemari?"
Prajurit itu tiba tiba menodongku dengan pedangnya. Menggoyahkan mental dia, rasanya sudah tidak mungkin, tapi meski begitu masih ada celah untuk menghadapi para Prajurit bodoh ini.
"Mas ... Saya hanya pelayan Mak Lampir, beliau baru saja memberi saya alat ajaib yang bisa bicara"
"Alat ajaib?"
"Iya, makanya saya kesini ingin berterimakasih sekaligus mengembalikan jam ini kepadanya. Saya rasa, saya masih belum pantas menerima hadiah berharga ini ... "
"APA?!!"
"Sst!"
"Baiklah ... Mana jamnya? Biar saya yang berikan jam itu kepadanya, saat ini Mak Lampir tidak bisa di ganggu"
Aku bisa merasakan tangan kananku bergetar. Sepertinya Jam ketakutan, dan ini pertama kalinya aku melihat dan merasakan benda mati atau hidup sepertinya bergetar ketakutan.
"Tapi Mas ... Kalau Mas coba lepasin jamnya, nanti Mas sendiri kesetrum loh ... Aku aja udah nyobain"
"Kalau bisa aku lepas sendiri, pasti sudah aku titip sama Mas tadi ... "
Prajurit itu mulai menelan ludah, sepertinya dia percaya dengan apa yang aku katakan. Dia juga sudah mulai ketakutan, lalu tidak lama akhirnya aku di berikan izin masuk ke dalam Istana oleh salah seorang Prajurit.
"Saya tidak percaya ini Tuan, rencana anda berhasil!"
"Haha! Jangan remehkan Tuanmu ini!"
Hampir saja aku kehilangan jejak Mak Lampir, aku sedikit mempercepat langkah untuk mengejar melanjutkan langkah kembali membuntuti Mak Lampir.
Dan lagi lagi Mak Lampir masuk ke dalam ruangan tertutup yang di jaga oleh empat personil Prajurit elite. Menghadapi dua Prajurit saja sudah kesusahan, apa lagi ini ada empat personil Prajurit elite.
"Sekarang apa rencanamu Tuan?"
"Jangan tanya mulu! Kali kali kasih solusilah!!"
"Ma-maaf Tuan ... "
Untuk sementara, aku dan jamku sendiri terdiam memikirkan jalan masuk ke dalam. Sebenarnya aku bisa saja menghabisi mereka semua dengan transformasiku, tapi aku tidak ingin mengambil resiko besar saat ini.
"Ilham! Ngapain kamu disini?!"
"PARTH!"
*DUK!*
"Siapa disana?!"
Secara tiba tiba, Parth berdiri di belakangku begitu saja. Aku yang panik mulai putus asa tertangkap oleh para Prajurit, tetapi saat aku mendekat ke empat Prajurit itu seolah tidak bisa melihatku.
"Yup, sini! biar aku pasang alat khusus biar kamu gak kelihatan sama orang, Jiwa, ataupun Monster lain"
"Maaf, kamu siapa ya? Aku Fifi ... Salam kenal ... "
"Pft! Udahlah, jangan pura pura! Aku udah tahu dari awal kok ... "
"Sungguh terlalu ... "
" Ternyata Parth membuntuti Tuan ... Selama ini ya?"
"Iya ... "
Setelah Parth memakaikanku alat itu. Kami berdua seketika pingsan dan sekilas aku bisa melihat Sesosok wanita bergaun hijau terang berdiri menatapi kami berdua.
"Usaha bagus Ksatria ... Kamu jadi tahananku sekarang ... "