Kiss Me!

Kiss Me!
Masa Lalu Minrin



Hyora berada di ruang kerjanya bersama Kangchul yang duduk di sofa. Seraya memilah laporan yang telah di kerjakan gadis itu. Ia memeriksa data terbaru vampir yang telah tiba di Korea.


"Akan aku pindahkan ini ke lemari." Kangchul berucap masuk sambil sibuk menata laporan pada box di hadapan.


"Hancurkan saja, aku sudah memindahkan semua ke laptop milikku."


Kangchul menatap terkejut dengan apa yang ia dengar. Susunan laporan itu sangat banyak. Banyak hampir memenuhi box besar. "Semua?"


Hyora mengangguk. "Aku tak bisa terlalu lama membiarkan data itu meronta di meja kerjaku. Lagi pula apa yang bisa ku kerjakan di rumah selain menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ku?"


"Ke club, carilah mangsa." Kangchul menyahut asal.


Hyora menatap tajam, lalu melempar pena miliknya tapi, dengan mudah Kangchul menangkapnya.


"Hei aku memberitahu hal yang baik, kenapa kau malah bertingkah seperti itu?"


"Kau menyebalkan."


"Jika tak dapat mangsa, aku siap melakukannya." Pria itu memajukan bibirnya, lalu menyentuh dengan jari telunjuknya.


***


Saat ini Hyori bersama Minrin bersama dalam perjalanan menuju dokter gigi. Ini jadwal Hyori memotong gigi taringnya karena sudah terlalu panjang. Minrin menemani karena Hyori memintanya.


Setelah tiba mulut gadis gempal itu di sanggah oleh check retractor. Alat yang menahan mulutnya untuk terus terbuka. Dokter yang menangani adalah dokter Choi. Usianya terlihat sekitar empat puluhan tahun, tetapi usia sebenarnya masih dua ratusan tahun. Hyori lebih tua darinya.


Pria itu memotong bagian gigi Hyori, lalu mengasahnya. Setelah selesai gadis itu duduk di samping Minrin.


"Resiko vampir usia sekolah. Gigimu menjadi mudah rapuh di bagian belakang. Ditambah kau belum bisa mencari mangsa sendiri. Gigi taring mu tumbuh lebih cepat."


Hyori hanya mem-poutkan bibirnya. Lalu mengangguk saja, memang itu kenyatannya. Bahwa dia belum.bisa mendapat mangsa.


"Apa banyak vampir yang tak bisa mendapat mangsa?" tanya Minrin penasaran.


Dokter Choi mengangguk. "Cukup banyak, aku menangani beberapa pasien. Paling banyak di kawasan Asia. Di Amerika dan Eropa mereka bisa beradaptasi dengan baik. Mungkin karena cara mereka bersosialisasi lebih terbuka."


"Baiklah, Terima kasih." ucap Hyori lalu ia segera mengajak Minrin keluar dari sana.


Keduanya berjalan keluar dari rumah sakit. Sebagian besar yang berada di sini adalah vampir. Kedua gadis itu menghirup udara di sana merasakan kekuatan satu frekuensi membuat seolah mereka menjadi lebih  berenergi. Lalu saling tatap dan tersenyum bersama.


Mereka melangkah ke luar lalu menuju rumah Hyori. Ini pertama kalinya bagi Minrin bertandang ke rumah teman sekolahnya. Selama ini ia tak banyak bergaul karena takut jika kebenaran dirinya sebagai vampir akan terungkap.


Setelah perjalanan yang cukup menyita waktu mereka tiba di rumah Hyori. Dari awal tiba Minrin menatap takjub. Ini pertama kalinya ia masuk ke rumah besar.


Keduanya lalu berjalan ke kamar Hyori. Kamar dengan nuansa putih dan peach yang manis. Tempat tidur bulat gaya Victoria, lantai kayu, meja rias dengan nuansa putih minimalis. Membuat Minrin berdecak kagum. Ia lalu duduk di tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


"Kau vampir keturunan ningrat." Ia memuji.


"Tidak seperti itu."


Hyori sejenak berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelahnya menyusul Minrin dan rebah di tempat tidur. Minrin memejamkan mata.


"Aku ingin tidur."


Hyori mengangguk. "Tunggu saat purnama."


"Menyenangkan sekali merasakan kantuk."


Kata-kata itu disetujui Hyori. "Rasanya seolah ada beban terlepas untuk beberapa saat."


"Aku kesal dengan manusia, disaat mereka harusnya bisa menikmati rasa kantuk. Malah sibuk di sepanjang malam."


"Mereka tak tau bahwa bisa terjaga sepanjang hari itu melelahkan." Hyori menyanggah kata-kata yang terucap dari sahabatnya.


Minrin lalu mengangguk. "Rasanya kesepian, menyakitkan, terutama saat teringat masa lalu. Berapa banyak teman manusia yang meninggalkan mu? Lalu teringat kenangan manis bersama."


"Minrin apa kau ingat semua kisah hidupmu?"


"Selama menjadi vampir?"


"Iya," jawab Hyori.


"Tentu aku ingat semua, bahkan saat aku memutuskan untuk menjadi vampir."


Hyori merubah posisinya, terlihat antusias pada kisah yang mungkin akan diceritakan Minrin.


"Dulu musim dingin ...."


Gadis itu mulai menceritakan kisahnya.


-Joseon, ratusan tahun silam-


Minrin masih berusia delapan belas tahun. Ketika sang ayah memutuskan menjualnya karena tak memiliki uang untuk hidup. Masa itu sulit dimana rakyat juga tercekik akibat penjajahan yang dilayani Jepang. Menjelang akhir masa Joseon.


Ia dijual ke rumah bordil. Lalu sejak kakinya menapaki tanah dibalik pintu masuk. Maka sejak ini gelarnya adalah seorang gadis penghibur. Usianya masih empat belas tahun kala itu. Saat dipaksa melayani pria tua hidung belang. Harga dirinya hancur tentu saja. Namun, ia tak bisa lagi melarikan diri. Ayahnya telah menerima imbalan dari hasil menjual anak satu-satunya.


Lalu saat ia berusia delapan belas tahun. Ia hamil, dan dipaksa mengugurkan janin. Minrin menolak maka ia putuskan melarikan diri. Namun sial, dirinya di kejar pengawal. Melewati hutan yang dalam dan gelap. Dalam kondisi babak belur akibat di pukuli pemilik rumah bordil. Hingga sebuah panah melesat menembus pinggul belakang.  Kata-kata sebelum ia terbangun menjadi vampir adalah.


"Dia sudah mati, gadis tidak berguna. Ia hamil dan tak bisa dijual lagi. Sampah memang layaknya dibuang." Berat, kata-kata itu begitu sulit diucap dan diingat.


Hyori beranjak lalu memeluk Minrin. "Sulit sekali bukan? Selama ini?"


Minrin mengangguk, keduanya lalu saling menangis akibat rasa sakit yang dirasakan.


"Terima kasih kau sudah mampu bertahan sejauh ini Minrin-aa," puji Hyori, sementara Minrin hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tak lagi mampu berkata-kata luka lama yang ingin ia lupakan. Sekarang ia luapkan. Meski ada sedikit lega karena ada yang mengetahui lukanya.


***


Malam hari Daniel, mengusap-usap perutnya akibat makan terlalu banyak. Ia jua terpaksa minum obat lebih banyak akibat jumlah makanan yang ia makan tak seperti biasanya.


Malam ini ia putuskan untuk keluar. Mencari energi yang akan mengobati rasa sakit pada bagian perutnya. Sebelum keluar tadi ia telah menghubungi Heemi salah satu guru di sekolah Hainan. Untuk menemaninya malam ini ke sebuah club'.


Dengan motor besarnya, Daniel melalui jalan yang padat di Seoul. Malam ini suasana lengang. Masih banyak aktivitas, sampai akhirnya tiba ke tempat tujuan. Butuh waktu kurang lebih lima belas menit.


Segera memarkir motornya begitu tiba. Lalu berjalan masuk, belum tiba di depan club' Heemi berlari menghampiri. Daniel menatap heran, pakaian wanita itu tak seperti biasnya. Ia kini mengenakan celana jeans, sweater putih berlapis outher abu-abu.


"Bagaimana kalau malam ini kita ke pantai saja?" tawar Heemi.


Daniel mengangguk, seraya menatap bibir Heemi. Ia merasa lapar tiap kali menatap bibir gadis di hadapannya.


"Kau lapar?" tanya Heemi ragu.


"Sedikit," jawab Daniel sambil terkekeh kecil.


Heemi memajukan bibirnya, lalu menunjuk dengan telunjuknya agar Daniel lekas menciumnya. Daniel terkekeh geli sendiri. Namun kemudian tanpa ragu mengecup Heemi beberapa saat.


Setelah kecupan dilepas, Heemi terhuyung ke belakang. Tubuhnya lemas seketika. Beruntung Daniel bisa menahan dengan memegangi tangan gadis itu.


"Maafkan aku."


Heemi hanya tersenyum. "Kita ke pantai kan?"


Daniel mengangguk. Lalu keduanya segera kembali melangkah menuju tempat motor Daniel terparkir.


Heemi tau jika Daniel adalah seorang vampir. Entah bagaimana pria itu pada akhirnya memberitahu Heemi perihal siapa dirinya yang sesungguhnya.


***