
Malam hari rumah besarnya klan Park
Hyori bersaudari. Rumah mewah itu dijaga oleh beberapa pengawal. Hanya tetap saja mereka tak banyak berinteraksi. Hyori menghabiskan malamnya dengan berkirim pesan dengan temannya di Jepang. Karena vampir hampir tidak pernah tidur. Jadi, saat malam hari terasa benar-benar terasa menyebalkan. Sesekali ia tersenyum senang. Gadis itu duduk di taman, menatap bulan yang kini hanya nampak sebagian.
Hyora yang baru saja turun dari kamarnya, ia ingin mencari udara segar. Lalu menemukan adiknya di sana. Ia segera menghampiri Hyori kemudian duduk di sampingnya. Segera mengusap kepala sang adik.
"Apa kau berkirim pesan dengan Hina dan Yuka?"
Hyori mengangguk ia tersenyum sambil menatap Hyora. "Iya, mereka mengatakan masih akan berada di Jepang sampai tujuh tahun mendatang."
"Bagaimana dengan Bella apa ia masih di Paris?" tanya Hyora lagi.
"Bella, sudah tidak berada di sana. Sekarang ia hidup sebagai Cielin di Cina."
Begitulah kehidupan vampir terus berputar. Harus berpura-pura mati, berganti nama dan peran kehidupan, sekolah lulus dan kembali ke sekolah, mempelajari banyak bahasa, dan banyak lagi. Mungkin bagi orang lain itu menyenangkan. Namun, itu sama sekali tak menyenangkan. Hidup dengan banyak kenangan menyakitkan. Terutama jika harus kehilangan.
Hyora menatap sang adik, senyumnya sejak tadi merekah. Hyori begitu bahagia bisa berkomunikasi dengan sahabat lamanya. Sebenarnya, sekolah sebelumnya di Jepang ia banyak bertemu dengan Vampir. Maka sedikit berat harus meninggalkan Jepang. Juga, Hyora tak yakin Hyori bisa mendapatkan banyak teman seperti di Jepang. Ucapan Daniel ada benarnya.
"Hyori, apa kau tidak masalah dengan sekolahmu sekarang?" tanya Hyora khawatir.
Hyori menatap sang kakak, keningnya berkerut dan alisnya bertaut. "Kenapa Kalak bertanya seperti itu?"
"Maksud kakak, apa tidak masalah dengan sekolahmu saat ini? terlalu banyak manusia di sana."
"Aahh, tidak masalah." Hyori tersenyum, sungguh ini bukan masalah ia hanya perlu mengasingkan diri pikirnya. "Kak apa aku boleh berjalan-jalan pagi? Aku ingin sekaligus melihat daerah sini."
Hyora mengangguk menyetujui, tak ada salahnya. "Pastikan kau minum sedikit darah sebelum berlari pagi besok."
Sang adik hanya mengangguk menyetujui.
**
Pagi hari datang begitu lama bagus Hyori. Ketika langit menuju semburat jingga ia segera berganti pakaian. Memenuhi keinginannya semalam. Berlari-lari kecil di sekitar lingkungan rumah. Berlari ke dapur lalu meneguk santap pagi yang telah disiapkannya sang kakak.
"Hati-hati," sapaan tiba-tiba dari atas. Hyori bisa melihat sang kakak dari ruang makan. Ia segera mengangguk.
Malam hari dilalui dengan kegiatan yang membosankan hampir setiap harinya. Hyori bukan seorang gadis yang mengenal kehidupan malam. Vampir lain banyak sekali yang seperti itu. Namun dia berbeda, Hyora memang sangat protektif. Ia sendiri paham betul bagaimana dunia luar. Meski mereka sudah berumur ratusan tahun. Baginya tetap saja Hyori adik kecilnya.
Kini Hyori sudah bersiap ia berlari-lari kecil di sekitar komplek rumahnya. Ia memulai dengan langkah-langkah kecil yang ringan. Sepanjang jalan ia melihat rumah-rumah besar. Pagi ini benar-benar sepi setelah melewati beberapa rumah, ia sampai di sebuah taman. Hyori duduk di sana sambil menikmati udara pagi. Matanya terpejam, tak ada siapapun di sini. Hanya dirinya, aroma pagi yang menyejukkan. Ia menyukainya.
Matahari belum benar-benar kembali ke singgasananya. Langit masih gelap bahkan saat Hyori memulai harinya.
Hyori-ssi?
Hyori membuka matanya ia melihat Minjoon, wali kelasnya. Ia segera berdiri kemudian memberikan salam kepada Soohyun. "*Saem?"
(Saem panggilan singkat dari Seonsaengnim\=guru)
Pria itu duduk di samping Hyori. Tubuh dan wajah Soohyun membuat Hyori sedikit terpesona. Seperti, artis Kim Soo Hyun menurutnya.
"Ada sesuatu?" tanya Minjoon bingung dengan tatapan Hyori.
"Tisak. Hanya aku berpikir jika anda mirip artis." Hyori menjawab malu.
Minjoo mengangguk menggaruk tengkuknya, yang tak gatal. "Apa rumahmu ada di sekitar sini?" tanya sang guru kemudian.
"Ah." Minjoon menyahut singkat. Seolah canggung.
"Sepertinya saya harus pulang Saem," pamit Hyori sambil berdiri kemudian berjalan meninggalkan sang guru.
Saat itu Daniel berdiri di tengah jalan tak jauh dari taman. Lalu berpapasan dengan Hyori. Namun, gadis terlihat tak mengenalnya. Daniel menatap sepanjang jalan. Hyori tak juga memalingkan wajahnya.
"Dia benar-benar tak mengingat semua?" Pria itu bergumam. Lalu berjalan menghampiri Minjoon yang duduk terdiam, seolah memikirkan sesuatu. Daniel duduk di samping sahabatnya itu yang masih terdiam.
"Apa ada sesuatu?" tanya Daniel.
"Tidak, hanya saja—ah lupakan, kau mau kemana?" tanya Minjoon.
"Aku berlari hanya untuk mengurangi kalori setelah menghabiskan makanan yang kau buat," jawab Daniel ia juga memikirkan sesuatu.
Ada apa sebenarnya Tuan? Apa yang anda pikirkan?
***
Hyoora sedang sibuk memasukan data vampir yang ada di Korea ia menatap laptopnya dengan serius. Bagaimanapun juga ia adalah bagian dari AVI dan ia punya tugas yang harus dikerjakan. Sebelum dan kembali ke Korea ia juga sedikit banyak membantu. Dan kini ia resmi bekerja di kantor Asosiasi Vampir Korea (AVK). Kantornya sama dengan bagian Imigrasi. Hanya ruang kerjanya sedikit berada di belakang dan satu lantai di bawah bagian Imigrasi.
Tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya. Merasakan bahwa ada seseorang yang mengawasinya.
"Siapa kau? Keluarlah," tanya Hyora tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Kangchul keluar dari persembunyiannya pria itu berpakaian lengkap dengan jas dan pakaian serba hitam.
"Nona Choi memerintahkan ku untuk menjaga kalian," jelasnya.
Hyora bergerak cepat dari tempat duduknya, lalu menyerang Kangchul hanya dalam hitungan dedek. Kangchul juga tidak kalah cepatnya bergerak menghindar. Dan dengan cepat ia berhasil memegang tangan kanan Hyora yang hampir saja mencengkram lehernya. Pria itu memegangi tangan kiri Hyora ke belakang pinggang, serta menahan kaki Hyora dengan kaki kirinya.
"Kenapa manusia sepertimu harus menjadi pengawal ku?" tanya Hyora sinis.
"Ini perintah Nona Song," ulang Kangchul sambil terkekeh kecil.
Hyora tidak mempercayai ucapan pria itu. Dengan cepat Hyora menyerang kaki Kangchul dengan lutut kanannya, lalu memutar tangan kanann, kemudian sedikit mendorong Kangchul. Sehingga saat ini pria itu tertahan dengan kunciannya. Kepala Kangchul tertunduk ke bawah tertahan tangan kanan Hyora; sementara tangan kanan Kangchul terentang ke belakang dipegangi tangan kiri Hyora.
"Bagaimana kau bisa menjaga aku dan adikku? Kau ini manusia?!"
"Aku keturunan ke seratus dua puluh dari pendekar Jungil."
Kemudian tangan kiri Kangchul yang bebas dari kuncian, menarik keras tangan kiri Hyora yang memegangi kepalanya tubuh Hyora terputar. Saat ini ia setengah melayang, tubuhnya di tahan oleh tangan kiri Kangchul, tangan kiri Hyora tepat berada di depan leher lawannya. Sementara tangan kanan Hyora berpangku pada pinggang Kangchul, tangan kanan pria berambut hitam itu berada di depan leher Hyora, dan tangan kirinya memegangi pinggul Hyora.
Kraaak
Hyora melihat ke arah roknya yang ternyata robek panjang karena kakinya yang menahan tubuh. Kangchul melihat sekilas, kemudian kembali menatap wajah Hyora. Ia tak ingin menjatuhkan harga diri gadis yang akan menjadi atasannya itu.
"Lepaskan!" pinta Hyora dingin.
Perlahan ia melepaskan Hyora sambil tetap memegangi agar tuannya tidak terjatuh. Saat Hyora berhasil lepas ia menjauhkan diri dari Kangchul. Kangchul membungkuk meminta maaf. Namun, ia tidak berani menatap Hyora dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Hyora dengan kesal berjalan kembali ke tempat duduknya.
***