
Ada satu malam di mana semua vampir menjadi lemah. Itu adalah malam saat bulan bersinar penuh. Ya, itu malam bulan purnama. Malam di mana Vampir bisa dilumpuhkan dengan pedang yang dilapisi dengan emas murni.
Setelah menunggu sekian lama saat dimana vampir bisa beristirahat tiba di Korea. Hari yang membuat vampir bisa merasa dalam buaian malam. Terlelap layaknya manusia. Lalu saat terbangun seolah akan ada energi baru yang hadir.
Malam ini Hyori dan Hyora memakai piyama senada, dengan warna abu-abu polos. Mereka terlihat cantik. Malam ini adalah malam bulan purnama dan mereka akan tidur bersama, di kamar Hyora. Malam purnama pertama setibanya di Korea.
Malam ini Hyori telah berada di kamar sang kakak, ia merapikan rambutnya sebelum terlelap. Bagi vampir tidur adalah waktu yang spesial. Mereka hampir satu bulan penuh terjaga. Melalui pagi dan malam, begitu seterusnya. Bagi sebagian manusia mungkin itu menyenangkan. Namun, tidak sama sekali. Larut dalam waktu membawa pikiran larut dalam kenangan yang sebagian besar menyakitkan.
"Rambutmu benar-benar bagus," puji Hyora ia berjalan mendekat lalu mengambilnya sisir dari tangan adik kesayangannya. Ia menyisiri rambut Hyori. Meski tak terlalu panjang tapi Hyora menyukainya.
"Iya, karena kita punya rambut yang sama Kak." Hyori memainkan rambut panjang sang kakak di tangannya.
Hyori menatap Hyora. Memerhatikan wajah sang kakak. Terlihat dengan bentuk yang tegas juga tatapan mata yang tajam. "Dan wajah kakak benar-benar cantik."
Hyora tersenyum kemudian memeluk adik kesayangannya itu. "Kau milikku yang tercantik," pujinya.
Tok tok tokk.
"Masuk...," sahut Hyora.
"Permisi." Kangchul masuk membawa dua cangkir santapan sebelum kedua bersaudari itu beristirahat.
"Minum ini sebelum kalian tidur purnama ini," ucap Kangchul lalu memberikan cangkir kepada Hyora dan Hyori. Ia tersenyum senang melihat akrabnya kedua bersaudari itu.
"Terimakasih," ucap Hyora.
"Beristirahatlah, aku akan berjaga." Kangchul segera berjalan ke luar.
Hyori melirik Hyora, gadis itu mendapati sang kakak yang menatap Kangchul dengan tatapan yang berbeda.
"Oppa benar-benar yang terbaik," puji Hyori tanpa melepas tatapannya dari Hyora.
"Oppa? Kenapa kau memanggilnya begitu?" tanya Hyora melirik sang adik penuh tanda tanya.
"Orang itu yang memintaku memanggilnya oppa."
Hyora tersenyum lalu menarik selimut, agar menutupi seluruh tubuhnya. "Mari kita tidur. Kita habiskan dulu santapan kita ini."
Hyori dan Hyora menyantap makanannya kemudian bergegas tidur. Hyora merapikan selimut mereka. Kemudian mematikan lampu yang ada di samping tempat tidur.
Malam semakin larut, bulan masih berada di titik sempurna. Perlahan keduanya lelap saat rasa kantuk menjalar. Lalu lelap, dan larut dalam buai purnama
***
(Hyori Dream and Flashback)

Gadis itu berjalan di siang hari. Hyori kini tengah mengenakan hanbok. Ia berlari riang ketika ia melihat pohon dengan bunga indah yang bermekaran di luar tembok istana. Langkahnya terhenti, saat guguran dedaunan dan bunga menyentuh lembut hatinya.
'Bunga ini, begitu indah tapi mengapa ia menggugurkan semua kelopaknya?' Gadis itu bergumam
Ia merendahkan tubuhnya, menekuk lutut, seraya memunguti kelopak bunga. Kemudian memerhatikannya. "Kenapa, kau begitu lemah akibat angin saja bisa membuat daun dan kelopaknya gugur?"
"Apa kau gila, bicara dengan bunga seperti itu?"
Hyori (Myung Ok) berdiri kemudian memerhatikan anak laki-laki yang berdiri di hadapannya. Laki-lakinya itu mengenakan hanbok layaknya anak saudagar atau kalangan atas. Jelas dia bukan rakyat biasa. Menatap Ok dengan heran, akibat ulah gadis itu memungut dan bergumam dengan daun.
'Mengapa, aku tidak bisa merasakan kehadirannya."'
"Kau siapa?" tanya gadis yang kini mengenakan hanbok merah muda untuk atasannya, lalu bawahnya berwarna cokelat muda.
"Aku Leesuk." Anak laki-laki bernama Leesuk itu menjawab dengan senyum, sambil mengulurkan tangan.
Myung Ok tersenyum kemudian menjabat tangan Leesuk. "Aku Myung-ok"
Leesuk menatap Myung-ok. "Hei, kenapa namamu aneh sekali?" Niat Leesuk hanya meledek dan ingin membuat Ok marah. Namun, reaksi yang ia terima tak sesuai harapan. Gadis itu malah membuat wajah bingung yang menggemaskan.
"Apa begitu?" gumam Ok.
"Seratus tahun," jawab Myung-ok dengan segera menjauhkan wajahnya.
Leesuk tertawa mendengar jawaban dari Ok. "Hei apa kau mau mempermainkan ku?"
Tentu saja tak akan ada yang percaya dengan pernyataan seperti itu. Siapa yang percaya jika usia Ok seratus tahun? Dengan wajah yang menunjukkan ia masih belasan tahun.
Myung-ok memperhatikan Leesuk. "Apa kau bagian dari istana?" Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Agar anak itu tak lagi membahas tentang usia.
Leesuk mengangguk. "Aku anak salah satu pejabat di sini."
"Benarkah?" tanya Myung-ok dengan tatapan curiga.
Anak itu mengangguk dengan yakin. "Maukah kau pergi bersamaku?" tanya Leesuk, ia menatap Myung-ok penuh harap.
"Kemana?"
"Ajak aku mengelilingi tempat ini. Aku juga ingin melihat pasar, sungai juga hutan. Bisakah?"
Myung-ok mengangguk ia tersenyum dengan sangat manis. Kemudian ia menggandeng tangan Leesuk. Dalam pikiran gadis itu. Leesuk pasti tak pernah mempunyai waktu untuk keluar rumah. Hingga tak pernah merasakan hidup dan berkeliaran di pasar sepertinya. Padahal itu sangat menyenangkan.
Keduanya melangkah menyusuri pasar. Leesuk nampak sangat senang ia bersemangat mengikuti langkah gadis di depannya yang kini terlihat seperti seorang pemandu.
Lalu saat Myung-ok menghampiri ibu penjual mantau. Ia membayarnya lemudian membelinya satu dan memberikan pada Lee suk.
"Cobalah ini dan ceritakan padaku bagaimana rasanya," pinta Myung-ok.
"Apa?" tanya Leesuk bingung.
"Cobalah, kau harus isi perutmu sebelum kita menjelajahi tempat ini." Myung-ok berucap lagi.
Lee suk memakan dengan ragu. Namun, setelah ia mencoba disuapan pertamanya, dengan rakus ia menghabiskan mantau itu. Rasa lapar menghilang begitu saja juga rasa yang tak terlalu manis dan kelembutan mantau, benar-benar membuat ia ketagihan.
"Apa enak?" Myung-ok tersenyum menengok ke Leefuk ia juga terlihat sangat penasaran.
Leesuk memperhatikan Myung-ok sesaat. Entah mengapa seolah ia baru saja dipaksa berlari jauh. Kini jantungnya berdebar tak beraturan.
'Apa ini? Apa aku sakit? Jantungku, berdetak begitu cepat,' gumamnya.
Leesuk terdiam sesaat ia mencoba memahami apa yang ia rasakan. Namun ia tak mengerti juga.
Anak itu mungkin tak mengenal rasa tertarik akibat jarang bergaul keluar istana karena statusnya.
Myung-ok menatap dengan bingung. Temannya sejak tadi terdiam. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Leesuk mengangguk. "Ayo kita jalan lagi."
Mereka kembali berkeliling pasar. Myung-ok terlihat begitu bersinar dengan hanbok merah mudanya. Sementara Leesuk tidak berhenti menatapnya. Entah mengapa, ia begitu bahagia hanya dengan menatap gadis ini. Aneh memang, ia sendiri masih bingung.
Mereka melihat ke seorang penjual aneka aksesoris. Myung-ok mencoba sebuah gelang kemudian meletakannya kembali. Leesuk melihatnya kemudian memberi tiga koin emas dengan segera. Yang di lakukan Leesuk membuat oedagang pernak-pernik itu hanya terdiam karena terkejut dibayar dengan berkali-kali lipat dari harga sebenarnya.
Myung-ok melirik ke belakang ia kemudian berhenti menunggu Leesuk yang masih di belakangnya. Leesuk berlari tergesa menghampirinya.
"Kau lama sekali?"
"Aku kehilanganmu karena kau berlari terlalu cepat."
Raja akan melewati jalan ini!!
Teriakan dari pengawal kerajaan membuat Leesuk menarik Myung-ok mereka berlari ke gang sempit di belakang rumah warga. Jalanan itu sangat rapat dan begitu dekat dengan rumah sekitar. Hingga cukup sulit di lewati. Saat berlari bahkan tangan Ok terluka terkena kayu yang ditumpuk di belakang salah satu rumah.
Merasa tak ada jalan lagi. Leesuk mendorong Myung-ok ke tembok, kemudian ia membekap mulut gadis itu. Leesuk terlihat sangat cemas. Ia kini menoleh memerhatikan Ok, wajah mereka sangat dekat. Leesuk melihat tangan Myung-ok yang terluka dan dengan perlahan menutup ia hampir berteriak. Namun, Myung-ok ikut membekap bibir Leesuk dengan tangannya. Ok menggeleng, ia berharap Leesuk tak berteriak. Meski terkejut akibat dengan jelas melihat luka gores yang perlahan menutup.
Leesuk menatap Myung-ok dengan takut dan penasaran. Sementara Myung-ok pun menatap Lee suk dengan sedih dan takut. Ini yang gadis itu takutkan. Jika berkenalan dengan manusia.
***