Kiss Me!

Kiss Me!
Daniel dan Minjoon



Pagi ini Hyori sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali Ia sudah mengenakan seragamnya. Hanya, masih saja menatap cermin. Ada rasa kesal yang ia rasa sejak pertama kali memakai seragam. Lalu menemukan fakta jika seragam itu sama persis dengan yang dikenakan Jason kemarin. Jelas, bahwa ia akan satu sekolah dengan anak itu.


Pertemuannya terakhir kali benar-benar membuat ia memiliki kesan buruk pada Jason. Anak itu terus saja menggoda dan mengikuti. Hyori merasa Jason melakukan itu untuk menjahilinya. Ia tak suka, karena Jason seolah mencemooh karena postur tubuhnya. Walaupun pada kenyataannya anak laki-laki itu sama sekali tak beeniat demikian.


Setelah bersiap dan memakai cream khusus yang akan membuat kulitnya tak terbakar sinar matahari, Hyori segera berjalan keluar. Sebelumnya Hyori mengambil tasnya, kemudian segera turun ke lantai bawah. Berjalan melewati tangga turun, lalu menuju ke arah kiri. Ia menuju ruang makan.  Di sana ia melihat sang kakak yang sudah menunggunya sambil membaca majalah di ruang makan. Hari ini Hyora mengenakan sebuah dress berpotongan lengan dan rok pendek berwarna navy. Kini gadis itu sedang sibuk membaca majalah. Ia menatap ke arah sang adik yang tengah berjalan mendekat. Semalam Hyori di kamarnya dan Hyora juga mengurus keperluannya. Vampir tak tidur hingga hari terasa begitu lama bagi mereka.


Sang adik duduk dengan malas di samping.  Dengan penuh perhatian Hyora membelai rambut Hyori, lalu menyerahkan sekotak jus berlabel jus strawberry segar. Sebenarnya isinya adalah darah hewan. Karena Hyori tak juga bisa mendapat kecupan sebagai tenaga. Jalan satu-satunya hanya minum darah hewan. Darah manusia sudah sejak lama tak diijinkan. Secara tak langsung, darah yang berasal dari manusia memancung naluri alami vampir.


"Segera habiskan, kemudian kita berangkat."


"Apa ini darah babi lagi? Aku akan benar-benar tumbuh seperti beruang jika selalu sarapan darah babi," keluh Hyori menatap sang kakak berharap ia tak perlu sarapan pagi ini.


"Ini darah sapi kualitas terbaik." Hyora memaksa karena ia benar-benar khawatir, jika kegiatan di sekolah akan menguras tenaga.


Meski terlihat enggan, Hyori segera menyantap sarapan paginya. Tak ingin berdebat terlalu lama karena tau ia pasti akan kalah.


"Apa aku boleh berjalan kaki?"


Hyora meletakan majalahnya kemudian menatap tegas pada Hyori. "Tidak."


"Hmm, Sekolahku kan dekat Kak." Tatapan memohon dengan binar mata polos, Hyori menatap sang kakak. Sementara Hyora mengembus napas kesal.


"Kau mau kelaparan di sekolah?" Hyora mengambil sebotol obat di tasnya kemudian menyerahkan pada adiknya. "Minum ini jangan lupa," lanjutnya.


Obat yang diberikan Hyora adalah obat agar tubuh Hyori tetap baik-baik saja setelah memakan makanan manusia. Fungsi tubuh vampir sudah mati. Maka obat DTuire adalah obat ciptaan para profesional di bidangnya. Untuk membantu penghancuran makanan dalam tubuh.


Hyori mengambil obat itu dengan malas. Kemudian meletakkannya ke dalam kantung tasnya.


Setelah sarapan, keduanya segera bergegas menuju sekolah. Hari ini Hyora mengantarkan Hyori. Karena Hyora juga harus bertemu dengan wali kelas dan mengurus semua keperluan sang adik. Jarak dari rumah dan sekolah tak terlalu jauh.


Sekolah yang dipilih memang sepertinya memiliki beberapa murid, dan juga guru vampir. Kedua kakak beradik itu bisa merasakan aura yanh berbeda. Setelah turun dari mobil Hyora menggenggam tangan adik kesayangannya, kemudian berjalan masuk ke SMU Hainan. Hamparan taman depan sekolah yang asri, ada sebuah kolam air dengan air mancur yang cukup besar, taman bunga sepanjang jalan masuk yang asri. Lalu terlihat gedung sekolah dengan nuansa barat abad delapan puluhan yang kental.


Setelah memasuki sekolah banyak anak laki-laki yang menatap Hyora. Tentu saja mereka terpana dengan kecantikan Hyora. Dan sepertinya Hyora sudah terbiasa dengan semua itu. Ia tegak berjalan menuju kantor guru. Tak jauh setelah melewati lorong dan dua kelas. Mereka sampai di ruang guru.


"Tunggu di sini." Hyora meminta adiknya itu untuk menunggunya.


Hyori mengangguk kemudian ia duduk di bangku tunggu yang berada di dana. Ia memejamkan mata mencoba merasakan keadaan sekitar. Ia merasakan ada enam vampir di sekolah ini. Termasuk ia dan kakaknya. Hyori menghela nafas panjang. Ia telah banyak melakukan ini. Namun sama sekali tak pernah terbiasa untuk itu. Ia belum lama akrab dengan teman-temannya di Jepang. Kini harus berpisah dan mengulang lagi kehidupan baru.


Sementara itu Hyora sudah masuk ke ruangan. Ia sudah merasakan keberadaan Daniel sejak berada di luar ruang guru. Pria itu memiliki tubuh yang tegap, tatapan yang tajam, mata dengan bentuk sabit, rahang yang tegas. Pria itu duduk di salah satu kursi. Menatap ke arah pintu, tentu ia bisa merasakan kehadiran Hyora sejak hadis itu berada sepuluh meter dari jangkauannya.


Daniel menatap Hyora, gadis itu menyadarinya. Lalu mereka saling bertatapan sekilas. Sekalipun mereka sudah saling mengenal. Keduanya harus berpura-pura tidak mengenal saat pertama kali bertemu kembali. Hyora mengangguk, memberi salam kemudian.


"Selamat pagi, Pak. Saya Park Hyora."


"Selamat pagi, saya Daniel guru olahraga." Daniel berdiri kemudian mengulurkan tangannya.


Jabatan tangan Daniel disambut oleh gadis itu. Layaknya orang yang baru saja bertemu untuk yang pertama kalinya. "Saya datang kemari untuk bertemu Guru Do, guru Do Minjoon."


Daniel tertegun sesaat, ia melirik Hyora penuh arti. Sementara gadis itu sama sekali tak mengerti, apa arti tatapan dari sahabat lamanya. Kemudian pria itu mengantarkan Hyora ke meja Minjoon.


Seorang pria duduk di sana gagah dan tampan, guratan bibir tipis dengan senyum yang manis, tatapan sayu nan mempesona. Rasanya pria ini lebih cocok menjadi model daripada guru. Daniel melirik ragu, entah mengapa ia terlihat takut memperkenalkan.


"Ini—" ucapan Daniel terputus.


"Aku Guru Do." Minjoon memperkenalkan diri. "Silahkan duduk.


Ah iya, mereka belum pernah bertemu. Gumam Daniel.


Di luar ruang guru, Jason merasakan kehadiran Hyori ia setengah berlari menghampiri Hyori. Kemudian duduk di samping gadis yang menatapnya dengan kesal.


"Hei, bau parfum lollipop mu tercium hingga kelasku." ucap Jason ia terlihat senang sekali melihat Hyori berada di sekolah yang sama dengannya.


"Hei," panggil Jason kesal.


"Aish, Kau ini! Daritadi banyak anak-anak memperhatikan kita. Aku tidak mau jadi perhatian dihari pertamaku sekolah," ujar Hyori kesal. Ia sama sekali tak menatap Jason.


"Kenapa? kita 'kan teman?" Jason dengan segera merangkul Hyori, anak itu lalu tersenyum.


Sesaat itu juga Hyori bisa merasakan semakin banyak tatapan anak-anak yang ada di sana, mengarah padanya. Hyori melepaskan rangkulan Jason. Saat itu bel tanda masuk berbunyi.


"Sepertinya aku harus kembali ke kelas," jason berdiri kemudian berjalan ke kelas. Sementara saat ia berlari sama sekali tak melepaskan tatapan dari Hyori


Gadis itu menatap Jason yang berjalan terus menjauh sekilas, lalu kembali menatap ke dalam ruang guru.


Hyora yang terlihat keluar segera berjalan menghampiri adiknya yang sedang duduk. "Semoga hari pertamamu menyenangkan. Kakak pergi dulu," pamit Hyora, sambil mengusap pipi adik kesayangannya, kemudian berjalan meninggalkan Hyori.


Minjoon keluar dari ruang guru sambil melihat-lihat buku yang di bawanya. Ia menatap Hyori yang duduk sambil menunduk. Kedua alisnya tertaut sekilas. "Apa kau Park Hyori?"


"Iya saya Park Hyori." Hyori berdiri, lalu memberikan salam pada Minjoon.


Pria itu mengalihkan pandangannya pada Hyori ia sesaat kembali menatap Hyori. "Aah, mari kita ke kelas,"


Minjoon berjalan di depan Hyori sesekali ia melirik ke belakang. Sementara gadis itu mengikuti sang guru sambil menundukkan kepalanya. Saat itu ada anak-anak yang berlari berlawanan arah dengan mereka. Minjoon. Yang kemudian dengan segera menggerakan tangan kirinya ke belakang agar Hyori tidak tertabrak.


Hyori tidak terkejut. Sebenarnya ia m terbiasa dengan kejadian seperti ini. Dan sudah mempersiapkan dirinya dengan baik. Instingnya terus saja waspada saat berada di luar rumah.


"Ah, terima kasih pak." ucap Hyori. Walaupun seharusnya mudah bagi Hyori untuk bisa mengelak. Namun, tangan Minjoon bergerak lebih dahulu. Dan Hyori tidak memperhitungkan itu.


"Lebih berhati-hatilah," pinta Soohyun.


Mereka sampai ke kelas. Kelas yang tadinya sangat ramai mendadak hening. Kelas yang cukup jauh berada di dekat taman belakang.


Sang guru tampan berdiri di tengah kelas dan Hyori berdiri di samping kirinya.


"Kita kedatangan murid baru. Perkenalkan namamu," pinta Minjoon.


"Nama saya—"


"Gunakan bahasa lain yang kau kuasai. Karena kita ada di kelas bahasa." pinta Minjoon dengan dingin.


"My name—"


"Gunakan bahasa perancis." potong Minjoon lagi.


*"Je m'apelle Park Hyori. J'aime la musique. Enchante merci,"


"Silahkan duduk di sana." Pria itu menunjuk bangku kosong di tengah. Di samping kirinya Hyori tau temannya itu vampir. Seorang gadis berambut panjang kecoklatan, dengan susunan gigi yang sekilas mirip dengan kelinci.


Hyori menganggukan kepalanya kemudian berjalan ke bangku yang di tunjuk Minjoon. Kemudian Hyori meletakan tasnya dan duduk.


"Hai aku Minrin," sapa Minrin segera mengulurkan tangannya.


"Hyori," sahut Hyori, lalu menjabat tangan Minrin.


Minjoon berdiri dengan sangat keren dalam pandangan anak-anak murid perempuannya. Ia berada di depan kelas, dan menurut para murid Minjoon adalah guru terkeren. Namun selalu saja bersikap dingin menurut anak-anak sekolah Hainan.


"Baik kita mulai pelajaran hari ini."


Minjoon melirik ke arah Hyori sesaat, kemudian memutuskan kembali fokus pada bukunya.