Kiss Me!

Kiss Me!
Kiss



Kangchul terdiam menatap Hyori setelah ia meminta pria itu merasakan aneka Snack buah tangan miliknya.


"Makanlah ini, dan beritahu aku bagaimana rasanya" pinta Hyori gadis itu tersenyum seraya menunjuk semua makanan kecil miliknya.


Kangchul mulai mengerti maksud dari ucapan Hyori. Ia mengangguk kemudian. "Akan aku beritahu, jika kau memanggilku oppa," pinta Kangchul  sambil tersenyum jahil.


"Issh, aku ini lebih tua darimu lebih dari tiga ratus tahun." protes Hyori gadis itu mem-poutkan bibirnya, membuat bagian pipinya semakin membesar.


Kangchul tersenyum, ia senang sekali melihat Hyori yang terlihat begitu lugu. "Tapi, bagaimanapun kau berstatus pelajar berusia enam belas tahun. Aku juga punya adik perempuan ia 3 tahun lebih muda darimu." Tatapan pria itu kemudian berubah menjadi redup seolah ada yang hilang dari dirinya.


"Di mana adikmu?" tanya Hyori.


Kangchul mengusap kepala Hyori berusaha tersenyum diantara rasa sakitnya. "Dia meninggal karena sakit," jawabnya.


Hyori sedikit menundukkan kepala, sungguh gadis itu tak bermaksud membuat Kangchul bersedih. "Maafkan aku." Ia berucap tulus.


"Baiklah, yang mana yang harus aku coba?" Kangchul mengalihkan pembicaraan. Lalu menatap antusias pada aneka kudapan dengan aneka bungkus yang lucu aneka warna.


Hyori memilih salah satunya. Lalu memberikan pada Kangchul. Ia menerima membuka pembungkusnya lalu memotong menjadi dua, kemudian memberi potongan kecil pada Hyori. Ia memasukannya ke dalam mulut kemudian menunjukan giginya yang mengunyah marsmallow itu.


"Ini kenyal, Sangat lucu jika digigit. Dan aroma manis yang soft cium lah tanpa mencium isinya."


Hyori mencium potongan yang ia pegang. Tak terlalu dekat karena sudah bisa tercium dengan jelas.


"Tercium?" tanya Kangchul.


Hyori mengangguk. "Ini—seperti permen."


"Itu aroma manis marsmallow apa sama dengan permen?" pertanyaan sang pengawal dijawab dengan anggukan oleh Hyori.


"Sekarang kau cium aroma isinya?"


Hyori kembali mencium aromanya "berbeda," gumam Hyori.


"Itu cokelat. Kau tau kan?"


"Aku suka aroma cokelat," ucap Hyori.


Kangchul mengambil permen rasa strawbery, melon, jeruk dan lemon. "Ini aroma segar,"


Hyori menciumnya. "Tapi, ada aroma yang sama dengan seperti permen."


"Itu karena gula. Aigo, penciuman vampir memang hebat," puji Jongsuk.


Hyori kemudian menciumi permen strawberry. "Aku suka ini. Strawbery." Gadis itu berucap sumringah senang sekali ia mendengar manusia menceritakan tentang aneka hal yang tak bisa ia lakukan. Setidaknya ia bisa mengobrol bersama pria itu. Biasanya ia merasa kesepian.


"Kenapa kau begitu berbeda dengan kakakmu, kenapa kakakmu galak sekali?" Kangchuk berdecak kesal membayangkan bagaimana Hyora hampir membunuhnya tempo hari.


"Apa begitu? Kakak sangat baik." Hyori menginterupsi, baginya sang kakak adalah yang terbaik.


"Kau tau, aku hampir dibunuhnya kemarin saat akan memperkenalkan diri."


"Kakakku hanya sering terlalu khawatir dan takut. Ia menjagaku dan dirinya dengan sangat baik. Ia takut terjadi sesuatu pada kami."


Pria itu mencoba memahami apa yang dilakukan Hyora. Mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Apalagi Hyori terlihat sangat lugu. Meski usianya sudah ratusan tahun. Memainkan peran gadis belia terus menerus mungkin tak membuatnya semakin dewasa.


Saat itu ponsel Kangchul berdering. Dengan segera ia menerimanya. Panggilan dari Hyora.


"Lekas datang ke Mun club'. Aku menunggu, segera."


"Ba—" belum sempat ia menjawab Hyora telah mematikan panggilannya.


"Kakakku?"


"Iya, kakakmu. Aku harus pergi."


Segera pria itu bangkit dan berlari keluar, menuju tempat parkir sopir sudah menunggunya. Mobil itu melaju di kota Seoul yang lengang di malam hari.


Sementara Hyora malam ini sedang berada club bersama teman-teman barunya. ia sengaja mencari teman melalui aplikasi pertemanan. Lalu mengadakan janji temu dengan alasan jika dia ingin memperbanyak teman setelah lama tinggal di luar negeri.


Gadis itu sudah jengah sebenarnya..sedari tadi tak banyak hal dibicarakan, ditambah tak ada pria yang sesuai untuk menjadi mangsanya. Kesal, hingga beberapa menit lalu memutuskan ke toilet dan menghubungi Kangchul untuk menjemputnya.


"Hyora apa kau punya kekasih?" tanya Inha.


"Iya, kami berkenalan di Jepang saat ia liburan. Lalu ia kembali ke Korea dan kami melakukan hubungan jarak jauh. Namun, sekarang kamu sudah sama-sama berada di Korea." Hyora menjawab seadanya. Kebetulan batinnya ia sudah menghubungi Kangchul tadi.


"Hebat, bahkan masih bertahan sampai saat ini?" tanya Soeun.


Hyora mengangguk tak ingin banyak menjawab. Lalu ia merasakan kehadiran Kangchul. Membuat Hyora menoleh ke belakang dan melihat pria itu yang mencarinya. Hyora segera berdiri dan kemudian menghampiri pria itu.


"Tunggu sebentar," ijinnya.


Hyora berjalan mendekati Kangchul, sementara beberapa pria menatapnya intens. Banyak pria mengapa tak satupun yang membuat ia berselera? Menyebalkan batinnya.


Hyora merangkul pria itu setelah berada di dekat Kangchul. kemudian berbisik padanya. "Diam saja dan ikuti aku." Hyora menggandeng sang pengawal manusianya dan kembali duduk bersama teman-temannya.


"Oppa, ini temanku. Inha dan Soeun" Hyora mengenalkan teman-temannya pada Kangchul, sambil merangkul mesra seolah mereka adalah sepasang kekasih.


Pria itu, menjabat tangan Inha dan Soeun sambil tersenyum. Sungguh pria itu tampan, dengan kulit putih dan garis wajah yang membuatnya terlihat layaknya seorang yang memiliki sifat simpatik. Juga tatapan yang sedikit sayu namun mempesona. Tentu membuat dua gadis di hadapannya berdecak. Mereka juga merasa jika Hyora begitu beruntung.


"Daebak, kau bahkan dengan cepat datang kemari setelah Hyora menghubungimu?" puji Inha.


Kangchul hanya tersenyum sambil mengangguk. Sesuai instruksi ia hanya diam.


"Sepertinya kekasihmu ini sangat mencintaimu Hyora-ssi. Bukan begitu?" tanya Soeun lalu melirik ke arah Kangchul.


Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Sesungguhnya ini konyol bagi Hyora. Hingga ia menatap Kangchul dengan kesal.


"Sepertinya aku harus pergi, pacarku sepertinya mabuk. Sejak tadi dia hanya diam dan tersenyum aneh. Dia ... Memang seperti itu jika mabuk. "


"Kau akan pergi?" tanya Inha.


"Iya kami harus pergi."


Setelahnya Hyora segera menarik Kangchul menjauh. Ia ingin segera pergi dari sana. Sungguh ia kehilangan moodnya malam ini. Dan itu menyebalkan.


"Kenapa kau hanya diam, tersenyum dan mengangguk? Arrgh, kau benar-benar!" Hyora segera masuk ke mobilnya segera setelah tiba di tempat parkir. Ia duduk di kursi penumpang depan.


Kangchul masuk mengikutinya. Ia duduk di bangku supir. "Kau bilang, diam dan ikuti aku. Aku hanya mengikuti apa yang kau katakan."


Hyora terdiam duduk sambil menopang wajah dengan tangannya. Ia sedikit lemas dan wajahnya menjadi pucat. Karena ia tidak berhasil mendapatkan energi malam ini. Harusnya mudah, tapi malam ini terasa sulit sekali.


"Diamlah, dan bawa aku pulang."


Pria di sampingnya memerhatikan, ia tau jelas bagaimana seorang vampir yang kehilangan energi. Sejak ayahnya masih ada ia telah mengetahui semua seluk beluk dunia vampir.


"Apa kau tidak mendapatkan mangsa?"


Hyora hanya melirik dengan kesal. Tak ingin menjawab kemudian diremehkan. "Jalankan mobilnya!"


Kangchul bergerak ke arah Hyora, memasangkan sabuk pengaman. Lalu ia mengalihkan wajah menatap Hyora. Saat ini wajah mereka berhadapan. "Haruskah aku memberikanmu energi?" tanyanya serius.


Hyora menatap dengan terkejut menelan saliva-nya karena bisa dengan jelas memcium aroma tubuh Kangchul. Dan tanpa babibu lagi. Kangchul mencium bibir Hyora.


Cuupp.


Bibir mereka bersentuhan Hyora sangat terkejut hingha matanya membesar akibat kecupan yang diberikan. Tak lama sampai pria itu melepaskan panggutannya, setelah ia merasa cukup. Pria kembali ke posisinya. Ia menatap sekilas pada Hyora yang masih terkejut. Pria itu bersikap seolah biasa saja.


"Apa kau gugup dan terkejut? Aku hanya membantu menjaga kesehatanmu agar kau baik-baik saja," kekehnya.


"Cepat jalan," titah Hyora keras, ia merasa canggung. Dan kini ia sudah nampak membaik ia tidak lagi pucat dan merasa lemas. Bahkan memiliki energi untuk memarahi Kangchul.


Sebaliknya, saat ini Jongsuk terlihat pucat. Karena sebenarnya ia gugup dan jantungnya berdebar sangat kencang saat ia mencium Hyora.


Tenanglah Kangchul! batinnya


****