Kiss Me!

Kiss Me!
Bantuan tenaga



Heemi dan Daniel tiba di pantai. Semilir angin meniup rambut keduanya. Sesekali Daniel memejamkan mata merasakan hembusan angin dingin yang menyejukkan. Sesekali Heemi melirik ke arah Daniel. Sudah lama sebenarnya gadis itu jatuh cinta pada vampir tampan itu. Namun pernyataan cintanya terus saja di tolak. Langkah keduanya terhenti, lalu menatap ke arah laut. Mereka bisa melihat bulir putih dari deru ombak. Saling menatap lalu tersenyum.


"Perut mu sudah lebih baik?" tanya Heemi, lalu duduk di atas hamparan pasir.


Daniel mengangguk, lalu duduk di samping Heemi. Pria itu lalu mengusap kepala Heemi. "Terima kasih."


Anggukan dari Heemi adalah jawaban dari ucapan terima kasih dari Daniel. Entah berapa banyak dan berapa kali kecupan yang diberikan Heemi pada Daniel. Semua telah berlangsung lebih dari tiga tahun lamanya. Hingga membuat perasaan gadis itu semakin dalam.


"Daniel-aa," panggilan Heemi membuat pria itu menoleh.


"Aku—" Heemi terhenti menatap manik mata pria dihadapannya lekat. "Aku akan mengikuti kencan buta. Yang diatur ibuku."


"Hmm?" Seolah tercekat hanya reaksi itu yang bisa ia berikan.


"Ibuku terus bertanya kapan aku memiliki kekasih. Lalu aku dipaksa mengikuti kencan buta, besok."


Heemi tersenyum nanar, tak ada reaksi berarti dari Daniel selain anggukkan dan senyum yang sulit ia artikan. Baik, mungkin itu memang pilihan terbaik. Ia tak bisa terus menunggu. Ia akan hidup lalu mati, sedangkan Daniel tetap hidup dengan semua hal yang ia miliki.


"Semoga—kau—bertemu dengan pria yang baik."


Heemi lagi-lagi mengangguk. "Tentu. Aku tak bisa terus mengharapkan mu 'kan?"


Heemi tipe wanita yang mengungkapkan perasaannya dengan gamblang. Ia tak ingin memendam rasa, lalu terluka. Lebih baik jika diungkapkan daripada, terlalu lama berharap. Deru ombak dan embus angin menjadi satu-satunya suara yang menjadi teman mereka. Sejak pembicara tadi, diam seolah menjadi pilihan hingga hening tercipta di antara keduanya.


Daniel memegangi dada kirinya, dia baik-baik saja. Lalu mengapa ada sesak di hatinya?


"Kau harus mencari mangsa lain. Aku tak bisa mengecup atau menciummu lagi. Tak mungkin jika aku menciummu yang bukan kekasihku?"


"Aku mengerti."


***


Jam istirahat selalu saja ramai dan riuh apalagi ini adalah jam istirahat. Antiran anak-anak meminta jatah makan siang  mengular. Termasuk Hyori dan Minrin. Mereka hari ini mengantri karena sudah tiga hari tak makan siang. Mereka takut di curigai. Jadi, terpaksa mengantri hari ini.


Menunggu giliran seraya mengobrol, kedua gadis itu memang sangat akrab. Tanpa mereka ketahui jika dari kejauhan ada mata yang menatap. Siapa lagi kalau bukan Clara yang masih dibuai rasa cemburu, akibat terus saja melihat betapa akrabnya Jason dan Hyori.


Hana memerhatikan. "Ada apa?"


"Si gendut itu menyebalkan sekali," umpat Clara sementara tatapannya tak berpaling dari Hyori.


Clara masih menatap Hyori  sesekali. Bahkan ketika Hyori sibuk dengan makan siangnya.


"Makan makananmu." Hana mengingatkan, melihat makanannya yang masih belum disentuh.


"Aku tak berselera."


Sampai Hyori, selesai makan. Ia berjalan menuju tempat meletakan tempat makan di keranjang yang memang disiapkan untuk meletakan wadah kotor. Kedua gadis itu harus  berjalan melewati Clara.


Gadis itu menatap sekilas. Sebenarnya Hyori dan Minrin telah merasakan tatapan tak suka dari Clara sejak tadi. Hanya saja Hyori tak tau apa sebabnya. Minrin lebih mengerti karena selama ini gosip yang beredar jika Clara menyukai Jason.


Saat Hyori berjalan mendekat, kaki Clara dengan sengaja menjegal Hyori. Memang Hyori tak memperhitungkan pergerakan kaki Clara meski ia bisa menjaga keseimbangan, hingga hanya nampan dan sisa makanannya yang menghambur jatuh.


"Maaf." Clara berucap lalu berjalan meninggalkan Hyori.


Ia kini mulai memunguti peralatan makan. Sementara Minrin hampir saja berlari mengejar Clara sebelum Hyori menahan dengan memegangi tangannya.


"Sudahlah," ujar Hyori.


"Tapi dia kan sudah—"


"Biarkan saja aku tak ingin membuat keributan."


Keduanya segera menuju atap di taman belakang. Setidaknya keduanya harus beristirahat sejenak setelah makan. Minrin sudah lebih baik setelah merasakan gejolak pada bagian perutnya tadi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Minrin sementara Hyori diam saja.


"Tunggu kau tak minum obat mu?" Minrin segera beranjak berlari menuju pintu sebelum Jason masuk dari sana menatap Minrin heran.


"Ada apa?"


Tak menjawab, Minrin memilih menarik tangan Jason untuk mendekati Hyori. Melihat Hyori yang memegangi perutnya dan terlihat lemah.


"Hyori kau baik-baik saja?" tanya anak laki-laki itu.


"Ia jadi melemah karena tak meminum obat setelah makan," jawab Minrin.


"Ini pasti karena aku tidak menghabiskan sarapanku," jelas Hyori lemas. Pagi tadi ia dengan sengaja tak menghabiskan sarapannya. Hanya meneguk sedikit. Gadis itu lupa jika hari ini berniat makan siang.


"Harusnya kau habiskan," ujar Jason cemas.


Minrin melirik Jason, ia mengedipkan matanya memberi tanda pada Jason agar mencium Hyori. Tapi anak itu malah menatap Minrin bingung. Iaa tidak mengerti maksud gadis itu. Kening Jason berkerut karena Minrin yang terus saja berkedip. Gadis itu kesal kemudian ia memajukan bibirnya. Jason menggelengkan kepalanya, ia berfikir Minrin meminta agar ia menciumnya.


"Aahh, bodoh!" Minrin memukul bahu Jason. "Maksudku ke Hyori bukan aku."


"Aah, berbagi energi?" Akhirnya Jason paham apa yang dimaksud Minrin.


Jason dengan cepat mencium Hyori. Hyori belum menyadari jika anak itu menciumnya. Bibir mereka bertaut sementara Minrin terlihat antusias karena Jason yang mencium dengan bersemangat.


"Wa keren, berapa banya energi yang dia miliki?" gumam Minrin.


Saat itu Hyori seolah bekum menyadari. Ia hanya memasrahkan diri, saat bibirnya dipanggut oleh Jason. Setelah beberapa saat berciuman wajah Hyori mulai kembali mendapatkan tenaganya. Membuka matanya, mendapati bibirnya bertaut dengan Jason. Segera ia mendorong Jason keras. Jason, terkekeh meski terkejut karena Hyori mendorongnya.


"Kau sudah lebih baik? Apa masih terasa lemah?" tanya Jason khawatir.


"Kau!!! Kenapa kau menciumku!!!!!!!" teriak Hyori kesal kemudian mengusap-usap bibirnya.


"Aku hanya memberikanmu energi," ucap Jason tidak merasa bersalah. Karena memang ia hanya membantu Hyori. Ia duduk mendekat tapi, Hyori kembali mendorongnya.


"Kaauuu menyebalknnnn!!!!" Hyori memukul-mukul Jason.


"Hahahah, Maafkan aku," ucap Jason.


"Aih, gadis aneh harusnya ia bersyukur karena telah di tolong." Minrin bergumam seraya menggelengkan kepala.


Dari jauh Clara melihat itu dengan kesal. Ia ada di gedung yang berseberangan dengan atap. Meski ada di lantai dua ia bisa melihat semua dengan jelas. Lalu memutuskan meninggalkan tempat itu dengan kesal. Jason menoleh ia bisa merasakan kehadiran Clara yang cukup jauh. Jangkauan jaraknya lebih luar dibanding Minrin dan Hyori.


"Sunbae," panggilan dari Minrin menyadarkannya.


"Ada apa?"


"Aku tak tau apa hubunganmu dengan Clara. Tapi saat makan siang tadi ia mengganggu Hyori."


Hyori bergerak membekap mulut besar Minrin. Tapi terlambat Minrin terlanjur menceritakan semuanya.


"Mengganggu?"


"Benar." Sahut Minrin lagi.


"Apa tyang dia lakukan padamu?" Jason bertanya pandangannya teralih pada Hyori kini.


"Tak ada jangan dipikirkan."


,***