
Hari sudah larut saat Hyori dan Hyora tiba di rumah. Mereka berbelanja cukup banyak. Karena saat tiba di Korea tak banyak membawa pakaian.
Gadis itu meletakan kantung belanjaan, lalu rebah di tempat tidur. Ia menggerakkan tangannya ke atas wajah. Terkejut ketika mendapati gelang miliknya tak berada di sana. Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar. Melewati tangga, menyambar kotak jus strawberry berisi darah. lalu berlari keluar.
Jalan telah menjadi gelap, saat Hyori berjalan cepat di sekitar rumah.
"Tak mungkin jatuh di sini kan? Aku bahkan tak keluar mobil?" Ia bergumam sementara tatapannya mengedar ke segala arah. "Atau mungkin di sekolah?"
Hyori berlari, seraya menyeruput kotak jus di tangannya. Ia belum sempat mengisi energi sejak sore tadi. Langkahnya pasti akan menuju taman sekolah untuk mencari gelang yang sangat penting baginya.
Di persimpangan jalan, Minjoon juga sedang berjalan untuk kembali ke rumah . Pria itu baru saja kembali dari minimarket membeli kudapan dan minuman untuk mengisi lemari pendinginnya. Menatap Hyori yang sama sekali tak memerhatikannya.
"Park Hyori!" sapaan Minjoon membuat gadis itu terhenti.
Dengan segera menghentikan langkahnya dan membungkuk sopan. "Saem."
Minjoon berjalan mendekat. "Kenapa terburu-buru?"
"Ada sesuatu yang hilang."
Minjoon ingat gelang yang ia temukan. "Gelang?"
Hyori menatap dengan binar mata penuh harap. Lalu mengangguk bersemangat. "Ada melihatnya?"
"Nde, tapi—aku menyimpannya di rumah," jawab Minjoon.
Hyori bernapas lega, lalu tersenyum sebelum akhirnya berterima kasih pada sang guru. "Terima kasih, Saem."
Minjoon menatap kotak jus di tangan Hyori. "Kau suka sekali jus strawberry?" tanyanya, dengan tatapan tak beralih dari kotak jus di tangan gadis itu.
Hyori bergerak resah, lalu mengangguk. "Ini —menyegarkan dan sehat."
"Ah, begitu. Kau mau makan es krim?" tawar Minjoon.
"Aku baru saja menghabiskan jus milikku saem. Maaf."
"Tak masalah," ujar Minjoon sama sekali tak mempermasalahkan. "Kau mau ke rumahku? Mengambil gelang milikmu? Jaraknya tak jauh dari sini."
Hyori segera mengangguk. Mereka berdua berjalan bersama Minjoon sedikit berada di depan Hyori agar bisa menuntun jalan. Tatapan gadis itu tak berpaling, seolah menatap langkah pria itu membuat perasaan meletup layaknya kembang api di dalam hati. Pikiran teralih sesaat, ia ingat saat tadi berpapasan. Ia sama sekali tak bisa merasakan kehadiran Minjoon.
Bagaimana bisa aku tidak merasakan kehadirannya? Batinnya.
Hyori termenung sesaat, memikirkan alasan dibalik dirinya yang tak bisa merasakan kehadiran Minjoon. Pria itu menatap sang murid.
"Apa yang kau pikirkan?"
Pertanyaan itu membuat Hyori tersadar dari lamunannya. "Ah tidak pak, aku hanya sedang merasa sendiri. Sejak dulu aku merasa ada yang hilang. Aku ingin melakukan banyak hal. Namun, tidak bisa melakukannya. Aku ingin makan dan minum semua yang aku inginkan, berteman dan bermain sesukaku. Itu benar-benar sulit."
Seolah terkejut, Minjoon hening sesaat ia sempat bereaksi sesaat, sebelum akhirnya merubah ekspresinya. Sementara Hyori bingung kenapa ia membicarakan. Ini semua dengan Minjoon.
"Ma-maafkan saya Saem."
Minjoon mengangguk. "Hidup memang tak selamanya bahagia dan sesuai apa yang kita inginkan. Dan akan lebih baik jika kita melewatinya dengan bahagia kan? Setidaknya kau bisa memikirkan banyak hal yang akan membuatmu bahagia."
Hyori tersenyum menatap Soohyun kemudian mengangguk. ."
Mereka berdua berjalan perlahan. Sesekali pria itu menatap Hyori.
Hyori menatap Minjoon sesaat ia merasa pernah mengalami hal seperti ini. Tapi, kapan dan dengan siapa? Gadis ity merasa ada yang aneh yang ia rasakan. Ia merasa bahagia seolah sakura bermekaran di hatinya, ia merasa malu menatap Minjoon tapi, ia ingin terus menatapnya.
"Apa ada yang aneh?" tanya Minjoon sambil terus menatap ke depan. Ia merasa jika terus saja diperhatikan.
Keduanya menghentikan langkahnya. Hyori menatap lekat Minjoon. Sementara hal yang sama dilakukan pria itu. Jantung keduanya berdegup begitu cepat. Pria itu segera berpaling.
"Aahhh, sebaiknya kau segera pulang. Biar besok kuberikan gel—"
"Pak guru, bolehkah aku menciummu?" permintaan itu seolah meluncur begitu saja dari bibir Hyori. Hyori terkejut ia menutup dengan segera bibirnya dengan tangan.
Minjoon terkejut ia terdiam beberapa saat.
"Ah, tidak pak saya hanya bercanda." ucap Hyori sepertinya sudah mendapatkan kesadarannya.
Soohyun menatap sekilas lalu mengacak rambut Hyori. "Akan aku bawakan gelang mu besok. Selamat malam."
Hyori terpaku menatap kepergian sang guru. Seraya memukuli kepala akibat kebodohannya barusan.
Hyori masuk ke dalam rumah dengan segera. Ia berjalan dengan cepat ke kamarnya. Sementara Hyora dan Kangchul yang sedang mengobrol melihat dengan bingung. Mereka saling bertatapan kemudian tersenyum melihat tingkah Hyori.
Tapi, dengan cepat Hyora berubah kembali serius. Kangchul masih sedikit canggung karena apa yang dilakukan Hyora barusan.
"Apa?" Tanya Hyora tanpa memalingkan tatapannya dari ponsel.
"Ahh, tidak."
"Kalau karena masalah waktu itu lupakanlah. Bukankah itu bantuan energi darimu?" tanya.
"Aku tak ingin membahas itu. Apa itu masih terlalu berkesan bagimu?" pertanyaan Kangchul sengaja ia buat untuk membuat Hyora kesal.
Benar saja gadis itu segera beranjak lalu berjalan meninggalkan sang pengawal. Ia melangkah menuju kamar. Kangchul terkekeh senang karena merasa berhasil membuat gadis itu kesal.
***
Jason baru saja kembali setelah seharian mencari mangsa. Ia memutuskan untuk tak sedekat sebelumnya dengan Clara. Semenjak ia bisa merasakan perasaan tak suka gadis itu pada Hyori.
Berjalan memasuki rumah, saat itu Tuan Jang ayahnya, duduk di ruang tengah. Seraya menikmati secangkir darah.
"Lupakanlah dia. Bukankah sudah kukatakan akan lebih baik jika kau melepaskannya dari dulu," katanya sambil meletakan cangkir miliknya.
Jason menghela napas, lalu memutar bola matanya jengah. "Tidak akan pernah. Bagaimana pun ia adalah istriku."
"Kalau begitu beritahu dia kau adalah suaminya," ucap Tuan Jang diikuti sebuah senyuman kecil yang jelas sebuah cemoohan.
Jason kemudian berjalan pergi meninggalkan sang ayah. Ia kesal dengan permintaan ayahnya yang tak pernah berubah.
Sementara Tuan Jang kembali menikmati santap malamnya. Setelahnya, di matanya terlihat sebuah ring merah terbentuk dipinggiran pupil matanya.
***
Hyora bersama Daniel malam ini menikmati malam mereka di club'. Mencari seseorang yang bisa diambil energinya. Daniel duduk seraya memutar-mutar gelas kaca di tangannya.
"Sebenarnya, aku tak mengerti mengapa kita harus berciuman sebagai sumber energi?"
Hyora tersenyum melirik Daniel kemudian. "Aish, bodoh. Katena kita mengisap energi murni manusia. Terutama jika manusia yang kita isap energinya memiliki perasaan. Tanpa sadar mereka menyalurkan perasaan, hasrat yang lebih tinggi membuat energi yang semakin besar."
Daniel terkekeh geli mendengar penjelasan Hyora sambil mengangguk.
"Kau tak percaya?"
Pria itu menggeleng. "Tidak, justru karena kau yang menjelaskan semua nampak masuk akal. Karena kau anak profesor Park."
"Aish, memang terdengar tak masuk akal. Sejujurnya ini hanya seperti respon tubuh. Kau punya target utama?"
Daniel lagi-lagi menggeleng. "Tak ada, sejak ia memutuskan untuk melakukan kencan buta."
"Aah, kau dicampakkan."
"Aih! Tidak!"
Hyora hanya terkekeh, melihat respon Daniel. Justru Memperjelas keadaannya.
***
Hyori merasa lemas di sekolah sama lemahnya dengan Minrin mereka duduk berdua di taman sambil menyenderkan kepala mereka di pohon. Mereka harus selalu melewati fase menyebalkan ini setiap selesai makan.
"Hah, ini sangat menyakitkan dan melelahkan," gerutu Minrin.
Sementara itu Hyori hanya terdiam karena pandanganny sedikit kabur. Ia sudah cukup sarapan juga sudah minum obat setelah makan. Namun ia masih terus saja merasa seperti ini. Kondisinya lebih parah dari Minrin.
"Sepertinya aku harus segera minum darah," gumam Hyori lemah.
Minrin segera memperhatikan Hyori yang benar-benar pucat. "Aigo kenapa kau pucat sekali? Kenapa kau begitu lemah? Aku akan mencari Jason." Minrin segera berjalan meninggalkan Hyori dan mencari Jason.
Hyori memejamkan matanya. Ia benar-benar lelah dan tidak bisa membuka matanya. Dalam pandangan yang samar ia melihat seseorang duduk di sampingnya, kemudian memegang kepala Hyori dan meletakannya ke pundaknya.
"Jason, berikan aku darah. Jangan coba menciumku. Aku tidak mau berbagi energi denganmu," ucapnya lemah.
Saat itu tiba-tiba 'Cup' orang itu mencium bibir Hyori. Hyori terus berusaha membuka matanya tapi pandangannya kabur. Ia tak bisa mendapatkan kesadarannya.
Jason? Atau orang lain ? Kenapa rasanya begitu berbeda. Ini sangat berbeda. Seolah energiku akan kembali dengan sangat cepat. ucapnya dalam hati.
Hyori merasakan tenaganya perlahan bertambah ia perlahan membaik. Kemudian orang itu melepaskan ciumannya dan meninggalkan Hyori.
"Dia manusia?" gumam Hyori masih dengan memejamkan matanya. Menikmati sisa panggutan yang anehnya membuat ia berdebar.
***