Kiss Me!

Kiss Me!
Masa lalu 3 (ciuman pertama)



Myung-hee (Hyora) duduk seraya memerhatikan kolam ikan di belakang rumahnya. Seorang laki-laki berjalan menghampiri, dia Youngwoo (Jason) yang segera duduk di samping gadis itu.


"Ok tak ada Kak?"


"Seperti ia menyulam entah dimana." Hee menoleh, lalu memerhatikan Youngwoo penasaran. "Kau darimana?"


"Gerbang barat, mengambil pesanan."


Myung-hee mengangguk, ia mengerti jika Youngwoo harus ke sana untuk mengambil darah hewan. Di gerbang barat dekat dengan dapur utama istana. Selalu ada pasokan darah sapi atau kerbau.


"Kakakmu belum kembali?"


"Belum, paman sepertinya memberikan tugas lagi. Ayahku selalu membencinya. Aku tak tau apa alasannya."


Myung-hee hanya memerhatikan sekilas, lalu menghela napas. Ia mengerti, karena sang kakak Jungwoo terlihat begitu antusias dengan penemuan tuan Park. Sementara Tuan Jang lebih menyukai cara lama. Yaitu, minum darah manusia. Meski keduanya berbeda pandangan, ayah dari Youngwoo dan Ok tetap berteman baik.


Saat itu, Tuan Park Heejeong keluar, setelah cukup lama berbicara dengan pengawal yang tiba tadi. Raut wajahnya resah, Myung-hee bisa melihat kecemasan di sana. Tatapannya masih lurus ke depan saat pengawal itu telah berjalan keluar rumah.


"Ada sesuatu Ayah?"


Yuan Park menoleh, menatap sang anak sulung. "Tidak." Ia menjawab singkat lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


***


Ok saat ini berjalan menuju sungai, sambil membawa tas tangan berisi perlengkapan menyulam. Beberapa bulan ini ia belajar menyulam, tertarik setelah melihat sang ibu membuat sulaman untuk gaun-gaun yang dibuatnya.


Ia berjalan dengan riang menyusuri hutan. Ketika smpai di sungai, gadis itu menuju batu besar duduk di sana. Dan segera mengeluarkan peralatan sulam miliknya. Sebuah kain sutra putih. Sudah terbentuk meski berantakan. Ok berniat melanjutkan sulaman saputangan miliknya. Ia berusaha membuat gambar naga. Tapi, malah terlihat sangat aneh menurutnya.


"Ok, kenapa kau bodoh sekali?" makinya memerhatikan sulaman yang berantakan.


"Apa itu cacing?" tanya seseorang yang kini berada di belakang Myung-ok.


Ok menoleh ke belakang di sana berdiri Leesuk. Anak laki-laki itu Leesuk tersenyum senang saat melihat wajah Ok yang terkejut. Ia segera duduk di samping gadis itu.


"Kau?" gumam Ok heran. Ia tak bisa merasakan kehadiran Leesuk?


"Hei, apa yang kau sulam itu apa itu cacing?" tanya Leesuk lagi. Berniat membuat Ok kesal. Entah mengapa ia menjadi begitu bersemangat, setiap kali tau gadis yang kini menatapnya itu menjadi kesal.


Ok membalik wajahnya dengan kesal kembali menatap kain sutera miliknya. Leesuk mengambil sapu tangan sulaman Ok dan melihatnya. Myung-Ok tidak mau saputangan yang gagal ia sulam, dilihat orang. Ia malu tentu saja karena hasilnya yang tak maksimal. Ok segera berdiri dan menarik saputangan itu. Saat itu mereka berdua hilang keseimbangan karena berdiri di batu yang licin.


Byyuuurrr!


Seketika mereka berdua tercebur ke sungai dangkal itu mereka tertawa bersama setelahnya. Leesuk segera bangkit, lalu menghampiri gadis yang beberapa hari kebelakang membuatnya terus berdebar. Lalu mengulurkan tangan, berusaha membantu Ok bangkit. Gadis yang kini mengenakan hanbok berwarna lavender itu, menerima uluran tangan Leesuk. Alih-alih berdiri, ia malah menarik Leesuk membuat anak itu terjatuh lagi di sungai. Ok bangkit lalu berlari menjauh.


"Myung-Ok!" protesnya.


Leesuk mengarahkan air ke Myung-Ok, menyiram dengan tangannya. Membuat Ok terkejut dan dengan cepat mengarahkan kedua tangan untuk melindungi wajahnya.


"Heii! Hentikaann!" pinta Ok


"Bukankah ini menyenangkan?" tanya Leesuk sambil terus menyiramkan air ke Myung-Ok.


Gadis itu tak mau kalah, dengan segera turun dari baru, lalu berjalan mendekati Leesuk. "Aku membalasmu!" Ia lalu membalas dengan menyiramkan air ke arah leesuk.


Keduanya larut dalam tawa yang akrab, terdengar sangat berbahagia. Pertemuan tanpa sengaja yang menjadikan keduanya akrab. Berlari dan bermain air juga hal yang sama sekali tak pernah di lakukan Leesuk. Sebagai putera mahkota banyak larangan. Bersenang-senang menjadi hal yang langka ia lakukan. Maka ini menjadikan kebahagiaan yang berlipat untuknya.


Sama halnya dengan Ok selama ini, nmia jarang berteman dengan manusia. Hampir tidak pernah. Ia hanya bermain dengan Youngwoo dan sang kakak. Dan sering kali itu terasa membosankan. Namun saat bersama Leesuk semua berbeda.


'Siapa dia? Kenapa bisa membuatku merasa begitu bahagia. Dia yang kehadirannya yang tak bisa kurasakan. Apakah kami bisa selalu seperti ini?' Batin Myung-ok.


Setelah cukup lama mereka akhirnya mereka menepi. Myung-ok membiarkan sebagian ikatan rambutnya terbuka. Agar rambutnya cepat kering. Sesekali ia mengibaskan dengan tangannya. Leesuk menatapnya kemudian tersenyum ia benar-benar merasa tersipu dan berdebar acap kali menatap Ok.


Myung-ok mengambil keranjang bawaannya, lalu mengambil kain yang ada di dalam sana. Ok kemudian berjalan menghampiri Leesuk yang duduk sedikit jauh di sampingnya.


Melihat pergerakan gadis itu, Leesuk yang saat itu sedang menatap Ok, dengan segerw memalingkan wajah. Tak ingin ok menyadarinya. Ia sejujurnya merasa malu sendiri karena terus menatap Ok.


Langkah Ok semakin mendekat kemudian ia duduk di sisi Leesuk. Ia mencoba mengeringkan wajah Leesuk dengan kain yang ia bawa. Llu mengeringkan tiap sisi wajah Leesuk. Leesuk terpaku, lalu tatapannya mendapati tangan Ok memakai gelang pemberiannya. Leesuk tersenyum ia senang dan merasa jika ia menjadi bagian yang penting bagi Ok.


Sementara Ok terus berusaha membantu Leesuk mengeringkan wajahnya. Tanpa memerhatikan jika apa yang sedang ia lakukan membual laki-laki di hadapannya membatu, karena jantung yang berdebar tak bisa dikendalikan.


Leesuk seolah tersihir. Sorot mata yang sayu, kulit putih, bibir penuh dengan polesan tipis gincu merah muda. Juga aroma bunga 'sweet pea' yang manis. Membuat ia semakin gila rasanya. Tanpa sadar ia memegangi tangan Ok yang sedang mengeringkan wajahnya. Ok menatapnya dengan bingung, tatapan yang lucu dengan bibir yang sedikit terbuka. Membuat Leesuk tanpa aba-aba mengecup bibir Ok.


Cuup.


Kedua remaja itu larut dalam romansa masa muda yang manis. Ok terkejut selama seratus tahun hidupnya sebagai vampir, ini pertama kalinya ia merasakan kecupan seorang pria. Seolah ada aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, ia merasa jika jantungnya tak lagi berdetak lambat, aliran yang membuat candu. Awalnya gadis itu terkejut, lalu sesaat kemudian larut dalam kecup sang putera mahkota.


'Bibirnya begitu dingin tpi, mengapa dadaku terasa panas?' batin Leesuk.


Kemudian mereka saling melepaskan ciuman. Mereka saling bertatap sesaat kemudian saling memalingkan wajah karena malu. Leesuk terhuyung, tangan Ok menahan agar ia tak limbung. Tenaganya seolah terkuras dan nyaris habis. Ok sebenarnya merasa bersalah. Namun, bibirnya bahkan seolah tak mau terbuka karena malu dan canggung.


Leesuk bertingkah seolah baik-baik saja. Duduk tegak dan merapikan pakaiannya. "Aah, Sebaiknya aku pulang. Hari sudah hampir malam." kata Leesuk kemudian bangkit ia berdiri. Tatapannya masih sesekali melirik Ok yang terus saja menunduk sambil memilin ujung roknya.


Ia mengulurkan tangannya berniat membantu Ok berdiri. Gadis itu dengan ragu menjabat, lalu bangkit. Keduanya berhadapan tapi tak saling bertatapan.


"Berhati-hatilah, makanlah sup ayam gingseng agar kau tetap sehat," ucap Ok.


Leesuk mengangguk kemudian berjalan perlahan meninggalkan Ok. Keduanya saling tatap sesekali seolah tak ingin saling berpisah.


***