
Di ruang guru, Daniel tengah duduk di samping Minjoon bermain dengan bola basket di tangannya. Ia baru saja selesai melakukan pengambilan nilai pada murid tingkat sebelas dalam pelajaran olahraga. Ya, Daniel adalah guru olahraga di SMU Hainan. Postur tubuh yang tegap menunjang pekerjaannya.
"Kau sudah melakukan pengambilan nilai untuk ujian tingkat dua belas?" tanya Minjoon sang guru bahasa masih sibuk dengan laporan penilaian murid.
"Seharusnya itu bukan tugasku," jawab Daniel yang lebih tepatnya adalah sebuah keluhan.
"Stamina mu bagus, bahkan saat guru yang lain kelelahan setelah bermain sepakbola kau masih bisa berlari di lapangan," tutur Minjoon mengingat kejadian saat para guru melakukan karya wisata tempo hari.
Daniel hanya bisa tersenyum, tak bisa menjawab banyak. Apalagi, mengaku Jika dirinya adalah vampir. Saat itu Heemi masuk membawa tumpukan laporan. Daniel tak berpaling, membuat Minjoon melirik dari sudut kacamatanya. Ia bisa melihat rekannya itu melirik ke arah Heemi.
"Kalian bertengkar?"
Hanya menggeleng, Daniel menjawab pertanyaan Minjoon. Ia juga tak mengerti mengapa menjadi enggan menggoda Heemi. Biasanya itu menjadi satu dari beberapa kesukaannya di sekolah.
Sementara Heemi melirik Daniel, lalu helaan napas menjadi tanda bahwa ia tak tau juga apa yang terjadi pada Daniel.
Daniel bukannya tidak peka akan perasaannya. Hanya saja mereka berbeda meski Daniel membutuhkan Heemi bukan hanya untuk sekadar berbagi energi. Ia ingin juga berbagi hati. Namun vampir dan manusia yang saling mencintai, bagai sebuah harapan kosong. Tak ada masa depan bagi keduanya. Begitu yang Daniel pikirkan.
****
Hyora dan Kangchul berada di kantor. Seperti kegiatan mereka setiap harinya. Hyora sibuk dengan tumpukan laporannya. Dan Kangchul memilah berdasarkan lokasi tinggal. Meskipun sebagian data telah di masukan ke database tetap saja salinan secara dokumen diperlukan.
"Sejak kapan federasi vampir didirikan?" tanya Hyora tiba-tiba saat Kangchul masih sibuk dengan dokumen-dokumennya.
"Seratus delapan puluh tahun yang lalu. Sejak itu seluruh vampir di wajibkan menghentikan mengkonsumsi darah manusia dan mengurangi konsumsi darah hewan. Merea melakukan evolusi yang dilakukan dengan pembedahan organ tubuh dan penanaman identitas berupa chipset untuk pertama kalinya. Dan—"
"Stop! Baiklah pengetahuan mu luar biasa aku akui itu," puji Hyora kemudian kembali dengan pekerjaannya.
Setiap hari selalu saja ada data yang diperbarui. Vampir yang berasal dari Korea hampir satu persen jumlahnya dari penduduk yang terdata pemerintah. Belum lagi vampir dari negara lain yang datang kemudian ijin tinggal di sana. Semua diawasi dan didata dengan baik.
"Bukankah kau ada janji dengan Hyori?"
"Iya, hari ini aku akan berbelanja beberapa pakaian sebelum musim dingin."
Kangchul menatap jam di tangannya. "Ini sudah waktunya pulang."
Hyora mengangguk lalu merapikan meja kerjanya. Ia segera beranjak ke luar diikuti Kangchul di belakang.
***
Hyori dan Minrin sedang asik mengobrol di taman sekolah menunggu Hyora yang berniat menjemputnya untuk berbelanja bersama. Sudah cukup lama keduanya menunggu. Sementara Hyora masih berada dalam perjalanan. Tadi, Hyori sudah menghubunginya.
"Bagaimana?" tanya Minrin melirik Hyori yang terlihat lebih baik sejak kecupan pemberian Jason tadi.
"Apa?" tanya Hyori bingung .
"Bukankah lebih bertenaga sejak Jason membagi energinya," tanya Minrin penasaran.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Hyori bersemu. Ia malu mengingat kembali apa yang terjadi siang tadi. Bagaimana tidak? Ia pertama kali berbagi energi dengan Jason. Selama ini ia hanya menyantap darah yang disediakan kakaknya.
Minrin tersenyum jahil, mendapati Hyori yang malu-malu. "Kau menyukainya?"
"Tidak! Aku tak menyukainya. Hanya saja aku baru pertama kali melakukannya," jawab Hyori malu.
"Kendalikanlah perasaanmu, Akan sulit bagimu jika kau terlalu memakai perasaanmu. Kau bisa jatuh cinta pada semua pria yang menciummu." Minrin menasihati ia tau betul apa yang akan terjadi.
Hyori memerhatikan Minrin. Ia tau jika apa yang diucapkan Minrin itu benar. Ia tak boleh terlalu memakai perasaan. I
Clara mendekat bersama Hana dan Inha. Mendekat dan berdiri kini tepat di depan Hyori dan Clara. Kedua gadis itu bertatap bingung. Angin apa yang membawa Clara hingga ia berada di sini?
Clara mendekat lalu menjambak rambut Hyori. Menatap dengan marah dan penuh ancaman.
Mendengar itu Clara mendekati Hyori, "berhenti menggoda Jason. Kau jelek, dan tak pantas untuknya. Harusnya kau sadar diri. Dan bisa tau dimana posisi mu seharusnya."
Ucapan Clara sudah menjadi makanan harian bagi Hyori. Ia tak masalah, ia tau anak berusia belasan tahun rentan memiliki emosi seperti ini.
"Hei apa yang kau katakan!" Minrin bangkit dari bangku yang ia duduki. Tapi, belum sempat ia berdiri, Inha menahannya. Minrin pun berpura-pura tidak bisa melawan.
"Kami hanya berteman." Hyori menjawab dan memang kenyataannya seperti itu.
Clara berdecih kesal lalu menepuk wajah Hyori. "Jangan bersikap sok polos. Kau mengerti? Jauhi Jason!"
Plak!
Clara memukul kepala Hyori, meski rasanya tak sakit . Tetap saja ia kesal, karena perlakuan Clara. Belum lagi, Inha menarik tas Hyori dan menuang isinya ke tanah taman. Hyori dan Minrin diam. Melawan anak belasan tahun tak akan bisa mereka lakukan. Ditambah ketiga gadis itu adalah manusia. Mereka bisa terkena pelanggaran jika ketahuan oleh federasi.
Tapi, Hyori terlanjur marah. Pupil matanya yang seharusnya merah berubah menjadi hitam pekat. Tak ada yang mengetahui karena di tutup oleh softlens yang selalu ia kenakan.
"Hei! apa yang kalian lakukan?!" Minjoon menghampiri mereka. Ia baru saja akan pulang sebelum melihat kejadian itu.
"Pak Do Minjoon?" Clara terkejut lalu memilih meninggalkan tempat itu.
Minrin membantu Hyori merapikan buku dan peralatan milik temannya itu. Minjoon juga membantunya memunguti beberapa barang yang tercecer. Dan memberikan pada Hyori.
"Terima kasih Saem," ucap kedua gadis itu.
"Berhati-hatilah terutama berciuman di sekolah," saran Minjoon.
Minrin dan Hyori bertatapan kaget. Tentu saja mereka tau jika sang guru mengetahui saat Jason mencium Hyori tadi.
"Apa, kalian mau pulang bersamaku? Rumah Hyori kan tak jauh dari rumahku."
"Terima kasih Saem, aku akan dijemput kakakku."
Tak lama sebuah mobil berhenti. Seorang melambai dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Hyora.
"Terima kasih Saem, kami permisi dulu."
Kedua gadis itu berjalan cepat meninggalkan Minjoon yang masih berdiri terpaku. Ia lalu memutuskan duduk sebentar di taman. Ia membuka tasnya mengeluarkan sebuah gantungan kunci dengan bandul ukiran lumba-lumba dari kayu.
Daniel berjalan mendekat, sedikit khawatir karena wajah Minjoon terlihat serius sekali. Pria itu lalu duduk di samping Minjoon.
"Ada apa?"
"Gadis itu—"
Daniel terlihat penasaran, ia menatap sekitar tak menemukan siapapun di sana. "Siapa?"
"Kau tau murid baru Park Hyori?"
"Iya," jawab Daniel singkat. Ia menatap dengan cemas, dan cukup terkejut juga dengan yang dikatakan Minjoon. Mengapa ia tiba-tiba membicarakan Hyori? Tidak sebenarnya, ia juga telah memerhatikan kecurigaan Minjoon beberapa hari kebelakang.
"Aku rasa kami pernah bertemu dengannya di Paris lima belas tahun lalu. Aku yakin sekali itu dia." Minjoon berucap serius.
Sementara, Daniel penasaran dengan apa maksud kata-kata Minjoon barusan. Minjoon menatap sekitar, ia benar-benar tak mungkin salah. Melihat di dekat sepatunya sebuah gelang. Gelang milik Hyori yang baru-baru ini sering ia gunakan katena rindu dengan teman lamanya.
Minjoon mengambilnya. "Akan aku serahkan nanti."
***