
Jason tak jauh berbeda dengan Hyora menghabiskan malam di club. Hanya saja, sasaran Jason lebih muda. Datang ke sebuah club' yang cukup ramai, dipenuhi pengunjung usia rata-rata sembilan belas sampai dengan dua puluhan awal. .
Anak itu duduk diantara Clara dan beberapa teman sekolah lainnya. Hana, Jirae, Eunkang, Bang, dan Reno. Mereka duduk di salah satu meja khusus yang telah dipesan. Berbeda dengan Hyora, Jason telah cukup mengisi energinya malam ini. Setiap malamnya, Clara dengan senang hati menjadi cumbuan Jason. Gadis cantik berambut pendek itu jatuh cinta tanpa tau siapa sebenarnya Jason.
"Kau ... Ada hubungan apa dengan anak baru? Adik kelas kita?" Tanya Clara, setelah menyimpan cukup lama pertanyaan ini dalam benaknya.
"Hmm, Hyori?" tanya Jason lalu terkekeh. "Dia sudah aku anggap adikku sendiri. Dia pandai dan cantik."
Clara menatap Jason yang tengah sibuk mengobrol bersama Eunkang. Ia tau jelas bahwa anak laki-laki itu berbeda sejak Hyori datang.
"Kau berubah kau tau?"
Jason menautkan kening, menatap Clara. "Aku berubah? Seperti apa?"
"Entahlah," sahut jengah Clara. Lalu memilih meneguk minuman di hadapannya.
Bagaimana Clara tak jengah, ia tau jelas betapa cuek dan dinginnya Jason. Kini laki-laki itu tersenyum hampir di setiap saat. Ia tau semua pasti karena gadis gendut itu. Perubahan Jason sebenarnya baik, bagus malah. Clara bisa melihat senyumnya lamat-lamat. Namun, yang menjadi sumber kesalnya adalah bahwa bukan dia alasan perubahan Jason.. melainkan gadis lain. Siapa yang tak kesal? Jika seperti itu jelas Jason tak menyukainya. Tetapi si gendut murid baru itu.
Jason melirik, ia tau Clara kesal. "Hei, ada apa?" tanyanya.
"Kau menyukaiku?" Clara meminta kejelasan dari hubungan keduanya.
Jason sedikit tercekat, ini yang ia takutkan sebenarnya. Sementara selama ini ia membiarkan hubungan keduanya mengambang tak jelas. Intinya ia hanya memanfaatkan Clara untuk kebutuhannya. Itu saja. "Maksud mu?"
"Apa kau menyukaiku sebagai gadis?"
Melihat yang terjadi lima teman mereka yang lain memerhatikan dengan antusias. Bahkan menggoda keduanya.
"Jika aku tak menyukaimu tak mungkin kita ada di sini?"
"Kalau begitu jadikan aku kekasihmu."
Jason berdecih. "Clara, kita teman, best friend?"
"Teman tak seharusnya terus berciuman lagi dan lagi."
Jason menatap Clara, mengusap bibir bawah gadis itu dengan sudut ibu jari kanannya. "Karena bibirmu manis, aku menyukainya." Ucap Jason sementara tatapannya tak berpaling dari bibir penuh berwarna peach itu.
Gadis itu menepis tangan Jason. Sementara teman-teman mereka yang lain sibuk gaduh sendiri menyoraki keduanya.
"Aku pulang," pamit gadis itu. Lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Jason bahkan memilih tak mengikuti Clara. Ia berpikir jika waktunya bersama Clara telah berakhir. Ia harus mencari gadis lain.
"Kau tak mengejarnya?" Tanya Eunkang.
"Tidak. Aku akan pulang." Jason memilih pulang hari ini dia telah selesai. Ia akan menunggu pagi tiba untuk segera bersekolah dan bertemu Hyori.
***
Pagi hari Minjoon dan Daniel telah bersiap. Keduanya sedang sarapan. Minjoon lebih tepatnya sementara Daniel hanya sedikit saja mencicipi sarapan buatan temannya itu.
Minjoon melirik. "Tak makan lagi?"
Jawaban Daniel diawali dengan senyuman layaknya iklan pasta gigi. "Kau tau sendiri malam tadi aku makan banyak sekali."
Minjoon mengangguk, jelas dia ingat kalau semua masakannya ludes malam tadi. "Kau lebih suka makan malam dibanding sarapan?"
"Pencernaanku selalu tak baik setiap sarapan. Mungkin karena aku terbiasa dengan Amerika. Jadi, perutku mengalami jetlag."
"Maksudku aku telah terbiasa dengan kehidupan di Amerika. Tapi, entahlah."
Minjoon hanya menggeleng. Ia telah terbiasa dengan keanehan Daniel. Setelah sarapan keduanya menyempatkan diri untuk mencuci piring. Lalu segera berangkat.
***
Di sisi lain Hyori telah rapi ia bersiap sekolah. Ia sibuk mencari sesuatu lalu membuka laci-laci nakasnya. Akhirnya tersenyum saat menemukan hal yang ia cari. Sebuah gelang perak dengan bandul beberapa aneka Charm kesukaannya. Ini adalah hadiah dari Yuka temannya waktu ia tinggal di Jepang. Gelang favoritnya karena bentuknya yang lucu.
Segera berjalan turun menyantap sarapan yang telah disiapkan. Ia sengaja tak menghabiskan sarapannya, lalu bergegas. Hari masih pagi, ia telah rapi karena merasa lebih baik jika di sekolah. Ia punya Minrin yang selalu bisa diajak berbicara banyak hal yang menyenangkan. Banyak yang tidak ia ketahui tentang Korea dan Minrin adalah sumber informasinya.
Ia segera naik ke dalam mobil, tak lama untuk sampai di sekolah. Ia bergegas masuk. Diwaktu yang hampir sama Daniel dan Minjoon juga dalam perjalanan masuk. Minjoon menatap Hyori yang melangkah dengan.lambar masuk ke sekolah.
Pagi ini sekolah Hainan masih sepi. Baru segelintir siswa datang ke sekolah. Daniel memerhatikan Minjoon, mencari arah tatap pria itu. Lalu mendapati Hyori ada dalam garis pandangnya.
"Ada apa?" tanya Daniel.
"Tidak," jawab Minjoon tapi ia masih lekat menatap Hyori. Lalu saat Daniel menyentuh pundaknya ia mendapati kesadaran lalu kembali melangkah masuk.
***
Saat jam istirahat Minrin dan Hyori berada di lorong sekolah mereka berdua mengobrol.
"Di sekolah ada beberapa anak yang populer salah satunya Hana. Dia maka kelas, dan sepertinya akan menjadi salah satu trainee di perusahaan besar."
"Benarkah?" tanya Hyori antusias.
"Sayang kita tak boleh masuk dunia industri. Aku juga ingin sebenarnya." Minrin mengeluh.
Tentu masuk dunia industri adalah hal sulit. Akan sulit untuk membuat skenario hidup yang baru. Tak mungkin vampir terus melakukan operasi plastik wajah untuk bsa memulai hidup baru. Mereka tak mungkin hidup dengan wajah yang sama kan?
"Aku yakin, kau pasti bisa kau juga cantik."
Minrin menggelayuti tangan Hyori. "Aku benar-benar ingin."
Hyori mengerti, ia hanya mengangguk dan mengusap pucuk kepala Minrin. Saat itu dari kejauhan tanpa disadari keduanya, Jason berjalan mendekat. Lalu disaat dekat ia segera memegang kepala Hyori, sambil tersenyum mengacak poni gadis itu.
"Kenapa kau tidak menghabiskan sarapan milik mu?" tanya Jason.
Hyori menatap Jason kemudian mendorong sedikit agar ia menjauh. "Kau ini?! bukankah sudah kubilang jangan ganggu aku. Kau benar-benar menyebalkan."
Hyori benar-benar kesal sementara Jason terlihat benar-benar khawatir. Pagi tadi Hyora menghubunginya karena adiknya tak menyantap sarapan. Jason kembali mengusap-usap rambut Hyori.
"Besok dan seterusnya habiskan makanan mu. Hmm?" pintanya penuh perhatian. Membuat Minrin yang ada di sana tersenyum geli.
Hyori menarik Minrin lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Jason. Ia bisa merasakan banyak tatapan tidak suka saat ia bersama Jason.
"Dia menyukaimu Hyori." Minrin menerka.
"Tidak, dia menyebalkan."
Langkah Hyori dan Minrinerhenti di taman belakang.
"Ia begitu karena perhatian padamu."
Tak peduli ucapan Minrin, Hyori malah berdecak kesal.