Kiss Me!

Kiss Me!
Masa lalu 2



Setelah kejadian itu keduanya berjalan menuju hutan, yang tak jauh jaraknya Dae tempat mereka berasal sebelum. Ada sebuah aliran sungai di sana. Lalu mereka duduk di pinggir sungai. Sejak tadi mereka hanya saling terdiam. Leesuk duduk sedikit jauh dari Ok. Karena gadis itu seolah memberi jarak di antara mereka.


"Apa kau takut padaku?" tanya Myung-ok membuka pembicaraan.


Leesuk terdiam kemudian menatap Myung-ok yang terlihat sedih. Ia takut, juga penasaran. Dalam hatinya ia yakin jika Ok tak mungkin menyakitinya. Ia diam agar gadis itu bisa menceritakan perihal dirinya.


"Apa kau tau Vampir?" tanya Myung-ok ia menatap Leesuk seolah memastikan ceritanya dipercaya. "Kau tau, mereka bisa hidup abadi tanpa merasakan sakit. Menurut legenda vampir meminum darah. Namun, kami sudah berevolusi dengan baik. Kami hanya memerlukan energi murni dan juga meminum darah hewan untuk mendapatkan tenaga."


"Energi murni?"


"Iya, energi murni yang kami hirup melalui tautan bibir. Apa kau takut padaku setelah aku memberitahumu tentang ini?" Tanya Myung-Ok lagi mendekatkan dirinya pada Leesuk. Leesuk dengan reflek menarik mundur tubuhnya.


Myung-ok kembali menjauhkan tubuhnya dari teman barunya itu. "Sudah kuduga, kau akan takut padaku. Aku belum pernah bermain dengan anak seusiaku. Aku menjadi Vampir saat aku berumur enam belas tahun. Apa kau pikir ini salahku? Saat aku ingin makan. Aku akan segera sakit ketika memakan makanan manusia. Maka tadi aku minta padamu untuk makan dan menceritakan padaku. Sebaiknya, aku antar kau keluar dari sini. Setelah itu kita tidak akan berjumpa lagi. Dan aku mohon jangan ceritakan ini pada siapapun."


Myung-ok berdiri kemudian berjalan hendak keluar dari tempat itu. Ia berjalan melewati Leesuk, langkahnya terhenti saat tangannya di pegang teman barunya. Ok menatap Leesuk yang kini tersenyum ramah.


"Duduklah di sini, dekat denganku. Temani aku sebentar lagi melihat sungai ini." Lagi ia mengangguk ke Myung-ok sambil menatap ke manik mata gadis yang kini tengah terharu itu.


Leesuk merasa bersalah sebenarnya, karena Myung-ok yang menahan tangisnya. "Hei! Duduklah temani aku. Kita 'kan teman?"


Myung-ok tersenyum kemudian duduk di samping Leesuk. Anak laki-laki itu masih memegangi tangan Myung-ok. Ia melepaskan genggaman tangannya, mengambil gelang yang ia semuanya dari kantong pakaiannya, kemudian memakaikan gelang yang sedari tadi ia sembunyikan.


Myung-ok terkejut bahkan bibirnya terus terbuka menatap gelang cantik yang tadi sempat ia inginkan.


"Ini bukti bahwa kita teman, aku sama sekali tak takut padamu Ok."


"Terima kasih," ucap Myung-ok sambil memegangi gelangnya. Kemudian ia mengeluarkan saputangan dari balik kantong bajunya. Saputangan sutera dengan sulaman bunga teratai yang sedikit tak rapi. Ia segera memberikan pada Leesuk. "Memang bentuknya tidak bagus tapi, aku yang menyulam itu sendiri."


Leesuk menerimanya kemudian melihatnya. "Ini bagus, terimakasih Ok".


Leesuk memasukan saputangan sutera pemberian Ok ke dalam kantong pakaiannya. Kemudian menarik Myung-ok hingga mereka benar-benar dekat. "Apa benar, jika—aku bibir kita bertaut kau akan dapat tambahan tenaga?"


Myung-ok terkejut dan hanya terdiam ia menatap Leesuk dengan bingung. Ok mengangguk, tentu saja itu benar meski ia belum pernah melakukannya.


***


Paviliun putera mahkota malam hari, suasana sudah cukup sepi. Sang Putera Mahkota Leesuk masuk ke dalam kamarnya dengan mengendap. Lalu membuka selimut tidurnya seperti ada orang di dalamnya. Ternyata ada kasim Choi yang menyamar menjadi dirinya dengan berpura-pura tidur.


"Kasim Choi," panggil Leesuk kemudian duduk di depan kasim Choi.


Kasim Choi mengintip dari balik selimut memastikan siapa yang memanggilnya. Setelah ia melihat Leesuk di sana, Kasim Choi segera membuka selimutnya. "Putera mahkota, bagaimana bisa anda melakukan ini pada hamba?"


Sang Kasim segera berdiri lalu beranjak ke tempat yang seharusnya. Sang calon raja duduk di tempatnya. Anak itu terlihat sangat cerah.


"Aku hanya keluar sebentar," jawab Leesuk enteng.


"Putra mahkota." Yeon tiba-tiba masuk dari pintu belakang dan segera memberi salam.


Yeon adalah pengawal pribadi putera mahkota. Mereka bersama sejak Leesuk masih menyandang julukan pangeran. Tak ada yang paling ia percayai selain Yeon. Pengawal dengan tubuh tegas dan garis wajah tegas.


"Aku ingin bicara dengan Yeon." Leesuk menatap Kasim Choi meminta sang Kasim untuk meninggal mereka berdua.


Kemudian kasim Choi berjalan mundur keluar dari ruangan.Setelah kasim Choi keluar Leesuk menatap Yeon serius.


"Lalu apa kau tau siapa gadis itu?"


"Dia anak dari Saudagar Park ia cukup berpengaruh di Cina dan Mongol. Namanya Park Myung-ok dia juga punya seorang kakak perempuan Park Myung-Hee." jelas Yeon.


"Aku ingin gadis itu jadi Puteri mahkota," ucap Leesuk tiba-tiba.


Jelas membuat Yeon terbelalak. Entah apa yang ada dipikiran sang putera mahkota. "Mereka tidak punya cukup kekuatan di istana. Hamba rasa ibu suri dan ratu tidak akan menyetujuinya. Pula, Yang Mulia pemilihan Puteri mahkota sepenuhnya wewenang paviliun selatan."


"Apa mencintainya saja tidak cukup, untuk menjadikannya orang yang bisa selalu ada di sisiku?"


Yeon menatap tuannya itu. Ia menghela napas dan menggeleng. Rasanya Leesuk saat ini mabuk sesaat karena seorang gadis hari ini.


***


Malam hari di rumah sederhana saudagar Park. Myung-ok ia sedang meminum santapannya bersama sang kakak Myung-hee. Kemudian meminum obat yang dibuat ayahnya.


"Ayah, bagaimana ayah bisa sehebat ini? Ayah benar-benar luar biasa. Ayah bisa membuat kita tidak perlu menyakiti manusia. Aku benar-benar kagum pada Ayah," puji Myung-ok.


Tuan Park tersenyum menatap anak bungsunya itu. Nyonya Park menghampiri mereka bersama Myung-hee kemudian mereka duduk bersama.


"Ok, kau selalu saja memuji ayahmu. Apa kau tidak mau memuji ibu?" tanya Nyonya Park sambil memeluk anak gadisnya itu.


"Anak ini dia selalu berlebihan tentang ayah 'kan Bu?" sahut Myung-hee.


Ok menatap sang kakak dengan kesal. "Kakak ... kenapa selalu menyebalkan? Segeralah menikah atau kau akan semakin menyebalkan! Menikahlah dengan Youngwoo dia sangat menyukaimu. Karena itu dia sering kemari," ledek Myung-ok


"Ibu, Lihat dia dia selalu meledekku," adu Myung-hee kemudian ia berlari memeluk ibunya.


"Apa kalian hanya akan memeluk Ibu? Bagaimana dengan ayah?" rengek Tuan Park kepada kedua putrinya itu.


Myung-ok berlari ke ayahnya kemudian memeluk ayahnya. Keluarga kecil itu selalu saja diliputi kebahagiaan.


Saat itu seorang penjaga datang. Ia membisikan sesuatu ke Tuan Park. Tatapan keduanya serius, kemudian Tuan Park dengan segera berjalan ke ruang kerjanya.


Myung-ok menatap Myung-hee yang hanya mengangkat bahunya. Meski keduanya penasaran. Keduanya tak mencari tahu lebih jauh.


"Ibu apa aku boleh keluar hari ini?" tanya Myung-ok. Pada sang ibu yang tengah mengecek kain di ruang sebelah.


Ibu mereka juga bekerja sebagai penjahit yang banyak dipesan oleh keluarganya aristokrat.


"Boleh, berhati-hatilah."


"Kakak kau mau ikut denganku?" tanya Myung-ok sambil membereskan beberapa alat menyulamnya.


"Tidak aku malas."


"Baiklah." Kata Myung-ok kemudian berlari keluar rumah.


***