Kiss Me!

Kiss Me!
Jason



Mobil sedan hitam itu, dikendarai oleh salah seorang pegawai yang memang diperintahkan untuk menjaga dan mengawal kedua Park bersaudari itu. Hyori dan Hyora memang termasuk dalam kalangan elit. Karena ayah merkea juga salah satu profesor yang mengembangkan banyak  kemajuan untuk keberlangsungan hidup vampir. Termasuk dalam satu dari lima profesor terkenal di kawasan Asia yang bergabung dengan Perserikatan Ilmu Pengembang Vampir. Semua berubah maka memang banyak riset yang dilakukan. Itu juga yang menyebabkan kedua anak mereka Hyora dan sang adik belum bisa juga menemui kedua orang tua mereka.


Mobil itu melaju, melewati kembali jalanan Seoul yang semakin romantis dengan kesan merah muda yang semakin kental. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Saat mereka mulai memasuki daerah perumahan di mana  rumah mewah mereka berada.


Kawasan itu termasuk salah satu kawasan elit di Seoul. Memasuki perumahan sebuah taman terlihat asri menyambut. Dengan beberapa permainan yang biasa dimainkan oleh beberapa penghuni.


Sampai disebuah rumah dengan desain khas Korea modern. Sisi kirinya terdapat tempat parkir yang cukup luas, lalu untuk masuk harus berjalan sekitar tujuh meterz lalu belok ke sisi kanan ke arah gerbang masuk. Saat itu di bagian luar tempat parkir seorang anak laki-laki nampak berdiri. Ia masih mengenakan seragam SMU-nya. Ia berdiri sambil bersandar pada tembok.


Hyora membuka jendela mobilnya, anak laki-laki berusia kisaran delapan belas tahun. Ia melambaikan tangan begitu melihat Hyora yabg menatapnya dari mobil. Hyori melirik sekilas, ia terlihat tak antusias.


Mobil berhenti tepat di depan pagar  tempat parkir. Kedua bersaudari itu segera turun. Seorang penjaga berjalan mendekat.


"Maaf Nona, anak itu terus memaksa masuk. Saya tak bisa membiarkan ia masuk sebelum anda datang."


"Tak masalah aku mengenalnya,"jawab Hyora lalu berjalan turun dari mobil.


Jason nama anak laki-laki itu, usianya sudah lebih dari tiga  ratus tahun. Penampilannya layaknya remaja delapan belas tahun. Ia tersenyum, melihat Hyora lalu tersenyum jahil ketika melihat Hyori berjalan malas di belakang sang kakak.


"Selamat datang di Seoul!" ucap Jason seraya merentangkan kedua tangannya juga tersenyum lebar.


Hyori mendecih kesal, membuat sang kakak menoleh lalu tersenyum. Juga Jason yang melirik Hyori dengan tatapan jahilnya.


Membuat Jason berjalan mendekat lalu berusaha merangkul Hyori.


Gadis itu mengelak. "Hei, siapa kau?" tanyanya sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah.


"Hei, jangan begitu. Kau cantik sekali jika kesal." Jason menggoda.


"Aish!" Hyori memutar bola matanya benar-benar tak tau apalagi yang harus ia lakukan untuk membuat Jason tak menggodanya.


Sementara Jason semakin giat menggoda saat gadis di samping terus terus saja berdesis. "Jangan seperti itu, hmm?"


Hyora mengikuti mereka sambil tersenyum melihat kelakuan Jason dan Hyori. Jason dan Hyori pernah bertemu beberapa tahun yang lalu di Islandia. Dalam pertemuan singkat  itu Jason berkunjung ke rumah mereka yang berada di sana. Bukan hanya saat itu sebenarnya, jauh sebelum itu. Mereka sempat sangat dekat.


Ketiganya berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah pagar kayu dibuka, terlihat sebuah taman yang cukup luas. Lalu rumah dengan nuansa minimalis di dominasi abu-abu. Jason menatap sekeliling dengan mata sipitnya.


"Kalian dapat rumah yang bagus. Ada taman di sini."


"Kau tinggal di mana?" Hyora bertanya.


"Apartemen, tak ada taman di sana Kak," jawab Jason.


Hyori berjalan mendahului, pintu sudah dibuka ada beberapa pengawal dan pelayan di sana. Beberapa vampir dan beberapa manusia. Gadis itu berjalan masuk, memerhatikan sekitar. Rumah itu terdiri dari dua lantai. Luas sekali ... Kehidupan mewah mereka akan dimulai di sini sepertinya, batin Hyori.


Jason mendekat merangkul Hyori yang segera ia tepis.


"Kau sombong sekali."


"Kau menyebalkan," ketus Hyori.


"Hei Youngwoo! Sudahlah, jangan ganggu adikku." Hyora dudu di sofa ruang tamu.


Hyori masih memerhatikan rumah besar itu. Di sisi kanan ada sebuah tangga untuk naik ke lantai atas. Bagian ruang tamu terdapat sebuah sofa hitam besar, dan meja-meja yang disusun di pinggiran tembok. Di sana juga sudah terdapat foto editan Hyori dan Hyora bersama orang tua palsu mereka. Sang adik kemudian duduk di samping Hyora. Jason terus mengikuti Hyori, membuat gadis itu kesal setengah mati.


"Hei, Youngwoo! berhentilah mengganggu adikku," pinta Hyora lagi. Saat ia melihat wajah kesal Hyori. Ia takut kalau hubungan mereka bukannya membaik malah semakin buruk karena sikap menyebalkan Jason.


Jason menunjukan pin di seragamnya. "Aku Jason Kak." kemudian ia kembali menatap Hyori. "Hei, Clairyn apa kau benar-benar lupa padaku?"


"Sekarang aku Hyori," jawab Hyori malas. Hyori ingat hanya pertemuan mereka terakhir kali juga menyebalkan baginya.


"Namaku sekarang Jason." jason menunjukan pin namanya. Mendekatkan dirinya ke Hyori, lalu mengulurkan tangan.


Hyori tidak memperdulikan Jason ia malah kesal melihat tingkah Jason, ia menepuk tangan Jason malas. "Aahh, Kau menyebalkan sekali!"


Hyori kesal mendorong Jason hingga cukup jauh tanpa menahan tenaganya sedikitpun. Namun, Jason berhasil membuat dirinya tetap berdiri. Kemudian dia kembali bergerak mendekat seraya tersenyum jahil ke Hyori.


"Hei, kalau aku manusia aku bisa mati tau!" Jason mendekati Hyori kemudian mencubit pipi Hyori. "Apa kau belum bisa mendapatkan energi mu?" tanyanya Jason meledek.


Hyori melirik dengan kesal, sambil melepaskan tangan yang mencubit pipinya. "Diamlah!"


"Apa kau mau, berbagi energi ku denganmu?" tawar Jason sambil memajukan bibirnya.


Hyori kesal ia mendecih lalu beranjak dari duduknya. "Kak aku akan melihat kamarku."


"Untuk apa? Kita 'kan tidak tidur."


"Agar aku tidak dekat lagi denganmu." Hyori dengan bergegas berjalan meninggalkan tempat itu.


Jason baru saja akan berjalan mengikutinya. Hyori melirik ke belakang. "Jangan ikuti aku!"


Jason berhenti lalu terkekeh. "Baiklah, aku akan bersama kakakmu di sini."


Jason berjalan kembali menghampiri Hyora kemudian duduk di sampingnya.


"Kak, apa ia benar baik-baik saja setelah kejadian itu?" tanya Jason serius.


Hyora mengangguk. "Dia bahkan masih tidak mengingat kejadian itu."


"Baguslah, setidaknya tak akan terlalu menyakitkan," ucap Jason terlihat lega tapi jelas terlihat kesedihan di sana. "Aku dan Hyori akan satu sekolah nanti."


Jason tau tentu saja karena sang ayah juga termasuk salah satu orang penting. Juga karena hubungan masa lalunya dengan Hyori meski gadis itu tak belum bisa mengingatnya. Jason tak akan bisa lupa.


Hyora menatap Jason dengan mata berbinar. Senang rasanya tau bahwa sang adik satu sekolah dengan orang yang ia kenal. "Bantu aku, jagalah ia saat di sekolah nanti. Bisa 'kan?"


"Aku pasti menjaganya meski kau tak memintaku."