
Vampir adalah tokoh mitologi dan legenda. Mereka hidup dengan memakan intisari kehidupan makhluk lain. Biasanya mereka menghisap darah untuk mempertahankan hidup. Kepercayaan terhadap makhluk penghisap darah, sudah ada sejak zaman kuno. Dulu kala dalam pikiran masyarakat, vampir adalah makhluk yang keluar dari dalam tanah setiap malam untuk menghisap darah manusia.
Sedangkan vampir sendiri baru populer pada awal abad ke-18 sejak masuk awal di kawasan Eropa. Legenda vampir ada juga di Yunani dan Rumania. Sejak itu kepercayaan terhadap adanya makhluk ini semakin berkembang.
Sedangkan di Korea, telah ada sejak jaman kerajaan Goryeo, dan memulai kesepakatan dengan pemerintahan Korea di masa kerajaan Joseon. Bahkan beberapa vampir pria dalam satuan khusus, membantu istana dalam pemberontakan Jepang.
Dan bagaimanakah kehidupan vampir saat ini? Tentu semakin maju dengan sistem yang semakin baik.
Jepang, Maret 2020
Suasana merah mudah di sekitar. Sakura bermekaran dan memang ini musimnya. Indah dan romantis, tentu saja. Jepang selalu sangat ramai di musim semi. Seluruh masyarakat belahan dunia ingin menikmati keindahannya, mengabadikan kegiatan mereka di sini, mengikuti festival bunga sakura yang meriah dan menarik.
Seperti kedua bersaudara Katsumi dan Izanami. Katsumi sang kakak dengan tubuh jenjang dan semampai, mata bulat yang berbinar penuh gairah, bibir penuh dengan polesan lip cream peach. Tampil anggun dengan gaun berwarna lime, berlengan panjangnya dan potongan tiga perempat. Lalu sang adik Nami, tak kalah cantik sebenarnya dengan bentuk mata layaknya bulan sabit, tatapan mata lugu yang manis, senyum bibir tipis dengan polesan lip tint. Ia kini mengenakan t-shirt putih dan celana jeans andalannya. Hanya tubuh Nami yang gemuk sehingga ia sedikit yak percaya diri.
Hari ini adalah hari terakhir mereka di Jepang. Mereka akan kembali ke Korea setelah lebih dari seratus delapan puluh tahun berkelana ke berbagai negara.
"Kita akan kembali," ucap Sumi.
"Iya." Nami menjawab seadanya. Tak banyak yang ia ingat tentang Korea. Ia tak terlalu antusias. Lebih berharap jika masa hidup mereka di Jepang di perpanjang.
Sumi mengerti kesedihan yang dirasakan sang adik. Meski ia sendiri senang kembali ke Korea. Karena berpikir akan kembali bersama kedua orang tuanya.
"Aku bahkan tak bisa mendapatkan energi dengan benar sampai saat ini." Keluh Nami.
"Sejujurnya, aku juga tak rela jika kau dicium pria. Bagaimana ini." Nami merengek kesal meruntuki dirinya sendiri. Sejujurnya ia sedikit berlebihan menjaga adik perempuannya itu.
"Aku juga tak mungkin mendapatkan ciuman pria karena tubuhku ini." Nami mengeluh sambil berjalan cepat meninggalkan sang kakak.
Dalam hati Sumi bersedih karena sang adik yang seolah tak percaya diri. Tubuhnya membengkak karena ia terpaksa terus minum darah hewan. Sistem metabolisme yang tak berjalan sempurna lagi. Membuat penumpukan darah, menyebabkan lemak yang juga meningkat lebih pesat.
Siang ini mereka berdua menikmati hari terakhir di Jepang. Jarak Korea dan Jepang tak jauh. Hanya saja ini adalah kehidupan bari keduanya. Mereka akan berganti identitas Lagi. Memulai fase baru lagi, sedikit menyulitkan sebenarnya. Dan ketika kembali ke Korea lagi nanti, Sumi akan memulai karier baru, dan Nami kembali menjadi gadis SMU.
***
Di waktu yang sama esok harinya kedua kakak beradik itu telah berada dalam perjalanan menuju kehidupan baru. Saat ini Katsumi sedang membaca majalah, sementara Izanami sedang sibuk melihat gigi taringnya yang cukup panjang dari kamera ponselnya. Ia memerhatikan kanan, kiri, atas dan bawah bagian giginya. Menyebalkan, karena ia merasa giginya terlalu cepat tumbuh.
Saat itu Seorang pramugari berjalan membawa troli berisi kudapan ia berniat menawarkan pada keduanya. Ia menatap pada Nami. Tubuh besar dengan taring yang panjang dan runcing. Cukup menyeramkan layaknya beruang yang siap menerkam.
"Maaf nona," sapa sang pramugari tatapannya tetap menatap heran ke arah Nami.
Sumi menoleh, membaca ekspresi aneh sang pramugari ia segera melirik ke arah sang adik yang masih sibuk dengan kegiatannya. Ia menyenggol bahu Nami.
"Maaf, adikku memang suka seperti itu. Pertumbuhan giginya sedikit tidak normal."
Nami menyadari, segera mengatupkan mulutnya, lalu tersenyum dan meminta maaf. Sang pramugari tersenyum, berusaha senormal mungkin.
"Apa anda ingin sesuatu?"
"Kau ingin sesuatu?" tanya Sumi.
"Tidak."
Ucap sang pramugari lalu berjalan meninggalkan kedua kakak beradik itu.
Sumi melirik Nami dengan kesal. "Tidak bisakah kau berhenti melakukan itu?" Nami dengan cepat membuka kembali majalahnya.
Nami hanya mem-poutkan bibirnya. Lalu membuka ponsel kembali ingin melihat giginya. Sumi melirik kesal, lalu berdeham ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan adik perempuannya.
Perjalanan tak lebih dari seratus tiga puluh menit. Akhirnya mereka sampai di Korea. Suasana tak jauh berbeda dengan Jepang. Telah musim semi, jalanan yang mulai bernuansa merah muda. Ini adalah puncak musim semi. Bunga sakura merekah dengan anggunnya. Keduanya dalam perjalanan menuju kantor imigrasi Korea Selatan. Untuk mengetahui dan mendapatkan data identitas baru mereka. Yang akan diberikan oleh AVI (Asosiasi Vampir Internasional). Kesatuan yang mengatur semua peraturan mengenai vampir.
Sampai di kantor imigrasi mereka dicek oleh keamanan yang salah satunya adalah seorang vampir. Mereka diantar ke dalam ruang rahasia yang digunakan khusus bagi para vampir. Sebelum masuk mereka berjalan memasuki lift dengan tanda 'tidak bisa digunakan' lift itu meluncur ke bawah.
Mereka sampai di KIVK (Kantor Imigrasi Vampir Korea) lalu sampai sebuah gedung lain di lantai bawah.
Aula ini terlihat dengan nuansa yang lebih gelap. Namak sepi karena tak terlalu banyak yang bekerja di sana. Keduanya berjalan masuk mengikuti sang penjaga. Menuju sebuah ruangan yang berada sedikit ke belakang. Setelah sampai di depan pintu penjaga mengetuk pintu.
"Nona Song, tamu anda tiba." Sang penjaga membuka pintu setelahnya, ia mempersilahkan vampir bersaudara itu masuk ke dalam. "Silahkan."
"Terima kasih," ucap Sumi diikuti anggukan oleh Nami.
Keduanya segera berjalan masuk. Ruangan bernuansa hitam, putih dan merah. Seorang vampir wanita terlihat seperti berusia tiga puluhan tahun. Mengenakan kemeja satin putih dan celana abu-abu, rambut yang disanggul sederhana dan kacamata yang menambah kesan berwibawa. Tak ada yang tau bahwa usianya telah lebih dari empat abad.
Ia melihat kedatangan Sumi dan Nami dari sudut kacamatanya. Dengan senyum tipis terukir di bibir.
"Nona Song," sapa Nami dan Sumi membungkuk untuk memberi salam pada Nona Song.
"Nama kalian sekarang Park Hyori," katanta sambil menunjuk Nami. "Dan kau Park Hyora," lanjutnya sambil menunjuk Sumi.
Wanita itu kemudian ia berdiri mengambil sebuah buku tebal dan dua buah map yang berisi surat-surat dan dokumen kelengkapan untuk kebutuhan Nami dan Sumi selama berada di Korea. Kini nama mereka diganti setelah surat itu tiba di tangan keduanya.
"Ambil ini dan pelajari." Nona Song berjalan mendekat lalu menyerahkan map keoada pemiliknya masing-masing.
"Hyori, aku memberikanmu nama Izanami saat di Jepang, agar kau bisa tumbuh lebih mempesona. Kenapa tidak berubah bahkan setelah kita bertemu lagi ?" Nona Song terdengar kesal pada Hyori yang terus saja tumbuh dengan badan besarnya.
Hyori hanya memajukan bibirnya sambil membungkuk untuk meminta maaf. Karena smpai saat ini ia bahkan belum bisa memangsa sekalipun.
"Maafkan aku." Sumi yang kini telah memiliki nama Sebagai Hyora. Ikut meminta maaf karena ia merasa ini kesalahannya karena tidak bisa melepas sang adik begitu saja.
Benar-benar rasa tidak rela jika nanti harus melihat adiknya dicium pria nakal. Ia memang terlalu protektif.
"Sopir kalian di depan, kode mobilnya ada di catatan. Hiduplah dengan baik, di sini. Kalian akan tinggal di sini selama dua puluh tahun atau lebih jika memang diharuskan. Kemudian kalian akan kembali tinggal di Mesir jika tidak ada perubahan," jelas Nona Song.
"Baik Nona Song," jawab Hyora dan Hyori bersamaan.
"Ingat setelah keluar dari sini nama kalian Hyori dan Hyora. Lupakan Katsumi dan Izanami, kehidupan lalu kalian tak pernah ada, Ingat jangan lupakan itu."
Kedua bersaut itu mengangguk, lalu membungkuk hormat. Tak mungkin mereka lupa akan hal itu. Hal sudah mereka lalui berkali-kali. seolah seoerti hidup dan mati, kemudian hidup dan mati lagi. Setelahnya Hyori dan Hyora berjalan meninggalkan ruangan Nona Song.
Keduanya melangkah dalam diam. memulai hidup baru bukan hal yang mudah dan menyenangkan. Dan juga Ini adalah pertama kalinya mereka kembali sejak hampir seratus delapan puluh tahun lamanya.