Kiss Me!

Kiss Me!
Masa lalu 4 (Putri mahkota)



Pertemuan Ok dan Leesuk memang jarang sekali. Namun selalu menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi keduanya. Namun beberapa Minggu ini Leesuk sakit. Sejak kecil kondisinya memang tak baik. Ia duduk di paviliunnya. Terdiam memikirkan bagaimana biasanya satu Minggu sekali ia bertemu dengan Ok. Goresan wajahnya  sedih karena tak bertemu dengan gadis pujaan hatinya.


Sementara di istana ia diminta segera menikahi seorang gadis untuk menjadi putri mahkota. Tentu Leesuk enggan. Ia ingin Ok yang menjadi pendampingnya. Yeon dan Kasim Choi menatap dengan cemas.


"Anda ingin sesuatu Yang Mulia?" tanya sang kasim.


Leesuk menggeleng, lalu menatap Yeon. "Yeon, kau coba perintahkan seseorang untuk,bertanya, pada orang tua Ok. Jika saya mereka ingin mengajukan Ok menjadi salah satu kandidat Puteri Mahkota."


Yeon mengangguk. "Hamba akan laksanakan."


Yeon segera melangkah keluar memenuhi tugas dari atasannya. Istana adalah tempat yang menyeramkan bagi Leesuk. Meski ia lahir di Istana; ia juga memiliki musuh di sana. Akan selalu ada orang yang tak menyukainya. Istana juga selalu punya dinding yang bisa bicara. Membuat ia harus sangat berhati-hati. Apalagi sejak beban jabatan putera mahkota berada di pundaknya. Sejak itu juga segala yang ia lakukan akan menjadi pembahasan menarik.


Ratu tiba!


Saat itu Ratu Iseo tiba di paviliun putera mahkota. Kasim lain meneriakkan agar putera mahkota bersiap. Leesuk duduk dengan wajah pucat; tangannya masih memegangi selimut yang ia kenakan; menatap pintu masuk tanpa antusias. Ratu Iseo berjalan masuk terlihat cemas tapi, tetap tersenyum. Lalu dengan segera duduk di samping Leesuk. Sang putera mahkota hanya mengangguk memberi salam singkat. Ratu duduk di samping sang putera. Ia memegangi tangan kanan Leesuk dengan kedua tangannya.


"Anda sudah lebih sehat Yang Mulia?"


"Nde," jawab Leesuk.


"Aku ke sini untuk memberitahu tentang keputusan ibu suri."


Leesuk hanya diam ia sudah memperhitungkan semua. Tentang pemilihan Puteri Mahkota pasti yang menjadi prioritas utamanya.


"Pemilihan Puteri Mahkota akan segera dilakukan setelah anda sehat."


Leesuk diam, ada sesuatu yang ingin ia katakan sebenarnya. "Hmm."


Ratu seolah bisa melihat sang putera yang resah. "Ada sesuatu?"


"Bolehkah, aku membawa gadis pilihanku—sebagai salah satu kandidatnya?"


Ratu tersenyum lalu mengangguk. "Tentu, tapi ... Anda tau 'kan kriteria yang telah ditentukan? Lagipula ... Darimana anda bertemu seorang gadis? Apa, desas-desus bahwa anda sering kali keluar istana itu benar?"


Uhuukkk.


Seolah tertangkap basah. Leesuk dengan cemas menatap Kasim Choi yang kemudian mengalihkan pandangan. Tak mau ikut campur dalam urusan Leesuk. Ia masih ingin menghirup udara lebih lama. Ratu menarik napas dalam. Tingkah yang ditunjukan Leesuk cukup untuk menjawab pertanyaan sang ratu.


"Seharusnya lebih berhati-hati. Istana selalu punya dinding yang berbicara "


***


Siang ini Ok duduk di bebatuan sungai. Tempat ia dan Leesuk acap kali bertemu. Suasana semakin gelap karena cuaca yang mendung. Aliran sungai itu panjang terbentang dari utara hingga hilir gerbang selatan. Pada penduduk menggunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi, di daerah ini letak hutan terlalu jauh. Penduduk sekitar jarang mengambil air dari sini. Mereka lebih banyak yang mengambil air dari sumur di belakang pusat kota.


Gadis itu hanya duduk seraya menyulam kain sutera dengan bentuk bunga tulip. Sang ibu meminta, untuk dijadikan hiasan hanbok yang akan dibuat untuk dirinya dan sang kakak.


Saat itu Youngwoo melintas hendak menuju rumah Ok. Anak laki-laki itu berjalan mendekat. Tentu saja Ok sudah bisa merasakan kehadiran anak dari keluarga Jang itu. Youngwoo duduk di samping Ok.


"Kau darimana?" tanya Ok.


"Aku akan ke rumahmu. Dan melihatmu di sini. Aku baru kali ini melintasi hutan ini. Biasanya aku melewati pasar dan kota. Di sini lebih menyenangkan ternyata." Panjang lebar Youngwoo menjelaskan.


Ok menoleh menatap sahabatnya itu dengan kesal. "Berhenti menatapku."


"Kau jelek sekali."


"Aish menyebalkan."


Keduanya tertawa setelah saling mencemooh. Ok dan Youngwoo telah bersahabat sejak lama. Karena ayah mereka yang telah bersahabat terlebih dahulu.


"Kau menunggu apa di sini?" Youngwoo bertanya pada Ok.


Ok terdiam, menimbang apa ia harus menceritakan kebenaran pada temannya itu atau tidak. "Aku hanya duduk di sini."


"Hmm, aku merasa kau sedang menunggu seseorang."


"Tidak," elak Ok.


"Mau pulang bersama?"


Ok mengangguk lalu segera bangkit dengan bantuan Youngwoo. Keduanya berjalan menuju rumah Ok. Hari semakin gelap, sementara Ok masih berharap jika Leesuk datang hari ini. Sesekali ia menoleh. Namun, tetap saja itu hanya harapannya.


Sejak bertemu dengan Leesuk, Ok memang merasa hidupnya semakin berwarna sejak bertemu dengan Leesuk. Leesuk adalah manusia pertama yang mengetahui jika ia berbeda, dan dengan terbuka menerimanya. Itu alasan utama mengapa Ok merasa Leesuk adalah seseorang yang berharga.


Saat melangkah masuk ke dalam rumah. Tuan dan Nyonya Park. Kedua orang tua Ok sedang duduk terlihat serius. Ok mendekat diikuti Youngwoo. Melihat sang putri bungsu yang kini duduk di samlin, Nyonya Park membelai lembut pucuk kepala Ok. 


"Ada sesuatu ibu?" tanya Ok.


"Tidak, Ayah dan Ibu hanya membicarakan beberapa hal." jawabnya lembut.


"Kalian darimana?"


"Kami mengobrol di sungai Bi." Youngwoo menjawab antusias.


"Ayah ibu aku dan Youngwoo akan mengobrol di taman belakang." Ok meminta ijin dengan sopan.


Keduanya lalu berjalan ke taman belakang. Tuan Park menatapi hingga Ok dan Youngwoo tak terlihat lagi.


"Bagiamana bisa kerajaan meminta anak kita untuk?" Nyonya Park masih terkejut perihal kedatangan Yeon tadi.


"Darimana putera mahkota mengenal Ok, itu yang menjadi pertanyaan ku," ujar tuan Park kemudian.


"Kita berhak menolak. Sangat membahayakan jika Ok masuk ke istana."


Tuan Park mengangguk. Ia tak ingin membiarkan sang puteri masuk kedalam kehidupan istana yang sulit. Bukan karena cara hidup atau ajaran yang dilakukan istana. Namun, status Ok sebagai seorang Vampir. Itu adalah kendala terbesar. Ok tak akan menua sementara sekitarnya berubah menua; butuh darah hewan untuk membantunya hidup. Intinya ini hal yang sangat tak mungkin.


"Kita telah menolak. Tadi pengawal itu berkata bahwa kita yang menentukan. Sungguh aku tak ingin membawa anakku dalam masalah besar alam hidupnya. Baiknya, pertunangan dengan Youngwoo kita percepat, hmm?"


Nyonya Park setuju lalu mengangguk.


***