Kiss Me!

Kiss Me!
Vampir dan manusia



Hyori dan Minrin menghabiskan waktu istirahat mereka di taman belakang sekolah. Duduk cukup jauh dari keramaian.  Mereka sudah berkenalan tapi belum banyak mengobrol. Minrin sangat cantik dengan mata bulat, rambut hitam panjang juga gigi yang sekilas terlihat seperti kelinci jika tersenyum.


"Hyori berapa usiamu?" tanya Minrin.


"Empat ratus delapan puluh enam tahun kurasa." Hyori berpikir keras mencoba mengingat berasa usianya.


"Ya ampun, kau lebih tua seratus tahun dariku. Haruskah aku memanggilmu Kakak?"


"Jangan katakan itu, Bukankah akan aneh jika manusia mendengarnya?"


"Hahaha, kau benar." Minrin memerhatikan Hyori. "Apa kau belum pernah mendapatkan mangsa sampai sekarang?" tanyanya.


Hyori menggeleng.


"Sudah tiga ratus delapan puluh tahun tahun sejak kita memakai sistem cium sebagai energi kita. Kau tau? aku juga sebesar babi sebelum aku mendapatkan mangsa. Kau harus segera mendapatkannya." jelas Minrin dengan penuh semangat. Ia tau bagaimanakah rasanya menjadi seorang dengan tubuh tak ideal akan diperlakukan secara tak adil.


Padahal seharusnya fisik tak sempurna bukanlah alasan untuk mencemooh seseorang. Kalian tak tau apa yang sudah dilewati mereka untuk tetap bisa bertahan sampai saat ini. Bagaimana mereka mungkin menghabiskan waktu juga hari yang berat, karena ingin sekali memiliki kesempurnaan.


"Aku harap aku juga segera mendapat uang." Hyori tersenyum pada Minrin.


Sementara dari jauh Minjoon menatap Hyori dan Minrin. Tatapannya seolah penuh tanya. Entak apa yang membuatnya begitu penasaran dengan Hyori. Setelah itu pria itu kembali berjalan meninggalkan tempat itu.


***


"Nona Song mengapa anda mengirimkan pelayan manusia untukku?" tanya Hyora. Keduanya kini duduk di ruang kerja Nona Song.


Wanita itu lalu tersenyum di sudut bibirnya. "Dia adalah manusia yang berkemampuan, bukankah dia sudah memberikan alasannya. Semua sudah kewajiban keturunan Jungil untuk menjaga, adikmu." Nona Song melakukan penekanan untuk kata, 'adikmu'.


"Ya memang begitu seharusnya, tapi ini sudah lama sekali."


"Janji adalah janji. Dan harus di tuntaskan. Biarkan saja dia, aku bersungguh-sungguh jika dia bisa diandalkan."


Hyora pada akhirnya hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya. Meski menurutnya ia sama sekali tak butuh itu.


***


Pulang sekolah Hyori melangkah dengan malas. Hari ini tak ada yang spesial dan tak ada yang terlalu membuatnya terlalu bersemangat. Lebih tepatnya membosankan. Melewati taman belakang ia bisa merasakan Jason. Tanpa sadar ia mencari keberadaan temannya itu. Di sudut taman ia melihat Jason yang sedang mencium seorang siswi di pojok taman.


"Aigo, laki-laki itu." gumam Hyori sambil melangkahkan kakinya keluar sekolah.


Jason merasakan kehadiran Hyori. Ia dengan kasar melepas ciumannya dengan Clara salah satu murid terpopuler di sekolah itu. Dengan cepat ia berlari mencari Hyori. Tapi Hyori sudah terlalu jauh.


Sebenarnya, ia bisa mengejar Hyori. Hanya saja di sana terlalu banyak orang. Dengan kecepatannya sebagai vampir pasti itu akan membuat kekacauan.


Hyori berjalan sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Minjoon melihat Hyori, ia berjalan dengan agak cepat menuju anak muridnya itu.


Minjoon berjalan di samping Hyori membuat gadis itu terkejut. Ia segera menghentikan langkahnya kemudian memberi salam kepada gurunya. Sedikit terkejut sebenarnya bagaimana bisa ia tak merasakan kehadiran Minjoon. Yang ia tak ketahui jika, seorang vampir tak bisa merasakan kehadiran seseorang makan orang itu adalah pasangannya.


"Anyeonghaseyo saem."


Minjoon tersenyum. "Aku ingin menawarkan jika saja kau berminat untuk masuk ke kelas tambahan bahasa Perancis? Aku mendengar pengucapan mu sangat bagus."


"Aah, baik akan saya pikirkan," jawab Hyori, meski sebenarnya dalam hati ia enggan.


"Oiya, darimana kau belajar bahasa Perancis Hyori?"


"Ah, saya belajar sewaktu saya di Jepang," jawab gadis itu sebisanya.


"Ahh, begitu."


"Saya pamit pak guru." Hyori kemudian berjalan meninggalkan Minjoon dengan sebelumnya memberikan hormat.


"Apa kita bertemu lagi?" gumam Minjoon.


***


"Ah, Bagaimana bisa kalian tidak makan. Makanan seenak ini?" Kangchul bicara dengan makanan penuh di mulutnya.


"Cepatlah, Tuan akan segera sampai ke sini!" omel Daniel pada Kangchul. Ia sengaja memang memanggil anak itu untuk membantunya menghabiskan makanan yang dibuat Minjoon.


"Hei! berhentilah memanggilnya seperti itu. Anggap dia temanmu. Kau pikir ia akan mengingatmu, bahwa kau adalah pengawal setianya setelah ratusan tahun?"


"Tutup mulutmu! Jangan buat aku malu mengakui mu sebagai keturunanku karena mulut besar mu itu! Aisshh!"


Tak mau peduli dengan kata-kata Daniel. Kangchul sibuk dengan santapannya. Saat itu juga Daniel merasakan kehadiran Minjoon. Ia memberikan tanda pada Kangchul dengan menggerakkan kepalanya. Pria itu segera meletakan piring. Lalu berguling cepat masuk ke kamar Daniel. Sementara Daniel lompat ke arah meja makan dengan cepat dan halus. Ia segera duduk di bangku yang tadi di duduki Kangchul. Tepat saat itu Minjoon membuka pintunya.


"Kau darimana?" tanya Daniel sambil berpura-pura membereskan piring di depannya.


"Aku hanya keluar sebentar." jawab Soohyun sambil berjalan dan kemudian duduk di ruang tengah.


"Oh, Aku akan bereskan mejanya." Daniel mulai merapikan meja makan.


Sementara Kangchul saat ini sedang kekenyangan di kamar Daniel. Sesekali mengelus perutnya. lalu ponselnya berdering. Ia mengintip dari balik pintu. Namun sepertinya Minjoon tidak mendengarnya. Ia segera membuka pesan masuk.


------------------


Nona Hyora


Jam istirahat mu habis. Aku akan keluar. Jaga adikku baik-baik.


----------------


Kangchul terpaksa keluar dari kamar Daniel. Ia membuka jendela dan melihat ke bawah.


"Untung hanya satu lantai," ia bergumam sombong.


Ia melompat turun dan mendarat di dan berhasil mendarat dengan selamat. Kemudian ia memanjat dengan halus ke pagar, setelahnya melompat keluar. Ia segera berlari menuju rumah Park bersaudari. Jaraknya hanya dua blok dari rumah Minjoon.


Ia berlari agar segera tiba. Saat sampai di sana ia melihat Hyora yang sedang menunggu di depan rumah.


"Kau terlambat 8 menit. Naiklah ke atas, adikku ada di balkon." Hyora meminta Kangchul menemani Hyori bukan tanpa alasan. Beberapa hari ini ia melihat jika Kangchul adalah pribadi yang menyenangkan. Ia berharap pria itu bisa menemani Hyori dan membuat adiknya sedikit terhibur.


Jongsuk segera berjalan ke balkon setelah Hyora melaju dengan mobilnya. Di sana ia melihat Hyori yang sedang terduduk di lantai balkon sambil memilah-milah barang-barang dari kopernya.


Kangchuk menghampirinya. Kemudian duduk di sampingnya. Sesaat Hyori menggerakkan kepala untuk sekadae meyakinkan penciumannya. Kangchul melihat itu kemudian tersenyum.


"Penciuman mu benar aku manusia."


Hyori menatap Kangchul kemudian tersenyum. "Maaf, ini pertama kalinya kami mendapat asisten manusia."


"Apa yang kau lakukan?" tanya


Kangchul


"Oh, aku sedang memilah hadiah dari teman-temanku." Hyori mengambil sebuah kantong kecil yang ada di sampingnya. Dan memberikan pada Kangchul.


"Apa ini?" tanya pria itu bingung.


"Itu biskuit, permen dan cokelat. Aku bahkan tidak bisa memakannya. Maukah, kau menceritakan rasanya untukku?"


"Apa?" tanya Kangchul bingung.


***