JULID Girl'S

JULID Girl'S
Kebakaran



"Kenapa? Cemburunya gak lucu tau!" Mamat mencubit hidung Nuah saat melihat istrinya itu sedang tidak mut di ajak bercanda.


"Kakak deketin dia ya? Makanya dia memberi harapan sama kakak iya kan?" Nuah cemberut seraya berlalu meninggalkan Mamat dan langsung membanting pintu kamar.


"Wow, ngeri sekali pemirsa." Mamat merasa sangat tertekan dengan amarah istrinya itu.


Untuk membuat perasaan sang istri membaik akhirnya Mamat memutuskan untuk membuat makanan enak agar istrinya kembali tidak marah, dia memasak banyak makanan kesukaan sang istri dan mempersiapkannya sendiri.


Nuah yang mengetahui bila suami tercintanya itu sedang berusaha membujuknya semakin galak dan membuat Mamat semakin gelagapan. Hingga saat malam hari tiba tiba tercium bau asap dan aroma tidak sedap.


Mamat yang menyadari itu untuk pertama kali langsung terbangun dan melihat bila di lantai satu rumah itu sudah terbakar, Mamat membelalakan matanya dan langsung memangku tubuh sang istri dan membuka jendela.


"Ada apa ini?" Tana Nuah saat melihat kobaran api di lantai satu rumahnya.


"Aku tidak tahu, turunlah dulu dan meminta bantuan!" Ucap Mamat memberikan aba aba pada istrinya agar melompat ke sebuah ranting pohon mangga di dekat jendela.


"Tunggu dulu!" Nuah mengambil amplop uang di dalam lemari dan beberapa berkas penting, ponsel mereka dan sebuah foto keluarga. Nuah memasukkan semuanya ke dalam tas.


"Ayo!" Nuah melompat ke arah ranting dan dengan jelas dari pohon mangga di dekat kamarnya dia melihat kebakaran yang menghanguskan bagian bawah rumahnya.


Mamat tersenyum dan kembali ke dalam membuat Nuah gelagapan dan berteriak memanggil suaminya yang entah untuk apa pria itu kembali ke dalam.


"Sayang, cepat keluar!" Teriak Nuah dengan lantang, air matanya kembali terjatuh saat melihat Mamat tidak kunjung keluar dari rumah itu.


"Hei suami gila cepat keluar kau akan jadi manusia panggang! Hiks..hiks.. " Nuah menangis, beberapa warga yang mendengar teriakan Nuah keluar rumah dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat rumah besar itu nampak terlelap si jago merah.


"Cepat padamkan apinta!" Teriak beberpa warga mengambil ember dan menabuh pentungan untuk memberi peringatan pada warga lainnya untuk bangun dan membantu.


"Kebakaran! Kebakaran!" Teriak anak anak berkeliling kampung agar semua orang membantu memadamkan api.


"Kemana suami kamu nak?" Tanya salah satu warga melihat Nuah di bawah pohon mangga yang nampak menangis sesegukkan.


"Dasar manusia gila!" Teriak Nuah dan melepaskan ranselnya, dia mengguyur tubuhnya dengan air dan hendak berlari ke dalam rumah.


"Suami idiom! Hiks..hiks.." Nuah menangis sesegukkan dan merasakan dadanya yang terasa sangat sesak, dia benar benar ingin menghajar suaminya itu.


"Kamu takut aku marah, tapi kenapa kamu membuatku terus marah, bangkee!" Nuah berteriak dan hendak menerjang api di hadapannya sebelum seorang ibu ibu menarik tubuh Nuah dan memeluknya erat.


"Jangan melakukan hal bodoh Nuah!" Teriak ibu ibu itu yang di bantu dua orang pria karena memang tenaga Nuah memang luar biasa dan tubuhnya yang memang sudah terlatih secara fisik itu mampu membuat tiga orang yang menjaganya kewalahan.


Nampak samar samar Mamat keluar dari lantai dua dan melompat ke pohon mangga, dia melihat Nuah yang sedang menangis dan mengeluarkan banyak sumpah serapah untuk Mamat.


"Wanita itu benar benar." Lirih Mamat turun, dia merasa sesak karena asap tebal di dalam sana memang cukup menyiksa, dia membawa sebuah koper di tangannya.


Beberapa warga yang melihat Mamat akhirnya bernafas lega dan mereka hendak melepaskan Nuah, Nuah terhempas ke tanah dan menangis sesegukan saat melihat kobaran api kian besar melalap kediamannya.


"Aku di sini sayang." Mamat berucap lembut membuat Nuah langsung membalikkan wajahnya dan tampaklah sosok yang dia tunggu, Nuah membalikkan tubuhnya dan memeluk Mamat.


"Dasar bodoh! Kamu punya berapa nyawa sampai ingin mati konyol hah? Hiks.. hiks.." Nuah menangis memukul dada Mamat.


"Uh.. sayang sakit tau, di dalam asapnya tebal." Mamat menekan dada yang di pukul Nuah membuat Nuah menempelkan telapak tangannya dan menatap Mamat dengan lembut.


"Huhuhu.. maaf." Lirih Nuah memeluk Mamat dengan hangat, bajunya yang basah membuat Mamat bisa merasakan setiap lekuk tubuh Nuah.


"Sayang, sudah tidak apa apa. Aku juga sudah mengambil semuanya." Mamat mengecup kening Nuah.


"Semua? Apa?" Nuah nampak tidak mengerti dengan ucapan Mamat, Mamat tersenyum dan membuka koper yang menampakkan banyak barang kedua orang tua Nuah, dan juga sebuah disk yang merupakan rekaman cctv di luar rumah saat kejadian berlangsung.


Nuah cemberut dan langsung mengecup bibir Mamat tanpa memperdulikan banyak orang yang memperhatikan keduanya, Mamat tersenyum bahagia dan mendekap Nuah penuh sayang.


"Tadi bawa ponsel aku kan?" Tanya Mamat pada Nuah yang kini tidak mau beranjak dari pelukannya.


"Ada, memangnya kenapa?" Nuah sedikit penasaran dengan apa yang akan di lakukan suaminya.


"Membuat pelajaran pada orang yang sudah membakar rumah kamu sayang." Ucap Mamat, hingga kini nampak api juga sudah melalap rumah di lantai dua.


Duar...


Terdengar ledakan Gas LPG di dalam rumah yang meledak membuat Nuah mengelus dada akibat keterkejutan, Mamat juga sama dia juga cukup terkejut dengan ledakan itu.


Sekitar dua jam akhirnya api bisa di padamkan, karena rumah itu tidak di penuhi dengan barang barang yang mudah terbakar sehingga membuat mudah pemadaman api, di lantai dua masih nampak beberapa barang yang tersisa namun di lantai satu nampak semuanya hangus terbakar, sedangkan di lantai tiga semuanya nampak aman aman saja. Lantai tiga sendiri memang tidak di gunakan untuk apa apa karena biasanya Nuah selalu berlatih fisik di sana.


"Ma, bisa ke sini gak besok?" Pinta Mamat dan meminta sang ibu untuk membawakan beberapa barang dari kota.


"Ada apa?" Tanya sang Mama penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sang anak.


"Rumah istriku kebakaran Ma, tolong hubungi pengacara juga. Sepertinya kebakaran ini memang sengaja di rencanakan."


"Baiklah, jaga Lii baik baik. Mama akan segera ke sana temanmu si Rizal juga ada di sini." Ucap sang Mama.


"Ah ya, terserah Mama aja mau gimana. Aku cuma mau yang terbaik aja bagi istri ku." Ucap Mamat yang melihat Nuah yang nampak murung di bawah pohon mangga beralaskan tikar.


Malam itu Mamat meminjam laptop pak Lurah untuk membuka rekaman cctv hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berkumpul di depan rumah Nuah yang terbakar di bawah pohon mangga.


"Tunggu, bukankah itu motor kamu?" Pak Lurah melihat seorang pria yang nampak mengendarai motor Mamat setelah kejadian kebakaran itu.


"Ah.. ternyata emang dia, dia pasti belum jauh." Ucap Mamat tersenyum licik, dia memang sudah menduga akan ada kejadian seperti ini. Namun dia tidak menyangka bila orang itu akan berani sampai membakar rumah orang.