
Tanpa mereka sadari sedari awal ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan mereka dari lantai dua, Keduanya saling bertatap-an dan tersenyum melihat apa yang terjadi.
"Pak kayanya kita bakal cepet cepet punya cucu deh." Ucap Nyonya Azkara mengedipkan sebelah matanya ke arah sang suami.
"Benar istri ku akhirnya keinginan kita akan segera terwujud." bisik pria itu dengan wajah berseri seri dan penuh semangat.
Sedangkan Mamat dan Nuah yang berada di bawah merenungkan perasaan mereka masing masing sebelum mengambil keputusan, apa lagi Nuah yang mana tidak memiliki siapapun di dunia ini dan bila dia ingin hidup dengan Mamat berarti dia tidak boleh memiliki rasa penyesalan selama hidupnya.
"Kamu mau kapan?" Tanya Mamat menatap Nuah yang kini sudah duduk di sampingnya, Nuah nampak masih nampak berfikir.
"Aku harus minta restu dulu dari kedua orang tua ku." Ucap Nuah, Mamat tertegun sejenak, seingatnya Nuah sudah tidak memilki siapa siapa lagi berdasarkan dari informasi yang dia dapat dari kedua orang tuanya tentang Lii.
"Kalo begitu, aku juga akan ikut meminta restu bersama mu. Kita akan meminta restu kedua orang tua mu berdua ya?" Mamat menggenggam tangan Nuah yang terasa dingin, Nuah mengangguk menyetujui keinginan Mamat.
"Siang ini aku ada kelas, nanti bisa minta tolong anter ke kostan gak?" Nuah kini mengangkat wajahnya memohon dengan tatapan memelas dan tidak berdaya.
"Bisa banget sampai ke ujung dunia juga kalo kamu mau aku siap membawa mu tuan putri." Nuah memutar bola matanya malas, yang benar saja pikirnya.
"Pagi anak anak?" Tuan Azkara turun bersama dengan Nyonya Azkara keduanya merasa senang saat melihat keakraban yang terjadi antara Nuah dan Mamat.
Mereka sarapan bersama hingga sebuah perbincangan yang membuat Mamat dan Nuah tertegun sejenak terjadi, saat itu Tuan Azkara mengungkit kejadian Mamat yang meminta untuk membatalkan pertunangannya.
"Li, sebenarnya Om juga merasa lega saat Li mengatakan ingin membatalkan perjodohan antara kamu dan putra Om, sepertinya Malik sudah punya pilihannya sekarang, tapi Om hanya berharap kalian bisa bersaudara ke depannya dan jangan saling bermusuhan." Mata Mamat dan Nuah seketika terbelalak mendengar penuturan Tuan Azkara.
"Om sebenarnya.." Nuah menghela nafas berat dan mengambil udara sebanyak banyaknya untuk melanjutkan ucapannya. "Aku tidak mau membatalkan semua ini, tapi bila putra Om yang gak mau sama aku ya gak papa." Nuah menghela nafas pasrah.
"Eh, siapa yang kamu maksud gak mau?" Mamat terkejut dengan penuturan Nuah dan langsung menatap Nuah dengan tajam.
"Kan kamu sendiri yang mengatakannya ke papa kemarin pagi, katanya kamu akan melakukan apapun yang Papa minta asal pertunangan itu di batalkan dan penjodohannya di selesaikan dengan damai. Papa hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk putra Papa dan memenuhi keinginannya. Papa gak mau kalo harus kaya si Fadli yang tau tau punya cucu aja." Tutur Tuan Azkara bernada putus asa.
"Ta..tapi.. Pa please ya jangan buat sesuatu hal jadi rumit. Aku mau kok nikah sama Nuah malahan mau banget pakek ngebet sampe kebelet." Kini giliran Mamat yang senyum senyum tidak jelas menatap Nuah.
"Sudahlah Nak, kalo kamu gak mau gak papa kok, Mama juga takut kalo nanti setelah nikah kamu malah nyiksa Nuah dan buat dia menderita, Mama gak akan tega melihat gadis manis sepertinya di siksa oleh pria seperti mu Malik." Nyonya Azkara akhirnya memberikan pendapatnya, meski dalam hati kecilnya dia tertawa bahagia melihat bagaiman rasa putus asa putranya.
"Bentar bentar aku mau ngambil tas dulu." Nuah berlari ke kamar tamu dan mengambil tasnya tanpa dia sadari ponselnya yang sedang di carger tertinggal di sana.
...🚗🚗🚗...
Mereka sampai di kostan Nuah dan semuanya nampak sangat berbeda, keadaan yang sangat sunyi sangat tidak biasa dengan apa yang terjadi sehari harinya di sana. Kia juga tidak ada di kamarnya sedangkan Wulan dan Sofie juga tidak ada di tempat.
"Kemana mereka semua, biasanya tempat ini udah kaya pasar." Gumam Nuah membuka pintu kamarnya dan masuk hingga tanpa di sangka seseorang juga ternyata mengikuti langkahnya dan masuk.
"Eh, ngapain masuk? Aku mau mandi dan siap siap, sana keluar!" Nuah mengibaskan tangannya dan mendorong tubuh Mamat keluar dari kamarnya.
Bukannya keluar Mamat justru menutup pintu dan menyeringai misterius, bulu kunduk Nuah seketika berdiri melihat seringai aneh itu, Mamat yang di usir malah duduk di kasur milik Nuah dan mengunci pintu dari dalam dan mengambil kuncinya.
"Cih mau apa si? Jangan macam macam ya aku ini bukan gadis kecil yang bisa di tindas seenaknya tau!" Nuah berkacak pinggang dan menentang Mamat.
"Tau kok, kamu itu gadis kecil yang menggemaskan." Nuah seketika melotot dan mencoba meraih kunci kamarnya yang berada di pangkuan Mamat.
Namun sayang seribu sayang hadirin sebuah adegan memalukan terjadi, Nuah mengambil kunci itu namun gagal malah dia menyentuh sesuatu yang sangat terlarang di bawah perut Mamat, Nuah melotot dan langsung menarik tangannya.
"Kamu sengaja ya?" Nuah menunjukkan jarinya ke wajah Mamat membuat pria itu langsung menarik lengan Nuah dan membawa Nuah ke dalam pelukannya.
"Kamu sudah menyentuhnya, dan sekarang kamu harus tanggung jawab." Mamat berbisik di telinga Nuah yang sontak membuat Nuah merinding dan melepaskan pelukan pria itu.
"Baiklah, terserah kau saja. Aku mau mandi dan ingat jangan membuat aku terlambat masuk kelas." Nuah bersungut sungut sambil mengambil bajunya di dalam lemari dan handuk yang langsing masuk ke kamar mandi.
Mamat tersenyum menatap bagaimana Nuah sangat menggemaskan di matanya, Mamat menatap sekeliling kamar itu yang baginya sangat nyaman hingga tanpa terasa dia malah tertidur.
Nuah mandi sekitar setengah jam dan keluar dari kamar mandi setelah dia berganti pakaian, Nuah memperhatikan Mamat yang kini nampaknya terlelap dalam kasurnya, Nuah diam diam mendekat dan memperhatikan setiap lekuk wajah pria itu.
"Ganteng kan?" Tanya Mamat yang membuka matanya dan sontak saja sebuah semburat merah terlukis di pipi Nuah. Nuah beringsut menjauh namun sayang tangan kekar Mamat sudah menariknya hingga dia akhirnya meluncur bebas dalan pelukan Mamat.
"Harum banget, diem dulu dong, peluk aku." Pinta Mamat memeluk Nuah dan mengunci tubuh Nuah sehingga dia sama sekali tidak bisa bergerak dalam pelukan pria itu.