
"Tidak sayang, aku yang akan membangunnya." Mamat mendekatkan bibirnya ke telinga Nuah. "Asal nanti malam beri aku jatah." Sontak saja bisikan itu mampu membuat wajah Nuah memerah seketika.
"Kak, ini tempat umum!" Gertak Nuah dan mencubit perut suaminya itu, meski mereka semua tidak tahu apa yang di bisikan oleh Mamat tapi mereka bisa melihat perubahan sikap mereka dan langsung terkekeh.
"Besok saya hubungi beberapa pekerja dan juga.." Belum selesai Mamat menyelesaikan kalimatnya Nuah sudah memotong ucapan pria itu.
"Kita pakai cara seperti biasanya yang ada di desa saja, di sini banyak orang menganggur dan membutuhkan pekerjaan. Aku rasa bila mereka bekerja membangun Madrasah juga mereka akan mau, bukankah gajinya lumayan Pak Bos?" Nuah bertanya pada Mamat dan sontak saja Mamat terkekeh dan mencubit hidung Nuah.
"Iya sayang." Melihat bagaimana kemesraan Nuah dan Mamat membuat semua orang di sana tertawa, mereka senang bila akhirnya ada orang kaya yang baik yang mementingkan kebutuhan orang lain.
...🌱🌱🌱...
Setelah kejadian itu siang itu juga Mamat menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk datang ke kampung itu, dia juga memanggil beberapa penjaga terbaiknya. Semua orang terkejut mendengar permintaan dari sosok Malik Azkara itu dan langsung bergegas menuju kediaman Nuah.
"Ayo makan dulu." Nuah menaruh sebuah makanan ringan di depan meja, Mamat nampak masih fokus dengan leptopnya namun dia sadar akan keberadaan istrinya dan mendudukkan wanita itu di atas pahanya.
"Bagaimana gambarnya?" Mamat memperlihatkan sebuah disain Madrasah yang akan mereka bangun, Nuah bertepuk tangan dan mengangguk setuju.
"Keren banget kak, kok bisa sih buat gambar sedetail itu?" Nuah menatap takjub ke layar laptop dan mengelus karya yang baru di buat suaminya.
"Tentu sayang, bagaimanapun aku ini cukup mahir di beberapa bidang." Mamat tanpa sadar mengecup pipi istrinya dan langsung saja tatapan maut di layangkan oleh Nuah.
"Pasti ada aja modusnya." Singgung Nuah meletakan tangannya di pipi yang baru di kecup oleh Mamat dan buru buru meninggalkan pria itu. Mamat yang merasa hal itu terbilang cukup alami membuatnya sangat bingung, saat di dekat Nuah dia sama sekali sangat sulit mengendalikan tubuhnya sendiri.
Setelah waktu cukup sore dan Nuah sudah mengangkat semua jemurannya dan menyetrikanya dengan sangat rapi membuat Mamat sedikit tidak tega melihat Nuah mengerjakan pekerjaan yang baginya terlihat berat itu.
"Sayang bisa gak, kalo pekerjaan semacam itu kita panggil orang aja. Kamu nanti capek sayang." Mamat saat itu berada di ambang pintu melihat bagaimana tangan Nuah yang cekatan memindahkan baju baju Mamat ke dalam lemari baju milik Nuah.
"Aku gak rela kalo pakaian suamiku di pegang orang lain." Ucap Nuah dan sontak kata kata sederhana itu mampu membuat Mamat merasa sangat beruntung memiliki Nuah.
"Ya ampun sayang, kamu ternyata berpikiran seperti itu." Mamat tersenyum lembut penuh arti, dia juga memperhatikan seorang gadis kecil yang sudah sangat pandai mengurus banyak hal itu membuatnya selalu jatuh cinta.
"Aku mau masak dulu buat makan malam, teman teman kakak itu mau datang malam ini kan? Biar aku masakan buat mereka juga." Ucap Nuah turun ke lantai satu, Mamat hanya mengangguk dan memperhatikan langkah sang istri.
Mamat juga hanya diam di meja makan memainkan ponselnya saat sang istri tengah memasak untuknya, hingga tak berapa lama suara gaduh di depan rumah Nuah membuat Mamat terperanjat dan membuka pintu.
"Masuk dulu, istriku sudah memasak makan malam. Ayo!" Ajak Mamat sontak semua orang terkejut mendengar kata istri dari Mamat dan mereka cepat cepat masuk ingin melihat sosok istri dari Mamat.
"Sore semuanya." Sapa Nuah hingga suara adzan maghrib membuyarkan mereka yang terpaku melihat sosok gadis kecil yang sedang menyiapkan makanan.
"Ayo sholat maghrib dulu semunya." Nuah tersenyum ramah dan membukakan pintu ke arah tempat biasanya mencuci pakaian dan nampak sebuah kamar mandi dan banyak keran, Nuah juga membuka sebuah pintu mushola di rumah itu.
"Semua orang tertegun melihat bagaimana Nuah yang nampak sangat lugas mengerjakan segalanya, Nuah mempersilahkan semuanya untuk bersiap termasuk dirinya dan Mamat yang naik ke lantai dua." Mamat dan Nuah berganti pakaian dan mandi terlebih dahulu, meski ada sedikit drama namun akhirnya bisa di selesaikan dengan cara mereka mandi di tempat yang berbeda jelas itu berarti di kamar yang berbeda pula.
Mamat turun menggunakan koko ayah Nuah dan Nuah juga turun menggunakan mukenanya, saat melihat bagaimana keserasian seorang Nuah dan Mamat mampu membuat semua orang tersihir dan tidak memalingkan pandangan mereka.
"Ayo, kita sholat berjamaah." Ucap Mamat mengajak semua bawahannya, merekapun sholat berjamaah dengan khusuk, Mamat sebagai imamnya. Semua orang merasakan kedamaian tersendiri saat berada di rumah itu.
...🌱🌱🌱...
Nuah baru saja turun dari lantai dua setelah melakukan sholat berjamaah dia kembali menggunakan penampilannya yang biasa, Nuah menggunakan baju tidur kala itu dan Mamat juga memakai baju tidur yang memang sengaja di mintai di bawakan oleh bawahannya.
"Ayo makan dulu." Nuah menyiapkan sebuah permadani yang dapat menampung banyak orang itu, dia menyiapkan seluruh piring dan makanan yang dia buat di atasnya. Semua orang nampak sudah duduk dan melihat bagaimana istri bos mereka yang tidak diam membuat beberapa mata jelalatan merasa sangat terpukau.
"Sudah?" Tanya Mamat saat melihat mata dari bawahannya sudah sulit di kondisikan, semua orang yang merasa tersinggung langsung menundukkan pandangannya.
"Kita langsung pada intinya." Ucap Mamat, melihat ekspresi tidak mengenakan dari bos besar mereka membuat beberapa orang merasa merinding.
Mamat mulai memaparkan seluruh rencananya dalam pembangunan madrasah, dia juga memperlihatkangambaran seperti apa yang akan dirinya bangun dan juga kemungkinan kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi saat pembangunan.
Semua orang mengangguk angguk mulai mengerti dengan tujuan baik dari bos mereka, Nuah juga sudah duduk di samping Mamat dan tersenyum setelah menyelesaikan semua tugasnya.
"Ayo makan dulu." Ajak Nuah mengambil piring untuk Mamat, Mamat mengangguk mempersilahkan semua orang makan. Nuah sendiri juga makan bersama mereka, rambut panjang Nuah yang basah dan leher jenjangnya yang indah malah menjadi bahan fantasy orang orang di sana.
"Ehem, kalian fokus melakukan pekerjaan kalian." Ucap Mamat yang mulai risih dengan penglihatannya sendiri.
Nuah mengangkat alisnya tidak mengerti dengan maksud sang suami, dia melanjutkan makannya sedangkan waktu menunjukkan pukul 8 malam. Malam itu juga mereka langsung pulang dan mempersiapkan segalanya untuk membangun Madrasah itu. Termasuk senjata untuk baku hantam bila di perlukan.