
Mamat menggendong tubuh Nuah menuju kamarnya, Mamat berhenti sejenak dia menatap Nuah yang nampak terlelap sangat damai.
"Aku tidur di sini juga gak ya?" Mamat berbisik menimang apa yang lebih baik dirinya lakukan, Nuah juga saat ini sudah menjadi istrinya, jadi apa salahnya bila dia tidur satu ranjang?
Mamat akhirnya masuk ke bawah selimut di mana istrinya tertidur, Mamat menjadikan tangannya sebagai bantal untuk Nuah dan memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Selamat malam sayang?" Mamat mengecup kening Nuah sekilas dan memadamkan lampu, sebuah suara membuat Mamat bangun di tengah malam, Nuah juga sama terbangun akibat suara tersebut.
"Eh?" Nuah menatap Mamat sadar bila dirinya kini tidak tidur sendirian? Mamat tersenyum dalam gelap itu membuat Nuah menghela napas panjang. Dia sudah menjadi istri pria itu jadi wajar sekarang mereka tidur satu ranjang.
"Geser kamu aku mau lihat nih." Suara bisik bisik terdengar dari arah jendela kamar Nuah, Nuah tersenyum jahat dan melepaskan pelukan Mamat.
"Mau ap.." Mulut Mamat langsung di tutup oleh tangan Nuah dan Mamat mengangkat alisnya seolah bertanya dengan apa yang sedang terjadi.
"Syuut, mereka lagi ngintip." Ucap Nuah, Mamat ingin tergelak saat itu juga saat mendengar kata kata Nuah, Nuah mengintip ke arah jendela dan nampak tiga orang pria sedang menaiki sebuah pohon mangga di depan rumahnya.
Nuah tersenyum jahil, ketiga orang itu adalah orang yang paling tidak sopan sekampung, karena mereka sudah jadi kebiasaan akan mengintip saat ada orang yang baru menikah.
Nuah mengambil ponselnya, sedangkan Mamat yang memperhatikan sang istri di atas kasur dalam kondisi gelap mulai terkekeh bagaimana sang istri kini mengendap endap seperti seorang pencuri. Nuah membuka ponselnya dan mencari sebuah suara.
"Hihihihi.." Suara perempuan tertawa menggema membuat ketiga orang di pohon mangga itu terdiam seketika.
"I..itu suara?" Ketiganya saling berpandangan dan bersamaan melihat ke arah jendela kamar Nuah, Nuah buru buru menyalakan senter di ponselnya dan menyorotkannya dari bawah, dengan rambut acak acakan Nuah berdiri dan sontak ketiga orang itu berteriak dan salig mendorong hingga akhirnya mereka bertiga terjatuh bersamaan.
Suara tawa Nuah menggema membuat ketiga orang yang baru terjatuh itu tersadar bila mereka habis di kerjai oleh Nuah, Nuah menyalakan lampu kamarnya dan ketiga orang itu nampak menatap kesal ke arah Nuah.
"Makanya jadi jomblo itu jangan kebanyakan ngayal, rasain tuh!" Teriak Nuah membuat ketiganya yang masih berada di luar pagar rumahnya itu tertawa bersamaan.
"Jadi jomblo itu enak, gak ada yang ngatur!" Teriak ketiga orang itu secara bersamaan, Nuah tertawa mendengar ucapan serentak mereka.
"Jiah jadi jomblo aja bangga bilang aja gak laku." Nuah kembali berbicara dan satu orang yang terjatuh masih dengan mengusap usap lututnya karena langsung mencium jalan itu berteriak.
"Jomblo itu bukan berarti gak laku, tapi karena emang gak ada yang mau!" Sontak tawa Nuah kembali menggema dan ketiga orang itu juga mulai bangkit dan berjalan dengan tertatih tatih meninggalkan tempat tersebut.
"Seneng banget ngerjain orang?" Mamat memeluk Nuah dari belakang, Nuah terkekeh dan berbalik menatap Mamat.
"Seru sayang, mereka semua itu unik." Ucap Nuah melingkarkan tangannya di tengkuk Mamat.
"Gak mau ngalakuin itu?" Mamat bertanya dengan mata memelas, Nuah menggeleng dan mengusap pipi Mamat penuh sayang.
"Duh nakal, sendirinya bisa nakal gitu ya?" Mamat mencubit hidung Nuah, sedangkan Nuah kembali menggusur tangan Mamat ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku mau beresin tentang madrasah buat anak anak dulu besok, juga tentang kebun yang di jual si Dani. Aku ngantuk, selamat tidur sayang." Nuah memeluk Mamat dan tertidur dalam dekapan pria itu.
Mamat sejenak menatap bagaimana istrinya yang sangat dewasa sebelum waktunya, dia mungkin akan segera 20 tahun tapi pola pikirnya sudah melebihi usianya, Mamat tertegun mengingat usia Nuah.
"20 Tahun?" Mamat memeriksa ponselnya dan meraih ponsel Nuah, dia melihat mengingat di ponsel sang istri bila besok ternyata hari ulang tahun istrinya.
"Astaga!" Mamat menekan keningnya yang berdenyut, Nuah bahkan nampak tidak perduli dengan hari ulang tahunnya sendiri dia bahkan berencana melakukan banyak kegiatan, Mamat benar benar merasa seperti suami tidak berguna saat itu.
"Sekarang ada aku sayang, selamat ulang tahun." Mamat mengecup kening Nuah dan keluar kamar membawa ponselnya.
Untung sebelumnya dia sudah meminta nomor ponsel dari Pak Lurah, dia dengan segera menghubungi Pak Lurah di tengah malam hingga tersambung dan terdengar suara pria itu yang sedikit serak.
"Halo Pak Lurah, saya ingin tanya bila di sekitar sini dimana yang ada ATM?" Suara serak Pak Lurah mulai menjawab.
"Mau apa Nak? Ini sudah malam, bila di jam seperti ini mencari ATM saya takut terjadi apa apa pada kamu Nak." Pak Lurah nampak merisaukan kondisi Mamat.
"Saya mau ngambil uang Pak. Bagaimanapun Nuah sudah menjadi tanggung jawab saya, masa iya di hari pertama saja malah saya yang di kasih sama Nuah." Mamat menjelaskan.
"Pakai uang saya saja dulu bagaimana? Kalo gak mau berhutang biar di transfer saja ke rekening saya itung itung saya jadi calo gitu?" Mendengar itu Mamat mengangguk, namun mengapa semua orang sepertinya sangat mengkhawatirkan dirinya, apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan?
"Baiklah, saya mau bertanya sesuatu terlebih dahulu." Mamat duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa kalian nampak sangat khawatir terhadap saya? Apa ada sesuatu hal?" Mamat merasa dirinya akan mendapat jawaban dari pertanyaan itu.
"Begini nak, kamu tahu Dani tidak?" Tanya Pak Lurah dengan suara yang terdengar berat.
"Ya, saya tahu dia." Jawab Mamat pasti.
"Dia itu mantan kekasihnya Nuah, dia mungkin tidak akan terima dengan pernikahan kalian. Dia tadi juga mungkin rencananya mau menurunkan masa untuk mengusir kamu, tapi untunglah Pak Ustadz bergerak cepat dan mencari jalan seperti tadi." Pak Lurah menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Tapi kenapa kalian harus takut pada Dani, dia juga manusia sama seperti kalian?" Mamat mulai penasaran dengan sosok seorang Dani.
"Aduh Nak, saya kira kamu sudah tahu semuanya. Dani itu anak dari Kepala Desa dia juga suka jadi preman pasar akhir akhir ini, saya hanya khawatir bila dia menggerakan teman temannya yang di pasar untuk membuat hal yang mengerikan." Mamat mengangguk mengerti mendengar pemaparan yang di sampaikan oleh Pak Lurah.