
"Tu..tunggu? Apa ini maksudnya?" Nuah yang mendengar hal paling yang mengejutkan dalam hidupnya itu langsung berlari mengejar Mamat ke kamarnya.
"Sayang!" Teriak lagi Nuah saat Mamat sudah masuk ke kamar tamu yang semula dia tempati, Mamat tersenyum dan membukakan pintu untuk Nuah.
"Tadi apa maksudnya?" Nuah menatap Mamat dengan perasaan campur aduk dan hati cenat cenut, Mamat hanya tersenyum seraya membuka tas yang dia bawa.
"What?" Nuah tertegun dengan apa yang di bawa oleh Mamat, Nuah menggelengkan kepalanya melihat pemandangan mengagumkan di depan upuk matanya.
"Awalnya aku pikir bila di rumah ini akan membutuhkan sesuatu, tapi tidak aku sangka rumah ini malah lebih besar dari rumah orang tua ku. Jadi aku minta maap bila harus menghalalkan mu dengan cara seperti ini. Tapi percayalah, di hati ini aku tidak pernah mempermainkan pernikahan." Mamat meraih jemari Nuah dan memasangkan sebuah cincin indah.
"Nuah bersediakah kamu menjadi pendamping ku? Menjadi sosok yang selalu aku jadikan tempat tinggal dan tempat aku pulang? Bersediakah kamu menjalani hidup ini bersama dengan pria seperti aku ini?" Mamat menggenggam tangan Nuah, di belakang pintu Pak Ustadz diam diam mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan dua manusia di dalam kamar.
"Ta..tapi," Nuah merasa canggung dan bodoh, dia sama sekali tidak keberatan namun ada sebuah hal yang mengganjal di pikirannya.
"Tapi?" Mamat mengulangi kata kata Nuah, dia berharap bukan penolakan yang akan keluar dari bibir itu, Nuah mengangkat wajahnya hingga pandangan Mamat dan Nuah bertemu.
"Kakak adalah orang terpandang dan bila kita menikah seperti ini apa kata orang nanti bila berita ini tersebar keluar?" Nuah mengerucutkan bibirnya dia juga bersungguh sungguh merasa khawatir.
"Apa? Mungkin mereka akan bilang bila aku itu sudah menyatroni ranjang seorang gadis belia, hahahah.. tidak apa apa sayang, aku malah senang bila kabar ini segera meluas itu artinya kita tidak perlu sembunyi-sembunyi." Mamat tertawa dengan apa yang menjadi ketakutan Nuah, Mamat mencubit hidung Nuah dan tersenyum lembut.
"Sudah jangan khawatir, cinta gak sama aku?" Mamat bertanya seraya mengangkat dagu Nuah, Nuah mengangguk hingga mata mereka saling bertemu dan kening Mamat sudah menempel di kening Nuah.
TOK.. TOK.. TOK..
Suara pintu dari arah luar membuyarkan mereka berdua, Mamat mengambil tas miliknya dan memperlihatkan secara jelas pada Nuah.
"Kurang gak?" Tanya Mamat menggigit bibir bawahnya, untung dia sempat mencairkan saldo dari rekeningnya hingga dia bisa membawa uang satu tas penuh.
"Kurang si, tapi yaudah lah." Nuah keluar kamar dan nampak Pak Ustadz yang tersenyum ke arahnya.
"Ini beneran mau nikah sekarang pakek baju beginian?" Tanya Nuah pada seluruh warga Desa, semua orang di sana mengangguk serentak.
"Yaudah lah, kalian yang minta." Nuah cemberut dan langsung duduk di sebuah sofa.
"Bentar, di sekitar sini ada ATM terdekat gak?" Tanya Mamat memegang sebuah kartu di tangannya, Nuah yang melihat itu hampir ketawa dengan tingkah konyol calon suaminya.
"Udah segitu aja ngapain nyari ATM malam-malam begini? Nanti semua uang kamu juga jadi milik aku. Udah ayo akad aja!" Ucap Nuah menahan tawanya, Mamat mengangguk seraya mengangkat tasnya.
"Ini mas kawinnya cumi segini," Mamat mengeluarkan uang sebanyak 10 tumpuk membuat semua orang melongo, ternyata isi tas ransel besar itu adalah uang semua.
"Ini totalnya 1 miliar kurang satu juta, kata calon istri ini kurang makannya saya mau tambah lagi niatnya." Pak Ustadz yang melihat itu ingin tertawa rasanya. Seandainya dia bukan Ustadz dia mungkin sudah ngakak terpingkal pingkal.
"Sa..satu miliar?" Semua orang tertegun mendengar angka luar biasa yang tertera di depan mereka.
"Iya." Jawab Mamat, dia sebenarnya merasa sangat sedih karena harus menghalalkan sang kekasih dengan cara seperti ini. Namun, mungkin inilah jalan terbaik bagi mereka untuk bersama.
"Itu jumlah yang besar, sungguh ini untuk mas kawin?" Tanya Pak Lurah kembali bertanya agar kedepannya tidak ada penyesalan dari kedua belah pihak.
"Itu sedikit Pak, motor saya aja harganya lebih dari itu." Mamat curi curi pandang ke arah Nuah yang nampak cekikikkan.
"We-a-ha-te? What! Motor yang di biarin gitu aja harganya segede rumah? Astagfirullah, Nuah kamu beruntung." Seorang warga mengacungkan jempolnya ke arah Nuah dan Nuah tertawa mendengar hal tersebut.
"Jiah, sayang jadi gak akadnya?" Tanya Nuah menyenggol tangan Mamat, Mamat mengangguk dan menghela napas panjang. Tak lama kemudian seorang Penghulu datang dengan menggunakan kain sarung dan baju batiknya.
"Wah Neng Nuah? Leres mau nikah?" Tanya Penghulu itu hampir tidak percaya bila gadis seperti Nuah akan melakukan pernikahan dengan cara demikian.
"Iya, mereka pada maksa." Ucap Nuah menunjuk ke arah para warga dengan dagunya, Penghulu terkekeh dengan kelakuan Nuah namun melihat Mamat nampaknya dia tidak buruk juga pikir Penghulu.
"Baik, ayo kita mulai." Penghulu awalnya tertegun melihat jumlah mas kawin yang di berikan Mamat sungguh tidak main main, namun dia juga merasa bahagia untuk keduanya meski dengan cara seperti ini namun nampaknya mereka akan bersama dalam kebahagiaan.
"Siapa namanya?" Tanya Penghulu pada Mamat, Mamat mengeluarkan KTP miliknya dan lagi lagi pria itu seperti akan terkena penyakit jantung saat melihat nama Mamat.
"Ii..ii..ini? Anda dari keluarga Azkara?" Tanya Penghulu merasa terkejut dengan nama besar itu, Mamat mengangguk mengiyakan. Semua orang juga terkejut mendengar hal tersebut, sedangkan Nuah tersenyum saja.
"Se..serius?" Dani yang sejak tadi terdiam akhirnya buka mulut, Nuah yang mendengar itu langsung bergidik ngeri.
"Iya, kenapa? Apa anda tetap ingin mengusir saya?" Tanya Mamat lantang, dia kenal siapa pria itu ya jelas saja dia langsung naik darah.
"Sabar sayang, Malik adalah orang yang di jodohkan oleh orang tua saya sejak dulu. Kami awalnya tidak tahu, tapi karena kalian maksa nyuruh nikah sekarang, yaudah cepet akadnya udah malam nih!" Nuah merasa tertekan dengan banyak tatapan keterkejutan para warga Desa.
"Gak sabaran banget, pengen malam pengantinan ya?" Tanya seorang warga Desa dengan usil.
"Iya dong, mau apa lagi emangnya?" Nuah dengan santai menjawab membuat gelak tawa di ruangan itu menggema, sedangkan Mamat agak terkejut melihat Nuah yang sedikit nyeleneh kala itu.
"Nuah gak sabaran banget, udah siapin kembang kantil belum?" Tanya seorang warga lagi, membuat tawa di ruangan itu kembali terdengar.
"Tenang masalah kembang kantil gak usah di tanya. Aku udah siapin jadi istri solehot kok." Ucap Nuah dengan santainya membuat semua orang lagi lagi tertawa akibat candaan tersebut.