
Malam berganti dengan pagi hari yang cerah, akibat tidak bisa tidur malam hari Malik terbangun kesiangan dengan wajah yang sembab dan mata pandanya. Nuah juga pagi itu sudah terbangun dan tengah membantu Nyonya Azkara di dapur.
"Wah Li sangat hebat masaknya." Puji nyonya Azkara, Nuah tersenyum lebar dan memberikan sesendok makanan untuk di cicipi oleh Nyonya tersebut.
"Bagaima?" Tanya Nuah penasaran, mata Nyonya Azkara tertutup dan tangannya mengangkat jempol.
"Enak banget, wah hebat sekali." Nyonya Azkara tertawa bersama Nuah mereka melanjutkan kegiatan mereka hingga kedatangan seorang pria yang menepuk pundak Nuah.
"Hmm..?" Nuah berbalik hingga kedua bola mata mereka saling bertemu, Malik Azkara dan Lii Nuah. Keduanya saling bertukar senyuman, ada sebuah hal sangat sulit di tafsirkan dari keduanya.
"Kak Mamat, loh ngapain di sini?" Tanya Nuah bingung melihat pria itu dengan rambut acak acakan dan mata panda yang kehitaman.
"Nuah, ka..kamu Li?" Tanya Mamat yang bingung,emang benar nama Mamat yang sebenarnya adalah Malik Azkara dan nama Mamat hanyalah nama panggilan sayang dari orang orang terdekatnya saja.
"Loh, ya iya Lii Nuah dan Lii itu nama ku juga. Lah kakak ngapain di sini?" Nuah mengangkat alisnya bingung. namun dirinya terperanjat mengingat masakan di belakang punggungnya. Nuah buru buru mematikan kompor dan mengaduk masakannya.
Senyum terukir dia wajah Mamat, mati matian dia berusaha membatalkan pertunangan itu dan ternyata orang yang di jodohkan dengannya adalah orang yang di perjuangkannya. Takdir memang aneh, Nuah nampak sibuk membuat Mamat gemas melihatnya. Nyonya Azkara yang melihat kedekatan Nuah dan Mamat menjadi sedikit bingung.
"Malik? Kamu kenal Li?" Tanya Nyonya Azkara bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dua mahluk itu. Mata Nuah seketika terbelalak mendengar nama panggilan Mamat.
"Malik?" Nuah terkejut dan kembali berbalik menatap Mamat yang sekarang terkekeh menatapnya.
"Pagi sayang." Mamat menarik pinggul Nuah hingga gadis itu terperanjat dan menempel di dada bidang kekasihnya.
"I...ini. apa yang terjadi?" Nuah kebingungan melihat situasi aneh yang kini tengah terjadi di antara mereka.
"Kita di jodohkan sama alam semesta." Ucap Mamat mengecup kening kekasihnya penuh sayang.
"Di...dijodohkan, lepas dulu!" Nuah berusaha melepaskan pelukan erat Mamat membuat Nyonya Azkara sendiri kebingungan dengan tindakan putranya itu.
"Mama bangunin Papa dulu kalo gitu." Nyonya Azkara mundur beberapa langkah merasa bila posisinya itu tidak tepat tak lama kemudian wanita paruh baya itu mengambil langkah seribu meninggalkan Nuah dan Mamat.
"Lepas dulu." Lirih Nuah melotot ke arah Mamat, Mamat kian gemas dengan perubahan gadisnya itu yang kian menggemaskan.
"Wah, aku kecewa dulu tidak memakan mu." Bisik Mamat tepat di telinga Nuah, Nuah terperanjat dan menekan kening Mamat agar menjauhi wajahnya.
"Pergi sana, aku lagi masak jangan ganggu!" Nuah menunjuk ke arah meja makan, namun Mamat malah semakin gemas untuk menggoda Nuah.
"Wah dulu kamu yang menawarkan itu loh." Seketika itu juga wajah Nuah memerah mendengar penuturan Mamat, dia menginjak kaki Mamat hingga pria itu mengaduh dan melepaskan pelukannya dari pinggang Nuah.
"Oke oke, aku gak akan ungkit lagi." Mamat mengangkat tangannya dan memperhatikan Nuah yang sudah memindahkan makanan ke piring dan mulai memasak yang lain, tangan kecil yang cekatan itu seolah menyihir Mamat untuk tidak berpaling menatapnya.
"Sayang, kangen." Mamat memeluk Nuah dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak Nuah, Nuah diam diam menyembunyikan pipinya yang sudah memerah kepanasan.
"Ck, jangan mulai lagi deh." Nuah menekan kening Mamat menjatuhkannya dari pundak mungilnya.
"Serius tahu, kamu gak tahu semalam aku gak bisa tidur gara gara pesan gak di balas ya? Maaf." Nuah sejenak tertegun sejak mendengar penuturan Mamat.
"Ck lebay banget, ngapain minta maaf. Kemarin ponselnya kehabisan baterai sampai sekarang juga masih mati jadi jangan kegeeran dong kalo aku lagi marah." Nuah melanjutkan kegiatannya, Mamat diam diam tersenyum dan membalikkan tubuh Nuah.
"Aku tersiksa sayang." Bisik Mamat menekankan keningnya di kepala Nuah membuat Nuah mengangkat sedikit wajahnya hingga akhirnya kedua mata mereka saling beradu.
"Ke...kenapa?" Nuah gelagapan melihat relasi Mamat yang nampak sangat sedih dan tersiksa, wajahnya nampak memelas dan matanya berkaca kaca.
"Aku khawatir, semalam juga hujan hujanan ke kostan kamu tapi kamunya gak ada." Nuah tertegun mendengar pengakuan Mamat yang mencarinya.
"Tapi sekarang kan sudah ada, udah aku mau lanjut masak." Nuah kembali berusaha berontak melepaskan pelukan Mamat yang membuatnya salah tingkah.
"Aku kangen." Mamat tak melepaskannya begitu saja hingga akhirnya bibir mereka menyatu, meski Nuah berontak namun Mamat tetap memaksanya dengan lembut namun menuntut. Nuah memejamkan matanya merasakan hembusan nafas Mamat yang kian menantang.
"Sudah, kita sudah sepakatkan?" Nuah mendorong dada bidang Mamat agar bisa menjauhi hal yang lebih dari itu, apalagi kini Mamat nampaknya sudah melepaskan batasannya.
"Baiklah, cepatlah memasaknya." Mamat akhirnya bisa duduk dengan tenang di kursi makan meski ekor matanya terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh Nuah, dan dia juga tak berhenti menatap kagum gadis itu yang dapat menangani semua halnya sendirian.
"Kamu pintar memasak ya?" Tanya Mamat saat Nuah nampak kewalahan namun ternyata masih bisa membuat semuanya seimbang dan lancar.
"Aku perempuan wajar bisa masak, kalo gak bisa masak mau makan apa keluarga ku nanti?" Mamat tersenyum simpul mendengar kata kata Nuah yang menyebutkan nama keluarga.
"Aku juga gak mau repotin kamu kok sayang." Mamat berceloteh seraya tersenyum kepada Nuah, Nuah membalikkan wajahnya dan menatap Mamat yang masih tersenyum.
"Terserah." Ucap Nuah dingin dan itu sangat di luar ekspektasi Mamat yang berharap mendapatkan sambutan hangat dari Nuah.
"Yah cuma bilang terserah aja, kapan kita Nikah?" Tanya Mamat penasaran dengan gadis itu. Nuah mengangkat alisnya seraya menghidangkan semua masakan yang dia buat.
"Kok tanya ke aku si, kamu sendiri mau kapan? Aku masih muda gak takut ketuaan, harusnya yang udah tua aja yang mikir." Mamat tertegun mendengar penuturan Nuah yang terlihat judes namun pada intinya adalah menanyakan kesiapannya sendiri.
"Hari ini juga siap, aku tidak mau mundur." Mata Nuah membulat dan langsung bertatap-an menatap mata Mamat yang kini tersenyum jahil ke arahnya, namun meski jahil pria itu agaknya serius dengan apa yang dia ucapkan.