
Setelah mendengar penjelasan dari Pak Lurah akhirnya Mamat memutuskan untuk membuat sesuatu untuk istrinya tanpa modal tinggi, Mamat membuka video dari ponselnya dan nampak mengangguk angguk.
...🍃🍃🍃...
Pagi hari tiba, Nuah membuka matanya saat di rasa suaminya sudah tidak ada, dia bangun dan keluar kamar. Dia sejenak tertegun dengan sebuah kue ulang tahun dan Mamat yang nampak tertidur memegang lilin. Nuah tersenyum penuh arti.
Saat itu pemandangan terindah bagi Nuah dalam hidupnya, meski dia ingat akan ulang tahunnya sendiri namun dia tidak pernah merayakannya dengan siapapun atau ada yang mengucapkan selamat kepadanya, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Nuah sekarang ada seseorang yang membuatkan kue ulang tahun untuknya.
Jantung Nuah berdegup amat cepat seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke arah tubuh Mamat, Nuah mengambil lilin di tangan Nuah dan menggenggam tangan Mamat. Saat di rasa ada yang menggerakkan tangannya Mamat terbangun dan menatap sang istri yang nampak berkaca kaca.
"Selamat pagi sayang." Sapa Mamat, sebuah sapaan yang mampu membuat hati Nuah seketika menghangat dan sosok wanita tangguh itu langsung ambruk dalam pelukan Mamat.
"Terimakasih kak." Lirih Nuah tak lama kemudian suara isak terdengar dari Nuah membuat Mamat merasa aneh dan menatap wajah Nuah sembari menghapus air mata gadis itu.
"Jangan nangis dong sayang, kenapa nangis lagi?" Mamat tersenyum menangkup kedua pipi Nuah.
"Boleh peluk gak?" Nuah berbicara dengan segukkannya, Mamat memlentangkan tangannya dan Nuahpun langsung menghambur memeluk Mamat.
"Terimakasih suami dadakan, aku pikir kamu gak tau. Huhuhu.. makasih.." Tangis Nuah dengan dada berdegup cepat dan hati yang terasa damai.
"Suami dadakan? Feet.. boleh deh, gak mau kasih sesuatu buat suami dadakan yang udah buat kue semalaman ini?" Mamat berbisik di dekat telinga Nuah.
"Hadiah?" Nuah melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya. "Ternyata buat ini karena ada maunya ya?" Nuah cemberut dan seketika itu juga Mamat menarik pinggul Nuah dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Enggak kok, cuma masa iya aku idah kerja semalaman gak di kasih apa apa?" Mamat kini merasa Nuah seperti istri yang tengah merajuk dan sangat manja.
"Gak boleh itu!" Tuding Nuah seraya menunjukkan telunjuknya pada sang suami.
"Enggak kok, aku gak akan maksa. Aku akan menunggu sampai istriku bersedia memberikannya pada ku." Mamat mencubit hidung Nuah hingga senyum terukir di wajah Nuah.
"Selesaikan dulu surat suratnya, baru boleh minta." Lirih Nuah dengan suara berbisik, namun karena jarak di antara keduanya yang cukup dekat membuat suara sekecil apapun dapat terdengar dengan baik oleh Mamat.
"Udah kok, nanti siang asisten ku ke sini dan bawakan buku nikah." Jawab Mamat, seketika wajah Nuah memerah mendengar ucapan Mamat.
"Kok cepet banget?" Nuah mengerucutkan bibirnya hinga Mamat kembali tertawa di buatnya.
"Siapa juga yang akan tahan lama lama kalo deket deketen terus kaya gini sayang?" Mamat memperlihatkan jarak keduanya yang sangat dekat saat itu. Nuah terkekeh dan turun dari pangkuan Mamat, dia menyimpan lilin yang di siapkan Mamat.
"Gak usah, gak ada gunanya juga. Yang terpenting kita berdo'a agar apa yang sudah kita miliki bisa di syukuri dan apa yang akan kita jalani kita dapat nikmati. Do'a bisa dalam bentuk apapun, kita berdo'a dengan cara kita." Ucap Nuah memotong kue yang sudah di buat Mamat dan memakannya sendiri.
Rasa manis dan harum dari coklat dari kue itu membuat perasaan Nuah mengembang merasakan sensasi nikmat dan cinta suaminya seolah melebur dalam kue itu.
"Hebat banget ya buat kuenya." Nuah mengacungkan jempolnya dan membuat Mamat menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Mau?" Nuah menyodorkan satu potong kue di depan mulut Mamat, dengan senyum mengembang Mamat menikmati kue itu dari suapan sang istri. Perasaan damai dan saling memiliki melebur menjadi senyuman manis di keduanya semanis kue yang mereka makan.
"Ssalammu'alaikum." Suara seorang pria dari luar rumah terdengar, suara itu agak asing bagi Nuah namun Mamat langsung mengenalinya. Mamat membuka pintu rumah dan tampaklah asistennya dengan mata yang menghitam di ambang pintu.
"Nih, aku mau pulang ngantuk banget." Ya, itulah asisten Mamat. Dia langsung balik kanan tanpa mengucapkan apapun dan nampak seorang supir perusahaan di gerbang pintu menunduk menyapa Mamat. Mamat mengangguk dan membiarkan mereka pergi begitu saja.
"Siapa kak?" Tanya Nuah menatap sebuah map di tangan Mamat yang di berikan pria itu.
"Sertifikat halal udah keluar nih." Mamat memperlihatkan dua buku berwarna merah dan biru, seketika itu juga wajah Nuah memerah dia benar benar ingin menghilang dari hadapan Mamat saat itu jua.
"Jadi!" Mamat mendekat dan melangkah ke arah Nuah sedangkan Nuah terus mundur berusaha menghindari Mamat.
"Ja..jadi?" Nuah mengulang ucapan Mamat dan saat kakinya mentok di tangga Nuah buru buru balik kanan dan hendak melarikan diri namun dengan cepat Mamat meraih tangan Nuah dan menarik wanita itu dalam dekapannya.
"Jangan ingkar janji." Bisik Mamat, Nuah ingin sekali memukul suaminya namun bila dia memukul mungkin tulang suaminya bisa patah.
"A..aku gak janji, si..siapa yang janji?" Seketika itu juga gugup menghampiri Nuah, dulu dia ingat saat akan memberikan dirinya pada Mamat tidak segugup itu namun sekarang melihat tatapan mendamba dari Mamat seolah bisa melepaskan sendi sendi di tubuhnya.
"Terus?" Mamat mendekatkan wajahna dan dengan cepat Nuah mendorong tubuh Mamat dan berteriak kencang.
"Ini masih pagi, urusan seperti itu di selesaikannya malam saja tau!!" Nuah berteriak keras hingga sebuah tawa dari Mamat mampu membuat wajah Nuah kembali memerah sadar dengan apa ang dirinya lakukan.
"Minggir ah, aku mau cuci baju." Nuah berlari ke atas dan mengambil baju kotor Mamat dan miliknya sendiri. Nuah menuju ke arah belakang di mana tempat mencuci dan menjemur berada di sana.
Mamat seketika terkesima melihat keindahan rumah belakang Nuah yang sangat mengesankan itu, berbagai bunga nampak tumbuh subur dan sayuran juga nampak segar di sana. Nuah mencuci baju di mesin cuci, sembari menunggu dia memetik beberapa jenis sayuran dan memasukkannya ke keranjang. Mamat melihat bagaimana istrinya nampak sangat cekatan melakukan banyak hal sendirian.
"Mau kopi apa teh?" Tanya Nuah saat dirinya hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Mau kamu." Ucap Mamat menarik pergelangan tangan Nuah, suara seseorang tiba tiba menggema di jalan tepatnya di depan rumah Nuah dan sontak saja wajah Nuah berubah berseri seri.