JULID Girl'S

JULID Girl'S
Nikah dadakan



Tangisan Nuah seolah menjadi kian parah saat makin sing, namun saat sore dia nampak sudah kembali lebih baik setelah terlelap di kamarnya akibat menangis, Bu Ustadzah selalu menemaninya dan memberikan petuah bijak agar Nuah bisa mengerti.


"Sore Kak?" Sore itu Bu Ustadzah sudah pulang dan tinggalah Mamat dan Nuah di rumah itu berdua.


"Sore sayang." Mamat yang saat itu tengah memasak langsung berbalik menatap wajah Nuah yang memerah akibat terlalu lama menangis.


"Mau ke pemakamannya sekarang atau besok aja?" Tanya Mamat lembut berusaha menjadi penenang Nuah.


"Sekarang aja, lagian aku cuma ngambil cuti tiga hari." Nuah memeluk Mamat dari belakang hingga pria itu tersenyum lega dan melanjutkan aktifitasnya.


"Baiklah, sekarang makan dulu ya." Mamat menghidangkan seluruh masakan yang dia buat dan dengan senang hati Nuah menyantap apa yang Mamat persiapkan.


...🍃🍃🍃...


Sore itu hari sangat indah dengan warna jingga kemerahan serta angin sepoi sepoi menerpa dedaunan, saat itu Nuah dan Mamat berada di hadapan dua buah nisan.


"Ma, Pa, aku bawa kak Mamat ke sini. Kami mau meminta restu pada kalian, aku juga berharap kami bisa hidup bahagia ke depannya. Ma, Pa, aku mau ngasih tau bila aku sangat kesepian, hiks.. Aku rindu kalian." Nuah menangis hingga sebuah pelukan hangat membuatnya tersadar.


"Sekarang aku punya dia, aku mohon restui kami ya." Nuah di bantu Mamat menebar bunga di atas dua makam tersebut.


"Kita pulang ya?" Mamat melihat Nuah yang nampak sangat sedih dan membantu gadisnya itu berdiri.


"Hmm.. terimakasih banyak kak." Nuah berjalan di bantu Mamat, diam diam di balik sebuah pohon besar seorang pria tengah mengepalkan tangannya erat erat.


"Berani sekali kalian bermesraan!" Geram pria itu tak terima, dia adalah Dani.


Saat sore sudah mulai berakhir keadaan jalan juga sudah lengang, Mamat dan Nuah akhirnya kembali ke kediaman Nuah dan beristirahat. Berbeda di sebuah tempat di depan balai desa, seorang pria nampak tengah berdiskusi dengan beberap warga.


"Ah yang bener Dani? Masa si neng Nuah ngalakuin hal begituan?" Salah satu warga tidak percaya pada ucapan Dani.


"Beneran Pak, tadi saya lihat dia lagi ngelakuin hal memalukan di makam. Saya merasa bila dia sudah berlebihan, apa lagi sekarang mereka tinggal di satu atap bisa bahayakan? Mendingan kita usir aja pria itu dari sini, dia bisa membawa hal buruk pada desa kita." Kini Dani mulai tersenyum licik.


"Wah leres eta, mun di antep bae bisa kacau." Seorang warga menambahkan, hingga para warga tersebut akhirnya berduyun duyun menuju rumah Nuah.


Pak Lurah dan Pak Ustadz yang melihat itu sangat terkejut, mereka akhirnya berusaha mencari cara agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Nuah keluar kamu!" Suara Dani menggema di luar pagar rumah Nuah, Nuah yang saat itu baru akan tertidur merasa marah dan keluar dari kamarnya, bersamaan dengan itu Mamat juga keluar dari kamarnya.


"Ada apa di luar?" Tanya Mamat merasa penasaran, Pak Ustadz dan Pak Lurah yang baru saja tiba langsung berusaha menenangkan warga.


"Tenang, tenang, ada apa ini sebenernya?" Tanya Pak Ustadz meminta agar semuanya bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


"Nah itu orangnya usir dia dari sini, usir!" Teriak Dani yang di ikuti oleh warga desa, Pak Lurah langsung berusaha menenangkan.


"Tenang semuanya tenang, coba pelan pelan apa yang sebenarnya terjadi?" Mamat yang juga belum mengerti mengangguk dengan ucapan Pak Lurah belum juga tau apa salahnya sudah mau di usir aja.


"Dia melakukan kumpul kebo di rumah ini, kita harus usir dia Pak!" Teriak salah satu warga desa, Nuah dan Mamat merasa bingung.


"Apa maksud kalian kumpul kebo? Saya bahkan di undang Nuah dan Pas Ustadz ke mari untuk menemani mereka agar tidak terjadi fitnah, kami baru saja dari mesjid sudah ada fitnah saja." Pak Lurah merasa tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan warga desa.


"Tapi sebelum kalian berdua datang, mereka pasti sudah melakukan hal lain. Lebih baik kira usir saja pria itu dari kampung kita." Salah satu warga desa mulai kembali bersuara dia terprovokasi dengan ucapan Dani sebelumnya.


Pak Ustadz melirik Dani di keramaian dia sudah tahu kini siapa biang keroknya, dia menghampiri Mamat yang berada di balik pagar.


"A saya harus berbicara sesuatu terlebih dahulu boleh?" Pak Ustadz mengajak Mamat masuk ke dalam rumah, sedangkan Nuah masih memperhatikan para warga desa yang mengamuk bersama Pak Lurah yang berusaha menenangkan.


"Bagaiamana A? Saya rasa ini jalan terakhir dan terbaik." Ucap Pak Ustadz berusaha menjadi sosok bijak yang menguntungkan pada kebaikan.


"Saya juga rencananya akan melakukan hal itu secepatnya, tapi saya tidak mau melakukannya sekarang karena pasti Nuah akan di pandang jelek bila caranya seperti ini." Mamat menghela nafas panjang.


"Tidak apa apa, apa lagi si Eneng itu pinter banget membuat orang orang diam, bila tidak percaya ayo ikut." Pak Ustadz keluar rumah dan nampak Nuah di sana tengah berbicara.


"Kenapa kalian membuat hal seperti ini? Apa kalian juga pernah menggerebek orang yang sedang berzina di saung sawah? Tunjukan pada saya mana bukti yang memperlihatkan saya tengah melakukan hal demikian?" Nuah berbicara lantang dan tegas hingga semua orang terdiam tak mampu berbicara apapun.


"Tuh kan saya sudah bilang, bagaimana?" Pak Ustadz kini kembali menepuk bahu Mamat yang terpaku akibat keberanian Nuah.


"Baiklah, lagian saya takut dia di ambil orang." Mamat terkekeh geli dan meski ini tidak terlalu baik tapi ya sudahlah mungkin dia akan di tumis saat pulang oleh Mamanya.


"Tenang warga desa, silahkan masuk ke dalam rumah biar kita selesaikan dengan kepala dingin." Pak Ustadz mempersilahkan seluruh warga desa masuk ke dalam rumah besar Nuah.


"Bagaimana ini Pak? Apa jalan terbaiknya?" Salah satu warga desa yang merasa tidak sabar langsung menanyakan kebijakan dari Pak Ustadz.


"Kita nikah kan mereka." Ucap Pak Ustadz seketika itu juga Nuah melotot tak percaya berbeda dengan Mamat yang nampak santai.


"Loh..ta..tapi.." Dani gelagapan, bukan itu tujuannya mengapa bisa seperti itu dia hanya ingin Mamat di usir agar dia bisa bebas merayu Nuah.


"Saya merasa tidak keberatan, saya juga memang berencana menghalalkan Nuah secepatnya. Kami kesini juga untuk meminta restu dari orang tua Nuah. Saya ambil mas kawin dulu." Mamat mengedipkan sebelah matanya pada Nuah.


A/aa\= Panggilan untuk kakak laki laki atau pria yang di hormati. Meski yang tua memanggil Aa pada yang muda juga tidak apa apa meski maksudnya kakak tapi bukan kakak dalam maksud sebenarnya.


Neng/Eneng\= Panggilan untuk gadis perempuan atau wanita cantik, bisa juga wanita muda atau wanita yang di sukai.