JULID Girl'S

JULID Girl'S
Nuah marah



"Assalamualaikum." Mamat masuk ke rumah megah dan mewah itu, satu kesan penting yang kini di rasakan oleh Mamat, yaitu sepi.


"Kok gak ada orang?" Tanya Mamat saat melihat Nuah malah memeluk bantalan sofa dan nampak sangat bahagia.


"Ya emang gak ada, nanti sore kita ke makam buat nyekar sekalian minta restu." Nuah berucap dengan santai membuat Mamat mengangguk faham, ternyata meminta restu yang di maksud Nuah bukan pada orangnya langsung.


"Baiklah, aku taro di mana nih barang barangnya?" Mamat bertanya pada Nuah untuk beberapa barang yang di bawa Nuah dan barangnya sendiri.


"Yang aku taro aja di sana, punya kakak simpan di sana." Nuah menunjuk le salah satu kamar di lantai dua yang terlihat dari ruang tamu tersebut.


"Oke." Mamat langsung membawa tasnya ke lantai dua dan membuka pintu di hadapannya hingga tampaklah sebuah kamar bersih dengan berbagai fasilitas di dalamnya.


Mamat kembali menatap ke bawah dan tampaklah Nuah yang masih bermalas malasan hingga sebuah suara cempreng dan membuat Nuah melotot dan langsung beranjak dari tidurnya.


"Yur sayur.. tempe asem, buah buah, ayam gulai, nasi hangat..." Suara penjajal makanan yang sangat di rindukan Nuah.


"Bi Inem sini Bi." Nuah dengan antusias melambaikan tangannya dan meminta pedagang itu untuk mampir ke pelataran rumahnya, Nuah buru buru membuka pagar rumahnya.


"Walah Neng Nuah, baru datang ya?" Tanya Bi Inem dengan senyum khas nya yang cantik.


"Hooh Bi, laper banget. Oh ya ada kabar apa aja nih di Desa selama aku gak ada?" Nuah bertanya tentang gosip pada Bi Inem.


"Banyak Neng, kamu tahu pacar mu itu si Dani dia tangannya patah. Katanya sama preman di halte." Nuah cekikikan mendengar itu, Bi Inem terkejut saat tiba tiba badan besar seorang pria berada di belakang Nuah.


"Hmm.. pacar siapa?" Mamat dengan wajah kedondongnya menghampiri mereka, Nuah yang merasakan lidahnya kecut akibat wajah masam Mamat terkekeh saja.


"Walah ini siapa Neng? Meni kasep kie." Bi Inem nampak sangat penasaran dengan sosok tinggi di belakang Nuah.


"Ini siapa ya?" Nuah sengaja menambahkan cuka pada wajah masam Mamat yang sontak membuat Mamat langsung memeluk Nuah.


"Berani bilang siapa?" Mamat sangat gemas dengan tingkah kekasihnya sehingga Nuah menggeliat kegelian saat tangan Mamat mulai menggelitiki perutnya.


"Ampun... hahaha.. Ampun ampun.. Hahahha.. ini Bi kenalin Kak Malik, insya allah jadi calon imamnya Nuah." Ucap Nuah sontak Bi Inem terperanjat mendengar hal tersebut.


"Loh kok bisa Neng? Bukannya calon suaminya itu Dani ya? Dia bahkan sudah mengumumkan pada seluruh warga Desa bila Nuah akan segera menikah dengannya, bahkan kebun yang di parokan ke Pak Muhammad di ambil sama dia katanya buat modal nikah sudah di jual sama Dani loh." Mata Nuah seketika melotot mendengar itu.


"Loh kok bisa, sertifikat nya kan gak ada kok maen jual aja? Lagian siapa juga yang mau sama dia." Nuah melongo mendengar hal tersebut, benar benar warga Desa kurang di edukasi rupanya.


"Wah kurang tahu tuh, dua hari lalu bahkan nih ya Dani sempat minta kunci rumah ini sama Bu Ustadzah tapi Bu Ustadzah gak ngasih dan alhasil sekarang Madrasah tempat anak anak ngaji akan di rubuhkan karena itu adalah tanah keluarga Dani." Nuah mengepalkan tangannya, baru aja sampai lelah juga belum terobati udah ada masalah.


"Sabar sayang, sekarang pilih dulu mau makan apa, udah itu kita minta restu biar besok kita selesaikan semuanya, kamu capek sayang harus istirahat." Mamat menepuk nepuk pundak Nuah berusaha menenangkan gadisnya itu.


"Kakak aja yang pilih, nanti aku makan apa aja kok." Mata Nuah memerah menahan amarah Bi Inem yang berhadapan dengan Nuah merasa ngeri sendiri.


"Yah.. oke, untung tadi sempet nyairin saldo. Saya beli semuanya aja Bi, ini uangnya." Mamat mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar.


"Loh banyak sekali A, ini gak kebanyakan?" Bi Inem merasa tidak enak menerima pemberian yang terkesan sangat banyak baginya itu.


"Kalo Nuah sukanya makan apa Bi?" Mamat bertanya hendak memilih makanan untuk Nuah.


"Nah kalo Neng Nuah sukanya makan tutut kuning dan urab daun singkong." Jawab Bi Inem.


Mamat mengambil masing masing dua porsi tutut kuning dan urab yang di maksud, dia juga mengambil dua porsi nasi uduk dan asinan.


"Sisanya tolong di kasihin ke Bu Ustadzah aja deh Bi, kalo mau beli itu gak usah semuanya juga dong Pak Bos." Nuah mencubit pipi Mamat merasa gemas dengan kelakuan kekasihnya itu.


"Iya sayang, kan aku gak tahu kamu sukanya yang mana mendingan beli semua nanti bisa pilih yang mana yang kamu suka." Mamat mencubit hidung Nuah hingga keduanya sama sama tertawa.


Berita kepulangan Nuah akhirnya tersebar akibat mulut gosip Bi Inem dan seluruh warga desa akhirnya mengetahui kebenarannya tentang kebohongan Dani.


"Nuah udah pulang Bi, serius?" Bu Ustadzah nampak tidak percaya dengan apa yang di katakan Bi Inem.


"Bener kok Bu, dia juga yang nyuruh ngasih ini ke sini, dan yang bayar itu calon suaminya. Wah kasep pisan pokonya calon suaminya." Ucap Bi Inem memuji.


"Bi... Bi... semua orang juga kamu bilang ganteng lah. Terimakasih kalo gitu Bi, saya juga mau ketemu sama anak itu, kangen." Bu Ustadzah memberikan semua makanan yang di berikan oleh Bi Inem pada anak anak yang saat itu tengah belajar mengaji di rumahnya.


"Hari ini belajarnya segitu aja dulu ya, besok kita belajar lagi di sini." Bu Ustadzah membubarkan anak anak itu sembari membaca doa akhir majelis.


Mamat yang melihat Nuah masih marah dan cemberut berusaha menyuapi gadisnya dengan sejuta gombalannya, sedangkan Nuah sendiri hanya makan sedikit saja karena tiba tiba dia merasa sangat tidak nafsu makan pada makanan di hadapannya dia sekarang lebih bernafsu untuk menghajar orang agaknya.


"Assalamualaikum." Suara seorang wanita di depan pintu rumah Nuah menyadarkan Nuah dan langsung beranjak hendak membuka pintu, namun Mamat menghentikannya dan dia yang berdiri membuka pintu.


"Wa'alaikum salam." Jawab Mamat membuka pintu rumah, Bu Ustadzah dengan senyumnya menelungkupkan tangan di dada.


"Nuahnya ada?" Tanya Bu Ustadzah dengan suaranya yang tenang, Mamat mengangguk dan mempersilahkan wanita itu masuk, Nuah nampak tersenyum dan menghambur memeluk Bu Ustadzah.


"Bu katanya madrasah akan di robohkan ya?" Nuah menangis dalam pelukan Bu Ustadzah, Bu Ustadzah dengan lembut mengusap punggung Nuah dan mengangguk membenarkan.