JULID Girl'S

JULID Girl'S
Permintaan Nuah



"Yur sayuuur sayurnya neng sayuur." Sebuah mobil pembawa sayur dan bahan masakan mampu membuat Nuah cepat cepat bergegas ke depan rumahnya dan nampak ibu ibu yang bergerombol.


Mamat yang penasaran memutuskan naik ke lantai dua dan melihat kegiatan mereka dari balkon kamar Nuah, Mamat melihat jalan desa itu yang sangat besar namun kenapa saat kemarin dia lewat sangat kecil? Pikir Mamat. Dia juga ingat asistennya kemarin menggunakan mobil dan nampak tidak kesulitan.


"Mungkinkah?" Mamat kini mulai menerka nerka atas kenakalan Nuah yang kini menjadi istrinya.


"Awas Kamu ya!" Gerutu Mamat tersenyum licik, di jalan itu nampak Nuah mengambil banyak makanan termasuk daging, ikan dan juga beberapa bumbu dan kebutuhan di rumah.


"Eleh Neng, semalam itu beneran ya?" Tanya salah satu warga yang tersenyum dengan wajah super duper keponya.


"Bener apa si Bu?" Tanya Nuah dengan wajah polos, semua orang terkikik saat melihat Mamat dari balkon lantai dua memperhatikan Nuah, seorang Ibu kembali menyenggol tangan Nuah.


"Itu loh suaminya ngeliatin terus, oh ya semalam itu katanya akibat provokasi si Dani ya?" Ungkap salah satu orang.


"Iya, suami saya semalam gak ikut, katanya itu hanya modus si Dani saja biar bisa balikkan. Tapi untunglah Neng Nuah malah dapat laki super keren dengan dengan dompet setebal itu." Ucap salah seorang lainnya membuat Nuah yang saat itu menjadi tokoh pembicaraan hanya diam tak berkomentar.


Banyak hal yang sudah di ketahui warga desa dalam satu malam, Nuah hanya senyum senyum saja termasuk saat orang orang mengucapkan terima kasih atas uang yang malam itu di bagikan.


Dua buah keresek besar Nuah junjung dan cepat cepat Mamat turun dan menghentikan Nuah di pinggir jalan, dia meraih dua keresek besar itu dan membawanya. Beberapa orang yang melihat keromantisan mereka ikut berbunga bunga dan terkikik saja merasa bila takdir memang sangat ajaib.


Mamat menaruh semua barang itu di atas meja dapur, Nuah dengan sigap menyimpan beberapa barang sesuai dengan tempatnya seperti daging dan ikan yang dia masukan ke kulkas, sayuran yang dia biarkan karena memang dia membeli sedikit sayuran, dan bahan bahan masakan yang dia taruh di lemari dapur.


Nuah selesai dengan kegiatannya dan nampak keringat sudah bercucuran di tubuhnya, Nuah mengikat rambutnya dan dengan cekatan dia memasak. Mamat yang melihat bagaimana istrinya secekatan itu sudah tidak bisa lagi berkata kata selain kagum.


"Ayo makan." Nuah menghidangkan seluruh masakannya di depan Mamat, Mamat yang melihat keringat bercucuran di tubuh Nuah merasa sangat kesal dan menarik wanitanya itu.


"Kamu bekerja sendirian, melakukan apapun sendirian. Tidak bisakah meminta bantuan padaku?" Mamat melihat keringat di leher Nuah yang membuatnya menelan saliva melihat leher jenjang yang seolah menggodanya itu.


"Itu sudah menjadi rutinitas seorang perempuan, sudah wajar aku melakukannya sendiri bukan? Sudahlah ayo makan aku mau jemur baju. Kopinya masih utuh? Gak suka ya?" Nuah melihat Kopi di depan Mamat yang belum di minum sedikitpun dan akhirnya di ambil olehnya dan meneguknya hingga habis.


Leher Nuah nampak turun naik dan sontak saja hal itu membuat Mamat merasa tidak dapat mengendalikan dirinya saat kopi itu habis, Mamat langsung menarik kepala Nuah ke dalam pelukannya dan dia tenggelamkan di dadanya.


"Kamu terlalu manis sayang." Lirih Mamat, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi namun dia juga tidak ingin memaksa istrinya melakukan hal lebih saat Nuah belum mau memberikannya.


...🥗🥗🥗...


Setelah kegiatan sarapan mereka akhirnya Nuah kini sudah siap dengan kemeja putih tulang dan celana hitamnya, dia juga menggunakan sepatu olahraga dan rambut yang terikat. Sekarang dia menunggu Mamat di depan rumah dan tampaklah sosok Mamat yang menggunakan baju kemeja milik ayah Nuah yang kekecilan dan celana yang cukup pas di tubuh Mamat.


"Ayo." Nuah menggandeng tangan suaminya dan mulai berjalan kaki menyusuri kampung, langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di mana di depannya nampak pohon rindang.


"Assalammu'alaikum." Nuah berucap salam hingga sosok wanita berusia 70 tahunan keluar dan tersenyum ramah menatap Nuah.


"Wa'alaikum salam. Neng Nuah, sehat?" Tanya wanita itu, Nuah mengangguk dan mengecup punggung tangan wanita itu, melihat Nuah yang begitu sopan Mamat juga mengikuti apa yang di lakukan Nuah.


"Bu Ustadzah ada?" Tanya Nuah, wanita tua itu menggeleng dan menunjukkan jarinya ke arah belakang di mana nampak sawah luas dan di seberang sawah itu nampak Madrasah yang sudah rata dengan tanah. Mata Nuah seketika terbelalak dan tanpa sadar air matanya jatuh, langkah Nuah mundur hingga menabrak dada Mamat, Nuah menutup mulutnya merasa bersalah akan keterlambatannya.


"Ke..kenapa?" Nuah bergetar menunjuk ke arah seberang, wanita tua yang melihat itu menggeleng dan duduk di dekat mereka.


"Katanya tanah itu akan di gunakan untuk membangun bengkel, dan kami juga sudah berjuang mempertahankannya." Mamat yang melihat bagaimana istrinya terpuruk membalikkan tubuh istrinya dan memeluknya penuh sayang.


"Kenapa dulu di bangun Madrasah di tanah itu?" Tanya Mamat merasa tidak terima dengan perlakuan semena mena orang orang di sana.


"Tanah itu tanah wakaf, tapi karena sekarang penerusnya serakah hingga mereka mengambilnya kembali." Ujar seorang wanita di balik punggung Mamat, Nuah dan Mamat berbalik dan nampak Bu Ustadzah yang merasa cemas dengan Nuah.


Saat Nuah menangis seperti itu biasanya Nuah akan langsung datang memeluknya namun berbeda dengan saat itu di mana Nuah malah nampak lebih nyaman terisak dalam pelukan Mamat, Bu Ustadzah juga sudah tahu status mereka sekarang dan akhirnya tersenyum lega.


"Dimana di sini yang ada tanah kosong?" Tanya Mamat merasa geram, dia mengepalkan tangannya. Biar dia perlihatkan bagaimana sosok Malik Azkara akan bertindak. Nuah merasakan apa yang ingin di lakukan suaminya, dia mengangkat wajahnya dengan tangan menempel di dada pria itu.


"Sayang, boleh aku meminta sesuatu?" Nuah dengan wajah manisnya memohon dengan sangat.


"Ya, katakan apa saja. Asal berhenti menangis, oke?" Mamat mengusap air mata Nuah, Nuah mengangguk dan tersenyum.


"Papa meninggalkan banyak tanah di sini, termasuk lapang folly dan sepak bola yang sekarang di pakai masyarakat. Masih ada satu tanah yang belum di jadikan apa apa, aku mau menggunakan uang dari mas kawin untuk membangun sebuah Madrasah. Boleh kan?" Nuah nampak mengerjapkan matanya berharap suaminya dapat menyetujui keinginannya itu.