
Setelah perjalanan malam yang sangat menegangkan dengan semburat, darah dan air mata, akhirnya pagi tiba dan Nuah membuka mata dan melihat sosok pria di sebelahnya yang kini tengah tertidur dan belum mengenakan apapun.
Nuah berusaha bangkit dan memindahkan lengan besar yang memeluknya, Nuah kini merasakan sebuah keganasan luar biasa yang di lakukan oleh suaminya sendiri.
"Uhh.." Nuah merasakan pinggangnya yang teramat sangat sakit, dia berusaha turun dari ranjang hingga sebuah tangan besar kembali menariknya.
"Sayang, tidur lagi ya?" Pinta Mamat mengecup pinggang istrinya dari belakang. Nuah menatap tajam ke arah sang suami.
"Udah siang, aku harus siap siap hari ini hari pertama pengerjaan Madrasah." Nuah melepaskan tangan Mamat namun bukan melepaskan, Mamat justru menarik tubuh Nuah hingga dia kembali tertidur dan Mamat mengunci gerakan Nuah.
"Suami ku sayang, aku harus bangun ini udah siang malu sama ayam." Nuah berusaha bangkit namun sebuah benda yang kembali terbangun membuat mata Nuah melotot seketika.
"Aku lelah sayang, aku harus siap siap." Nuah mendorong dada bidang Mamat hingga tawa Mamat terdengar dan mengecup kening istrinya.
"Baiklah, ayo mandi bareng." Mamat bangun dan mengangkat tubuh Nuah, Nuah menjerit saat dirinya dan Mamat tanpa mengenakan apapun menuju kamar mandi.
Mereka bermain air di kamar mandi seperti anak anak yang sedang bermain air di sungai. Namun tidak lebih dari itu karena Mamat juga merasa kasihan pada Nuah pagi itu.
...E few moments later...
Nuah langsung memasak dengan rambut basah yang terjepit ke atas dan menggunakan sebuah baju yang kebesaran dan bawahan berupa celana pendek mampu membuat Mamat tidak berkedip menatap pergerakan lincah istrinya.
Teh yang di sediakan sang istri dia nikmati dan untuk pertama kalinya dia benar benar bisa menikmati hidup, hidup yang selalu dia impikan sejak dulu. Tidak dia sangka kesederhanaan yang ada di tengah tengah mereka justru membuat perasaan indah tersendiri.
Nuah kembali ke kamarnya dan nampak turun lagi menggunakan pakaian yang lebih sopan, dia membawa rantang dan termos nasi, Mamat yang melihat bagaimana Nuah yang nampak kesulitan membantu wanitanya itu dan langsung bergegas pergi ke tempat di mana pembangunan Madrasah tengah di lakukan.
Sesuai perencanaan awal semua hal yang terjadi di sana cukup kondusif dan nampaknya para preman pasar yang sering kali meresahkan warga juga sudah di bereskan oleh anak buah Mamat.
Melihat bagaimana kondisi di sekitar sana sudah baik nampak dari kejauhan Dani yang sangat kesal dan membawa golok sebagai senjatanya. Dani tidak menyangka bila para preman pasar yang selalu menemaninya di dini hari bisa di basmi seperti nyamuk oleh seorang Mamat, bahkan nampak beberapa warga yang dulu memihak kepadanya kini malah berpihak pada Nuah.
Nuah dengan senyum mematikannya menatap kedatangan Dani yang hendak menikam suaminya dengan senjata tajam akhirnya menarik tangan suaminya hingga tebasan Dani hanya menyapa angin yang berlalu saja.
"Heh Dani, lo gak ada kapok kapoknya ya!" Nuah mengangkat lengan bajunya dan mulai memasang kuda kuda.
"Kang Dani, itu ada polisi katanya mau nangkap bapak! Ayo cepat pulang!" Teriak seorang perempuan muda pada Dani, Dani berdecak kesal dan langsung pergi begitu saja.
Para warga desa dan juga pegawai di sana merasa sangat terkejut dengan kelakuan aneh yang di tunjukkan oleh Dani, mereka tidak menyangka bila pria itu bisa senekat itu dalam berbuat sesuatu.
"Tadi itu hampir saja." Ucap Mamat mengelus dada merasa plong, Nuah menatap tajam ke arah perginya Dani.
"Apa di sini ada warga bernama Malik Azkara?" Tanya salah seorang yang baru keluar dari mobil itu. Mamat mengacungkan tangannya hingga nampak sosok wanita cantik keluar dari bagian belakang mobil.
"Hai Malik, apa kabar?" Tanya perempuan itu dengan lemah gemulai memamerkan setiap inci dari tubuhnya. Mamat memutar bola matanya malas sedangkan Nuah yang merasa bila dirinya memiliki saingan langsung melakukan kuda kuda untuk menghajar pelakor.
"Loh kamu kok gak nyala aku? Gak kangen apa?" Tanya wanita itu lagi berjalan menghampiri Mamat dan melewati Nuah.
"Siapa?" Gumam Nuah ketus, Mamat yang merasakan ada aroma lemon buru buru menjauh dari wanita itu dan langsung memeluk Nuah.
"Siluman Rubah!" Ucap Mamat kesal, Nuah terkekeh melihat kejijian suaminya. Dia menghalangi wanita itu yang hendak kembali mendekati suaminya.
"Kamu siapa sih?" Tanya wanita bertubuh tinggi itu, Nuah mengangkat wajahnya karena memang tinggi badannya kalah telak dari wanita itu.
"Aku istrinya Malik Azkara!" Bentak Nuah dengan kasar hingga beberapa warga yang bekerja kembali melihat drama menarik.
"Cih, jangan mengada ada. Kamu tidak tau ya Malik itu cuma milik aku aja. dia gak akan mungkin bisa move on dari aku." Ucap Wanita itu dengan penuh percaya diri.
Nuah mengangkat alisnya mendengar penuturan aneh dari wanita itu, "Tante! Kamu pakai bedak terlalu tebal sampai wajah kamu aja kaya tembok tau! Gak tau malu banget!" Gertak Nuah dengan amat sangat kasar hingga sebuah senyum terukir di bibir Mamat.
"Apa maksud lo hah?" Kini nampak wanita itu yang tersulut emosi dengan dada besarnya dia ingin menghimpit wajah Nuah.
"Astaga, dada segede gini kaya bola basket aja." Gerutu Nuah dengan sengaja dia menginjak kaki wanita itu.
"Aw.. apa apaan si lo!" Wanita itu nampak merintih hingga tanpa sadar kaki yang satunya terpeleset.
Bruuuk...
Bila dalam drama romantis pasti seorang wanita cantik yang jatuh akan di selamatkan oleh sosok pangeran tampan, namun sayang seribu sayang pangeran yang di maksud itu ternyata hanya mimpi dan kenyataanya kini dia jatuh ke atas sebuah lumpur tempat di mana air yang di gunakan untuk mengaduk bahan banggakan berada.
"Feet.. Hahahahah..." Mamat sudah tidak tahan menahan tawanya hingga menggema di tempat itu dan dia benar benar puas dengan apa yang di lakukan istrinya itu.
"Rasain tuh! Mau macam macam sama istri ku? Mimpi!!" Ucap Mamat dengan tawa yang tidak lepas dari bibirnya, beberapa pekerja juga tertawa termasuk Nuah yang merasa sangat kasihan pada kesialan yang menimpa wanita cantik itu.
"Kalian..." Wanita itu nampak menggertakkan giginya namun dengan santai Nuah mengambil ember dan mengguyur wanita itu hingga luput kembali membasahinya.
"Aku itu bukan wanita lemah yang bisa kamu tindas seenak jidat mu saja ya, bila mau menggoda suami orang maka harus di pikirkan apa konsekwensinya. Beginilah akhir dari seorang pel@kor!" Ucap Nuah mengambil tangan Mamat dan membawanya kembali ke rumah mereka.