
"Kita mulai ya, latihan dulu apa langsung aja ini?" Tanya Penghulu merasa bila Mamat sangat gugup.
"Langsung aja." Nuah menjawab membuat Mamat langsung menengok ke sampingnya dan Nuah nampak mengangguk ke arahnya memberikan keyakinan bila semuanya akan baik baik saja.
"Ya, langsung saja." Jawab lagi Mamat, saksi dan sebagainya sudah siap begitupun dengan Mamat yang berpakaian ala kadarnya seperti tadi sebelum tidur, begitupun Nuah.
"Jabat tangan saya." Penghulu itu memberi aba aba, Mamat dan Penghulu saling berjabat tangan dengan perasaan campur aduk dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Saya nikah kan dan saya kawin kan anda..." Mamat nampak mendengarkan dengan teliti apa yang di ucapkan oleh Penghulu itu, Mamat sudah sering datang ke tempat di mana orang menikah, jadi dia sudah tahu apa yang mesti dia lakukan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lii Nuah bin Abdul Zafar dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Mamat mengatakan kalimat singkat yang akan mengubah seluruh sisi hidupnya itu dengan sangat lantang dan yakin.
"Bagiamana para saksi?" Tanya Penghulu pada saksi yaitu Pak Ustadz dan Pak Lurah.
"Sah, Sah.." Jawab keduanya berbarengan semua warga di sana juga berucap SAH hingga sebuah do'a selanjutnya menjadi titik awal kehidupan Nuah dan Mamat.
Mamat menghadap ke arah Nuah, seperti mimpi rasanya menghalalkan gadis yang amat di cintainya dan dia juga bersyukur ternyata semua hal yang terjadi berjalan dengan baik.
Nuah terdiam saat Mamat juga terpaku, Nuah menghela napas dan meraih tangan Mamat dan mengecup punggung tangan pria itu dengan lembut, ada sebuah perasaan damai yang sulit di tafsirkan di sana namun mereka merasa nyaman. Tak terasa air mata Nuah mengalir membasahi lengan Mamat, Mamat tertegun merasakan cairan basah yang kini menyentuh kulitnya.
"Sayang?" Mamat mengangkat wajah Nuah dan tampaklah Nuah yang menangis, Mamat mengecup kening Nuah yang kini resmi secara agama bila mereka adalah pasangan suami istri.
"Jangan nangis, maap caranya salah." Mamat mengusap air mata Nuah dan semua orang di sana jua merasa bersalah dengan apa yang sudah mereka lakukan, namun melihat bagaimana Mamat yang begitu mencintai Nuah mereka sadar bila kehidupan dua mahluk tuhan itu mungkin akan berakhir bahagia.
"Terimakasih cinta." Nuah menghamburkan tubuhnya dan memeluk Mamat, semua orang tertegun melihat pemandangan itu, begitupun Pak Lurah dan Pak Ustadz mereka tidak tahu apa yang sebenarnya di rasakan pasangan baru itu namun mereka yakin bila mereka seakan terbawa oleh suasana haru.
"Kalian sudah resmi jadi pasangan suami istri, kedepannya tolong bawa surat ini ke KUA dan jalankan administrasi yang ada, mengurus surat nikah." Penghulu menerangkan pada Nuah dan Mamat. Nuah dan Mamat mengangguk.
Ponsel Mamat yang berada di ransel tempat uang itu berbunyi, Mamat mengangkat alisnya dia agaknya tahu siapa yang menghubunginya. Karena ponsel itu adalah ponsel pribadi yang mana hanya ada keluarga saja di dalamnya, bahkan para sahabatnya sendiri hanya di berikan nomor kerja bukan nomor pribadi.
"Assalamualaikum Ma?" Angkat Mamat, Nuah menatap Mamat yang kini juga nampak tersenyum. Mamat mengalihkan mode panggilan suara ke mode panggilan video.
"Ma, maap ada sesuatu yang terjadi mungkin akan mengejutkan Mama." Mamat memperlihatkan ponselnya pada Nuah.
"Apa itu? Cepat beri tahu Mama?" Nyonya Azkara nampaknya sangat tidak sabaran ingin tahu Apa yang sudah terjadi.
"Lah, kok bisa? Bukannya kalian akan nikah di sini dan apa apaan itu? Kamu kebelet ya?" Mama bertanya dengan nada yang tinggi.
"Enggak ko, cuma ada tragedi aja sedikit. Kita semua hanya salah faham, tapi gak papa juga lagian di mana aja sahnya sama aja yang beda itu bagaiamana kita menjalaninya, iya kan?" Mamat tersenyum lembut, Nuah mengangguk setuju begitupun dengan Nyonya Azkara.
"Ya. Baiklah, kapan kalian akan pulang?" Nyonya Azkara agaknya sudah tidak sabar mendengar semua cerita dari Mamat.
"Belum tahu juga, nanti aku kabari lagi." Mamat mengambil ponsel satu lagi milik Nuah, Nuah saja sudah lupa pada ponselnya sendiri yang tertinggal namun dia akhirnya tersenyum dan meraih ponsel itu.
"Sayang, sini nak." Nyonya Azkara menyapa Nuah, rupanya itulah tujuan Mamat mengambil ponsel Nuah.
"Hai Mama, kita tinggal di sini dulu seminggu gak papa kan?" Tanya Nuah menyapa Nyonya Azkara yang kini adalah mertuanya itu.
"Gak papa kok sayang, cuma nanti pulangnya jangan ke kostan ya? Langsung ke rumah kita aja." Nyonya Azkara terdengar posesif pada menantunya.
"Siap Mama, Nuah mau nyelsein ini dulu ya?" Nuah mengambil semua uang yang di berikan oleh Mamat.
"Baik, Ingat kalian harus cepet pulang. Papa juga lagi di luar kota sekarang nanti Mama kabari dan suruh pulang kalo kalian udah mau pulang." Nyonya Azkara menjelaskan, Nuah mengangguk setuju.
Panggilan berlanjut antara Nyonya Azkara dan Mamat, sedangkan Nuah mengambil uang itu dan menghitung seluruh warga desa di sana.
"Pak Lurah kalo gak salah di sini ada 100 KK ya? Bagikan aja nih satu juta per KK, mereka yang ada di sini kasihin sekarang aja yang gak ada saya minta bantuannya untuk di bagikan malam ini juga. Maap tidak membagikan makanan seperti orang lain, orang kalian maksa suruh malam ini juga." Nuah menyerahkan uang sebanyak 100 juta pada Pak Lurah.
Pak Lurah menatap Pak Ustadz dan Penghulu keduanya mengangguk, Pak Lurah akhirnya menerima uang tersebut.
"Tunggu di sini dulu ya." Nuah membawa uang tersebut ke kamarnya dan mengambil uang lain dari dalam lemari baju miliknya dan segera kembali.
"Ini untuk Bapak, terimakasih sudah jadi saksi dan ini untuk Bapak." Nuah memberikan tiga amplop pada Pak Lurah, Pak Ustadz dan Penghulu. Mereka masing masing menerima satu Amplop dan awalnya mereka menolak pemberian Nuah namun dengan sedikit paksaan akhirnya mereka mau menerima itu.
"Sekarang sudah ya?" Nuah bertanya seraya menghempaskan diri ke sofa dan duduk di sisi Mamat. Mamat yang sudah mengakhiri panggilannya langsung menyiapkan tangannya untuk bantalan sang istri.
Nuah menyandarkan kepalanya pada pundak Mamat dan merasa sangat mengantuk, dia akhirnya tertidur dalam dekapan pria itu Mamat yang melihat itu tersenyum.
Para warga yang menerima uang tersebut sangat berterima kasih dan pulang satu demi satu begitupun dengan Pak Lurah dan Pak Ustadz yang sempat mengobrol sedikit dengan Mamat. Sedangkan Penghulu sejak tadi sudah pulang karena di rumah dia memiliki anak yang masih bayi.