
Nuah yang mendapat perlakuan itu terus berhenti sejenak mendengarkan irama jantung Mamat yang terdengar sangat halus namun sangat cepat.
"Punya penyakit jantung ya? Kok cepet banget suaranya?" Nuah kembali mendengarkan suara debaran menyenangkan itu.
"Ya iya dong, jantungnya kan udah ada di orang lain." Mamat tersenyum misterius membuat Nuah mengangkat alisnya.
"Kamu itu yang punya jantungnya jadi wajarlah kalo berdetak cepat orang deket sama yang punyanya." Sontak saja Mamat langsung tersenyum kuda, namun Nuah hanya memutar bola matanya dan kembali berontak.
"Lepas gak?" Nuah kini berusaha bersikap tegas pada kekasihnya itu, namun Mamat nampaknya memiliki telinga yang tebal hingga tak memperdulikan apa yang di katakan oleh Nuah.
"Berontak mulu si? Diem dong!" Mamat mengeratkan pelukannya namun Nuah semakin di eratkan maka semakin berontaklah dia.
"Hiks..hiks.. kakak jahat!" Teriak Nuah dengan air mata berlinang, Mamat tertegun dengan apa yang baru saja dirinya lakukan, dan apa yang terjadi pada Nuah.
"Lah kok nangis?" Mamat melepaskan pelukannya dan kini malah terkejut dirinyalah kini yang di peluk erat oleh Nuah.
"Ke..Kenapa sayang?" Mamat merasakan tubuh Nuah yang bergetar dan sesegukan yang kian semakin menjadi.
"Kakak jahat! Hiks.. hiks.. apa kakak akan memaksa seperti itu selamanya meski aku minta di lepas?" Nuah menangis, membuat sebuah senyum terukir di bibir Mamat.
"Ya tentu saja, aku akan melakukan apapun yang menurut ku tidak akan menyakiti mu dan menurut ku kamu juga bahagia sayang." Mamat memeluk Nuah dengan lembut sangat jauh berbeda dengan tadi yang memaksa.
"Beneran?" Nuah melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mamat, Mamat mengusap air mata di pipi Nuah dan mengangguk.
"Aku mau ada kelas siang ini, jangan gitu dong. Katanya mau ikut minta restu aku juga harus buat surat izin dulu selama beberapa hari dan kakak juga kalo mau ikut harus izin ke perusahaan dulu kan?" Nuah menjelaskan apa yang terjadi membuat sebuah senyum kecil tergambar di bibir Mamat.
"Baiklah, aku patuh sekarang. Memangnya mau kapan kita akan bertemu orang tua mu?" Mamat kembali bertanya dengan nada halus.
"Rencananya besok pakek bus biar cepet, tapi mung.." Mamat menghentikan ucapan Nuah dan menutup bibir kekasihnya itu.
"Naik mobil aku aja ya?" Mamat memohon dengan sangat, Nuah langsung menggeleng tidak setuju dengan apa yang di ajukan oleh Mamat.
"Kakak gak akan kuat, oh ya bukannya kakak punya motor?" Nuah kembali bertanya pada Mamat yang kini nampak berpikir.
"Ada, kalo mau naik motor juga boleh tapi barang barangnya?" Mamat sedikit bingung dengan pilihan Nuah.
"Gampang, di sana tinggal pakek kok. Kakak bawa baju aja dua biji terus udah gitu aja beres." Nuah tersenyum bangga membuat Mamat akhirnya mengangguk.
Siang itu juga akhirnya keduanya berpisah setelah Mamat mengantarkan Nuah menuju kampus dan dirinya yang kembali ke kediamannya, saat dia sekilas ke kamar tamu sebuah benda menarik perhatiannya.
"Ponsel siapa ini?" Mamat membuka ponsel itu dan tampaklah foto manis Nuah dan ke tiga sahabat julidnya. "Dasar Julid girls ini." Mamat terkekeh dan semakin tertarik setelah tahu siapa pemilik ponsel itu.
"Gosip Girls? Lucu." Mamat terus membaca setiap pesan yang ada bahkan pesan rahasia antar perempuanpun dia baca.
Nuah malam harinya sudah siap dengan segala barang barang yang akan dia bawa pulang kampung, dan saat malam sudah larut terdengar suara kamar Kia yang terbuka dan Kia terdengar mengeluh kelelahan.
Nuah tersenyum dan keluar kamarnya menuju kamar Kia, Kia yang lelah hanya mempersilahkan Nuah masuk saja. Nuah membawakan nasi dan sayur serta makanan lainnya untuk Kia.
"Besok aku mau pulang kampung dulu, tolong jaga kamar ya?" Nuah tersenyum jahil dan Kia pun mengangguk menyetujui. Malam itu kedua sahabat itu akhirnya saling bertukar cerita apa saja yang sudah terjadi.
"What? Jadi kalian jadian?" Nuah dengan penuh semangat mendengarkan cerita Kia yang mengatakan dirinya sudah jadian dengan Syahrul.
"Iya kak, hmm.. Kak Syahrul sudah mau lulus dan kayanya kita bakal LDR soalnya dia bakalan kerja di sebuah perusahaan komputer gitu." Nuah mengangguk mulai faham.
"Wah sabar ya, aku yakin kok kalian pasti bisa menjalani semuanya dengan baik." Nuah menepuk pundak Kia berusaha menguatkan gadis itu.
"Yo, sama kita. Ayo sama sama berjuang!" Kia mengangkat tangannya tinggi tinggi seolah hendak menghapus awan hitam di langit.
Nuah tersenyum bahagia dan pembicaraan merekapun berakhir hingga sangat larut, Nuah malam itu tertidur dengan pulas hingga kesiangan dan ketukan pintu kostannya sudah terdengar nyaring.
"Siapa?" Ucap Nuah dan dengan rambut acak acakan dan wajah khas bangun tidur dia membuka pintu hingga tampaklah Mamat yang sudah tampan dengan jaket kulitnya.
"Loh kok belum siap siap?" Tanya Mamat, Nuah menjawab hanya dengan menguap dan kembali tertidur di kasurnya.
Mamat terkekeh geli melihat kelakuan Nuah yang tidak perduli dengan penampilannya di hadapannya dia juga bahkan terlihat santai dan biasa biasa saja, Mamat melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam kamar Nuah.
"Sayang kalo makin siang nanti panas loh?" Mamat menggerak gerakkan tangan Nuah dan gadis itupun akhirnya membuka kedua matanya dengan sempurna.
"Oke oke, tunggu ya sayang ku yang tampan." Nuah mengambil handuk dan menggusurnya ke kamar mandi, Nuah mulai membersihkan dirinya.
...🕕🕖...
Satu jam berlalu dan kini Nuah sudah siap berangkat dengan mengucir rambutnya dan mengenakan sebuah baju kaos yang di lapisi jaket yang di sediakan oleh Mamat. Nuah juga menggunakan celana jins dan sarung tangan serta sepatu olahraga.
"Ayo menuju rumah mertua." Semangat Mamat, Nuah hanya tertawa geli dengan melihat kelakuan aneh Mamat yang begitu antusias.
Nuah dan Mamat berangkat pukul 7 pagi dan perjalanan merekapun akhirnya berjalan cukup baik, hingga akhirnya sampai di daerah pegunungan dan jalan yang sangat sempit. Pantas saja kata Nuah jangan bawa mobil, pikir Mamat.
Dan mereka sampai di depan rumah Nuah saat matahari ada di atas kepala dan sangat menyengat, Nuah buru buru masuk membuka gerbangnya dan membuka kunci rumahnya dengan sidik jarinya. Nampaknya kunci rumah itu masih di pegang oleh Bu Ustadzah tapi karena kunci rumah itu di pasang dengan sangat baik membuat Nuah bernafas lega dan membuka pintu rumah yang sudah di tinggalkannya cukup lama itu, bahkan dia sangat rindu tidur di kamarnya sendiri.