JULID Girl'S

JULID Girl'S
ANU



Nuah malam itu merasa sangat bingung harus apa, dia tidak pernah berhadapan dengan situasi semacam ini sebelumnya, ini pertama dan yang paling membuat gugup dalam sejarah perkembangan hidupnya.


Mamat belum masuk ke kamar karena masih terdengar suara teman temannya yang masih riuh di bawah sana, Nuah menatap wajahnya sendiri di cermin, dia menampar kedua pipinya kemudian meletakan kedua tangannya di meja rias.


"Oke Nuah, kamu harus jadi istri solehot malam ini." Nuah melepas ikatan rambutnya dan mengambil handuk ke kamar mandi, dia membersihkan setiap inci dari bagian tubuhnya, menggosok giginya sampai beberapa kali dan merapikan rambutnya yang indah.


Setelah ritual mandinya Nuah membuka lemari, dia menemukan sebuah pakaian yang belum pernah dia pakai dan hanya ada satu satunya yang dia miliki, baju yang transparan meski menutupi tubuh Nuah sampai paha namun baju itu sangatlah transparan di tambah dengan warna hitam yang kontras dengan warna kulit Nuah.


Nuah tersenyum geli menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin, dia mengangkat rambutnya ke atas, Nuah tersenyum penuh arti dan mengambil sebuah benda yang seperti jepitan dan dia jepit asal rambutnya namun hal itu malah membuat kesan eksotis tersendiri di wajahnya.


Nuah menaburkan beberapa serbuk aroma di ranjang dan tersenyum geli, aroma mawar seketika terhirup di indra penciumannya. Nuah berkacak pinggang merasa puas, kamarnya memang cukup mewah meski terkesan sederhana namun untuk orang biasa kamar itu sudah terbilang luas dan nyaman. Nuah duduk di tepi ranjang dia merasakan tangannya yang berubah dingin saat suara kendaraan di bawah sana sudah terdengar meninggalkan pelataran rumahnya. Sayup sayup terdengar Mamat yang membereskan bekas makanan malam itu dan suara derap langkah menuju ke lantai dua terdengar.


Nuah ingin sembunyi saat itu juga namun dia menelan rasa malu dan semua hal yang akan dia terima malam ini, Mamat membuka pintu kamar hingga nampak pemandangan indah yang membuat Mamat sulit berkedip terpampang di depan matanya.


Langkah Mamat perlahan terasa semakin lambat, dada Nuah sudah bergemuruh sejak tadi bahkan langkah Mamat justru semakin membuatnya menunduk akibat rasa malu yang luar biasa.


Gagap gempita membahana memenuhi jiwa, mengguruh riuh mengguntur menggertakan sebuah benda yang tertidur, menyentak merentak rentak, membayu menderu deru, mungkin demikianlah gambaran perasaan Mamat saat itu. Mamat mendekat menepuk pundak sang istri dengan bibir sensualnya, deru nafasnya memenuhi tengkuk dengan aroma tubuh Nuah.


"Apakah aku boleh melakukannya istriku?" Mamat bertanya dengan setengah berbisik, sebuah jawan dengan anggukan tanda persetujuan.


Sebuah do'a keluar dari bibirnya, “Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.” dan meniup kening sang istri.


"Maafkan aku yang baru memberikan malam ini untuk mu kak."Nuah menahan lelehan di matanya, dia tersenyum simpul berusaha menenangkan hatinya. Dia benar benar malu tapi juga terharu, dia tidak tahu apa yang di rasakan Mamat saat itu namun dirinya sendiri merasa sudah siap dan berusaha sesiap mungkin untuk malam yang tidak ada dalam agendanya di tahun lalu itu.


"Tidak apa apa, kamu sangat cantik sayang." Mamat dengan tersenyum lembut mengecup tangan sang istri yang terasa sedingin es.


"Jangan takut sayang, percayalah aku akan pelan pelan." Bisik Mamat menyelipkan tangan kokohnya di sela sela leher Nuah, Mamat menyatukan kening mereka saling merasakan hembusan nafas masing masing.


"Setelah malam ini kita akan senafas, se detak dan sejalan, berjanjilah untuk selalu bersamaku." Mamat menatap lembut mata indah itu, dengan sebuah anggukan sudah pasti sebuah jawaban yang di nantikan Mamat.


Sebuah kecupan lembut mulai menggeliat memenuhi bibir Nuah, hawa panas memenuhi tubuhnya, jiwanya bergelora menginginkan lagi dan lagi, tak dapat di pungkiri, sensasi menantang yang tidak pernah dia rasakan dapat membuatnya lupa daratan.


Wajah cantik itu mampu membuat Mamat gelagapan dan hampir kehilangan kendali tubuhnya, rasa ingin lagi dan lagi membuatnya meningkatkan permainannya.


Mamat menyingkirkan sebuah tali yang sudah tergantung di lengan Nuah membaringkan tubuh mungil yang mampu membuatnya sabar menanti kesiapan sang istri, Mamat mulai menjilat gundukan gunung di depan matanya, memainkan puncak gunung itu dengan jilatan dan tekanan dari jarinya, Nuah menggeliat mengigit bibirnya sendiri.


"Keluarkan saja sayang, jangan menahannya." Mamat menatap bagaimana sang istri mulai menahan kenikmatan dunia yang dia berikan.


Sebuah gigitan lembut memicu suara keluar dari bibir Nuah, gigitan dan cubitan di gunung indah yang pertama kali tersentuh manusia itu mampu menyajikan petualangan terindah dan terbesar bagi Mamat.


Semakin liar pula sentuhan Mamat dengan dada yang kian memicu untuk meminta sebuah hal yang lebih, bibirnya kian bersemangat menikmati bagian bawah perut Nuah, rasa aneh menjalari tubuh Nuah hingga ringkikan dan teriakan kembali terdengar di telinga Mamat. Mamat tersenyum puas dengan kemampuannya memanjakan sang istri tercinta.


Menerpa cahaya renum ke wajah dengan rona merah, "Sayang apa kamu siap?" Mamat bertanya memegang tangan sang istri setelah beberapa kali gagal tongkat saktinya mengoyak sebuah penghalang lembut.


Sebuah anggukkan menjadi jawaban yang di berikan Nuah pada sang suami. Lelehan air menerpa pelipis cantik dengan jeritan sakit, hingga pintu terbuka tongkat sakti Mamat berhasil masuk menjenguk hal yang belum pernah tersentuh apapun.


Nuah merasakan sakit yang menusuk, berbeda dengan Mamat yang merasakan denyutan lembut yang membuatnya merem melek, "Tahan sayang awalnya memang sakit." Mamat memegang tangan Nuah dengan anggukkan lembut, Mamat melancarkan aksinya melakukan tarian memikat di atas ranjang penuh gairah, dan penuh cinta.


Mamat mulai memaju mundurkan tubuhnya, pakaiannya sudah berserakan di bawah ranjang dan darah nampak keluar dari tempat pencoblosan calon anak itu, Nuah memejamkan Matanya merasakan sensasi ngilu dan sebuah rasa baru yang nikmat yang perlahan dia rasakan.


Mamat mulai merasakan tubuhnya menegang begitupun dengan Nuah yang merasakan sensasi aneh itu, Mamat mulai mempercepat gerakan dan menerkam bibir Nuah dengan ganas, Nuah sangat kewalahan dengan kelakuan suaminya di atas ranjang hingga hentakkan yang membuat Nuah merasakan ada sebuah cairan keluar dari pipa Mamat mulai menyembur pada tempat miliknya.


Mamat terengah engah dan menjatuhkan tubuhnya di atas Nuah, Nuah bisa merasakan bagaimana lelahnya saat bercinta. Mamat mengecup bibir Nuah dan kembali tersenyum lembut, Nuah memiliki firasat buruk tentang senyuman itu. Ternyata benar tidak lama setelah berhenti sejenak Mamat tanpa mengeluarkan terlebih dahulu tongkat waktunya sudah memulai kembali olahraga malamnya.


...Peringatan!...


...Konten di atas tidak boleh di baca oleh temen teman di bawah umur, tapi kalo udah terlanjur. Ya Sudahlah😂...


Tunggu!!!! Peringatan harusnya sebelumnya?Ah tapi ya sudahlah....